Kamis, 08 Oktober 2020

HUKUM DALAM DEMONSTRASI

#Bismillah
[MATI DALAM DEMONSTRASI APAKAH SYAHID]
[Tidak ada jihad bagi para pendemo,yang berjihad itu adalah dari para aparat yang menghalau pendemo untuk merusak]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah (artinya: ia mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir, pen)” (HR. Bukhari no. 7054 dan Muslim no. 1849).

Bagaimanakah kerusakan demonstrasi?

Semakin anarki aksi demo belakangan ini untuk menyampaikan keluhan  Kerusuhan di mana-mana terjadi. Bandara diblokir, jalanan jadi macet, aparat dan mahasiswa pun saling serang. Tidak ada yang mau merenungkan bagaimana dampak buruk dari demo itu sendiri. Dari pandangan Islam sendiri, demo merupakan tanda seseorang keluar dari ketaatan pada penguasa. Padahal dalam Islam diajarkan, kita tetap harus mentaati penguasa meskipun ia zholim dan fasik. Jika ingin menasehati penguasa pun, Islam memiliki aturan, yaitu sampaikanlah aspirasi dengan cara yang baik dan yang mudah diterima adalah dengan empat mata.
  

Demonstrasi dalam Pandangan Islam[1]
Pertama: Demonstrasi yang brutal maupun dengan cara damai telah terang-terangan menandakan keluar dari ketaatan pada penguasa. Melakukan pembangkangan dari ketaatan kepada penguasa adalah haram dengan kesepakatan para ulama. Imam Nawawi rahimahullah berkata,

وَأَمَّا الْخُرُوج عَلَيْهِمْ وَقِتَالهمْ فَحَرَام بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ ، وَإِنْ كَانُوا فَسَقَة ظَالِمِينَ.

“Adapun keluar dari ketaatan pada penguasa dan menyerang penguasa, maka itu adalah haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama, walaupun penguasa tersebut adalah fasik lagi zholim”  (Syarh Muslim, 12: 229).

Kedua: Demonstrasi adalah bentuk tidak taat pada penguasa, padahal taat kepada penguasa itu wajib meskipun ia zholim dan fasik. Jikalau penguasa menaikkan BBM,atau kebijakan² lainnya dan itu menyengsarakan rakyat banyak, maka kita tetap wajib taat pada mereka karena ada kemaslahatan yang besar di balik ketaatan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.“ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).

Dalam Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan mengenai hadits di atas,

فتبين أن الإمام الذي يطاع هو من كان له سلطان سواء كان عادلا أو ظالما

“Jelaslah dari hadits tersebut, penguasa yang wajib ditaati adalah yang memiliki sulthon (kekuasaan), baik penguasa tersebut adalah penguasa yang baik atau pun zholim”

Ibnu abil Izz rahimahullah berkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita” (Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Mendengar dan mentaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam mentaati Allah” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117).

Ketiga: Demonstrasi bukanlah jalan satu-satunya untuk mengajukan aspirasi kepada penguasa. Tidak baik jika ada seribu cara untuk meraih maslahat, namun yang dipilih adalah cara yang mengandung kerusakan. Dalam hadits disebutkan,

ثَلاَثٌ لاَ يُغَلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومِ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Ada tiga hal yang hati seorang muslim tidak menjadi dengki karenanya: ikhlas beramal hanya untuk Allah, memberi nasehat kepada para penguasa, dan tetap bersama jama’ah karena doa (mereka) meliputi dari belakang mereka” (HR. Tirmidzi no. 2658 dan Ahmad 3: 225. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Namun bagaimanakah cara menasehati penguasa yang dimaksud? Tentu saja dengan cara yang tidak menimbulkan kerusakan. Jika kezholiman penguasa dibalas dengan kerusakan pula, maka ini tentu tidak dibenarkan dalam Islam. Karena kaedah para ulama yang telah masyhur,

الضرر لا يزال بضرر

“Kerusakan tidak boleh dihilangkan dengan kerusakan pula”.

Keempat: Cara mengajukan aspirasi kepada penguasa adalah dengan empat mata, bukan di depan khalayak ramai dan bukan dengan menyebarkan ‘aib penguasa di hadapan rakyat atau media. Hal ini jelas berbeda dengan yang ditempuh dalam demonstrasi. Kadang para demonstran mempunyai sifat pengecut karena hanya berani jika dengan orang banyak dan tidak berani jika hanya sendirian.

Dari ‘Iyadh, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati)” (HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al Arnauht mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Cobalah lihat bagaimanakah nasehat para salaf dalam menyampaikan nasehat pada penguasa.

Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad dari Sa’id bin Jumhan bahwa ia berkata, “Aku pernah bertemu Abdullah bin Abi Aufa. Aku pun mengadu, ‘Sesungguhnya penguasa benar-benar telah berbuat zhalim kepada rakyat!’ Kemudian dia memegang tanganku dan menggenggamnya dengan kuat. Katanya, ‘Celaka kamu Ibnu Jumhan! Kamu harus selalu berada dalam sawad a’zham (jama’ah). Kamu harus selalu berada dalam sawad a’zham (jama’ah). Jika penguasa mau mendengarmu, datangilah di rumahnya, lalu beritahu dia apa yang kamu ketahui. Jika dia mau menerima nasehat darimu, itulah yang diinginkan. Jika tidak mau, kamu bukanlah orang yang lebih tahu.’”

Termasuk cara yang keliru pula adalah mengingkari penguasa di hadapan orang banyak lewat majelis-majelis, ketika menyampaikan nasehat, khutbah, atau pelajaran, dan sebagainya, sementara penguasa tersebut tidak bersama kita. Yang kedua ini adalah termasuk ghibah (menggunjing penguasa saat ia tidak di bersama kita). Sebagaimana seorang rakyat jelata tidak boleh dighibahi, maka begitu pula penguasa. Allah Ta’ala berfirman menunjukkan haramnya ghibah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujurat: 12).

Mengenai haramnya ghibah disebutkan pula dalam hadits berikut,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah mengghibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti)” (HR. Muslim no. 2589).

Sebagian orang suka menggunjing penguasa. Jika dijelaskan bahwa hal itu tidak boleh, biasanya berdalil dengan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sesungguhnya salah satu jihad yang paling afdhol adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zhalim” (HR. Abu Daud no. 4344, An Nasai no. 4209, dan Tirmidzi no. 2174. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Ia akan mengatakan bahwa yang diucapkannya itu adalah kebenaran!

Jawabnya, bukan haditsnya yang salah, tetapi orang yang memahaminya. Pertama, dalam hadits ini disebutkan “di hadapan”, artinya di depan penguasa dan ketika bersamanya, bukan ketika tidak bersama penguasa. Kedua, hadits ini tidak menunjukkan supaya mengingkari penguasa dengan cara terang-terangan atau dengan cara mengghibahnya. Hadits ini menjadi jelas jika dipahami bersama hadits ‘Iyadh yang menyebutkan adanya tuntutan menyampaikan nasehat dengan cara sembunyi-sembunyi.

Rabu, 07 Oktober 2020

DAFTAR SHOLAWAT-SHOLAWAT BID'AH YANG TERSEBAR Di MASYARAKAT YANG ISINYA KEBANYAKAN MENGANDUNG MAKNA KESYIRIKAN YANG DATANG DARI HADITS-HADITS Dho’if (Lemah),DAN GA ADA ASAL NYA DARI YANG RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM AJARKAN!!!!



Berikut daftar sholawat-sholawat bid’ah yang tersebar di masyarakat yang isinya kebanyakan mengandung makna kesyirikan yang datang dari hadits-hadits dho’if (lemah), sangat dho’if, maudhu’ (palsu), atau tidak ada asalnya. INGAT !!! Sholawat-sholawat bid’ah dibawah ini tidak boleh diamalkan, bahkan tidak boleh dipercaya sebagai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun yang menyampaikan adalah guru tercinta anda atau habib kecayangan anda. Perlu diketahui untuk ibadah yang tidak ada ketentuan/batasan bilangannya, janganlah kita membatasi dengan bilangan tertentu, Contoh dalam hal ini membaca sholawat Nabi, jika Rasulullah tidak membatasi dengan bilangan tertentu, maka kita juga jangan membatasi dengan bilangan tertentu, silahkan bersholawat terserah anda, tidak usah menghitungnya, dan jangan lupa, lafadz sholawat yang dibaca juga harus sholawat yang betul betul diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti sholawat ibrahimiyah (ingat ya tanpa tambahan sayyidinnaa), bukan sholawat-sholawat buatan manusia biasa karena tidak ada satu orangpun yang maksum setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan perlu diketahui juga bahwa banyak orang kesurupan kemasukan jin gara-gara mengamalkan sholawat-sholawat bid’ah karena syaitan senang tinggal ditubuh pelaku bid’ah maka berhati-hatilah.

1). Sholawat “Nariyah/Tafrijiyah”

Khasiat : dibaca 11x tiap hari melancarkan riqzi dibaca 100x hajat tercapai dibaca 4444x hajat besar tercapai secara gemilang.

Keterangan : Isi sholawat mengandung kesyirikan, Berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mengangkat beliau pada derajat Ketuhanan.

2). Sholawat “Badawiyah”

Khasiat : dibaca 100x dimudahkan segala urusannya

Keterangan : Isi bholawat berkeyakinan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di ciptakan dari (nur) cahaya Allah. padahal yang benar beliau di ciptakan melalui seorang bapak dan ibu.

3). Sholawat “Kamaliyah”

Khasiat : dibaca 700 kali dapat terbebas dari api neraka. Dibaca 70 kali setelah magrib dan isya memberikan kekuatan hafalan agar tidak mudah lupa.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asalnya.

4). Sholawat “Basyairul Khairat (kabar gembira tentang berbagai kebaikan)”

Khasiat : Mengangkat derajat yang tinggi bagi yang membacanya, membuka 70 pintu rahmat, menampakkan keajaiban-keajaiban dari jalan surga, seperti memerdekan 1000 budak berkurban 1000 unta bersedekah 1000 dinar berpuasa 1000 bulan

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asalnya. Berdusta atas nama Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah diceritakan beliau menerima ilham dari Allah Subhana wa ta’ala lalu beliau menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apa manfaat sholawat tersebut.Ini bertentangan dengan Qur’an surat Al Maa’idah ayat 3 karena islam telah sempurna semenjak zaman beliau Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ketahuilah bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap suatu tokoh shalih seperti ulama ahlussunnah wal jamaah (salafi) Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah ini yang dianggap oleh kaum sufi mempunyai karomah, padahal tidak. Hal ini bisa menjadi penyakit yang membahayakan umat yang bisa menghancurkan karena mereka diketahui meminta pertolongan (istighotsoh) dengan memanggil-manggil tokoh yang dianggap shalih tersebut atau mengusap-usap, mencium kuburnya atau thawaf di sekelilingnya dan seperti itu pula mereka melakukan terhadap syaikh-syaikh lain dari kalangan mereka yang telah meninggal. Ingat ini sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ. (رواه أحمد وابن ماجه والنسائي وقال الشيخ الإسلام ابن تيمية في الإقتضاء ص ١٠٦، إسناده على شرط مسلم و وافقه الألباني في الصحيحة رقم ١٢٨٣)

Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan (sikap) ghuluw di dalam agama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Nasa`i, dan berkata Syaikhul Islam di dalam Iqtidha hal. 106: Sanadnya dengan atas syarat Muslim, dan disepakati oleh Al-Albani di dalam ash-Shahihah 1283) Pelajarilah sejarah zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam.

5). Sholawat” mohon rizqi banyak”

Khasiat : dibaca 1000 kali waktu tengah malam setelah sholat hajat Allah akan melapangkan riqzinya.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asalnya.Ingat kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar, silaturahim, rajin berinfak dijalan Allah, mengerjakan haji-umroh secara berurutan, berbuat baik pada orang lemah pada penuntut ilmu, nikah dan takwa

6). Sholawat “Nuridzati”

Khasiat : dibaca 1 kali nilainya sama dengan membaca 100.000 sholawat kata pengarangnya Imam Syadzali. Berguna untuk menghilangkan segala macam kesusahan, membuka pintu Rizqi dan dibaca paling sedikit 3x setelah sholat wajib.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asalnya.

7). Sholawat “Syifa(obat)”

Khasiat : dibaca setiap malam 7,21,41atau313 kali akan sehat lahir dan bathin sehat jasmani dan rohani.

Keterangan : Isi sholawat mengangap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dapat menyembuhkan penyakit padahal yang benar kesembuhan penyakit datangnya dari Allah Ta’ala.

8). Sholawat ”Pembuka Pintu Ilmu”

Khasiat : memperbanyak sholawat ini bagi siswa, siswi, mahasisa atau siapapun saja yang menuntut ilmu maka dia akan menjadi cerdas mudah memahami sesuatu hal.

Keterangan : Tidak ada asul-usulnya.

9). Sholawat “Rekais”

Khasiat : dibaca 1000 kali pada malam jum’at sampai jum’at berikutnya akan dikabulkan hajatnya.

Keterangan : Dikatakan sholawat ini diajarkan oleh rasulullah kepada seorang Mufti kota syam yang bernama Syech hamid affandy al ‘imadi dalam sebuah MIMPI. Isi sholawat seputar bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam yang ini tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah.

10). Sholawat “Quthul Aqthab”

Khasiat : dikatakan Kalau ingin bertemu dengan Nabi Muhammad didalam mimpi bacalah sholawat ini sebanyak 70 kali sehari semalam atau sebelum tidur dalam keadaan suci atau sesudah sholat sunnah 2 rakaat.

Keterangan : Keyakinan Bathil

11). Sholawat “Kubro”

Khasiat : dibaca 1x dapat 1 pahala yg besar, dibaca saat haji, umroh, ziarah kemakam rasulullah akan dikabulkan tujuannya dan ibadah haji,umrohnya diterima Allah sebab berkah sholawat ini.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asal usulnya lagi keyakinan bathil.

12). Sholawat “Al-Fatih”

Khasiat : Dibaca 1x seperti membaca sholawat 10.000x (ada yg mengatakan 600.000x), agar hutang terlunasi dibaca tengah malam 100x selama 40 hari atau lebih ampuh lagi setiap hari tiap malam dengan sholat hajat 2 rakaat. Dibaca 21x Allah kasih riqzi yang luas, Dibaca 1000x pada malam jum’at atau malam senin maka orang tadi besok nya berkumpul dengan Nabi Muhammad.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asal usulnya lagi bathil, Isi sholawat mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah Azza Wa jalla.

13). Sholawat “Bariyyah”

Khasiat : Dibaca malam jum’at 10x maka Allah akan catat untuknya 100 juta kebaikan, menghapus 100 juta keburukan dan mengangkat 100 juta derajat dan besok pada hari kiamat Nabi Ibrahim memintakan Rahmat kepada Allah untuk yang membaca ini. Dikatakan juga bagi yang mondok di pesantren maupun disekolah kalau ingin otaknya cerdas maka bacalah sholawat ini sebanyak-banyaknya. (modar)

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asal usulnya lagi bathil.

14). Sholawat “Untuk menyembuhkan Penyakit”

Khasiat : Ulama ahli ma’rifat mengatakan dibaca 1000 kali bisa menghilangkan penyakit dan kesusahan.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asal usulnya lagi bathil. Isi Sholawat Mengangap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dapat menyembuhkan penyakit padahal yang benar kesembuhan penyakit datangnya dari Allah Ta’ala.

15). Sholawat “Tibbil Qullub”

Khasiat : Dibaca 7x Menyembuhkan penyakit perut dengan tiap tiap 1x ditiupkan pada satu gelas air.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asal usulnya lagi ruqyah bathil.

16). Sholawat “Asnawiyyah”

Khasiat : N/A

Keterangan : Bathil. Dikatakan Sholawat asnawiyah ini merupakan gubahan syair karya salah satu tokoh pendiri Nu kyai haji raden asnawi bisa dikatakan juga sholawat nasionalis krn kalau diperhatikan isi sholawat ini betapa kyai asnawi sangat mencintai indonesia. Dalam syair ini terdapat doa untuk indonesia.

17). Sholawat “Nurul Anwar”

Khasiat : Dibaca 1x setelah sholat wajib bisa menangkal bahaya, dibaca 7x sebelum tidur terhindar dari sihir dan dibaca 100x sehari semalam memperoleh cahaya illahi, menolak bencana dan mendapatkan riqzi lahir dan bathin.

Keterangan : Hadits palsu tidak ada asal usulnya

18). Sholawat “Al Fiyyah (seribu kebaikan)”

Khasiat : N/A

Keterangan : Hadits palsu Sanad tidak jelas. Dikatakan Imam hasan al-adawi al-mishri dalam syarh ad-dalail menukilkan dari kakeknya syaikh yusuf al-fasi dari abdul abbas ahmad al-hajiri ra ia berkata :”Telah sampai kepadaku bahwa barang siapa bersholawat kepada Rasulullah dengan sholawat ini akan mendapatkan sepuluh kebaikan.” Beliau menukil dari syaikh Abul hasan dan beliau menukil juga dari syaikh Abdullah bin musa dan Syaikh muhammad yang mengatakan ia mengambil dari dua puluh guru.

19). Sholwat “Sa’adah (Kebahagiaan)”

Nash adalah sebagai berikut:اللهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ …“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.

Khasiat : Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: “Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Keterangan : Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600.000 di bawah sholawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.

20). Sholawat “Burdatul Bushiri”

Nashnya adalah sebagai berikut:يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Keterangan : Bathil, Sholawat ini bermakna tawasul kepada Nabi yang beliau telah meninggal dunia. Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya

21). Sholawat “Al-In’am”

Lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ

“Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya.”

Berkata An-Nabhani menukil dari Syaikh Ahmad Ash-Shawi: “Ini adalah shalawat Al- In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung.” (Mahabbatur Rasul 288)

Keterangan : Hadits palsu tidak jelas asal usulnya.

22). Sholawat “Badar”

Lafadz shalawat ini sebagai berikut:

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah

shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah

tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah

wa kulli majahid fillah

bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah

Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah

Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Keterangan : Sholawat ini mengandung :

Penyebutan Nabi dengan habibillah
Bertawassul dengan Nabi
Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr
23). Artinya “Barangsiapa bersholawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”Keterangan: Hadits ini palsu

24). Sholawat “Munjiyat (penyelamat)

Khasiat : bisa menyelamatkan orang yang membacanya dari musibah yang mengancamnya.

Keterangan : Bathil, dikatakan dibuat pertamax kali oleh thareqat sufi syadziliyah yang bernama sholeh musa yang tokoh panutannya abu hasan katanya tahu hal ghoib padahal cuma Allah ta’ala semata yang tahu hal ghoib lihat qur’an surat an naml ayat 65.

Dan masih buaaayakkk lagi sholawat bid’ah lainnya…

Adapun dampak dampak buruk bid’ah dan bagi pelaku amalan bid’ah berdasarkan dalil Al Qur’an dan As Sunnah adalah :

Amalan bid’ah tertolak tidak akan diterima Allah Ta’ala setulus apapun anda mengamalkannya.
Pelaku bid’ah terhalangi untuk bertaubat selama dia terus menerus dalam bid’ahnya.
Pelaku bid’ah akan diusir hingga tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pelaku bid’ah akan mendapatkan dosa sampai hari kiamat jika amalan bid’ahnya seperti membuat sholawat bid’ah diatas diamalkan juga oleh orang lain.
Pelaku bid’ah tak akan mendapat perlindungan Allah Ta’ala, namun diserahkan pada dirinya sendiri.
Pelaku bid’ah adalah orang yang dilaknat menurut syari’at.
Amalan bid’ah bukannya semakin mendekat tapi semakin menjauhkan pelaku bid’ah dari Allah Ta’ala.
Pelaku bid’ah dikhawatirkan dia terjerumus ke dalam kekafiran.
Pelaku bid’ah ditakutkan dia akan mati dalam keadaan su’ul khatimah
Wajah pelaku bid’ah akan menghitam legam di hari kiamat sedangkan wajah ahlus sunnah wal jama’ah akan putih berseri.
Demikianlah macam-macam sholawat bid’ah hendaknya kita menyibukkan diri dengan amalan sunnah saja, sadarlah bahwa Allah ta’ala itu tidak membutuhkan amal kita betapapun besar amal kita maka mintalah kepada Allah ta’ala agar senantiasa membimbing kita. “Kalau bicara masalah khasiat cukuplah obat dari dokter yang berkhasiat yang telah diuji secara klinis adapun khasiat sholawat-sholawat diatas datangnya dari syaitan.” Ketahuilah sholawat-sholawat bid’ah seperti diatas masih banyak lagi bergentayangan diluar sana. Akhir kata, Semoga Allah Ta’ala menunjukkan kepada kita jalan yang lurus dan melindungi hati kita dari keyakinan-keyakinan bathil seperti diatas. Aamiin.

facebook Hadis Shahih

Hukum Bersalam-salaman Setelah Shalat

🌾بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

🌿Hukum Bersalam-salaman Setelah Shalat

✍🏻 Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Hukum asal berjabat tangan adalah sunnah tanpa diragukan lagi. Hukum sunnah ini dilakukan saat kita baru bertemu/berjumpa dengan seseorang, atau saat kita hendak berpisah dengannya.

Dalilnya diantaranya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah".
[HR. Abu Daud 5212, Tirmidzi 2727. Kata Al-Albani dalam As-Shahihah 525, dengan mempertimbengan berbagai jalur pendukung dan kesaksianan periwayatannya, maka hadits ini berderajat shahih atau minimal hasan] 

Hadits ini menunjukkan disukainya kita berjabat tangan saat awal kita berjumpa dengan seorang muslim.
Yang jadi masalah, apakah dengan hadits ini juga bisa dijadikan dalil sebagai sunnahnya berjabat tangan setiap kali kita selesai melaksanakan shalat lima waktu atau shalat tertentu lainnya, padahal misal kita awalnya saat masuk ke masjid telah menjabat tangannya ?

Andai kita masuk ke masjid, lalu kita menjabat tangan orang yang di situ baru saja kita temui, maka itu adalah adalah sunnah, atau kita menjabatnya lagi saat misal kita akan pulang duluan, maka itu pun sunnah.
Tapi andai kita saat masuk ke suatu masjid, lalu duduk di sampingnya, lalu kita berjabat tangan dengannya.
Lantas setelah selesai salam dari shalat langsung kita menyengaja berjabatan tangan lagi dengannya dan menjadikan ini sebagai sebuah kebiasaan, apalagi dengan anggapan berjabat tangan setiap kali selesai shalat semacam tadi adalah suatu sunnah, maka ini adalah bid'ah.
Dan tidak boleh kita menganggap boleh atau meyunnahkannya dengan beralasan dengan keumuman atau kemuthalakkan hadits keutamaan berjabat tangan di atas.

Ibnu Abidin Al-Hanafi rahimahullah berkata:
"Tetapi telah dikatakan, bahwa membiasakan hal tersebut (berjabat tangan) setelah shalat secara khusus telah menjadikan orang-orang yang meyakininya sebagian bagian dari perbuatan yang disunnahkan secara bodoh khusus pada waktu-waktu tersebut.
Dan sesungguhnya.. perbuatan ini tidak pernah dilakukan seorangpun dari kalangan Salaf yang mengkhusukan bersalam-salaman di waktu-waktu tersebut".
(Raddul Muhtar XXVI:437)

Ibnul Hajj Al-Maliki rahimahullah saat beliau menyoroti fenomena membiasakan berjabat tangan setiap kali selesai shalat seperti yang terjadi di berbagai masjid, maka beliau mengatakan:
"Bersalaman ini termasuk bid'ah yang semestinya dilarang di masjid-masjid, karena tempat bersalaman menurut syariat adalah hanyalah saat bertemunya seorang muslim dengan saudaranya, bukan pada saat selesai dari shalat lima waktu. Dengan demikian, saat syariat telah meletakkan, maka hendaknya diletakkan semestinya.
Dan yang demikian itu harus dicegah dan bahkan pelakunya semestinya di tegur secara keras, karena ia telah mendatangkan sesuatu yang menyelisihi sunnah". (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah XXXVII:363)

Baca Selengkapnya: http://dakwahmanhajsalaf.com/2020/09/hukum-bersalam-salaman-setelah-shalat.html

Senin, 05 Oktober 2020

BERILAH 70 UDZUR

•••●✿❁ 📱 *﷽* 📱 ❁✿​●•••
BERILAH 70 UDZUR

✍ Oleh:
💕 Ustadz Badrusalam LC, حفظه الله تعالى

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.” (HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344)

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.” (HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah)

       ──•●✿❀۝❀✿●•──

MEMBERI UDZUR KEPADA SAUDARA YANG BERSALAH

✍ Oleh:
💕 Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى 

Ibnu Hibbaan rohimahullah berkata:

الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ..
فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة

“Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara…

Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajjb bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan…”

(Roudhotul ‘Uqolaa’ hal 186)

Orang yang suka memberi udzur apalagi memaafkan saudaranya yang bersalah maka akan mensucikan jiwanya dan membahagiakan hatinya.

Adapun jika tidak suka memberi udzur apalagi suka mencari cari kesalahan dan suka mendendam maka hanya menyiksa hati dan menjadikannya ujub.

☘☘📓☘☘

📱 Sumber:

⚪KutipanTausiyah

       ──•●✿❀۝❀✿●•──

MAAFKAN WALAU 70 KALI SEHARI: CABUT DURI DI HATIMU

✍ Oleh: 
💕 Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku…Saudariku Muslim dan Muslimah….
Salah omong
Salah bertingkah
Salah faham
Itu semua wajar Biasa…
Namanya juga manusia…

Kalau ada saudara kita yang minta maaf atas kesalahannya,
hati yang besar akan mudah memberikan maaf.
Kemudian kalau dia mengulangi kesalahannya,
kadang kita mulai enggan memaafkan.

Namun seharusnya kita tetap memaafkan. Karena kita pun sering mengulangi kesalahan yang sama pada Allah.
Dan Allah tetap menerima kita.

SEAKAN DIRIMU TIDAK PERNAH BERBUAT SALAH?

Bacalah dengan seksama hadits di bawah ini,
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

( ﺀﺎﺟ ﻞﺟﺭ ﻰﻟﺇ ﻲﺒﻨﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ﻝﺎﻘﻓ : ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻛ ﻮﻔﻌﻧ ﻦﻋ ؟ﻡﺩﺎﺨﻟﺍ ﺖﻤﺼﻓ ، ﻢﺛ ﺩﺎﻋﺃ ﻪﻴﻠﻋ ﻡﻼﻜﻟﺍ ﺖﻤﺼﻓ ، ﺎﻤﻠﻓ ﻥﺎﻛ ﻲﻓ ﺔﺜﻟﺎﺜﻟﺍ ﻝﺎﻗ : ﺍﻮﻔﻋﺍ ﻪﻨﻋ ﻲﻓ ﻞﻛ ﻡﻮﻳ ﻦﻴﻌﺒﺳ ﺓﺮﻣ ( ) ﻮﺑﺃ ﺩﻭﺍﺩ

"Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berapa kali kita memaafkan (kesalahan) pembantu?”

Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang perkataannya.
Dan Nabi pun masih terdiam.

Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali.” (HR. Abu Dawud)

Ingat 70 kali berbuat salah kita seharusnya tetap memberi maaf.

MAAF ITU INDAH…
DENDAM DAN SAKIT HATI ADALAH DURI DALAM HATI …

DURI DI KAKI SAJA DIBUANG…
APALAGI DI DALAM HATI…

☘☘📓☘☘

📚 Sumber:

⚪ BBG Al-Ilmu

    •┈┈•••○○❁📚❁○○•••┈┈•

Minggu, 04 Oktober 2020

CINTA NABI MASA KINI, DAN AKAN MENJADI TUNTUNAN PADA SAATNYA NANTI

[ Cinta Nabi Masa Kini ]

Oleh : Ust. Sufyan Basweidan, MA حفظه الله تعالى 

Sekarang, cinta Rasul kebanyakan hanyalah slogan yang sulit dicari wujudnya di lapangan. Cinta Rasul sering kali diidentikkan dengan shalawatan, perayaan Maulid Nabi, isra’ mi’raj, dan yang sejenisnya.

Sekarang, orang yang dianggap cinta Rasul ialah mereka yang
mengagungkan beliau dengan bertawassul kepadanya dalam do’a. Atau mereka yang mengirimkan Al Fatehah kepada beliau, atau mereka yang menggelari beliau dengan gelar yang bermacam-macam: seperti Sayyidina, Habibina, dan lain-lain.

Sekarang, ‘Cinta Rasul’ merupakan judul kaset yang sering kita dengar di mana-mana… yang dinyanyikan oleh pria dan wanita, tua dan muda… semua merasa khusyuk ketika melantunkan kata-kata: Shalaatullaah salaamullaah… ‘alal habiibi Rasuulillaah…

Akan tetapi jangan tanya soal sunnah beliau kepada mereka… karena mereka akan menjawab bahwa yang mereka lakukan tadi-lah yang namanya sunnah. Cinta Rasul kini telah berubah menjadi klaim yang diperebutkan setiap golongan. Cinta Rasul yang dahulu diwujudkan dengan ittiba’ kepadanya, kini semakin luas maknanya hingga mencakup bid’ah segala.

Menurut mereka, perayaan maulid, isra’ mi’raj, shalawatan, dan yang sejenisnya merupakan perwujudan nyata akan kecintaan seseorang kepada Nabinya. Sehingga otomatis bila ada orang yang mengingkari hal-hal semacam itu, serta-merta dituduhlah ia sebagai orang yang tidak cinta Rasul, atau wahhabi, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, mereka berusaha mencari ‘pembenaran’ –dan bukannya kebenaran– atas apa yang selama ini mereka lakukan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah bertentangan dengan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin ‘dalil’ (baca: syubhat) untuk
melegitimasi praktik ‘sunnah’ (baca: bid’ah) mereka.

(bbg-alilmu)

Semoga manfaat

AGAMA HANCUR KARENA KEBODOHAN DAN TAKLID BUTA

AGAMA HANCUR KARENA KEBODOHAN DAN TAKLID BUTA.

Oleh Siswo Kusyudhanto 

Ahad pagi saya ada jalan-jalan sekitar kota, di lampu merah ada seorang lelaki dan perempuan naik sepeda motor, mereka nampak berdandan rapi, dan terlihat wanita yang dibonceng membawa bibel/injil, namun si wanita menggunakan pakaian super minim, rok yang dikenakan diatas lututnya, dan rambutnya dibiarkan tergerai, subhanallah.

Andai wanita itu mau membuka injilnya kemudian mempelajari isinya niscaya dia akan berhijab dan menjauhi berpakaian minim.
Jadi teringat debat Syaikh Ahmad Dedat Rahimahullah di Kota New York, ketika ditanya seorang wanita bule Amerika, " syaikh saya perhatikan Islam mengekang kebebasan wanita dalam berpakaian, bahkan kadang mereka hanya terlihat matanya saja, bagaimana pendapat anda mengenai ini?'. Syaikh Ahmad Dedat berkata, " anda keliru, sebenarnya yang membuat aturan keras soal pakaian wanita adalah nasrani, jika aturan dalam Islam dalam berpakaian untuk wanita dibandingkan ajaran Isa Al Masih soal ini maka aturan Islam masih sangat ringan. 

Perintah berkerudung dalam alkitab

1 Korintus
11:5 Tetapi TIAP TIAP PEREMPUAN YANG BERDOA ATAU BERNUBUAT DENGAN KEPALAYANG TIDAK BERTUDUNG, MENGHINA KEPALANYA, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.

11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.

11:7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.

11:8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.

11:9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.

11:10 Sebab itu, PEREMPUAN HARUS MEMAKAI TANDA WIBAWA DI KEPALANYA oleh karena para malaikat.

11:11 Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.

11:12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula
laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.

11:13 Pertimbangkanlah sendiri: PATUTKAH PEREMPUAN BERDOA KEPADA ALLAH DENGAN KEPALA TIDAK BERTUDUNG?.
Lihat dalam bibel ini, jika ada wanita tidak menggunakan tudung?hijab maka wajib baginya menggundul kepalanya. Apakah anda masih berpendapat Islam menerapkan aturan yang keras soal tata cara berpakaian bagi wanita???".

Wanita bule itu nampak kaget mendengar penjelasan Syaikh Ahmad Dedat soal ini, ternyata agama nasrani yang dianutnya jauh lebih keras dalam cara berpakaian bagi wanita.

Kenapa aturan dalam nasrani berubah-ubah seperti itu ? padahal ajaran Isa Al Masih yang tertuang dalam injil sudah sangat jelas?. Karena yang menetapkan ini dan itu dalam ajaran nasrani dan yahudi adalah para ulama mereka, sehingga pada akhirnya ajarannya yang aseli umatnya tidak mengetahuinya. Misal soal hijab ini, banyak pemuka nasrani mengurangi hukum soal hijab ini dari mutlak wajib, dikurngai dari jaman ke jaman akhirnya bebas, gak pakai hijab juga gak apa-apa asal hatinya baik.

Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy menjelaskan soal ini,." Ketika Allah menjelaskan kesesatan nasrani dan yahudi dalam Surat At Taubah diantara penyebabnya adalah mereka menjadikan para orang alim dan rahibnya sebagai Tuhannya, makna menyembah ini bukan dalam arti harfiah ada orang menyembah orang lain, namun mengambil pendapat seseorang dan meninggalkan pendapat Allah dan RasulNYa."

Allah ta’alla juga berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31).

