Senin, 28 Mei 2018

SHOLAT KHUSYUK

🍃 *AGAR SHOLAT KHUSYUK*

✍  _Oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, MA_

Sering kali dalam sholat pikiran kita hanyut terbawa derasnya angan-angan dan andai-andai yang tak bermuara hanya pada satu muara.

Baru saja "Allahu Akbar" dikumandangkan tenggelamlah hamba dalam samudera khayalnya berenang-renang 'tuk menggapai daratan impian.

Segala program dan aktivitas dunia mulai bergelayut dalam benaknya. Program-program dunia yang telah dirancang mulai disusun dan diatur rapi dalam sholat. Meski seluruh tubuh ada dalam masjid tapi pikirannya telah melanglang buana ke berbagai tempat dan kegiatan. Tak terasa sholatpun usai tanpa makna khusyuk yang merupakan ruh sholat.

*Pengganggu sholat yang paling dahsyat adalah ambisi dunia.*
Dunia berupa harta tahta dan wanita tak pernah jemu menghampiri hamba bahkan dalam sholatnya. Berkali-kali kita coba kembalikan konsentrasi dan fokus pada sholat, berkali-kali pula fokus itu hilang entah kemana.

Apakah pernah anda merasakan betapa sulitnya khusyu' dalam sholat?

Sebagian ulama mengatakan bahwa kekhusyukan itu akan dicapai apabila:

➖Hamba memahami apa yang dibaca
➖Sholat di awal waktu
➖Datang ke masjid lebih awal
➖Berupaya mengikuti gerak gerik sholat Nabi.

Apa yang mereka sebut di atas ada benarnya, namun tidak mutlak harus terwujud. Kudapati yang paling inti menghancurkan kekhusyukan adalah *ambisi dunia itu sendiri.*
Selama ambisi dunia bersarang di dadamu, gangguan itu takkan pernah hilang.

Bagaikan seorang pujangga yang ingin fokus menuliskan bait-bait syair di bawah batang sebuah pohon yang rindang merasa terganggu dengan kawanan burung-burung. Ia  berupaya menghalau dengan sebilah bambu sesaat, maka terbanglah kawanan burung itu. Iapun mulai berimajinasi mengarang syair-syair indah. Sayangnya baru sebentar ia mulai menulis maka kawanan burung itu datang kembali mengganggunya. Ia halau lagi maka burung terbang sejenak, namun kembali datang menganggunya berkali-kali tiada henti. Habislah waktunya disibukkan untuk menghalau burung yang takkan berhenti hinggap di pohon itu.

Cara yang efektif dan efesien untuk menghalau burung agar tak datang lagi menurut Ibnul Jauzi adalah dengan menebang pohon itu. Bila pohon telah rebah selesailah masalah.

*Bila ingin sholat khusyuk maka potong dan rebahkanlah pohon dunia yang ada di dalam hatimu niscaya kan hilang segala gundah dan gulanamu dalam sholat. Sholatmu dijamin khusyu takkan terganggu lagi.*

Namun sayangnya kita masih hidup di alam dunia yang terkembang ini, mustahil rasanya tak punya ambisi dan keinginan padanya karena kita bukan malaikat.

So..solusinya kurangi saja hajatmu terhadap dunia ini, hiduplah sekedarnya, jangan berlebihan. *Jadikan akhirat sebagai impian dan tujuan.*

Semoga kau berhasil.

========================

🌐 http://www.salamdakwah.com/artikel/4822-agar-sholat-khusyuk

══ ¤❁✿❁¤ ═══

Minggu, 27 Mei 2018

28 CATATAN SEPUTAR RAMADHAN

🌕🌙28 CATATAN SINGKAT SEPUTAR RAMADHAN🌕🌙

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Setiap ibadah akan bernilai pahala ketika ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan. Di antara kesempurnaan agama islam yaitu menjelaskan semua kebutuhan pemeluknya dan salah satu bentuk kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau menjelaskan kepada umatnya berbagai macam aturan dan panduan dalam beribadah.

Termasuk diantaranya, aturan ketika puasa. Beliau ajarkan secara rinci kepada umatnya bagaimana agar mereka bisa melakukan ibadah puasa secara sempurna. Berikut 28 catatan singkat seputar puasa:

[1.] Masuk dan keluarnya bulan ramadhan dengan melihat hilal dengan mengikuti ketetapan pemerintah.

[2.] Mulai puasa ramadhan bisa dengan melihat hilal dan/atau menggenapkan bulan sya’ban 30 hari jika hilal tidak terlihat.

[3.] Puasa secara bahasa maknanya menahan. Secara istilah adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan; mulai terbit fajar subuh hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.

[4.] Puasa ramadhan wajib berniat sejak malam hari, adapun puasa sunnah tidak.

[5.] Puasa wajib bagi seorang muslim yang baligh, berakal dan sehat.

[6.] Puasa memiliki beberapa keutamaan, diantaranya Allah yang langsung akan memberikan pahala dan doa orang berpuasa tidak tertolak, orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, puasa akan memberikan syafaat pada hari kiamat, dan yang lainnya.

[7.] Faedah puasa yaitu agar menjadi muslim yang bertaqwa.

[8.] Hikmah puasa yaitu agar kita berjiwa sosial merasakan penderitaan orang yang kelaparan dan rasa lapar mampu menahan syahwat seseorang untuk melakukan maksiat, puasa mengajarkan disiplin dengan memperhatikan waktu sahur dan buka puasa, puasa juga mengajarkan untuk produktif dengan memanfaatkan waktu dengan baik, dan lainnya.

[9.] Jangan lupa sahur

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu ada keberkahan.” (HR. Al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095). Sebaik-baiknya Sahur dengan kurma. (HR. Abu Daud, no. 2345).Agar puasa kita beda dengan puasa ahli kitab. Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096). Berarti dengan sahur, anda menyatakan diri anda beda dengan ahli kitab. Agar kita mendapat shalawat dari Malaikat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad no. 11086, shahih).Jangan sia-siakan waktu yang mustajab (waktu sahur). Mengakhirkan sahur (Muttafaq ‘alaih). Jarak antara waktu sahur dengan adzan sekitar 50 ayat (Muttafaq ‘alaihi). Batas sahur yaitu ketika adzan subuh dikumandangkan.

[10.] Jangan lewatkan shalat rawatib sebelum Subuh dan pastikan shalat subuh berjamaah.

[11.] Hendaknya berkata dan berlaku baik (HR. Al-Bukhari no. 1903).

[12.] Sibukkan dengan baca Al-Qur’an dan amal ibadah lainnya.

[13.] Tidak gaduh atau berteriak (HR. Al-Bukhari no. 1894).

[14.] Mendermakan ilmu, harta, kemuliaan, badan, dan akhlak.

[15.] Doa mustajab menjelang berbuka, maka sibukkanlah dengan doa. (HR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih)

[16.] Segerakan berbuka (Muttafaqun ‘alaih).

Membaca Basmalah lalu makan kurma dan berdo’a sebelum shalat. (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih).Membaca doa buka puasa

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan).

Shalat dulu kemudian makan. Memberi hidangan berbuka bagi orang yang puasa (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan shahih). Mendoakan orang yang memberi makan.

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)

Berdoa setelah makan.

[17.] Shalat Tarawih 11 rakaat yang lebih utama dengan waktu shalat yang cukup lama.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

[18.] Shalat bersama imam sampai selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk. (HR. Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah).

[19.] Shalat Tarawih 2 rakaat salam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua rakaat dua rakaat. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[20.] Hal-hal yang membatalkan puasa di antaranya :

■■ *Makan dan minum.*
■■ *Hubungan suami istri.*
■■ *Haidh dan Nifas.*
■■ *Keluar sperma.*
■■ *Muntah dengan sengaja*

[21.] Hal-hal yang tidak membatalkan puasa :

●Hijamah (bekam) jika tidak melemahkan fisik.
●Muntah sedikit.
●Bersiwak dan gosok gigi.
●Mencuci tangan atau semprotan pembersih hidung, atau oksigen yang dimasukkan melalui hidung, apabila bagian yang masuk tenggorokan tidak ditelan.
●Pil-pil pengobatan yang diletakan di bawah lidah untuk pengobatan sariawan atau lainnya juga tidak membatalkan puasa selagi dihindari masuknya ke dalam tenggorokan.
●Memasukkan alat perekam ke lubang vagina, atau jari untuk pemeriksaan. (Fatawa Al-Lajnah ad-Da’imah, 10/172).
●Memasukkan lensa monitor atau spiral atau yang serupa dengannya ke dalam Rahim.
●Benda yang dimasukkan ke lubang air seni, masudnya; pipa yang dimasukkan ke lubang tempat aliran air seni pada kemaluan laki-laki atau perempuan, atau benda yang dihubungkan dengan sinar atau obat, atau tempat untuk membersihkan wadah air seni.
●Melubangi gigi atau mencopot gigi gerahang atau pembersih gigi atau bersiwak dan bersikat gigi asal dihindari tertelannya sesuatu ke dalam tenggerokan.
●Kumur-kumur dan oksigen buatan yang dilakukkan di mulut, asal dihindari tertelannya sesuatu ke dalam tenggorokan.
●Injeksi pengobatan di tubuh atau obat atau pembuluh darah, selain infus pengganti makanan.
●Menghirup Gas oksigen.
●Menghirup Gas pembius yang diberi bahan cair sebagai suplemen.
●Benda-benda yang diserap kulit, seperti bahan cairan atau minyak angin atau benda tempelan lainnya yang mengandung bahan medis atau kimia.
●Memasukkan selang (pipa kecil) ke urat-urat untuk kepentingan pemotretan atau pengobatan rongga jantung atau anggota badan lainnya.
●Memasukkan alat untuk melihat yang dimasukkan ke bagian luar lambung untuk pemeriksaan atau operasi medis.
●Mengambil bintik atau bendul-bendul yang di dalam hati atau lainnya selagi tidak dibarengi dengan bahan cairan suplemen.
●Alat yang digunakan untuk melihat pencernaran bila dimasukkan tidak dibarengi dengan bahan-bahan suplemen atau benda lainnya.
●Masuknya alat atau benda medis ke otak atau sumsum.

[22.] Hukum-hukum seputar puasa :

Orang sakit yang yang bisa diharapkan kesembuhannya maka mengqodho di hari-hari yang lain. Adapun bagi yang sakit yang tidak kunjung sembuh yaitu dengan membayar fidyah.Wanita haid dan nifas mengqodho puasa pada hari-hari yang lain. Orang yang safar boleh tidak puasa dan mengqodhonya di waktu lain, namun jika kuat tidak mengapa ia berpuasa. Orang lanjut usia tidak wajib puasa tapi wajib membayar fidyah setiap hari. Wanita yang hamil dan menyusui hukum asalnya mereka harus mengqhodo puasanya di waktu lain, namun jika tidak mampu karena sebab yang syar’i maka boleh bagi mereka membayar fidyah. Adapun yang berhubungan badan di siang hari maka baginya mengqodho dan bayar fidyah

[23.] Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan.

[24.] Cara membayar fidyah dengan memberikan makanan kepada orang miskin ada dua:

Pertama, dengan dibuatkan makanan (siap saji), kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari puasa yang ditinggalkan, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radliallahu ‘anhu ketika dia sudah tua. Kedua, memberi bahan makanan kepada mereka yang belum dimasak. Para ulama mengatakan: besarnya: 1 mud (0,75 kg) untuk gandum atau setengah sha’ (2 mud = 1,5 kg) untuk selain gandum. Akan tetapi, untuk pembayaran fidyah model kedua ini, selayaknya diberikan dengan sekaligus lauknya, baik daging atau yang lainnya.

[25.] Adapun waktu pembayaran fidyah, ada kelonggaran. Dia boleh membayarkan fidyahnya setiap hari satu-satu (dibayarkan di waktu maghrib di hari puasa yang ditinggalkan). Dia juga dibolehkan mengakhirkan pembayaran sampai selesai ramadhan, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (As-Syarhul Mumthi’, 6/207).

[26.] Zakat fitrah dilakukan sebelum melaksanakan shalat iedul Fitri, jika dilakukan setelahnya maka termasuk sedekah biasa. Zakat fitrah dengan makanan pokok bukan dengan uang.

[27.] I’tikaf di sepuluh akhir bulan ramadhan.

[28.] Berhari raya bersama pemerintah.

Demikian beberapa catatan penting puasa selama bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat. Wabillahi taufiq.

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Sumber: https://bimbinganislam.com/28-catatan-singkat-seputar-ramadhan/#more

ISTRI-ISTRI ROSULULLAH

SEKILAS TENTANG ISTRI-ISTRI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

#Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Tidak diragukan lagi bahwa mengetahui istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta jumlah mereka dan sekilas kisah kehidupan mereka merupakan bagian dari kesempurnaan mentadabburi ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Buku-buku sirah dan biografi banyak berisikan penjelasan tentang para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi alangkah bagusnya bila kita memberikan sedikit penjelasan tentang mereka walaupun dalam bentuk yang sangat ringkas.

[Diantara referensi dan sumber yang bisa dijadiakan rujukan untuk mengetahui biografi istri-istri Rasulullah Shalalllahu ‘alaihi wa sallam , sebagai berikut:

1. Thabaqat Ibnu Sa’di (8/52 dan setelahnya)
2. Tasmiyatu Azwajin Nabi wa Auladihi ditulis oleh Abi Ubaidillah Mu’ammar bin al-Mutsni
3. Al-Isti’ab, ditulis oleh Ibnu Abdil Bar (1/44 dan setelahnya)
4. Al-Ishabah fi Tamyizi As-Shahabah, oleh Ibnu Hajar (Kitabu Nisa, 4/224 dan seterusnya)
5. Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim (1/105 dan seterusnya)
6. Jala’ul Afham, oleh Ibnul Qayyim (154 dan seterusnya)]

_____

Jumlah istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebelas orang, dua diantara mereka meninggal dunia saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, adapun sisanya (sembilan orang) masih hidup tatkala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Berikut penjelasan singkat tentang mereka:

1. Khadijah binti Khuwailid al-Quraisyiah al-Asadiyah Radhiyallahu anha
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya sebelum diangkat menjadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan umur Khadijah saat itu empat puluh tahun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah lagi dengan wanita lain sampai Khadijah wafat. Semua anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didapatkan dari Khdijah kecuali Ibrahim Radhiyallahu anhu. Ibrahim Radhiyallahu anhu merupakan anak yang Rasulullah dapatkan dari budak Beliau Mariyah Qibtiyyah. Khadijahlah yang menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Nabi. Dia juga berjihad bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harta dan jiwanya. Khadijah Radhiyallahu anhuma meninggal dunia tiga tahun sebelum Hijrah Rasulullah ke Madinah.

Diantara keutamaan Khadijah,
a. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan salam kepadanya melalui Malaikat Jibril Alaihissallam lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan salam tersebut kepada istrinya Khadijah Radhiyallahu anhuma . Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu berkata :

أَتَى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ وَمَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيهِ، وَلَا نَصَبَ

Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Ini Khadijah telah berjalan menuju kepadamu seraya membawa lauk atau makanan atau minuman. Apabila dia telah sampai kepadamu maka sampaikanlah padanya salam dari Rabbnya dan dariku! Dan berilah kabar gembira padanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari qashab (perak) tidak ada kegaduhan (suara-suara keras) di dalamnya tidak adapula rasa lelah (payah).
[Imam al-Bukhari (13/465, kitab Fathul Bari) dan Imam Muslim (4/1887)]

b. Khadijah Radhiyallahu anha tidak pernah menyakiti dan membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah. Rasulullah tidak pernah menghardik, mencela, tidak pula memboikotnya.

c. Beliau Radhiyallahu anha adalah wanita pertama yang beriman dengan Allah dan Rasulnya dari ummat ini.

2. Saudah bintu Zam’ah bin Qais al-Qurasyiah Radhiyallahu anha
Setelah Khadijah Radhiyallahu anha wafat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Saudah bintu Zum’ah bin Qais al-Quraisyah. Ketika Saudah sudah tua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mentalaknya, akan tetapi Saudah Radhiyallahu anha memberikan hari yang menjadi bagiannya (jatahnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma , sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan niatnya untuk mentalaknya.
[Riwayat al-Bukhari , Kitab Fathul Bari (9/312)]

Ini merupakan salah satu keutamaan Saudah Radhiyallahu anha. Beliau Radhiyallahu anha memberikan bagiannya kepada orang yang dikasihi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai bukti cintanya Radhiyallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengutamakan kedudukan Aisyah Radhiyallahu anhuma di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bagian (dari ghanimah) kepada para istrinya yang lain, sedangkan Saudah Radhiyallahu anha tidak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri bagian, akan tetapi beliau Radhiyallahu anha ridha dengan hal itu semua. Beliau Radhiyallahu anha lebih mementingkan ridha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Azza wa Jalla meridhai Saudah Radhiyallahu anha. Beliau Radhiyallahu anhameninggal di akhir masa kekhilafahan Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu, semoga Allah meridhai mereka berdua, dan meridhai semua Shahabat.

3.  Aisyah binti Abu Bakr Radhiyallahu anhuma
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah binti Abu Bakr as-Shiddiq Radhiyallahu anhuma pada bulan Syawal dua tahun sebelum hijrah ke Madinah. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau Radhiyallahu anhuma dinikahi tiga tahun sebelum hijrah, ketika itu Aisyah Radhiyallahu anhuma berumur enam tahun. Kemudian beliau Radhiyallahu anhuma digauli oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diawal-awal kedatangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah pada tahun pertama hijriyah, saat itu Aisyah Radhiyallahu anhuma telah berumur sembilan tahun. Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah Radhiyallahu anhuma, Malaikat pernah menampakkan Aisyah Radhiyallahu anhuma kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya dengan berbalut kain sutra. Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu anhuma , beliau Radhiyallahu anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

أُرِيتُكِ فِي الْمَنَامِ مَرَّتَيْنِ أَرَى أَنَّكِ فِي سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ وَيَقُولُ هَذِهِ امْرَأَتُكَ فَاكْشِفْ عَنْهَا فَإِذَا هِيَ أَنْتِ فَأَقُولُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ

Tahukah kamu? Kamu sudah diperlihatkan kepadaku dalam mimpi sebanyak dua kali. Aku melihat seorang laki-laki datang membawamu dengan berbalut sepotong kain sutra, kemudian laki-laki itu berkata, ‘Ini adalah istrimu, maka singkaplah (hijab)nya.’ Ternyata wanita itu adalah kamu. Lalu Aku mengatakan, ‘Jika ini memang dari Allah, maka pasti Dia akan menjalankannya.”
[Imam al-Bukhari , Fathul Bari (12/399), dan Muslim (4/1889)]

Diantara keistimewaan Aisyah Radhiyallahu anhuma adalah beliau Radhiyallahu anhuma merupakan istri yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, tatkala nabi ditanya oleh ‘Amr bin al’Ash Radhiyallahu anhuma :

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا

Siapakah orang yang paling Anda cintai? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aisyah.’ Kemudian aku bertanya, ‘Dari kaum laki-laki?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapaknya Aisyah.”
[Imam al-Bukhari , Fathul Bari (8/74), dan Muslim (4/1856)]

Diantara keutamaannya juga adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menikahi gadis selain Aisyah Radhiyallahu anhuma. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu anhuma , beliau Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Saya berkata kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, seandainya engkau mampir disebuah lembah yang berisi sebuah pohon yang sebagian buahnya telah dimakan, dan sebuah pohon yang buahnya belum dimakan sama sekali, maka dimanakah kamu akan melepaskan (mengikatkan) ontamu? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Pada pohon yang belum dijamah.'
[Imam al-Bukhari , Fathul Bari ( 9/120)]

Maksud Aisyah adalah Rasulullah tidak pernah menikahi gadis selain dirinya.

Diantara keitimewaannya Radhiyallahu anhuma juga adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menerima wahyu sementara saat itu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada dalam satu selimut bersama Aisyah Radhiyallahu anhuma . Ini tidak pernah terjadi dengan istri-istri Beliau Radhiyallahu anhuma yang lainnya. Dalam hadits yang shahih, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أُمَّ سَلَمَةَ لَا تُؤْذِينِي فِي عَائِشَةَ فَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا نَزَلَ عَلَيَّ الْوَحْيُ وَأَنَا فِي لِحَافِ امْرَأَةٍ مِنْكُنَّ غَيْرِهَا

Wahai Ummu Salamah! Jangan kamu menyakitiku pada diri Aisyah, karena demi Allah tidak pernah wahyu turun kepadaku di saat aku berada didalam selimut salah seorang diantara kalian selain Aisyah.

Keutamaan Aisyah yang lainnya, Allah Azza wa Jalla membersihkannya dari tuduhan dan fitnah keji yang dilontarkan oleh para pendusta yang menuduh Aisyah Radhiyallahu anhuma berzina. Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat yang berkenaan dengan bersihnya Aisyah Radhiyallahu anhuma dari tuduhan tersebut, sebuah ayat yang akan terus dibaca oleh kaum Muslim baik dalam shalat ataupun diluar shalat sampai hari kiamat. Allah Azza wa Jalla juga memberikan persaksian bahwa Aisyah Radhiyallahu anhuma termasuk wanita yang baik. Allah Azza wa Jalla juga berjanji akan memberikan pengampunan dan rezeki yang sangat mulia. Tentang ini, Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata dengan penuh ketawaduan, “Sungguh kedudukan pada diriku lebih rendah dari pembicaraan Allah Azza wa Jalla mengenai aku dengan suatu perkara yang akan dibaca (al-Qur’an)”
[Al-Bukhari (7/431), dan Muslim (4/2129)]

Diantara keutamaannya juga adalah Aisyah Radhiyallahu anhuma merupakan istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling faqih (paling paham tentang agama) dan yang paling banyak ilmunya dibandingkan dengan istri-istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, bahkan beliau Radhiyallahu anhuma lebih faqih dari semua wanita ummat ini secara mutlak. Para pembesar Shahabat menjadikan beliau Radhiyallahu anhuma sebagai rujukan dan meminta fatwa kepada beliau Radhiyallahu anhuma .

Diantara keutamaannya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal di rumah Aisyah, pada hari yang menjadi giliran Aisyah Radhiyallahu anhuma , meninggal dipangkuan Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma.
[Al-Bukhari (8/144), dan Muslim (4/1893)]

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, Aisyah Radhiyallahu anhuma baru berumur delapan belas tahun. Aisyah Radhiyallahu anhuma meninggal dunia di Madinah pada tahun 58 hijrah dan dimakamkan di pekuburan Baqi’. Sebelum meninggal, beliau Radhiyallahu anhuma sempat berwasiat agar dishalatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .

Kemudian para Ulama berbeda pendapat tentang masalah siapakah yang lebih utama antara Khadijah Radhiyallahu anhuma dan Aisyah Radhiyallahu anhuma . Diantara mereka ada yang berpendapat Aisyah Radhiyallahu anhuma lebih utama, sebagian yang lain berpendapat Khadijah lebih utama, ada juga yang memilih diam.

Ibn Qayyim rahimahullah mengatakan, “Saya pernah bertanya pada guru kami Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau rahimahullah menjawab, ‘Masing-masing dari mereka berdua memiliki keistimewaan. Khadijah Radhiyallahu anhuma memiliki pengaruh kuat di awal-awal Islam. Beliaulah yang menghibur, menguatkan dan menenangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Radhiyallahu anhuma menginfakkan hartanya dalam rangka membantu dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga beliau Radhiyallahu anhuma mendapat ghurratal (cahaya di akhirat) Islam. Beliau Radhiyallahu anhuma bersabar menanggung derita demi membela Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Pertolongan beliau Radhiyallahu anhuma untuk Rasulullah datang tepat pada waktu yang sangat dibutuhkan. Bantuan dan pertolongan yang beliau Radhiyallahu anhuma berikan tidak dimiliki oleh selainnya. Adapun Aisyah Radhiyallahu anhuma pengaruh beliau Radhiyallahu anhuma ada pada akhir-akhir Islam. Diantara keutamaannya at-tafaqquh fiddin (memahami ilmu agama), menyampaikan ilmu tersebut kepada umat ini, dan orang-orang Mukmin banyak mendapatkan manfaat dari ilmu yang telah beliau Radhiyallahu anhuma sampaikan dan ini tidak dimiliki oleh selainnya. Inilah ucapan beliau rahimahullah yang saya nukilkan secara makna.
[Jala’ul Afham (154)]

4. Hafshah binti Umar bin Khattab Radhyallahu anhuma
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah binti Umar bin Khattab Radhiyallahu anhuma pada tahun ke-3 Hijrah. Sebelum menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Hafshah pernah menjadi istri Khunais bin khuzafah yang merupakan salah seorang Shahabat Rasulullah yang pernah ikut serta dalam perang Badar. Hafshah bin Umar al-Khatthab meninggal dunia pada tahun ke-27 atau ke-28 hijrah.

5. Zainab binti Khuzaimah bin al-Harist al-Qaisiah Radhiyallahu anha
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab binti Khuzaimah bin al-Harist al-Qaisiah dari Bani Hilal bin ‘Amir. Zainab Radhiyallahu anhuma meninggal dunia setelah hidup bersama Rasulullah selama dua bulan. Zainab Radhiyallahu anhuma dijuluki Ummul Masakin (ibunda kaum miskin) karena beliau Radhiyallahu anhuma sering memberi makan kepada orang-orang miskin.

6. Ummu Salamah Radhiyallahu anha
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi dengan Ummu Salamah yang bernama Hindun binti Abi Umayyah bin al-Mughirah al-Quraisyah al-Makhzuumiyah. Ada yang mengatakan bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu anha adalah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir meninggal dunia. Beliau Radhiyallahu anha meninggal dunia pada tahun 62 hijrah. Beliau Radhiyallahu anha dikuburkan di pekuburan al-Baqi’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada tahun ke-4 hijrah.

Diantara keutamaan Ummu Salamah Radhiyallahu anha adalah Jibril Alaihissallam pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan Ummu Salamah Radhiyallahu anha sedang ada bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau Radhiyallahu anha bisa melihat malaikat Jibril Alaihissallam dalam rupa salah seorang shahabat yang Dihyah al-Kalbi. Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Utsman, beliau berkata, ” aku dikabari bahwasanya Jibril Alaihissallam mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara disamping Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma . Beliau berkata; kemudian Jibril Alaihissallam mulai berbicara dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu pergi, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ummu Salamah Radhiyallahu anha, Siapakah dia?”
[Shahih Muslim (4/196)] (al-Hadits).

7. Zainab binti Jahsyi Radhiyallahu anha
Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab binti Jahsyi dari Bani Asad bin Khuzaimah. Zainab Radhiyallahu anha merupakan anak dari bibi Rasulullah yang bernama Amimah bintu ‘Abdil Muttalib. Sebelum menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab Radhiyallahu anha menjadi istri Zaid bin Haritsah Radhiyallahu anhu, salah seorang bekas budak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah Zaid Radhiyallahu anhu menceraikan Zainan Radhiyallahu anha, Allah Azza wa Jalla menikahkan Zainab Radhiyallahu anhuma dengan Rasulullah langsung dari atas tujuh lapisan langit dan Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya:

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia.
[Al-Ahzab/33:37]

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan masuk ke tempat Zainab Radhiyallahu anhuma tanpa meminta izin. Zainab Radhiyallahu anha membanggakan dirinya dihadapan para Istri Rasulullah yang lain seraya berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan langsung oleh Allah Azza wa Jalla dari atas tujuh lapisan langit.”
[HR. Al-Bukhari (13/403)]

Ini termasuk salah dari keistimewaan Zainab bintu Jahsyi.

Beliau Radhiyallahu anhuma meninggal dunia pada tahun 20 hijrah, dan dimakamkan di pekuburan al-Baqi’. Zainab Radhiyallahu anha adalah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling awal meninggal dunia setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anhuma , beliau Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْرَعُكُنَّ لِحَاقًا بِي أَطْوَلُكُنَّ يَدًا . قَالَتْ عَائِشَةُ : فَكَانَتْ أَطْوَلَنَا يَدًا لِأَنَّهَا تَعْمَلُ بِيَدِهَا وتَتَصَدَّقُ

Yang paling cepat diantara kalian yang menyusulku (meniggal dunia) adalah yang paling panjang tangannya.’ Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Zainab Radhiyallahu anha adalah istri Beliau Radhiyallahu anhuma yang paling panjang tangannya, karena dia sering bekerja dan banyak bersedekah dengan tangannya.”
[HR. Muslim (4/1907)]

8. Juwairiyyah bin al-Harits bin Abi Dhirar Radhiyallahu anha
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyyah bin al-Harits bin Abi Dhirar al-Mustaliqiyah. Dia merupakan tawanan pada perang Bani Musthaliq dan masuk dalam bagian (ghanîmah) Tsabit bin Qais Radhiyallahu anhu. Tsabit bin Qais Radhiyallahu anhu membebaskannya dengan syarat dia harus membayar sejumlah uang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melunasinya lalu menikahinya pada tahun keenam hijriah, dan beliau Radhiyallahu anhuma meninggal dunia pada tahun lima puluh enam.

Diantara keutamaan Juwairiyah Radhiyallahu anha adalah kaum Muslim membebaskan seratus budak dan tawanan yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Juwairiyyah Radhiyallahu anha ketika mereka tahu beliau Radhiyallahu anha dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para Shahabat mengatakan bahwa para tawanan itu telah menjadi saudara-saudara ipar bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini merupakan salah satu berkah Juwairiyah Radhiyallahu anha untuk kaumnya.

9. Ummu Habibah, Ramlah bintu Abi Sufyan Shakhr bin Harb Radhiyallahu anha
Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah Radhiyallahu anha yang bernama Ramlah bintu Abi Sufyan Shakhri bin Harbi al-Quraisyi al-Umawiyah. Ada yang mengatakan bahwa nama Ummu Habibah Radhiyallahu anha adalah Hindun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya saat beliau Radhiyallahu anha sedang berhijrah di negeri Habasyah. Raja Najasyi memberikan kepadanya Radhiyallahu anhuma empat ratus dinar sebagai mahar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian beliau dibawa dari Habasyah menuju Rasulullah di Madinah. Ummu Habibah Radhiyallahu anha meninggal dunia dimasa kepemimpinan saudaranya yang bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

10. Shafiyah bintu Huyai bin Akhtab Radhiyallahu anha
Pada tahun ketujuh hijriyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyah bintu Huyai bin Akhtab tetua bani Nadhir dari keturunan Harun bin Imran saudara Musa Alaihissallam. Berdasarkan ini berarti dia adalah anak Nabi (Harun), pamannya seorang Nabi (yaitu Nabi Musa Alaihissalam), dan suaminya juga seorang Nabi (yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dia Radhiyallahu anha termasuk wanita paling cantik di dunia ini. Pada awalnya dia adalah seorang budak (dari tawanan perang) kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya dengan mahar dibebaskan atau dimerdekakan dari status budak. Ini termasuk bagian dari keutamaannya Radhiyallahu anha.

11. Maimunah bintu al-Harits al-Hilaliyah Radhiyallahu anha
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah bintu al-Harist al-Hilaliyah Radhiyallahu anha. Beliau Radhiyallahu anha adalah wanita terakhir yang dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya Radhiyallahu anha pada tahun ketujuh hijrah setelah umrah qada’, kemudian beliau Radhiyallahu anha meninggal di daerah Saraf pada tahun enampuluh tiga hijrah dimasa kekuasaan Mu’awiyah, semoga Allah meridhai mereka berdua dan meridhai semua Shahabat Rasulullah.

# Media Muslim Indonesia
# Pencari Ilmu Salaf
# Muhammad Wisam Samudera

Sabtu, 26 Mei 2018

LAFADZ SHALAWAT

● LAFADZ SHALAWAT
   TERDAPAT DALAM 8 RIWAYAT

1. Dari Jalan Ka’ab bin ‘Ujrah

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid, Allaahumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid”.

Artinya :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[SHAHIH, HR. Bukhari 4/118, 6/27, dan 7/156, Muslim 2/16, Abu Dawud no. 976, 977, 978, At Tirmidzi 1/301-302, An Nasa-i dalam “Sunan” 3/47-58 dan “Amalul Yaum wal Lailah” no 54, Ibnu Majah no. 904, Ahmad 4/243-244, Ibnu Hibban dalam “Shahih” nya no. 900, 1948, 1955, Al Baihaqi dalam “Sunanul Kubra” 2/148 dan yang lainnya]

2. Dari Jalan Abu Humaid As Saa’diy

اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته كما صليت على إبراهيم ، وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته كما باركت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shol laita ‘alaa ibraahiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa ibraahiim innaka hamiidum majiid.

Artinya :
“Ya Allah,berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada isteri-isteri beliau dan keturunannya,sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim,Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[SHAHIH, HR. Bukhari 4/118, 7/157, Muslim 2/17, Abu Dawud no. 979, An Nasa-i dalam “Sunan” nya 3/49, Ibnu Majah no. 905, Ahmad dalam “Musnad” nya 5/424, Baihaqi dalam “Sunanul Kubra” 2/150-151, Imam Malik dalam “Al Muwaththo’ 1/179 dan yang lainnya].

3. Dari Jalan Abi Mas’ud Al Anshariy

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shol laita ‘alaa aali ibraahiim ,wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibraahiim fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

Artinya :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim atas sekalian alam, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[SHAHIH, HR Muslim 2/16, Abu Dawud no. 980, At Tirmidzi 5/37-38, An Nasa-i dalam “Sunan” nya 3/45, Ahmad 4/118, 5/273-274, Ibnu Hibban dalam “Shahih” nya no. 1949, 1956, Baihaqi dalam “SUnanul Kubra” 2/146,dan Imam Malik dalam “AL Muwaththo’ (1/179-180 Tanwirul Hawalik Syarah Muwaththo'”]

4. Dari Jalan Abi Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshariy (jalan kedua)

للهم صل على محمد النبي الأمي وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد النبي الأمي وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shol laita ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid.

Artinya :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad yang ummi dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.Dan berkahilah Muhammad Nabi yang ummi dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[SHAHIH, HR. Abu Dawud no. 981, An Nasa-i dalam “Amalul Yaum wal Lailah” no. 94, Ahmad dalam “Musnad” nya 4/119, Ibnu Hibban dalam “Shahih” nya no. 1950, Baihaqi dalam “Sunan” nya no 2/146-147, Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih” nya no711, Daruquthni dalam “Sunan” nya no 1/354-355, Al Hakim dalam “Al Mustadrak” 1/268, dan Ath Thabrany dalam “Mu’jam Al Kabir” 17/251-252]

5. Dari Jalan Abi Sa’id Al Khudriy

اللهم صل على محمد عبدك ورسولك كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wa rosuulika kamaa shol laita ‘alaa aali ibraahiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibraahiim.

Artinya :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad hambaMu dan RasulMu, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim”

[SHAHIH, HR Bukhari 6/27, 7/157, An Nasa-i 3/49, Ibnu Majah no. 903, Baihaqi 2/147, dan Ath Thahawiy dalam “Musykilul Atsaar” 3/73]

6. Dari Jalan Seorang Laki-Laki Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shallaita ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid , wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid.

Artinya :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada ahli baitnya dan istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Dan berkahilah Muhammad dan kepada ahli baitnya dan istri-istrinya dan keturunannya, sebagimana Engkau telah memberkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[SHAHIH, HR. Ahmad 5/347, Ini adalah lafazhnya, Ath Thowawiy dalam “Musykilul Atsaar” 3/74], dishahihkan oleh Al Albani dalam “Sifaat sahalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, hal 178-179].

7. Dari Jalan Abu Hurairah

اللهم صل على محمد و على آل محمد وبارك على محمد و على آل محمد كما صليت وباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita wa baarokta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid.

Artinya  :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad,sebagaimana Engkau telah bershalawat dan memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[SHAHIH, HR Ath Thowawiy dalam “Musykilul Atsaar” 3/75, An Nasa-i dalam “Amalul Yaum wal Lailah” no 47 dari jalan Dawud bin Qais dari Nu’aim bin Abdullah al Mujmir dari Abu Hurairah , Ibnul Qayyim dalam “Jalaa’ul Afhaam Fish Shalati Was Salaami ‘alaa Khairil Anaam (hal 13) berkata, “Isnad Hadist ini shahih atas syarat Syaikhaini (Bukhari dan Muslim), dan dishahihkan oleh Al Albani dalam “Sifaat sahalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, hal 181 ]

8. Dari Jalan Thalhah bin ‘Ubaidullah

اللهم صل على محمد و على آل محمد كما صليت على إبراهيم و على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد و على آل محمد كما باركت على إبراهيم و آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shol laita ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibraahiim wa aali ibraahiim innaka hamiidum majiid.

Artinya :
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim,sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”.

[SHAHIH, HR. Ahmad 1/162, An Nasa-i dalam “Sunan: nya 3/48 dan “Amalul Yaum wal Lailah” no 48, Abu Nu’aim dalam “Al Hilyah” 4/373,semuanya dari jalan ‘Utsman bin Mauhab dari Musa bin Thalhah, dari bapaknya (Thalhah bin ‘Ubaidullah), dishahihkan oleh Al Albani].

► Tentang Ucapan صلى ا لله عليه وسلم

Di sunnahkan (sebagian ulama mewajibkannya) mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali menyebut atau disebut nama beliau, yaitu dengan ucapan :

صلى ا لله عليه وسلم
“Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Riwayat2 yang datang tentang ini banyak sekali, diantaranya dari dua hadits shahih di bawah ini :

1. Dari jalan Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata,

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang apabila namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku (dengan ucapan-red)
صلى ا لله عليه وسلم
(“shallallahu ‘alaihi wa sallam””).

[SHAHIH. Dikeluarkan oleh AT Tirmidzi 5/211, Ahmad 1/201 no 1736, An Nasa-i no 55,56 dan 57, Ibnu Hibban 2388, Al Hakim 1/549, dan Ath Thabraniy 3/137 no 2885.

2. Dari Abu Hurairah, ia berkata,

“Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :” Hina dan rugi serta kecewalah seorang yang disebut namaku disisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku””.

[SHAHIH. Dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi 5/210, dan Al Hakim 1/549. Dan At Tirmidzi telah menyatakan bahwa hadits ini Hasan].

Hadits ke dua ini, banyak syawaahidnya dari jama’ah para shahabat, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kiatb : At Targhib wat Tarhib” (2/506-510) Imam Al Mundzir, “Jalaa-ul Afhaam (hal 229-240) Ibnu Qayyim, Al Bukhari dalam “Adabul Mufrad” (no 644, 645), Ibnu Khuzaimah (no 1888), Ibnu Hibban (no 2386 dan 2387 – Mawaarid).

Semoga Bermanfaat
______________

Jumat, 25 Mei 2018

AMALAN YG PAHALANYA BERLIPAT GANDA

📌AMALAN YANG PAHALANYA BERLIPAT GANDA  .

Mumpung di Romadhon, jangan sia-siakan kesempatan beramal dengan amalan yang berlipat ganda pahalanya.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."(Al-Baqoroh : 168)

Untuk urusan dunia saja kita ingin mendapatkan yang paling banyak.

Maka urusan akherat harus lebih lagi.

Syaikh Sulaiman bin Shalih al Kharasyi berkata,

🍃Setiap orang muslim tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya.

Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tatkala beliau ditanya:  Siapakah orang yang paling baik itu? Beliau menjawab: "Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya." (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Banyak amalan yang berlipat ganda yang tidak diketahui kebanyakan manusia.

Dengan umur ummat ini yang pendek dibanding ummat sebelumnya, maka kita harus memilih amalan yang berlipat ganda untuk menyusul ummat sebelum ini.

Orang yang memilih amalan seperti ini bagaikan orang yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut sementara manusia yang lain (hanya) mendapatkan ombaknya saja.

🌴Berikut ini amalan maupun ucapan yang berlipat ganda singkat,

🌱 1. Silaturrahim.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung (tali) silaturrahimnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

🌱2. Berakhlaq yang mulia.
Rasulullah bersabda : "Silaturrahim, berbudi mulia dan ramah pada tetangga (dapat) mendirikan kabilah dan menambah umur." (HR. Ahmad dan Baihaqi).

🌱3. Memperbanyak shalat di Haramain Syarifain.
Sabdanya "Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (shalat) daripada yang lain kecuali Masjidil Haram, dan shalat di Masjid haram itu lebih baik dari seratus ribu (shalat) daripada yang lain." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

🌱4. Shalat berjama'ah.
Sabdanya, "Shalat berjama'ah itu lebih baik daripada shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari dan Muslim).
Adapun wanita shalat di rumah, dan hal itu lebih baik daripada mereka shalat di 
masjid,

🌱5. Melaksanakan shalat sunnah di rumah.
Sabdanya: "Keutamaan shalat seorang laki-laki di rumahnya dengan shalat yang dilihat oleh orang banyak seperti halnya keutamaan shalat fardhu atas shalat sunnah." (HR. Baihaqi dan dishahihkan olah Albani).

🌱6. Berhias dengan beberapa adab pada hari Jum'at.
Sabdanya: "Barangsiapa yang mandi pada hari Jum'at kemudian berangkat di awal waktu, mendapatkan khutbah pertama, berjalan kaki tidak naik kendaraan, mendekat dari imam, mendengarkan khutbah dan tidak berbicara maka baginya setiap langkahnya adalah (bagaikan) amalan setahun dari pahala puasa dan shalat (taraweh)nya." (HR. Ahlus Sunan dihasankan Al-Albany).

🌱7. Shalat Dhuha
Sabdanya: "Bila masuk waktu pagi maka setiap jari-jari tangan kamu ada kewajiban shadaqah, lalu setiap (bacaan) tasbih adalah shadaqah, tahmid adalah shadaqah, tahlil adalah shadaqah, takbir adalah shadaqah, amar ma'ruf adalah shadaqah, nahi mungkar adalah shadaqah, dan cukup dari itu semuanya dengan shalat dua raka'at waktu Dhuha." (HR. Muslim).

🌱8. Mengerjakan haji dan umroh
Sabdanya "Kerjakanlah haji dan umrah itu berturut-turut, karena sesungguhnya ia (dapat) menghilangkan kefaqiran dan dosa seperti ubupan (alat peniup api) tukang besi yang menghilangkan karat besi, emas dan perak." (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani).

🌱9. Shalat setelah terbitnya matahari
Sabdanya: "Barangsiapa shalat subuh dengan berjama'ah kemudian ia duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari lalu shalat dua raka'at maka baginya seperti ibadah haji dan umrah yang sempurna, yang sempurna, yang sempurna." (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani).

🌱10. Menghadiri halaqah-halaqah ilmu di masjid
Sabdanya: "Barangsiapa yang berangkat ke masjid dia tidak menginginkan kecuali untuk belajar sesuatu kebaikan atau mengajarinya maka baginya adalah seperti pahala orang yang beribadah haji dengan sempurna." (HR. Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Albani).

🌱11. Melaksanakan umrah pada Bulan Ramadhan
Sabdanya: "Umrah di Bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku." (HR. Bukhari).

🌱12. Melaksanakan shalat lima waktu di masjid
Sabdanya: "Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk shalat fardhu maka pahalanya seperti haji." (HR. Abu Daud dan dishahihkan olah Albani). 

🌱13. Berada di shaf yang pertama
Sabdanya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya membacakan shalawat kepada orang-orang yang ada di shaf pertama." (HR. Ahmad dengan sanad yang baik).

🌱14. Shalat di Masjid Quba
Sabdanya: "Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian ia datang ke Masjid Quba lalu shalat di dalamnya maka baginya seperti pahala umrah." (HR. an-Nasai dan Ibnu Majah disohihkan Al-Albani).

🌱15. Menjadi Muadzin
Sabdanya: "Muadzin itu akan diampuni (dosanya) sepanjang suaranya (terdengar), dan dibenarkan oleh orang yang mendengarkannya baik basah maupun kering dan juga baginya pahala orang yang shalat bersamanya." (HR. Ahmad dan an-Nasai).

Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam

🍃Dinukil dari bulletin Jaliyat Jeddah

ZAKAT MAAL

*PENJELASAN RINGKAS SEPUTARA ZAKAT MAAL*

KARENA banyaknya pertanyaan seputar Zakat Maal yang diutarakan kepada saya, dan juga melihat ini adalah bulan yang sangat agung, dimana kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba di dalamnya akan dilipatgandakan, sehingga tak sedikit dari kalangan muslimin yang ingin mengeluarkan zakatnya di bulan Ramadhan yang mulia ini, maka saya pun berinisiatif untuk sedikit memberi penjelasan ringkas seputar Zakat Maal.

ZAKAT EMAS DAN PERAK.

Dalil tentang wajibnya zakat dari emas dan perak adalah nash Al-Qur'an, hadits dan kesepakatan ulama Islam.

Adapun dari Al-Qur'an adalah, firman-Nya:

والذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله فبشرهم بعذاب أليم"

[التوبة: ٣٤"

Artinya:
"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak,  namun tidak menginfakkannya di jalan Allah,  maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih"

[QS.Attaubah: 34]

Sedangkan dari hadits adalah sabdanya:

"ما من صاحب ذهب ولا فضة لا يؤدي منها حقها، إلا إذا كان يوم القيامة صفحت له صفائح من نار، فأحمي عليها في نار جهنم، فيكوى بها جنبه وجبينه وظهره، كلما بردت أعيدت عليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة، حتى يقضي الله بين العباد"

Artinya:
"Siapapun yang memiliki emas dan perak,  namun tidak mau mengeluarkan zakatnya,  melainkan pada hari kiamat akan menjadi lempengan yang dipanaskan dari api neraka,  lalu dengan itu diseterika dahi,  lambung, dan punggung mereka. Setiap kali mendingin, maka kembali dipanaskan. Pada suatu hari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun, sampai Allah menyelesaikan antara hamba-hambanya"

[HR. Imam Muslim No. 987, dari Abu Hurairah]

Adapun ijma' kesepakatan ulama, telah dinukilkan oleh sekian ulama dalam buku-buku fiqih mereka, diantaranya Al Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mugni pada zakat emas dan perak.

1. Nishab emas:
Nishab emas sebanyak 20 dinar.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

"وليس عليك شيء -يعني في الذهب- حتى يكون لك عشرون دينارا، فإذا كان لك عشرون دينارا، وحال عليه الحول، ففيها نصف مثقال"

Artinya:
“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas – sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat setengah dinar (seperempat puluh)”
[HR. Imam Abu Daud, No. 1573]

1 dinar = 4,25 gr emas
Jadi, 20 dinar = 85gr emas murni.

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:
Seseorang memiliki 87 gram emas (sudah sampai nishab). Maka, jika telah sampai haulnya (setahun dari semenjak sampai nishabnya), wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

2. Nishab Perak
Nishab perak adalah 200 dirham, setara 595 gram.                                

Sebagaimana Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"وفي الرقة كل مائتي درهم ربع العشر"

Artinya:
"Pada setiap perak yang berjumlah dua ratus dirham, maka dikeluarkan seperempat puluh"

[HR. Imam Bukhari,  No.1454, dari Anas bin Malik]

Maka emas yang sudah sampai nishab yaitu 85gr, dan sudah satu haul maka wajib dikeluarkan zakat darinya seperempat puluh/2,5%, baik itu perhiasan atau emas simpanan.

Demikian pula dengan perak. Tidak seperti anggapan sebagian manusia, bahwa emas bila itu perhiasan maka tidak wajib di keluarkan zakatnya.

Dalil untuk hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud No:1563, Imam Nasai dan Imam Baihaqi dalam sunannya:

"Bahwa suatu hari ada seorang wanita bersama anak perempuannya mendatangi Nabi dan di tangan putrinya terdapat dua gelang dari emas, maka Nabi berkata:

"أتؤدين زكاة هذا؟ قالت: لا، قال: أيسرك أن يسورك الله بهما سوارين من نار، فخلعتهما، وألقتهما إلى النبي - صلى الله عليه وسلم -"

Artinya:

"Apakah engkau menunaikan Zakat dari emas ini (dua gelang tersebut, pent)?

Maka wanita tersebut menjawab: Tidak, maka Nabi pun bersabda:

"Apakah kamu mau Allah jadikan dua gelang tersebut,  gelang dari api neraka? 

Maka wanita tersebutpun melepaskan dua gelang tersebut dan melemparkannya kepada Nabi.

Adapun zakat uang, maka dikiaskan kepada perak, karena perak yang paling murah dari dua mata uang di zaman Nabi, yaitu emas dan perak. Maka apabila jumlah uang yang dimiliki seseorang sudah seharga 595 gr perak dan sudah melalui satu haul (satu tahun), maka wajib dikeluarkan zakat darinya seperempat puluh/2,5%.

Dari uraian di atas maka jelaslah bahwa zakat itu wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Sampai nishabnya: emas = 85 gr dan perak = 595 gr.

2. Sudah melalui satu haul/setahun dari semenjak sempurna nishabnya.

Maka dari itulah para ulama Islam menetapkan tidak adanya zakat profesi yang diharuskan dari para pegawai (PNS) sekarang ini.

Pertanyaan:
Dari uraian di atas bahwa zakat tidak wajib dikeluarkan apabila salah-satu dari dua syarat di atas tidak ada, maka apabila harta kita telah sempurna nishabnya namun belum sampai satu haul, apakah boleh kita mengeluarkan zakat darinya?

Jawabannya:
Boleh (bukan wajib), ini merupakan pendapat mayoritas para ulama, selain Imam Malik dan Mazhab Dhahiri.

Dengan beberapa alasan:
1. Nabi pernah menerima zakat dari Abbas untuk dua tahun mendatang. (sebagaimana dalam riwayat Abu Daud No. 1624 dan Tirmizi No. 678, dihasankan oleh Syaikh Al Bani.

2. Karena sebab wajib sudah ada, hanya saja belum datang waktu wajib melakukannya.

Sebagaimana bolehnya membayar hutang sebelum jatuh tempo pembayaran. Dan sebagaimana bolehnya membayar kaffarah sumpah, setelah bersumpah namun belum menyelisihi sumpahnya.

3. Bab Zakat adalah ibadah harta, beda halnya dengan shalat dan puasa yang memang murni ibadah badan semata, dimana tidak boleh pada selain waktunya.

4. Permasalahan zakat berkaitan dengan kemaslahatan orang lain yaitu orang-orang miskin. Maka mengeluarkan zakat setelah sempurna nishabnya dan belum sampai haulnya, merupakan bentuk rahmah kepada mereka kaum miskin dan fuqara.

5. Imam Syafi'i berdalil atas bolehnya hal ini, dimana para shahabat mereka mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum malam hari-raya. Sehingga beliau berkata:

"و بهذا نأخذ به"

Pendapat yang menyatakan boleh,  merupakan fatwa lajnah daimah, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu 'Utsaimin.

Silahkan baca:
1. Al Bidayah, karya Ibnu Rusyd.
2. Majmu' Syarhul Muhazzab, karya Imam Nawawi.
3. Nailul Authar, karya Imam Syaukani.
4. Al mugni, karya Imam Ibnu Qudamah.
5. Mulakhosh Fiqih, karya Syaikh Fauzhan.
6. Fiqhul Muyasaar, karya kumpulan beberapa ulama Saudi Arabia.
7. Fatwa Lajnah Daimah.
8. Fatwa Syaikh Bin Baz
9. Fatwa Syaikh Ibnu 'Utsaimin.

Semoga bermanfaat.
Akhukum thuwailibul 'ilm:

📝Ust. Farhan Bin Ramli Bin Ahmad Al asyi ~Hafizhahullah📝

🌍 Sumber : Grup WA "Matan Al-Ajurumiyah

Senin, 21 Mei 2018

KEUTAMAAN KOBLIAH SUBUH

Shalat Sunnah Fajar, Jangan Sampai Ditinggalkan
dr. Adika Mianoki 27 February 2012 4 Comments
Shalat Sunnah Fajar, Jangan Sampai Ditinggalkan
Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah yang memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya. Dua rakaat yang memiliki keutamaan, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, yang tidak selayaknya disepelekan seorang hamba. Amalan tersebut adalah dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh atau disebut juga shalat sunnah fajar.

Keutamaannya

Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “ Ketika safar (perjalanan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap rutin dan teratur mengerjakan shalat sunnah fajar dan shalat witir melebihi shalat-shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksankan shalat sunnah  rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau melakukan safar (Zaadul Ma’ad I/315)

Keutamaan shalat sunnah subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).

Lihatlah saudaraku, suatu keutamaan yang sangat agung yang merupakan karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya. Tidak selayaknya seorang hamba melewatkan kesempatan untuk dapat meraihnya.

Melakukannya dengan Ringkas

Di antara petunjuk dan contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan dua rakaat shalat sunnah subuh adalah dengan meringankannya dan tidak memanjangkan bacaannya, dengan syarat tidak melanggar perkara-perkara yang wajib dalam shalat. Hal ini ditunjukkan oleh kisah berikut :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ

Dari Ibnu Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan untuk shalat subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat subuh.( HR Bukhari 583).

Diceritakan juga oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat shalat subuh.”(HR. Bukhari 584)

‘Asiyah radhiyallahu ‘anha juga menjelaskan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau membaca surat Al-Fatihah?” (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)

Hadits-hadits di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat ketika melaksanakan shalat sunnah subuh. Tentu saja yang dimaksud meringankan shalat di sini dengan tetap menjaga rukun dan hal-hal yang wajib dalam shalat.

Bacaan Pada Setiap Rakaat

Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan bacaan surat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah membaca surat Al Fatihah dalam shalat sunnah subuh.

Pertama. Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua rakaat shalat sunnah subuh surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” (H.R Muslim 726)

Kedua. Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca ayat قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا  (Al Baqarah 136) pada rakaat pertama  dan membaca آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ  (Ali Imran 52) pada rakaat kedua” ( HR. Muslim 727).

Ketiga.Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca firman Allah قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا (Al Baqarah 136) dan membaca تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ (Ali Imran 64)” (HR. Muslim 728).

Ringkasnya, ada tiga jenis variasai yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat sunnah subuh, yaitu :

Rakaat pertama membaca surat Al Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas
Rakaat pertama membaca  ayat dalam surat Al Baqarah 136:
قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Rakaat kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran 52 :

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Rakaat pertama membaca ayat dalam surat Al Baqarah 136:
ُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Rakaat kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran ayat 64 :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Itulah beberapa ayat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat sunnah subuh. Namun demikian tetap dibolehkan juga membaca selain ayat-ayat di atas.

Berbaring Sejenak Setelahnya

Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbaring di sisi tubuh sebelah kanan setelah melakukan shalat sunnah subuh. Di antaranya adalah hadits berikut :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا سَكَتَ اْلمُؤَذّنُ بِاْلأُوْلَى مِنْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ بَعْدَ اَنْ يَسْتَبِيْنَ اْلفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقّهِ اْلاَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ اْلمُؤَذّنُ لِلإِقَامَةِ

“Apabila muadzdzin telah selesai adzan untuk shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau untuk iqamat shalat subuh.” (HR Bukhari 590)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berbaring setelah shalat sunnah subuh dalam beberapa pendapat :

Pertama. Hukumnya sunnah secara mutlak. Ini adalah madzhab Syafi’i dan ini adalah pendapat Abu Musa Al ‘Asy’ari, Rafi’ bin Khadij, Anas bin Malik, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

Kedua. Hukumnya wajib. Ini adalah madzhab Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah. Bahkan beliau terlalu berlebihan  dengan menjadikannya sebagai syarat sahnya shalat subuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata sebagaimana dinukil Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad I/319 : “ Ini adalah termasuk pendapat yang beliau bersendiri dengan pendapat tersebut dari para imam yang lain”

Ketiga. Hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat kebanyakan para salaf. Di anatarnya adalah Ibnu Mas’ud, Ibnul Musayyib, dan An Nakha’i rahimahumullah. Al Qadhi ‘Iyad rahimahullah menyebutkan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Mereka berpendapat bahwa tidak diketahui dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bahwa beliau melakukannya di masjid. Seandainya beliau melakukannya, tentu akan dinukil secara mutawatir.

Keempat. Hukumnya menyelisihi perkara yang lebih utama. Ini adalah pendapat Hasan Al Bashri rahimahullah.

Kelima. Hukumnya mustahab bagi yang melakukan shalat malam agar dapat beristirahat. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul ‘Arabi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah.

Keenam. Berbaring di sini bukanlah inti yang dimaksud, namun yang dimaksud adalah memisahkan antara shalat sunnah dan shalat wajib. Ini diriwayatkan dari pendapat Imam Syafi’i. Namun pendapat ini tertolak,  sebab pemisahan waktu memungkinkan dilakukan dengan selain berbaring.

Kesimpulannya, yang lebih tepat dari pendapat-pendapat di atas bahwa berbaring setelah shalat sunnah subuh hukumnya mustahab (dianjurkan), asalkan memenuhi dua syarat :

Berbaring dilakukan di rumah dan bukan di masjid karena tidak pernah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukannya di dalam masjid.
Hendaknya orang yang melakukan sunnah ini, mampu untuk bangun kembali dan tidak tertidur sehingga tidak terlambat untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah.
Lakukanlah di Rumah

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan shalat-shalat sunnah.. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat sunnah di rumah dan memerintahkan agar rumah kita diisi dengan ibadah shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah shalat (sunnah) kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari  1187)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“Sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad)

Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan shalat sunnah di rumah, termasuk shalat sunnah subuh. Namun, jika dikhawatirkan ketinggalan shalat berjamaah di masjid atau terluput dari mendapatkan shaf pertama, maka diperbolehkan untuk melaksanakannya di masjid.

Jika Terluput Melakukannya

Disyariatkan bagi yang tidak sempat melakukan shalat sunnah subuh untuk melaksanakannya setelah selesai shalat subuh atau setelah terbit matahari. Hal tersebut berdasarkan dalil-dalil di bawah ini.

Hadits Abu Hurairah rahidyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

“Barangsiapa yang belum shalat sunnah dua rakaat subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”. (HR. At Tirmidzi  424, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).

Hadits ini menunjukkan disyariatkan bagi orang yang belum sempat melaksanakan shalat sunnah subuh agar meng-qadha’-nya setelah matahari terbit.

Boleh juga dikerjakan tepat setelah selesai shalat subuh.Dalam hadits yang lain disebutkan :

عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Dari Qais bin Qahd radhiyallahu’anhu, bahwasanya ia shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat sunnah dua rakaat qabliyah subuh. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat qabliyah subuh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).

Kesimpulannya, diperbolehkan meng-qadha dua rakaat shalat sunnah qabliyah subuh setelah shalat subuh yang wajib. Pelaksanaannya bisa langsung setelah selesai shalat wajib atau setelah matahari terbit.

Bersemangatlah Menjaganya

Saudaraku, bersemangatlah untuk menjaga dua rakaat ini. Amalan yang ringan, namun besar pahalanya. Dan sebaik-baik amalan, adalah amalan yang kontinyu dalam pelaksanaannya. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu, walaupun sedikit.” (HR. Muslim 783)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela seseorang yang tidak kontinyu dalam beramal. Dikisahkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku :

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari 1152)
Semoga sajian ringkas ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk senantiasa melaksanakan amalan-amalan sunnah. Wallahul musta’an.

Catatan redaksi:

Shalat sunnah fajar sama istilahnya dengan shalat sunnah qabliyah shubuh. Sebagian orang membedakan kedua istilah ini karena hanya salah paham. Namun yang benar keduanya itu sama yaitu dikerjakan setelah adzan shubuh.

Sumber    : Shahih Fiqh Sunnah karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah

—

Penyusun : dr. Adika Mianoki

Artikel Muslim.Or.Id