PERSATUAN di atas akidah yang SATU, itulah persatuan hakiki,..
Bukan persatuan di atas akidah yang warna warni,
Makna persatuan.
Sebagian kaum muslimin memandang persatuan sebagai sesuatu yang harus dikedepankan dari mengingkari bid’ah yang mereka anggap parsial, sehingga akibatnya bid’ah didiamkan dan semakin merajalela, sedangkan sunnah menjadi semakin redup, maka perlu kiranya kita sedikit mengupas seputar persatuan.
Persatuan dalam pandangan islam tidaklah sama dengan persatuan ala demokrasi yang lebih mementingkan persatuan badan dan tidak memperhatikan keyakinan, demokrasi memandang bahwa jumlah mayoritaslah yang harus dijadikan pegangan, walaupun ternyata pendapat mayoritas tersebut berseberangan dengan al qur’an dan sunnah, pemahaman inilah yang banyak menghinggapi pemikiran kaum muslimin, sehingga orang yang tidak mau mengikuti mayoritas dianggap telah memecah belah umat.
Untuk memahami makna persatuan, perlu kita melihat beberapa pertanyaan berikut :
Diatas apa kita bersatu ?
Untuk tujuan apa kita bersatu ?
Dan apa tolak ukur persatuan ?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, cobalah kita renungkan ayat berikut ini :
ﻭَ ﺃَﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻃِﻲْ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴْﻤًﺎ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮْﻩُ ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻕَ ﺑِﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴْﻠِﻪِ
“ Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan lainnya, niscaya (jalan-jalan lain tersebut) memecah belah kalian dari jalannya…”. (Al An’am : 153).
Dalam sebuah hadits sahih Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis lurus dan bersabda :
” ini adalah jalan yang lurus “.
Kemudian beliau membuat garis-garis disamping kiri dan kanannya dan bersabda :
” ini adalah jalan-jalan lainnya, disetiap jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya “.
Kemudian beliau membaca ayat tadi diatas. (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu Mas’ud).
Imam Mujahid seorang ahli tafsir di zaman Tabi’in menerangkan bahwa yang dimaksud dengan jalan-jalan lainnya adalah bid’ah dan Syubhat (tafsir Ibnu Katsir).
Ayat ini sangat jelas menyatakan bahwa persatuan haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan yang lurus.
Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rosulullah dan para sahabatnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits hasan ketika Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka, beliau menjelaskan tentang satu golongan yang selamat tersebut yaitu :
” apa-apa yang dipegang olehku dan para sahabatku pada hari ini “.
Jadi persatuan dalam islam maknanya bersatu diatas jalan Rosulullah dan para sahabatnya dan perpecahan maknanya berpecah dari jalan tersebut.
Maka siapa saja yang berjalan diatas jalan yang lurus yaitu jalannya Rosulullah dan para sahabatnya maka ia telah bersatu padu walaupun jumlahnya sedikit, dan siapa saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya maka ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak.
Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata :
” Al Jama’ah adalah al haq (kebenaran) walaupun engkau satu orang “.
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman .
ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮْﺍ ﺑِﺤَﺒﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮْﺍ
“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai “. (QS Ali Imran : 103).
Dalam ayat ini, Allah menyuruh kita untuk bersatu memegang talinya sedangkan Tali Allah adalah agamaNya, dan agama Allah adalah yang Allah turunkan kepada RosulNya di dalam Al Qur’an dan Sunnah, kemudian Allah melarang kita bercerai berai, hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mau mengikuti agamaNya sesuai dengan yang diturunkan kepada rosulNya berarti ia telah bercerai berai.
—
Tujuan persatuan dan tolok ukurnya
Setelah kita menjawab pertanyaan pertama, maka mudah untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, yaitu untuk tujuan apa kita bersatu dan apa tolak ukurnya ?
Jawabannya yaitu untuk meninggikan agama Allah dengan cara berpegang kepadanya, bukan meninggikan madzhab anu, partai anu, kiyai atau ustadz fulan karena hal itu hanya akan mencerai beraikan kaum muslimin dan menjadi terkotak-kotak, dan inilah yang dimaksud ayat :
ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻮْﻧُﻮْﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤُﺸْﺮِﻛِﻴْﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻓَﺮَّﻗُﻮْﺍ ﺩِﻳْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﺷِﻴَﻌًﺎ ﻛُﻞُّ ﺣِﺰْﺏٍ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺪَﻳْﻬِﻢْ ﻓَﺮِﺣُﻮْﻥَ
“ Dan janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka “. (Ar-Rum : 31-32).
Di dalam At Tafsiirul muyassar (hal 407) diterangkan makna ayat tersebut :
” (maksudnya) janganlah kalian seperti kaum musyrikin, ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu yang merubah-rubah agama, mereka mengambil sebagian agama dan meninggalkan sebagian lainnya karena mengikuti hawa nafsu, sehingga merekapun berkelompok-kelompok (hizbiy) karena mengikuti dan membela tokoh dan pendapat kelompok mereka, sebagian mereka membantu sebagian lainnya didalam kebatilan…”.
Dari sinipun kita dapat mengetahui bahwa tolak ukur persatuan adalah al qur’an, sunnah dan pemahaman sahabat bukan pendapat mayoritas, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋْﺘُﻢْ ﻓِﻲْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺮُﺩُّﻭْﻩُ ﺇِﻟﻰَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝِ
“ Jika kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RosulNya…(An Nisa : 59).
Kalaulah pendapat terbanyak itu merupakan tolak ukur dalam perselisihan tentu Allah tidak akan menyuruh untuk kembali kepada al qur’an dan sunnah.
Read more https://aslibumiayu.net/12499-menyatukan-islam-yang-terkotak-kotak-itu-adalah-persatuan-semu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar