PAHAMI ISLAM,JANGAN HANYA TAKLID BUTA
Abu Elsah
Sebagian besar umat Islam terutama yang berada di desa-desa melaksanakan Agama Islam secara tradisional (turun temurun) menurut apa yang didapati dari orang tua melakukannya.Kebenaran disandarkan dari banyaknya orang yang melakukannya atau dari pemimpin agama mereka,padahal Islam memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil dan tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid (mengikut/mengekor/membeo) kecuali dalam keadaan darurat (mendesak), yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil yang pasti dalam permasalahan akidah maupun fiqih,tetapi setelah mengetahui dalil yang sebenarnya maka wajiblah kita meninggalkan pendapat seseorang yang bertentangan dengan dalil atau yang tidak berdasarkan dalil.
Ada beberapa orang yang biasa dijadikan seseorang bertaklid,antara lain:
1. Orang banyak,yaitu mengikuti amalan orang banyak dalam lingkungan tempat tinggal atau dalam Negara,dengan anggapan bahwa amalan yang dilakukan oleh orang banyak (umat Islam) itu adalah benar tanpa berusaha menelusuri kebenaran atau dalil yang mendasar amalan itu.Hal ini,Allah telah mengeluarkan peringatan,Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(QS.AL An Aam:116).
2. Nenek moyang,yaitu mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh nenek moyang,karena menganggap bahwa anak cucu harus mengkuiti tradisi nenek moyangnya.Hail ini,Allah telah mengabarkan, Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS.Al Baqarah:170).
3. Orang-orang tertentu yang banyak pengikuti,yaitu orang-orang yng karena kelar,kedudukan dan banyaknya penggemar/pengikutnya sehingga dianggap sebagai ulama,dengan anggapan bahwa apa yang mereka katakana dan mereka lakukan adalah benar dan sehingga perlu menelusuri dalil-dalilnya.Hal ini,Allah telah memberi peringatan, Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.Oarang-orang tersebut,antara lain Imam Mazhab,Sunan (wali songo), kyai/Gurunta,syekh,habib,imam,ustaz,dan penceramah.
Islam tidak melarang kita bertaklid kepada orang-orang asalkan kita tahu bahwa yang kita ikuti itu berada dalam kebenaran,artinya kita melakukan suatu amalan bukan karena seseorang mengatakan atau melakukannya,melainkan karena mengikuti sunnah,al Quran dan Sunnah Rasulullah yang wajib kita ikuti.
Agama ini tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid pada suatu pendapat tanpa memperhatikan dalilnya. Hal ini dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut:
1. Allah ta’alla memerintahkan para hamba-Nya untuk memikirkan (bertafakkur) dan merenungi (bertadabbur) ayat-ayat-Nya. Allah berfirman,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191).
2. Allah ta’alla mencela taklid dan kaum musyrikin jahiliyah yang mengekor perbuatan nenek moyang mereka tanpa didasari ilmu. Allah berfirman,
“Mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. Az Zukhruf: 22).
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31).
Ayat ini turun terkait dengan orang-orang Yahudi yang mempertuhankan para ulama dan rahib mereka dalam hal ketaatan dan ketundukan. Hal ini dikarenakan mereka mematuhi ajaran-ajaran ulama dan rahib tersebut dengan membabi buta, walaupun para ulama dan rahib tersebut memerintahkan kemaksiatan dengan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram [lihat hadits riwayat. At-Tirmidzi no. 3096 dari sahabat ‘Ady bin Hatim].
3. Taklid hanya menghasilkan prasangka semata dan Allah telah melarang untuk mengikuti prasangka. Allah berfirman,
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al-An’am: 116).
Namun, yang patut diperhatikan adalah zhan yang tercela dalam agama ini adalah praduga yang tidak dilandasi ilmu. Adapun prasangka yang berlandaskan pengetahuan, maka ini tergolong sebagai ilmu yang membuahkan keyakinan sebagaimana firman Allah,
ا“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 46).
Inilah beberapa ayat al-Quran yang menerangkan bahwa taklid buta tidak semestinya dilakukan oleh seorang muslim dan kewajiban yang mesti dilakukan oleh seorang muslim adalah mengikuti dalil.
Para imam juga menegaskan kepada para pengikutnya untuk mengikuti dalil, dan tidak bertaklid. Berikut perkataan mereka:
1. Imam Abu Hanifah berkata,
“Tidak boleh bagi seorangpun berpendapat dengan pendapat kami hingga dia mengetahui dalil bagi pendapat tersebut.”
2. Imam Malik bin Anas berkata,
Beliau mengatakan,
إ“Aku hanyalah seorang manusia, terkadang benar dan salah. Maka, telitilah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah nabi, maka ambillah. Dan jika tidak sesuai dengan keduanya, maka tinggalkanlah.” (Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih 2/32).
Beliau juga mengatakan,
“Setiap orang sesudah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali perkataan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih 2/91).
3. Imam Asy-Syafi’i berkata,
“Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku.” (Al-Majmu’ 1/63).
4. Imam Ahmad bin Hambal berkata,
“Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil.” (I’lam al-Muwaqqi’in 2/201;Asy-Syamilah,).
Dari uraian-uraian di atas maka jelaslah kita dilarang bertaklid kepada sesame umat.Kalau ada yang kita tidak tahu boleh bertanya kepada seseorang,namun pendapat seseorang jangan dijadikan landasan kebenaran sebelum memahami dall-dalilnya,sebagaimana Firman Allah,
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).
Jadi mengikuti pendapat siapapun harus memilki dalil yang membenarkan pendapat tersebut.Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebenaran.Wallahu a’lam.
Dari berbagai sumber.
(Palajau,25 Pebruari 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar