Jumat, 29 September 2017

PERLUKAH BATU NISAN

*BERAPA JUMLAH BATU NISAN?*

Pertanyaan.

Assalaamualaikum. Saya ada pertanyaan. Berapakah jumlah batu nisan untuk satu jenazah itu? Dua atau satu? Dalam buku mantan kiyai NU Kesalahan Modin Dalam Merawat Jenazah, dikatakan bahwa hadits tentang batu nisan itu dla’if, hlm. 200 – 209. Kata penulis, kuburan raja Fahd di Saudi Arabia tidak diberi batu nisan sama sekali. Penanda batu nisan itu meniru orang kafir. syukron atas jawabannya. dari Suratman – Tuban jawa timur. wassalaamualaikum

Jawaban.

Wa’alaikumus salam warahmatullah. Semoga Allâh membimbing kita semua dalam mempelajari agama-Nya.

Boleh meletakkan nisan di  atas pusara, yakni tonggak pendek dari kayu, batu atau semisalnya sebagai penanda. Hal ini pernah dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang Sahabat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Utsman bin Mazh’un Radhiyallahu anhu :

لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ رضي الله عنه، أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ، ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ، وَقَالَ: «أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»

Saat Utsman bin Mazh’un Radhiyallahu anhu meninggal, jenazahnya dikeluarkan lalu dikubur. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi was allam memerintahkan seorang pria untuk mengangkat sebuah batu, tapi dia tidak kuat. Maka Rasûlullâh  Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke batu itu, lalu menyingsingkan lengan baju, mengangkat dan meletakkan batu di bagian kepala Utsman dan mengatakan, “Agar aku bisa mengenali kuburan saudaraku[1], dan menguburkan keluargaku yang meninggal di dekatnya.” [HR. Abu Dawud no. 3.206 dengan penyederhanaan redaksi]

Hadits ini dihukumi hasan oleh para Ulama, di antaranya Ibnul Mulaqqin, Ibnu Hajar dan al-Albani. Kalau ada yang menghukuminya dha’if (lemah), barangkali itu karena dalam sanadnya ada Katsir bin Zaid yang dilemahkan oleh an-Nasa`i, namun dikuatkan oleh lebih banyak ahli seperti Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Ali bin al-Madini dan Ibnu ‘Adiyy –rahimahumullah-. Ibnu Hajar rahimahullah meringkas keterangan tentangnya dengan mengatakan shaduq yukhthi` (terpercaya, tapi punya kesalahan). Tidak diketahuinya nama Sahabat yang meriwayatkan juga tidak berpengaruh, karena semua Sahabat adil dan diterima riwayatnya.[2] Intinya, hadits ini bukanlah hadits yang lemah, tapi hasan (termasuk kategori shahih) menurut sebagian besar ahli hadits.

Dengan demikian, klaim menyerupai orang kafir batal dengan sendirinya; karena hal ini dilakukan langsung oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan praktek pada kuburan Raja Fahd rahimahullah, -jika benar begitu- bukanlah dalil. Lagi pula tidak ada pertentangan dalam hal ini, karena memasang nisan bukanlah suatu kewajiban. Hukumnya adalah boleh jika diperlukan. Bisa jadi pihak Kerajaan Arab Saudi merasa tidak perlu; karena kemasyhuran beliau dan perhatian rakyat kepada beliau, sehingga tidak ada kekhawatiran rancu dengan kuburan lain. Atau ada penanda lain selain nisan.

Adapun mengenai jumlah, hendaknya seperlunya saja, yang penting bisa dikenali. Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan sebuah batu yang cukup besar. Wallâhu A’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo
_______
Footnote
[1] Utsman bin Mazh’un adalah saudara sepersusuan Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم .

[2] Lihat: al-Badrul Munir 5/325, at-Talkhîsh al-Habîr 2/307 dan Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah  7/161.

Sumber: https://almanhaj.or.id/7472-berapa-jumlah-batu-nisan.html

TERHINDAR DARI SIHIR

BENTENG DAN  CARA PENCEGAHAN DARI SIHIR YANG DIAJARKAN RASULULLAH
👇
renungi ayat di bawah:

Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {99} إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya *setan* itu *tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya* Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”. [An Nahl : 99-100].

kunci utama adalah *iman* dan *tawakkal*
kalau 2 hal tersebut adalah tameng yg tidak akan bisa ditembus  jin (syetan) sampai hari qiamat

benteng benteng insan agar terhinda dari oengaruh sihir yg dibawa syetan dapat dilakukan oleh hamba dgn ibadah di bawah ini

1- senantiasa mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan bertawakkal kepadaNya, serta menjauhi perbuatan syirik dengan segala bentuknya.

Ketika Menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata : “Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi (mengalahkan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membela orang-orang mu’min yang bertawakkal kepadaNya dari setiap kejelekan setan, sehingga tidak ada celah sedikitpun bagi setan untuk mencelakakan mereka”

Dan ayat-ayat semisal ini banyak terdapat di dalam Al Qur`an.

2- Melaksanakan setiap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, dan menjauhi setiap yang dilarang, serta bertaubat dari setiap perbuatan dosa dan kejelekan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu :

يَا غُلاَمُ ! إنِي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ…

“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…”

Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan menyatakan, makna sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (احْفَظِ اللهَ ) adalah jagalah perintah-perintahNya, larangan-laranganNya, hukum-hukumNya serta hak-hakNya. Caranya, dengan memenuhi apa-apa yang Allah dan RasulNya perintahkan berupa kewajiban-kewajiban, serta menjauhi segala perkara yang dilarang. Sedangkan makna (يَحْفَظْكَ ) ialah, barangsiapa yang menjaga perintah-perintahNya, mengerjakan setiap kewajiban dan menjauhi setiap laranganNya, niscaya Allah k akan menjaganya.

Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba meliputi penjagaan terhadap dirinya, anak, keluarga dan hartanya. Juga penjagaan terhadap agama dan imannya

3- Membersihkan rumah dari segala patung-patung dan gambar-gambar yang bernyawa serta anjing.

diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat hal-hal di atas. Demikian juga dibersihkan dari piranti-piranti yang melalaikan, seruling dan musik.

4. Memperbanyak membaca Al Qur`an dan manjadikannya sebagai dzikir harian.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah

5- Membentengi diri dengan doa-doa dan ta’awudz serta dzikir-dzikir yang disyariatkan, seperti dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir setelah shalat fardhu, dzikir sebelum dan sesudah bangun tidur, do’a ketika masuk dan keluar rumah, do’a ketika naik kendaraan, do’a ketika masuk dan keluar masjid, do’a ketika masuk dan keluar kamar mandi, do’a ketika melihat orang yang mandapat musibah, serta dzikir-dzikir lainnya.

Ibnul Qayyim berkata,”Sesungguhnya sihir para penyihir itu akan bekerja secara sempurna bila mengenai hati yang lemah, jiwa-jiwa yang penuh dengan syahwat yang senanantiasa bergantung kepada hal-hal rendahan. Oleh sebab itu, umumnya sihir banyak mengenai para wanita, anak-anak, orang-orang jahil, orang-orang pedalaman, dan orang-orang yang lemah dalam berpegang teguh kepada agama, sikap tawakkal dan tauhid, serta orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali dari dzikir-dzikir Ilahi, doa-doa, dan ta’awwudzaat nabawiyah.

6. Memakan tujuh butir kurma ‘ajwah *(tapi harganya mahal)*  setiap pagi hari. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ

“Barangsiapa yang makan tujuh butir kurma ‘ajwah pada setiap pagi, maka racun dan sihir tidak akan mampu membahayakannya pada hari itu”.

ISLAM ITU DALIL BUKAN PEMIKIRAN MANUSIA

Ketika kau tau bahwa....
.
Riba itu haram..
Tabarruj itu haram..
Safar tanpa mahrom itu haram..
Berikhtilath (Bercampur baur laki-laki perempuan tanpa mahrom) itu haram..
Musik itu haram..
Zina itu haram..
Khamr itu haram...
.
Semua keharaman adalah larangan dari Allaah.. Bukan karangan manusia.. .
Maka sekali-kali kau tidak akan mengatakan orang yang menghindari keharaman tersebut, sebagai orang yang terlalu fanatik, extrem, gak asik, tidak bisa berbaur dan membatasi diri dengan lingkungan dan sebagainya...
.
Karena Haram tetaplah haram tidak akan dapat diubah menjadi halal. Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, tidak ada dosa kecil jika tidak ada rasa takut saat melakukannya dan tidak ada dosa besar jika terus bertaubat kepada Allaah..
.
Kenali agamamu, karena agama Islam bukan hanya mengatur hubungan bathinmu dengan Allaah saja tapi menyangkut seluruh aspek kehidupan sampai bagaimana adab membuang hajat, bersin, menguap, makan, tidur seluruhnya diajarkan dalam agama Islam...
.
Kenali dan pelajari agamamu, dengan begitu Kau akan diberikan jalan dan pemahaman sehingga dapat membedakan segala hukum dalam syariat.
.
Kelak Kau akan mengerti, bahwa tidak ada yang fanatik dalam beragama, ketika kau paham bahwa itu semua adalah konsekuensi yg harus kau jalankan saat kau tau hukum-hukumnya maka kau akan bersikap sami'na wa atho'na ( Kami dengar dan Kami taati ), bukan kami dengar lalu kami timbang- timbang dulu dengan logika kami bila sesuai baru kami taati bila tidak sesuai maka kami abaikan...
.
Tidak bukan seperti itu.. .
Jadikan urusan dunia ada ditanganmu bukan dihatimu, urusan akhirat sangatlah panjang, waktu kita sangatlah singkat jika hanya dipakai memfokuskan diri pada dunia...
Kejarlah ridho Allaah jangan tunggu besok tapi SEKARANG.. Rezeki dan umur kita adalah apa yang kita nikmati detik ini, sedangkan detik berikutnya adalah rahasia Allaah.
.
Wallahu a'lam bishowab.

TOLAK UKUR NEGARA MUSLIM DAN KAFIR

Tolak Ukur Disebut Negara Muslim Atau Kafir
♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Salah satu kesalahan mendasar yang difahami sebagian ikhwah tentang perbedaan negara kafir dan muslim adalah ketika tolok ukurnya hanya penerapan undang-undang buatan siapa, buatan Alloh atau manusia.

Perlu difahami bahwa tolok ukur negara dikatakan muslim itu macam-macam, tidak hanya satu tolok ukur,dan para ulama pun berbeda-beda.

Jadi tidaklah benar jika berhukum dengan undang-undang buatan manusia dan dijadikan sebagai tolok ukur untuk memvonis suatu negara muslim atau kafir.

📙📙 Berbagai tolok ukur negara muslim dan kafir diantaranya:

✔✔ 1. Kekuasaan dipihak kaum muslimin atau kaum kafir. Jika dipihak kaum muslimin maka negara muslim, dan jika dipihak kafir maka negara kafir.

Ibnu Hazm rohimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla:13/140)

✔✔ 2. Penampakkan hukum-hukum dan syiar Islam secara umum, seperti: Sholat Jum’at, Iedul Fithri, Iedul Adha, puasa Ramadhan, haji tanpa adanya larangan dan kesulitan. Dan bukanlah semua hukum Islam harus ditegakkan.

✔✔ 3. Dikumandangkan adzan dan didirikan sholat.
Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Dahulu Rosulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam menyerang (musuh) ketika adzan dikumandangkan. Jika beliau mendengar adzan, maka beliau tidak jadi menyerang. Tapi jika
tidak terdengar adzan, maka beliau akan melancarkan serangan.” (HR. Bukhori: 610, Muslim: 1365)

✔✔ 4. Mayoritas penduduknya
Ibnu Hazm rohimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla: 13/140)

Adapun kaitannya dengan sistem kafir (buatan manusia), para ulama menerangkan bahwa seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Alloh, berarti dia telah melakukan sebuah kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Tapi, bisa jadi kekafiran kecil ini berubah menjadi besar jika dia menganggap dan berkeyakinan halal atau bolehnya berhukum dengan selain hukum Alloh* atau dia berkata: “saya tidak merasa wajib atau harus berhukum dengan hukum Alloh”. Semisal mengatakan berhukum dengan selain hukum Alloh lebih baik daripada berhukum dengan hukum Alloh, atau hukum-hukum dan undang-undang lainnya sama saja dengan hukum Alloh, dan perkataan semisalnya. Jika demikian berarti ia telah melakukan kekafiran yang besar (keluar dari Islam).

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

__________________________________
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Bimbingan Islam (BIAS)

BEKAL AMAL MA'RUF NAHI MUNGKAR

3 Bekal Amar Maruf Nahi Mungkar

Sebuah faedah ilmu yang sangat berharga dari ulama besar masa silam Ahmad bin ‘Abdul Al Haroni yang dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau memberikan nasehat bagaimana kita seharusnya beramar ma’ruf nahi mungkar yaitu mengajak pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.

Syaikhul Islam mengatakan, “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: [1] ilmu, [2] lemah lembut, dan [3] sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir). ”

Berikut rinciannya yang kami olah dari pembahasan Syaikhul Islam.

Pertama: Bekal Ilmu di Awal

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلُحُ

“Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan banyak kebaikan.”

Begitu pula  Mu’adz bin Jabal pernah mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

”Ilmu adalah pemimpin amalan. Sedangkan amalan itu berada di belakang ilmu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ini memang benar. Yang namanya maksud dan amalan tanpa disertai ilmu, maka hanya mengakibatkan kebodohan, kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu sebagaimana telah dijelaskan. Inilah beda antara orang Jahiliyah dan seorang muslim. Seorang muslim haruslah membekali dirinya dengan ilmu dalam beramar ma’ruf nahi mungkar dan harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Seseorang juga harus mengetahui bagaimana kondisi orang yang akan diajak pada kebaikan dan dilarang dari kemungkaran. Di antara bentuk mendatangkan kebaikan adalah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sesuatu tuntutan yang diajarkan  dalam Islam (jalan yang lurus). Jika seseorang membekali dirinya dengan ilmu, maka itu akan membuat lebih cepat mengantarkan pada tujuan.”

Kedua: Lemah Lembut di Tengah-Tengah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dalam amar ma’ruf nahi mungkar hendaklah ada sikap lemah lembut. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya jika lemah lembut itu ada dalam sesuatu, maka ia akan senantiasa menghiasanya. Jika kelembutan itu hilang, maka pastilah hanya akan mendatangkan kejelekan.”[1]

Begitu pula beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia menyukai kelembutan dan Dia akan memberi kepada kelembutan yang tidak diberikan jika seseorang bersikap kasar.”[2]

Ketiga: Bersabar di Akhir

Setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, haruslah ada sikap sabar terhadap setiap gangguan. Syaikhul Islam mengatakan, “Setiap orang yang ingin melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pastilah mendapat rintangan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bersabar, maka hanya akan membawa dampak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”

Luqman pernah mengatakan pada anaknya,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada para Rasul –dan mereka adalah imam (pemimpin) dalam amar ma’ruf nahi mungkar- untuk bersabar, sebagaimana hal ini Allah perintahkan pada penutup Rasul (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahkan perintah ini Allah sandingkan dengan penyampaian kerasulan. Hal ini dapat kita lihat dalam surat Al Mudatsir (surat yang merupakan tanda Muhammad menjadi Rasul), yang turun setelah surat Iqro’ (surat yang merupakan tanda Muhammad diangkat sebagai Nabi).

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ, قُمْ فَأَنْذِرْ, وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ, وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ, وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ, وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.” (QS. Al Mudatsir: 1-7)

Allah membuka surat yang merupakan pertanda beliau diangkat menjadi Rasul dengan perintah memberikan peringatan (indzar). Di akhirnya, Allah tutup dengan perintah untuk bersabar. Yang namanya memberi peringatan (indzar) adalah melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Maka ini menunjukkan bahwa sesudah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, hendaklah ia bersabar.

Demikian faedah dari Syaikhul Islam sebagai bekal bagi orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar.

Semoga kita dapat memperhatikan nasehat dalam setiap tindak tanduk kita ketika ingin memperbaiki orang lain. Hanya Allah yang memberi taufik.

Faedah Ilmu dari Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15-18, Mawqi’ Al Islam.

_____
Footnote :

[1] HR. Muslim no. 2594, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[2] HR. Muslim no. 2593, nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukan pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

_____
Sumber : https://rumaysho.com/682-3-bekal-amar-maruf-nahi-mungkar.html

PAHIT MANISNYA AJARAN YG LURUS

PAHIT DAN MANIS BERJALAN DIATAS AGAMA YANG LURUS
♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨

Bismillah...

Disindir karena berpakaian syar'i.

Dicibir karena memakai celana ngantung (cingkrang).

Dicibir karena menolak bersalaman dengan nonmahram.

Dibilang sesat karena tidak mau mengikuti amalan ibadah yang tidak ada tuntunan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Dibenci karena sering membuat status nasehat soal larangan berkhalwat dan status tentang foto selfie.

APAKAH TEMAN-TEMAN MENGALAMINYA??

saya yakin sebagian teman-teman pernah mengalami hal tersebut. Jangan heran jika teman-teman pernah mengalami itu semua. Sebab ini sudah akhir zaman. Zaman yang penuh fitnah.

Sebab, betapa susahnya berpegang dengan agama yang haq dan menjalani sunnah  shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman kita ini!.

Betapa beratnya bersabar dalam keterasingan memegang Al haq di tengah manusia yang menyelisihi!

Benarlah kata hadits ini :

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Akan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api." (HR. At-Tirmidzi no. 2260. Dishahihkan oleh al-Albani di as-Silsilah ash-Shahihah 2/645)

Namun begitu berat dan panas bara api itu harus tetap digenggam kuat-kuat. Sebab kalau tidak, ia akan menjadi lebih besar lagi, yaitu api neraka, yang panasnya membakar dan bertambah dahsyat setiap waktu. Na'udzubillah, kita berlindung kepada Allah terhadap hal tersebut.

Dan orang yang tetap teguh berpegang dengan agama di saat itu harus tetap berdiri kokoh menolak setiap yang menentang dan menghalau segala rintangan, mereka itu tidak lain adalah orang yang memiliki bashirah, ilmu, dan berdiri kokoh di atas manhaj yang lurus.  

Tetaplah teguh pada agama yang haq. Biarkan saja  cibiran dari orang-orang tersebut, biarkan saja kita dikucilkan, biarkan saja kita difitnah. Allah yang akan membalasnya. Karena siapa saja yang teguh pada agamanya yang lurus maka dialah yang akan beruntung, meski sedikit jumlahnya, dan berada dalam keterasingan.

INGATLAH HADITS INI :

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”
(HR. Muslim)

Sadarlah bahwa berpegang dengan Al Haq itu ga mudah. Karena ga mudah, pemegang Al Haq yang tetap kokoh itu sedikit dari masa ke masa, apalagi di akhir zaman. Ya Allah, selamatkan kami! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk golongan yang selamat. Aamiin

________________________
✏📖 Oleh Uray Sriwahyuni

MENGGABUNG SHOLAT SUNAT DAN WAJIB

CARA MENYAMBUNG SHALAT SUNNAH DENGAN SHALAT FARDHU
♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨

📋✏ Oleh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul

Dari Umar bin Atha’ bin Abil Khawar : Bahwa Nafi’ bin Jubair pernah mengutusnya kepada As-Sa’ib Ibnu Ukhti Namr untuk menanyakan sesuatu yang pernah disaksikan oleh Mua’awiyah darinya dalam shalat. Maka dia menjawab : “Ya, aku memang pernah mengerjakan shalat Jum’at bersamanya di Al-Masqshurah (rumah benteng besar). Setelah imam mengucapkan salam, aku berdiri di tempatku dan langsung mengerjakan shalat. Setelah dia masuk, dia mengutus seseorang kepadaku seraya berkata, “Janganlah engkau mengulangi perbuatanmu lagi. Jika engkau mengerjakan shalat Jum’at maka janganlah engkau menyambungnya dengan shalat yang lain sehingga engkau berbicara atau keluar, karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita melakukan hal tersebut, yaitu tidak menyambung shalat dengan shalat yang lain sehingga kita berbicara atau keluar” Diriwayatkan oleh Muslim [1]

Dapat saya katakan, hadits ini menunjukkan bahwasanya tidak dipebolehkan menyambung satu shalat dengan shalat lainnya sehingga berbicara atau keluar dari tempat shalat itu [2]

_______________________________________
[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]
____
Footnote
[6]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Jumu’ah, bab Ash-Sha;aah ba’dal Jumu’ah, hadits no. 883

Kesimpulan.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Kitaabush Shalaah, bab Fir Rajuli Yatathawwa’u Fii Makaanihi Alladzi Shallaa Fiihil Maktuubah, hadits No. 1006, dengan sanad dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu untuk maju atau mundur atau bergerak ke sebelah kanan atau ke sebelah kirinya?”

Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud I/188. Dan Muhaqqiq kitab, Jaami’ul Ushuul V/595. Dam di dalam sanadnya terdapat beberapa orang yang tidak dikenal.

Dapat saya katakan, tetapi hadits ini d1iperkuat oleh hadits Mu’awiyah. Dan yang ini ada pada Muslim. Wallahu a’lam

[2]. Lihat Syarah An-Nawawi ‘Alaa Muslim VI/170-171 dan juga kitab Fathul Baari II/335

Kesimpulan.
Di dalam kitab Al-Fataawal Mishriyyah, hal.79, Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Dan yang sunnah adalah memisahkan antara shalat fardhu dengan shalat sunnat dalam shalat Jum’at dan yang lainnya dengan bangun dari tempatnya maupun dengan pembicaraan”.

Almanhaj.or.id