Sabtu, 03 Oktober 2020

SAAT HATI RINDU KELEMBUTAN

📚﷽

SAAT HATI RINDU KELEMBUTAN

✍ Oleh: Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Farid, Lc, MHI, حفظه الله تعالى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ

“Apakah engkau ingin hatimu lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Maka sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu nicaya hatimu akan menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 80)

Penjelasan hadits

Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terdiri dari dua unsur, yaitu zahir dan batin. Dan unsur batin yang paling penting adalah hati. Hati adalah tempatnya akal manusia untuk berfikir. Hati mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia, sehingga ada sebuah perkataan yang sangat masyhur, “Manusia itu dinilai dari dua anggota tubuhnya, yaitu hati dan lisannya.” Karena hati adalah bagai raja dalam tubuh dan lisan bagai penerjemahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, bahwa dalam hati manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka akan baik seluruh tubuhnya dan jika ia buruk maka akan buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Dalam keseharian, kita ambisius untuk mengejar target duniawi guna memenuhi hajat jasad kita. Yang di kantor sibuk dengan pekerjaan kantornya, yang di pasar sibuk dengan barang dagangannya, yang di ladang sibuk dengan pertanian dan peternakannya. Semua sibuk dengan profesinya masing-masing, ditambah lagi jarangnya hati mendapatkan siraman rohani, sehingga menyebabkan kita jauh dengan Sang Pencipta dan lama kelamaan hati kita menjadi keras dengan tanpa kita sadari. Di saat itulah kita butuh kelembutan hati.

Solusi melembutkan hati

Termasuk tibbun nabawi (pengobatan ala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk melembutkan hati yang telah mengeras adalah menyayangi anak yatim dan menyantuninya. Imam al-Haitsami menceritakan, bahwa ada salah satu sahabat datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan hatinya yang keras, lalu beliau menasihatinya agar menyayangi anak yatim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ

“Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu nicaya hatimu akan menjadi lembut dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 80)

Dari sabda Nabi di atas kita mengetahui, bahwa menjalin hubungan dengan anak yatim dan orang-orang yang lemah dapat melembutkan hati seseorang, karena ketika kita dekat dengan mereka, kita akan teringat betapa besar karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dilimpahkan kepada kita semua, baik dari kelengkapan anggota keluarga atau dari sisi tercukupinya kebutuhan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian hati kita menjadi terenyuh dan menjadi lembut. Dan karunia itu semua tidak ada pada mereka.

Al-Malla Ali al-Qari menjelaskan hadits di atas dan yang semakna dengannya, dengan mengatakan, “Sabda beliau, ‘Usaplah kepala si yatim,’ dengan ini engkau mengingat kematian, sehingga lebih memanfaatkan hidup. Karena sesungguhnya kerasnya hati sumbernya adalah lalai. Dan sabda beliau, ‘dan berilah makan kepada si miskin,’ ini agar engkau melihat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada pada dirimu, sekiranya Dia telah mencukupimu, sementara orang lain membutuhkan bantuanmu, dengan demikian hatimu menjadi lembut dan dan tidak menjadi keras lagi.”

Bagaimana cara menyayangi anak yatim?

Ada banyak cara untuk menyayangi anak yatim, di antaranya adalah:

1⃣ Bersikap baik, memberikan hak dan tidak menzalimi anak yatim

Anak yatim tidak mempunyai ayah, hal ini menuntut orang yang lain untuk menyayangi, bersikap lembut, berkata santun, memberikan haknya dan tidak menzaliminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9)

Qatadah menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Janganlah engkau menzaliminya.”

2⃣ Menjaga harta anak yatim

Hal ini langsung ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan ayat di atas, “Janganlah kalian mendekati hartanya kecuali untuk kemaslahatannya dan untuk mengembangkannya.”

Hal ini seperti yang dikatakan oleh para ahli tafsir lainnya. As-suddi berkata, “Hendaklah ia mengembangkan hartanya (si yatim).” Mujahid berkata, “Dengan cara jual beli dengannya.” (Lihat Tafsir ath-Thabari, 12/221)

Dan barang siapa yang mengambil atau memakan harta anak yatim maka pada hakikatnya ia telah memakan api nereka dan di akhirat nanti ia dimasukkan ke dalam neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)

As-Suddi menjelaskan, bahwa orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka ia akan dibangkitan pada hari kiamat sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, kedua telinganya, hidunganya dan kedua matanya.” (Lihat Tafsir ath-Thabari, 7/26)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

أَرْبَعَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ وَلَا يُذِيْقَهُمْ نَعِيْمَهَا: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَآكِلُ الرِّبَا، وَآكِلُ مَالِ الْيَتِيْمِ بِغَيْرِ حَقٍّ،         وَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ

“Ada empat golongan yang tidak akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga dan tidak diizinkan oleh-Nya untuk merasakan nikmatnya surga, yaitu pecandu minuman keras, pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim dengan cara tidak benar, dan orang yang durhaka kepada orang tuanya.” (HR. Al-Hakim, 2260. Dan beliau mengatakan hadits ini adalah sanadnya shahih)
 

3⃣ Memberi makan anak yatim

Islam menganjurkan untuk memberi makan anak yatim yang membutuhkan makanan, dan terlebih lagi jika anak yatim tersebut adalah kerabat sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

"Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. Atau memberi makan pada hari kelaparan. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad: 11-16). 

Wallahu A’lam. 

☘☘📓☘☘

📱Sumber:

⚪Al Sofwa
.
#Muhasabahdiri #BelajarTerus
#Menjadilebihbaik
#DiatasManhajSalaf
#AlwaysILMU

    •┈┈•••○○❁📚❁○○•••┈┈•