Rabu, 11 Juli 2018

BAGEMANA SIKAP TAWADHU

BEGINILAH SIKAP TAWADHU’ (Rendah Hati) YANG BENAR KEPADA SESAMA MUSLIM


Bismillah.

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata:

Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah (di dalam dirimu): “ Dia telah mendahuluiku dalam memeluk agama Islam dan melakukan amal sholih. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

Jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “ Aku telah mendahuluinya dengan perbuatan dosa dan maksiat. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

Jika engkau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Mereka telah melakukan suatu nikmat.”

Dan Jika engkau melihat kekurangan atau kelalaian dari mereka terhadap dirimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Hal ini disebabkan dosa yang aku lakukan.”
(Lihat ‘Uyuunu Al-Akbaar, karya Ibnu Qutaibah, I/267).

Inilah wasiat mulia dari seorang ulama sunnah kepada kita semua, yaitu agar kita senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak merasa lebih mulia, sombong dan bangga diri di hadapan orang lain dengan kekayaan, kedudukan dan jabatan yang tinggi, popularitas, kecantikan atau ketampanan, banyaknya ilmu dan amal, atau banyaknya pengikut kita. Karena semakin seorang hamba bersikap tawadhu’, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Di dalam hadits yang shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “ Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no.2588)

Al-Qodhi Iyadh rahimahullah berkata: “ Di dalam hadits tersebut terkandung dua makna, yaitu:

Pertama : Bahwa Allah Ta’ala memberikan kepadanya kedudukan yang tinggi di dunia sebagai balasan atas sikap tawadhu’nya karena Allah.

Kedua : Peninggian derajat merupakan pahala baginya di akhirat sebagai balasan atas sikap tawadhu’nya itu.”
(Lihat Syarah Shohih Muslim karya Al-Qodhi Iyadh VIII/599).

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat di sampaikan
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Selasa, 10 Juli 2018

SETELAH SHOLAT WAJIB PINDAH TEMPAT UNTUK SHOLAT SUNAH

ANJURAN BERGESER DARI TEMPAT SHOLAT WAJIB UNTUK SHOLAT SUNNAH
.
TANYA:

Assalaamu’alaikum Ustadz.
Apakah shalat sunah disyariatkan berpindah-pindah (bergeser ed.) tempat?
Dari: David
.
JAWAB:

Wa’alaikumussalam
Apakah dianjurkan untuk berpindah tempat ketika hendak shalat sunah?
Beberapa ulama mengatakan, dianjurkan untuk berpindah tempat bagi orang yang hendak shalat sunah setelah shalat wajib. Baik dia imam maupun makmum.

Ini merupakan keterangan dari Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu Said dan salah satu riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.
Diantara dalil yang menunjukkan anjuran ini adalah:

1. PERTAMA

Allah berfirman tentang Firaun dan kaumnya yang dibinasakan,
.
فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.”
(QS. Ad-Dukhan: 29)

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, menangisinya. Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya. Sementara kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya. (Tafsir Ibn Katsir, 7:254).
.
Allah juga berfirman,
.
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَ
.
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4)
.
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa bumi akan menjadi saksi untuk setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Perbuatan yang baik maupun yang buruk. Makna ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar. Beliau menyatakan:
.
والعلة في ذلك تكثير مواضع العبادة كما قال البخاري والبغوي لأن مواضع السجود تشهد له كما في قوله تعالى ( يومئذ تحدث أخبارها) أي تخبر بما عمل عليها
.
Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah.
.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bukhari dan al-Baghawi. Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman,
.
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
.
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya (QS. Az Zalzalah: 4). ”
.
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa bumi akan menjadi saksi untuk setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Perbuatan yang baik maupun yang buruk. Makna ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar. Beliau menyatakan:

ﺎﻤﺑ ﻞﻤﻋ ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺙﺪﺤﺗ ﺎﻫﺭﺎﺒﺧﺃ ( ﻱﺃ ﺮﺒﺨﺗ ﺎﻤﻛ ﻲﻓ ﻪﻟﻮﻗ ﻰﻟﺎﻌﺗ ) ﺬﺌﻣﻮﻳ ﻊﺿﺍﻮﻣ ﺩﻮﺠﺴﻟﺍ ﺪﻬﺸﺗ ﻪﻟ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻱﻮﻐﺒﻟﺍﻭ ﻥﻷ ﻊﺿﺍﻮﻣ ﺓﺩﺎﺒﻌﻟﺍ ﺎﻤﻛ ﻝﺎﻗ ﺔﻠﻌﻟﺍﻭ ﻲﻓ ﻚﻟﺫ ﺮﻴﺜﻜﺗ

Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bukhari dan al-Baghawi. Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman,

ﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ٍ ﺙﺪَﺤﹹﺗ ُ ﺎﹷﻫَﺭﺎَﺒﹿﺧﹶﺃ

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”

Maksudnya adalah mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. (NailulAuthar, 3:235).

Kedua, hadis dari Nafi bin Jubair, bahwa beliau pernah shalat jumat bersama Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Setelah salam, Nafi bin Jubair langsung melaksanakan shalat sunah. Setelah selesai shalat, Muawiyah mengingatkan:

ﻢﹷﻜﹷﺘَﻳ َ ﻭﹶﺃ ْ ﺝُﺮﹿﺨَﻳ «َ ﻞَﺻﻮﹹﺗ َ ﺓََﺻ ٌ ﺓََﺼﹻﺑ ٍ ﻰﳲﺘَﺣ ﻢَﺳَﻭ َ ﺮَﻣﹶﺃ َ ﻚِﻟﹶﺬﹻﺑ ،َ ﻥﹶﺃ » ْ َ ﻲﹻﺒﹷﻧ َّ ﻪﻟﺍ ِ ﻰَﺻ ﷲُ ِﻪْﻴََﻋ ﻢﹷﻜﹷﺗ ،َ ﻭﹶﺃ ْ ﺝُﺮﹿﺨﹷﺗ ،َ ﻥِﺈﹷﻓ ﺎﹷﻬِْﺼﹷﺗ ﺓََﺼﹻﺑ ٍ ﻰﳲﺘَﺣ ﺖْﻴَﺻ َ ﺔَﻌُﻤُﺠْﺍ ،َ َﹷﻓ َ ﺪُﻌﹷﺗ ْ ﺎَﻤِﻟ ﺖْﻌﹷﻨَﺻ ،َ ﺍﹶﺫِﺇ

“Jangan kau ulangi perbuatan tadi. Jika kamu selesai shalat Jumat, jangan disambung dengan shalat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Beliau bersabda:

“Jangan kalian sambung shalat wajib dengan shalat sunah, sampai kalian bicara atau keluar.” (HR. Muslim 883, Abu Daud 1129).

Termasuk cakupan makna bicara dalam hadis ini adalah berdzikir setelah shalat. Hadis ini menunjukkan, hikmah seseorang berpindah tempat ketika hendak melakukan shalat sunah setelah shalat wajib adalah agar tidak termasuk menyambung shalat wajib dengan shalat sunah.

Ketiga, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َ، ﻲِﻨْﻌَﻳ ﻲِﻓ ِﺔَﺤْﺒﺴﻟﺍ ﻭﹶﺃ ْ ﻦَﻋ ْ ﻪِﻟﺎَﻤِﺷ ِ ﻲِﻓ ﺓَﺼﻟﺍ ،ِ ﻭﹶﺃ ْ ﺮﳲﺧﹶﺄﹷﺘَﻳ ،َ ﻭﹶﺃ ْ ﻦَﻋ ْ ﻪِﻨﻴِﻤَﻳ ،ِ ﺰﹻﺠْﻌَﻳﹶﺃ ُ ﻢﹹﻛُﺪَﺣﹶﺃ ْ ﻥﹶﺃ ْ ﻡﺪﹷﻘﹷﺘَﻳ

“Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”. (HR. Abu Daud 1006, Ibn Majah 1427, Ibn Abi Syaibah 6011, dan dishahihkan al-Albani).

Hal ini juga dikuatkan dengan keterangan sahabat, dari Atha’ bahwa Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu said, dan Ibnu Umar mengatakan:

ﹶﺔﹷﻀﻳِﺮﹷﻔْﺍ ﻪِﻧﺎﹷﻜَﻣ ِ ﻱِﺬﺍ ﻰَﺻ ِﻪﻴِﻓ َ ﻉﻮَﻄﹷﺘَﻳ ُ ﻰﳲﺘَﺣ ﻝﻮَﺤﹷﺘَﻳ َ ْﻦِﻣ

“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 6012).

An-Nawawi mengatakan:

ﻥﺎﺴﻧﺇ ﺔﻀﻳﺮﻔﻟﺍ ﺔﻠﻓﺎﻨﻟﺍﻭ ﻡﻼﻜﺑ ﻲﻐﺒﻨﻴﻓ ﻥﺃ ﻞﺼﻔﻳ ﻦﻴﺑ ﻞﻘﺘﻨﻳ ﻰﻟﺇ ﻊﺿﻮﻣ ﺮﺧﺁ ﻱﻮﻐﺒﻟﺍ ﻩﺮﻴﻏﻭ ، ﻥﺈﻓ ﻢﻟ ﻊﺿﺍﻮﻣ ﻩﺩﻮﺠﺳ ، ﺍﺬﻜﻫ ﻪﻠﻠﻋ ﻦﻋ ﻪﻌﺿﻮﻣ ﻼﻴﻠﻗ ً ﺮﻴﺜﻜﺘﻟ ﺪﺠﺴﻤﻟﺍ ﺐﺤﺘﺴﻳ ﻥﺃ ﻞﻘﺘﻨﻳ ﻰﻟﺇ ﻪﺘﻴﺑ ﺩﺍﺭﺃﻭ ﻞﻔﻨﺘﻟﺍ ﻲﻓ ﻝﺎﻗ ﺎﻨﺑﺎﺤﺻﺃ ﻥﺈﻓ ﻢﻟ ﻊﺟﺮﻳ

“Ulama madzhab kami mengatakan, jika seseorang tidak langsung pulang ke rumahnya setelah shalat wajib, dan ingin shalat sunah di masjid maka dianjurkan untuk bergeser sedikit dari tempat shalatnya, agar memperbanyak tempat sujudnya. Demikian alasan yang disampaikan Al-Baghawi dan yang lainnya. Jika dia tidak berpindah dari tempanya maka hendaknya antara shalat wajib dan shalat sunah dia pisah dengan pembicaraan.” (al-Majmu’, 3:491).

Allahu a’lam

Referensi: saaid.net/Warathah/Alkharashy/mm/37

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Senin, 09 Juli 2018

KEHEBATAN TAUHID

KEHEBATAN TAUHID, MENGHAPUS SEMUA DOSA
↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔

🔏 Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Apa rahasia kehebatan tauhid, sehingga mampu menghapus segala dosa, sebesar apapun ? Seorang Umar bin Khathab Radhiyallahu anhu misalnya, tokoh yang sebelum masuk Islam terkenal paling menentang ajaran Islam dan terkenal dengan kekafirannya serta pernah mengubur putrinya hidup-hidup. Namun dengan masuk Islam, mentauhidkan peribadatan hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala saja, maka terhapuslah segala dosa dan kesalahannya yang menggunung. Bahkan menjadi tokoh paling mulia di sisi Allâh sesudah Abu Bakar Radhiyallahu anhu.

Apalagi jika kesalahan seseorang lebih kecil, tentu akan lebih mudah terhapus dengan tauhid. Bahkan jika kesalahan serta kekufurannya lebih besar dari Umar Radhiyallahu anhu sekalipun, tetap semua itu akan hapus dan sirna dengan tauhid.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيْئَةً لاَيُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَقِيْتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً” رواه مسلم

Allâh Azza wa Jalla berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula”. [HR. Muslim][1] .

Dalam Sunan Tirmidzi, dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allâh Tabaraka wa Ta’ala berfirman :

يَاابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَتُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Ku, maka Aku akan datang kepadanya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula[2].

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan al asy-Syaikh (wafat th. 1285 H) menyebutkan bahwa al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang datang dengan membawa tauhid (kepada Allâh), meskipun memiliki kesalahan sepenuh bumi, niscaya Allâh akan menemuinya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula”[3]

Maksudnya, hadits di atas menegaskan bahwa siapa yang bertauhid dengan sempurna, maka bisa mendapat ampunan dari dosa-dosanya meskipun dosa-dosa itu memenuhi bumi. Bukan hanya itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa orang yang sempurna tauhidnya, tidak akan diadzab oleh Allâh di akhirat.

Dalam hadits Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu tentang hak dan kewajiban hamba kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ وَلاَيُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِباَدِ عَلَى اللهِ : أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً. قُلْتُ: ياَرَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ أُبَشِّر الناَّسَ؟ قَالَ : لاَتُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا. أخرجاه

Hak Allâh yang menjadi kewajiban para hamba ialah agar mereka beribadah kepada Allâh saja dan tidak mempersekutukan sesuatupun (syirik) dengan Allâh. Sedangkan hak hamba yang akan diperoleh dari Allâh ialah bahwa Allâh tidak akan mengadzab siapapun yang tidak mempersekutukan (syirik) sesuatu dengan Allâh.” Aku (mu’adz) berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, tidakkah kabar gembira ini aku sampaikan kepada orang banyak ?’ Beliau menjawab, “Jangan engkau kabarkan kepada mereka, sebab mereka akan bergantung (dengan mengatakan: yang penting tidak syirik-pen) [HR. Bukhari dan Muslim][4]

Hadits ini menunjukkan, orang yang sama sekali tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , ia tidak akan di adzab.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula :

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ الله مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ(وفى رواية: أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ). أخرجاه

Siapa yang berkata: Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allâh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allâh dan anak hamba (perempuan) Allâh, ia adalah manusia yang dicipta dengan kalimat-Nya, lalu dimasukkan ke dalam diri Maryam, dan ia adalah ruh yang dicipta oleh Allâh. Juga bersaksi bahwa sorga adalah benar adanya, dan nerakapun benar adanya, maka Allâh pasti akan memasukannya ke dalam sorga, melalui pintu mana saja yang dia kehendaki dari pintu-pintunya yang delapan. (Dalam riwayat lain: maka Allâh pasti akan memasukannya ke dalam sorga, sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya). [HR. Bukhari dan Muslim][5]

Masih banyak nash lain yang menceritakan kehebatan tauhid. Apa Rahasianya?
Di sini perlu dikaji beberapa hal di antaranya:

🔴 PENGERTIAN TAUHID

Tauhid ialah meng-Esakan Allâh Azza wa Jalla dengan hanya memberikan peribadatan kepada-Nya saja.[6] Artinya, agar orang beribadah (menyembah) hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja serta tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya (tidak syirik kepada-Nya). Dia beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mencurahkan kecintaan, pengagungan, harapan dan rasa cemas.[7]

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah menerangkan bahwa kata tauhid merupakan mashdar dari wahhada, yuwahhidu, artinya menjadikan sesuatu menjadi satu-satunya. Dan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menggabungkan antara nafi (peniadaan) dan itsbât (penetapan). Meniadakan (peribadatan) dari selain yang di Esakan, serta menetapkan (peribadatan) hanya pada yang di Esakan.[8]

Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tauhid yang di bawa Rasul Allâh sebagai ajarannya tidak lain berisi penetapan bahwa sifat Uluhiyah (berhak disembah) hanyalah milik Allâh Azza wa Jalla saja. Yaitu, ikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allâh Azza wa Jalla , tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia, tidak diserahkan sikap tawakal kecuali hanya kepada-Nya, tidak ada kecintaan kecuali karena-Nya, tidak dilakukan permusuhan kecuali karena-Nya dan tidak dilakukan amal perbuatan kecuali dalam rangka ridha-Nya. Dan itu semua mencakup penetapan nama-nama serta sifat-sifat-Nya sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkannya sendiri bagi diriNya”.[9]

Selanjutnya beliau rahimahullah mengatakan, “Bukanlah tauhid yang dimaksud sekedar Tauhid Rububiyah. Yaitu meyakini bahwa Allâh adalah pencipta alam semesta satu-satunya”.[10]

Itulah hakikat tauhid yang menjadi intisari dakwah serta ajaran setiap Rasul Allâh, yaitu yang berisi dua hal pokok: Pertama, penolakan terhadap setiap sesembahan selain Allâh, dan kedua, penetapan bahwa sesembahan yang benar hanyalah Allâh Azza wa Jalla saja.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap umat untuk menyeru kepada umat masing-masing, “Beribadahlah kalian kepada Allâh saja, dan jauhilah thaghut. [an-Nahl/16:36]

Dan banyak firman Allâh yang senada dengan ayat ini.

🔴 TUJUAN DICIPTAKANNYA MANUSIA

Adalah sangat naif dan dangkal jika orang berprasangka bahwa hidup di dunia ini hanyalah untuk tujuan dunia, untuk membangun dunia dengan segala gebyar serta teknologinya, dan untuk melakukan kebaikan-kebaikan duniawi hanya demi kebaikan serta kesejahteraan dunia.

Orang hidup pasti akan mati dan meninggalkan dunia fana ini menuju kehidupan lain. Dan pasti akan ada pertanggung jawaban dalam kehidupan lain itu. Karenanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa hidup di dunia ini memiliki tujuan agung yang bukan sekedar hidup, kemudian mati, lalu selesai. Tujuan agung itu adalah peribadatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu. [adz-Dzariyât/51:56]

Ibadah yang dimaksud adalah ibadah murni yang tidak terkotori dengan peribadatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . Jika seseorang dalam peribadatannya melakukan perbuatan syirik, mempersekutukan makhluk dengan Allâh, maka pasti Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan murka dan tidak akan ridha.[11]

Di antara dalilnya ialah, firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa yang sangat besar. [an-Nisâ’/4:48]

Juga firman-Nya :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya (dosa) syirik (mempersekutukan Allâh), benar-benar merupakan kezaliman yang sangat besar. [Luqmân/31:13]

Demikian pula firman-Nya :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allâh, maka janganlah kamu memohon di dalamnya kepada siapapun, di samping kepada Allâh. [al-Jin/72:18]

Jadi, bagaimana mungkin Allâh Azza wa Jalla tidak murka jika Dia Yang Maha Perkasa dan Sempurna disejajarkan dengan makhluk-Nya yang serba lemah dan kurang. Karena itulah, larangan terbesar dalam Islam adalah syirik. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan beribadahlah kepada Allâh dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun [An-Nisâ/4:36]

Demikian juga maksud diturunkannya kitab-kitab Allâh Azza wa Jalla serta diutusnya para rasul ialah agar para manusia beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja.[12] Dalilnya sangat banyak, di antaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. [Al-Anbiya’/21:25]

Nah, agar orang tidak kecewa kelak dalam kehidupan di alam lain, ia harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Penciptanya. Dan Penciptanya ini telah menunjuk utusan kepercayaan-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya. Ia adalah Rasûlullâh, utusan-Nya.

🔴 BAGAIMANA CARA BERTAUHID?

Adalah jelas bahwa Islam dibangun berdasarkan pondasi tauhid.[13] Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa, maka apakah kamu telah Islam (berserah diri) kepada-Nya”? [al-Anbiyâ’/21:108]

Maka agar keislaman seseorang itu benar dan diterima di sisi Allâh Azza wa Jalla , ia harus bertauhid dengan benar, yaitu hanya memberikan peribadatan kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ikhlas dan tidak memberikan sedikitpun dari macam-macam ibadah kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Tidak berdoa dan tidak memohon kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta’ala , hal-hal yang hanya menjadi kekuasaan Allâh untuk memberinya; tidak kepada malaikat, tidak kepada Nabi, tidak kepada wali, tidak kepada ‘orang pintar’, tidak kepada pohon, batu, matahari, bulan, kuburan dan lain sebagainya.[14]

Jadi dalam bertauhid, orang harus menolak dan menyingkiri segala yang disembah selain Allâh Azza wa Jalla , dan hanya mengakui, menetapkan serta menjalankan bahwa peribadatan hanya merupakan hak Allâh saja, Pencipta alam semesta.

Bertauhid bukan sekedar mengikrarkan bahwa Allâh adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur serta Pemilik alam semesta. Sebab tauhid semacam ini telah diikrarkan pula oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[15] Tetapi bertauhid harus direalisasikan dengan memberikan peribadatan hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , permohonan, doa dan kegiatan-kegiatan lain yang semakna, hanya kepada Allâh saja.

Dengan demikian, agar tauhid berfungsi menghapus segala dosa dan menghalangi masuk neraka, maka seseorang harus memurnikan tauhidnya kepada Allâh Azza wa Jalla serta berupaya menyempurnakannya. Ia harus memenuhi syarat-syarat tauhid, baik dengan hati, lidah maupun anggauta badannya. Atau minimal dengan hati dan lidahnya pada saat meninggal dunia.[16]

Intinya, menyerahkan peribadatan, kehidupan dan kematian hanya kepada Allâh, meninggalkan segala bentuk kemusyrikan serta segala pintu yang dapat menjerumuskan ke dalam kemusyrikan, sebagaimana telah diterangkan dalam ayat-ayat atau hadits-hadits di atas.

Demikian secara sangat ringkas gambaran tentang kehebatan tauhid yang memiliki daya hapus luar biasa terhadap dosa-dosa. Karena itu mengapa orang tidak tertarik memanfaatkan kesempatan ini ? yaitu dengan bertaubat, kembali bertauhid serta memurnikan tauhidnya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ? Dan mengapa tidak takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?

Perlu disadari oleh setiap insan, bahwa kelak masing-masing akan datang sendiri dan mempertanggung jawabkan dirinya sendiri dihadapan Allâh yang Maha adil keputusan hukumNya.

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allâh sendiri-sendiri pada hari Kiamat. [Maryam/19:95]

________________
REFERENSI
1. Fathul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri
2. Shahîh Muslim Bisyarhi an-Nawawi, Tahqîq wa Takhrîj: ‘Ishâm ash-Shababithiy Hazim Muhammad dan ‘Imad ‘Amir. Daar al-Hadits, Kairo, cet. III, 1419 H/1998 M
3. Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi, Tahqiq : Khalail Ma’mun Syiha
4. Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyâdh, cet. I dari terbitan terbaru,
5. Dar’u Ta’ârudh al-‘Aql wa an-Naql, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq: Iyad bin Abdul Lathif bin Ibrahim al-Qaisy, Maktabah ar-Rusyd, cet.I, 1427 H/2006 M.
6. Fathul Majîd Syarh Kitâbit Tauhîd, Tahqiq: Dr. Al-Walid bin Abdur Rahman Aal Fariyyan, Dar ‘Alam al-Fawa’id, cet. VI, 1420 H.
7. Taqrib at-Tadmuriyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, I’dad & takhrij: Sayyid Abbas bin Ali al-Julaimi, Maktabah as-Sunnah, Kairo, cet I, 1413 H/1992 M
8. Syarh Kasyfi asy-Syubuhat wa yalihi Syarh al-Ushul as-Sittah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, I’dad : Fahd bin Nashir as-Sulaiman, Dar ats-Tsurayya, cet. IV, 1426 H/2005 M
9. Syarh Tsalatsati al-Ushul, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, I’dad: Fahd bin Nashir as-Sulaiman, Daar ats-Tsurayya, cet. III, 1417 H/1997 M

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_____
Footnote
[1]. Lihat Shahih Muslim Bisyarhi an-Nawawi, Tahqîq wa Takhrîj: ‘Ishâm ash-Shababithiy, Hazim Muhammad dan ‘Imad ‘Amir. Dâr al-Hadîts, Kairo, cet. III, 1419 H/1998 M, IX/16, no. 2687. Atau Tahqiq : Khalil Ma’mun Syiha: XVIII/15, no. 6774
[2]. Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyâdh, cet. I dari terbitan terbaru, 1420 H/2000 M. III/455, no. 3540
[3]. Lihat Fathu al-Majîd Syarh Kitâb at-Tauhîd, Tahqiq: Dr. al-Walîd bin Abdurrahmân Aal Fariyyan, Dar ‘Alam al-Fawâ’id, cet. VI, 1420 H. I/151
[4]. Lihat Fathul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri I/226-227, no. 128, 129 dll, juga Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi, Khalil Ma’mûn Syiha, I/177-178, no. 143
[5]. Lihat Fathul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri VI/474, no. 3435 dan Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi, Khalil Ma’mun Syiha, I/173-174, no. 139, 140.
[6]. Demikian Syaikh Muhammad bin Badul Wahhab memberikan definisi kaitannya dengan Tauhid Uluhiyah. Lihat Syarh Kasyfisy Syubuhat wa yalihi Syarh al-Ushulis Sittah, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin t , I’dad : Fahd bin Nashir as-Sulaiman, Dar ats-Tsurayya, cet. IV, 1426 H/2005 M, hlm. 20, matan.
[7]. Ibid. Pada bagian penjelasan Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin t
[8]. Ibid. Syarah
[9]. Lihat Dar’u Ta’ârudh al-‘Aql wa an-Naql, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq: Iyad bin Abdul Lathif bin Ibrahim al-Qaisy, Maktabah ar-Rusyd, cet.I, 1427 H/2006 M. I/186
[10]. Ibid. hlm. 187
[11]. Lihat perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t dalam al-Ushûl ats Tsalâtsah. Dalam Syarh Tsalâtsati al-Ushûl, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin trahimahullah, terdapat pada hlm. 33. I’dad: Fahd bin Nashir as-Sulaiman, Daar ats-Tsurayya, cet. III, 1417 H/1997 M
[12]. Lihat Taqrib at-Tadmuriyah, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin, I’dad & takhrij: Sayyid Abbas bin Ali al-Julaimi, Maktabah as-Sunnah, Kairo, cet I, 1413 H/1992, hlm. 119
[13]. Ibid, hlm.110
[14]. Ibid. 112
[15]. Ibid. 110
[16]. Lihat Fathul Majîd Syarh Kitâbit Tauhîd, op.cit. I/151

Almanhaj.or.id

Jumat, 29 Juni 2018

KHUTBAH JUM'AT

*🕌 KHUTBAH JUM'AT 🕌*

*📖5 HADITS YANG MEMBICARAKAN DOSA YANG DILAKNAT🔥*
https://rumaysho.com/17211-khutbah-jumat-5-hadits-membicarakan-dosa-yang-dilaknat.html

*Khutbah Pertama*

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Amma ba’du

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita, nikmat harta, nikmat umur panjang, dan nikmat sehat, ini adalah semua nikmat yang wajib kita syukuri. Lebih-lebih lagi nikmat yang paling utama, Allah masih memberi nikmat iman dan Islam. Nikmat iman tentu lebih istimewa daripada nikmat kekayaan, karena iman inilah yang menjadi jaminan kita bahagia.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan kita yang menjadi teladan juga dalam hidup sederhana yaitu Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada Ummahatul Mukminin, istri-istri beliau yang tercinta, yaitu (1) Khadijah binti Khuwailid,  (2) Saudah binti Zam’ah, (3) ‘Aisyah binti Abi Bakr, (4)  Hafshah binti ‘Umar, (5) Zainab binti Khuzaimah, (6) Zainab binti Jahsy, (7) Ummu Salamah binti Abi Umayyah, (8) Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, (9) Juwairiah binti Al-Harits, (10) Shafiyyah binti Huyay, (11) Maimunah binti Al-Harits, juga kepada para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah.

Pernah dengar dosa yang dilaknat atau dikutuk?
Setiap yang terkena laknat Allah, maka ia berarti jauh dari rahmat Allah dan berhak mendapatkan siksa, akhirnya binasa. Demikian disebutkan dalam Lisanul ‘Arab, 13: 387-388.

Yang dilaknat bisa jadi perbuatannya adalah kekafiran. Ini jelas jauh dari rahmat Allah dan berhak mendapatkan azab Allah.

Bisa pula yang dilaknat tetap muslim, namun ia melakukan perbuatan yang pantas dapat laknat seperti orang yang minum minuman keras, orang mencaci maki orang tuanya dan semacam itu. Perbuatan yang dilakukan tentu saja termasuk al-kabair (dosa besar), namun tidak menyebabkan ia kekal di neraka.

Ada lima hadits yang kami bawakan pada kesempatan khutbah Jumat kali ini yang menerangkan dosa-dosa yang dilaknat sehingga kita semakin takut berbuat maksiat dan berusaha menghindari dosa-dosa yang nanti disebutkan.

*Hadits Pertama*
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ

*“Allah melaknat siapa saja yang melakukan sembelihan (tumbal) pada selain Allah (menyebut nama selain Allah). Allah melaknat orang yang melindungi pelaku maksiat (dan bid’ah). Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah.” (HR. Muslim, no. 1978)*

Ada empat hal yang dilaknat dalam hadits pertama ini:

● Orang yang menyerahkan tumbal atau sembelihan kepada selain Allah bisa jadi karena ingin memenuhi prasyarat pesugihan dan ingin menjadi kaya atau untuk mengangkat musibah dengan segera lewat istighatsah kepada selain Allah.
● Melindungi pelaku maksiat dan bid’ah.
● Orang yang mengutuk orang tuanya, bisa jadi secara langsung, bisa jadi karena dia menjadi sebab orang tuanya dilaknat.
● Orang yang menzalimi orang lain dengan merubah batas tanah.

*Hadits Kedua*
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat *pemakan riba,  penyetor riba, pencatat transaksi riba dan dua orang saksi dalam transaksi riba.”*
Beliau mengatakan, “Mereka semua sama (dapat dosa).” (HR. Muslim, no. 1598)

Riba adalah tambahan pada sesuatu yang khusus, misalnya yang dikatakan oleh para ulama dalam utang piutang, *“Setiap utang piutang yang di dalamnya terdapat keuntungan maka termasuk riba.”*

Yang dilaknat dalam hadits di atas adalah:

● Pemakan riba (rentenir)
● Yang menyetor riba (nasabah)
● Pencatat riba (sekretaris)
● Dua orang saksi dalam transaksi riba.

*Hadits Ketiga*
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat *orang yang memberi suap dan yang menerima suap”.* (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al-Albani hadits ini shahih).

Berarti yang dilaknat dalam hadits ketiga adalah orang yang menyuap dan disuap. Namun berbeda kalau yang menyuap ini karena menuntut haknya yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan jalan menyuap, maka ia yang menyuap tidak terkena laknat seperti dalam hadits.

*Hadits Keempat*
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ وَقَالَ « أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ » . قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فُلاَنًا ، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat *pria yang bergaya seperti wanita dan wanita yang bergaya seperti pria.”*
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.”
Ibnu ‘Abbas katakan, “Nabi pernah mengeluarkan orang yang seperti itu. Demikian halnya dengan ‘Umar.” (HR. Bukhari, no. 5886)

Inilah yang dilaknat seperti tingkah laku kaum LGBT saat ini.

*Hadits Kelima*
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةً رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَرَجُلٌ سَمِعَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ثُمَّ لَمْ يُجِبْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat tiga orang: *(1) orang yang memimpin kaumnya lantas mereka tidak suka (lantaran penyimpangan agama, bukan masalah dunia), (2) istri yang di malam hari membuat suaminya membencinya (karena tidak mau taat pada suami), (3) ada orang yang mendengar ‘hayya ‘alal falaah’ (marilah meraih kebahagiaan) lantas ia tidak memenuhi panggilan berjamaah tersebut.”* (HR. Tirmidzi, no. 358. Hadits ini sanadnya benar-benar lemah menurut Syaikh Al-Albani). Walau hadits ini dha’if, namun maknanya shahih.

Demikian khutbah pertama ini.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

*Khutbah Kedua*
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Khutbah Jumat, 30 Jumadal Ula 1439 H

🕌 Masjid Raudhatul Jannah, Kel. Kampung Pisang Kec. Kota Ternate Tengah, Maluku Utara

Disusun di Kampung Pisang, Ternate, 30 Jumadal Ula 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Minggu, 24 Juni 2018

JIKA KAU SENDIRIAN DI KAMPUNG MU

Jikalau kau seorang diri di suatu kampung
🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠

Jikalau kau seorang diri di suatu kampung, atau hanya ada dirimu dan keluargamu saja, yang Istiqomah taat kepada Alloh azza wa jalla, serta mengamalkan Sunnah Sunnah Rosululloh sholaAllohu alaihi wassalam, lalu merasa terasing, dan menjadi aneh, bersabarlah, Alloh azza wa jalla selalu melihat mu, jangan mundur ke belakang, Istiqomah lah di atas manhaj shohihah manhaj Ahlu Sunnah wal jama'ah, As Salafiyah.
Rosululloh sholaAllohu alaihi wassalam bersabda ;

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
.
Juga seorang Salafushshalih berkata dan semoga menambah semangat memperkokoh kan keimanan dan ketaqwaan kita
Ulama salaf berkata:

عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ البَاطِلِ وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ

“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).

#JanganFutur

Kamis, 21 Juni 2018

NASIB PNS

SOLUSI UNTUK PNS... (P)ENGEN (N)GLUNASI (S)ISA UTANG

Setelah postingan saya "SK Yang Tergadai" temennya "Putri Yang Tertukar" direpost ribuan orang, banyak kawan-kawan PNS yang curhat ke saya tentang kondisi mereka yang hidup penuh utang. Di satu sisi jelas miris dan ikut prihatin, di sisi lain harus ada solusinya.. kalau enggak ya seumur hidup tersandera oleh utang! Karena gaji mereka otomatis terpotong sebelum sampai di tangan.. yang masih sisa walaupun sedikit masih mending, banyak yang sampai minus untuk bayar utang hingga harus ngobyek sana-sini banting tulang siang malam hanya untuk setor cicilan..

Makin hot karena minggu lalu saya dapat kiriman dari kang Ajat Jatnika di Karawang, headline koran lokal "GAJI GURU PNS SAMPAI MINUS" dengan gambar orang yang seluruh tubuhnya terbelit utang.. ngerii!

Terus kawan saya Makhjudin Zein mantan wartawan di Pekalongan mengirimkan video dokumenter buatannya, tentang seorang pensiunan guru yang harus mengayuh sepeda pulang pergi 34 KM dari jam 12 malam, demi mengantri di waktu subuh di loket pengambilan uang pensiun. Apakah yang diterima utuh? Ooo tidak.. dari uang pensiun 3,9 juta hanya tersisa 395.000 saja! Tiap bulan dia harus membayar utang ke lembaga keuangan 3,5 juta x 60 bulan = 210 juta, padahal uang yang diterima hanya 80 juta, katanya dulu untuk beli sawah.. siapapun yang melihat video itu bakalan nyesek ke ulu hati, baik yang gak punya utang, yang masih punya utang, maupun yang masih kerja di tempat ngutangin uang. Pasti dalam hati kecil kita semua bilang ini gak adil dan dzalim! Ada yang salah di sistem keuangan negeri ini yang berdampak dahsyat hingga ke level masyarakat bawah..

Bagi yang sudah belajar ilmu RIBA gak susah nyari jawabannya, ada di Quran dan hadist kok..

‎"Allah memusnahkan RIBA dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa." [QS. Al-Baqarah: Ayat 276]

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya... memakan RIBA" [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Dan jeritan kawan-kawan PNS yang curhat ternyata intinya sama:

"Saya ingin bebas dari semua utang mas!"
"Saya kapok mas! Kerja tapi gak pernah nerima gaji!"
"Saya siap kembali ke nol mas! Ampun deh ngikutin gaya hidup pamer di kantor!"
"Wis kapok mass.. kapok! Hidup siang malam kok hanya mikir cicilan.. kerjaan saya malah gak bener jadinya!"

Sebenarnya solusinya sudah sering saya bahas, tapi kuncinya cuman satu: mau enggak menjalaninya?
Berat? Ya beraaat laah!
Berdarah-darah? Jelass.. dramatis pokoknya!
Bikin malu? Tentu! Tapi gak malu-maluin di depan ALLAH..

"Apa itu mas? Apa itu! Apa ituuuu!!"
Fiuuuuh! Yuk satu-satu saya tuntun..

1. TAUBAT!
Minta ampun sama ALLAH karena kita sudah berani mainan riba. Sholat taubat 2 rakaat sebanyak-banyaknya. Bisa sesudah shalat fardhu maupun di waktu dhuha dan tahajut.. pokoknya sholat taubat sebanyak-banyaknya, kejar ampunan ALLAH! Gak usah nyari solusi dulu, gak bakal ketemu.. kejar ampunan ALLAH agar pintu-pintu kemudahan ALLAH bukakan! Kita memantaskan diri sebagai hamba yang penuh dosa dan minta belas kasih dari Tuhan yang menciptakan kita.. dah level paling atas nih!

2. BERAZZAM
Artinya berniat dan bercita-cita dengan sangaaaaaattt sungguh-sungguh untuk bebas utang dan riba! Di level ini kalau niat itu begitu muantab maka perasaan jijik pada utang itu sudah pada level jijik melihat babi dan khamar! Kan semua jelas-jelas diharamkan ALLAH, Tuhan yang punya langit dan bumi, maka pilihannya cuman satu kita taat dan patuh pada aturan itu!
Riba haram mas? Baca saja di Quran Surat Al Baqarah 275.. masak masih ngeyel pada aturan ALLAH?

Banyak orang yang testimoni mulai merasakan keajaiban di level ini, ketika sudah mantab meninggalkan riba maka satu demi satu keajaiban datang! Ini seperti bukti dari hadist ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang INGIN MELUNASI hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut, selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.”  [HR. Ibnu Majah no. 2400]

3. SIAP KEHILANGAN!
Kehilangan apa? Kehilangan benda-benda yang selama ini membuat tersandera!
Gini, utang dengan jaminan SK itu hanya akan lunas di waktu yang telah ditentukan. Pihak pemberi utang tenang, karena ada jaminan dari tempat kerja bahwa tiap bulan gaji otomatis terpotong, gak ada kredit macet.. dan PASTI UNTUNG! Kalau berhutang dengan jadwal waktu 5 tahun, padahal baru setahun sudah terasa begitu sesak di dada, bagaimana cara memblokir yang 4 tahun tersisa?
Hanya satu pilihan.. lunasi pokoknya, tebass langsung!
Uang dari mana mas? Ya jual asset salah satu cara tercepat!
Punya motor? Jual aja..
Punya mobil? Jual aja..
Punya tanah? Jual aja..
Punya rumah? Jual aja..
Hasil penjualan 100% untuk bayar utang! Kalaupun nombok gak banyak-banyak amat laaah..

"Jual barang dan asset itu gak gampang mas? Susah cari pembeli! Berbulan-bulan iklan gak laku-laku juga!"

Mmmm.. pakai ilmu manusia sih! Pakai ilmunya ALLAH dong yang diajarkan Nabi!
Apa itu? SEDEKAH DI DEPAN!
Niatnya diganti, bukan begini:
"Kalau rumah saya laku, saya akan bersedekah 5 juta kepada anak-anak yatim!"

Tapi begini:
"Saya akan bersedekah 5 juta kepada anak-anak yatim, agar ALLAH ridho dan memberikan jalan keluar. Mengirimkan pembeli yang cocok yang akan membeli asset saya"

Tuh begitu... ada buktinya kalo itu manjur?
Sepanjang saya seminar "Kembali Ke Titik Nol" di berbagai kota, buanyak yang ngasih testimoni setelah asset mereka terjual setelah rutin ngasih makan anak-anak yatim dan duafa! Masak gak percaya sama ilmu yang diajarkan Nabi sih?

4. CARI PENDAPATAN LAIN YANG HALAL!
Sambil proses menjual asset, gak usah malu untuk ngobyek di luar jam kerja asal itu halal! Nyambi jadi driver ojek online boleeeh! Lepaskan itu seragam PNS, ganti jaket warna warni. Halal kok.. angkut!
Mau jualan? Gak dilarang.. belajar jualan online, dari jilbab, flaskdisk, casing HP, sambel kemasan, madu, obat herbal, apapun itulah.. pokoknya asal halal ya sikat! Kumpulkan uangnya untuk membayar pokok utang!

5. UBAH GAYA HIDUP!
Gak usah gampang panasss ketika teman sekantor pada pamer limit kartu kredit, pamer mobil baru, pamer motor baru, pamer laptop baru, apalagi cuman HP baru... haaaalaah, makplenyik lah itu!
Pokoknya "madep mantep" utang lunas! Fokuuusss jangan gampang panas!

6. MINTA DOA ORANG TUA
Mereka yang melahirkan dan membesarkanmu, cium tangan bahkan kaki mereka agar ALLAH makin ridho.. minta doa dari mereka agar bisa makin kuat menghadapi jeratan utang itu.

Daaaaan... jika moment mengharukan itu datang, engkau bisa membebaskan SK mu, jangan pernah lagi menyekolahkannya.. mulailah hidup hemat dan tertib dalam mengelola keuangan keluarga. Yakin deh, ketika hati tenang, pikiran lapang, itu semua potensi diri dan kreativitas bakal keluarrrr! Energi kebaikan akan berlipat-lipat, dan rejeki akan datang lagi lebih berkah dan lebih banyak...

Janji ALLAH:
"Barangsiapa berhijrah di jalan ALLAH, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.." [QS An Nisa:100]

Selamat berjuang kawan! Kelak engkau jadi PNS sungguhan.. Pengen Nambahi Sedekah!

Sedekahnya jadi buanyak! Karena rejeki terus datang berlipat-lipat..

Salam lunas!
@Saptuari

SURAT UNTUK CALAON MERTUA

Surat Terbuka Untuk Calon Mertua

Wahai calon Mertua yang berbahagia.

Hari ini izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya secara pribadi kepada Bapak.
Nama saya Joko, Joko Prastyo.
Mudah untuk diingat, bukan?
Saya berfikir saya sudah sangat cukup umur untuk berhadapan dengan Bapak.
Sudah jauh-jauh hari saya ingin menjumpai Bapak.
Namun keadaan belum berpihak kepada kita untuk saling bertatap muka.

Wahai calon Mertua,
izinkan saya untuk berbicara panjang lebar dihadapan Bapak.
Berbicara blak-blakan, apa adanya.
Saya hadir disini karena satu alasan,
hanya untuk meminta putri Bapak.
Minta izin untuk tinggal bersama diatas perjanjian berlandaskan syariat agama.

Wahai calon Mertua.

Saya memang bukan siapa-siapa.
Hanya seorang pemuda yang baru bisa memenuhi hajat perut dua kali sehari.
Hanya seorang lajang yang sering langganan “Nasi Pecel” di warung seberang.
Dan kehidupannya sering bertukar antara siang dan malam.
Saya juga belum punya apa-apa yang patut Bapak banggakan.
Dan sah-sah saja apabila kemudian ada pertanyaan yang akan Bapak ajukan.

Wahai calon Mertua.

Sedikit tentang latar belakang keluarga,
saya bukan keturunan bangsawan.
Bukan juga berdarah konglomerat yang memiliki banyak proyek di dinas pemerintahan.
Apalagi keturunan panglima yang sering menyetir Avanza ataupun sedan.
Saya hanya orang biasa dari kalangan biasa.
Keluarga saya hanya seorang petani yang kesehariannya menanam sayuran dan kacang2an.
Sedikit mempunyai penghasilan dari hasil membelah pinang.
Tentunya Bapak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami yang serba pas-pasan.

Calon Mertua yang saya kagumi.

Berbicara tentang pendidikan,
saya sedikit lega kalau tidak berbangga hati.
Dengan kondisi prihatin pendidikan menjadi prioritas keluarga walaupun dengan biaya yang pas-pasan.
Tentunya dengan banyak halangan dan rintangan.
Sehingga saya bisa bekerja ditempat yang setidaknya cukup nyaman bagi saya,
Saya yakin Bapak sudah sangat paham dengan keadaan yang saya perjuangkan.

Wahai calon Mertua yang arif nan bijak.

Saya hadir dengan satu alasan
yaitu ingin melamar anak Bapak yang shaleha.
Saya sangat menghargai dan menghormati ia sebagai perempuan.
Saya tidak mau menciderai anugerah yang Allah  berikan.
Karena alasan itulah saya beranikan hati untuk berbicara dengan Bapak.
Selayaknya saya tidak baik berbicara begini,
namun hati saya selalu berontak untuk berkata jujur apa adanya.
Saya rasa itu tidak salah, bukan?
Sedikit cerita tentang awal perkenalan dengan anak Bapak.
Ketika itu tidak sengaja kenal di dunia maya.
Saya tidak mungkin memendam perasaan sampai akhir kehidupan.
Menurut saya, Bapak lah yang menjadi jalan sebagai obat penenang.

Wahai calon Mertua yang saya muliakan.

Saya memang belum berkecukupan selayaknya orang-orang diluar sana.
Saya belum punya banyak penghasilan.
Belum punya banyak pendapatan untuk mengarungi samudera yang sewaktu-waktu karam ditengah jalan.
Pun begitu,
yakinilah wahai calon Calon Mertua.
Yakinilah, saya akan menjaga amanah ini dengan sebaik mungkin.
Karena saya percaya,
putri Bapak adalah seorang navigator ulung yang sudah sangat mengenali arah bintang kehidupan.

Wahai calon Mertua.

Ini bukanlah penutup dari percakapan kita.
Ini adalah percakapan pembuka kita supaya Bapak membuka ruang.
Sebagai permulaan Bapak memberikan saya kesempatan meniti kehidupan bersama putri Bapak yang shaleha.

#terkirim_surat_ini_tanpa_alamat
#Semoga_calon_Mertua_juga_sedang_Facebookan😜😜