Selasa, 29 Januari 2019

OBAT PENYAKIT HATI

💊 OBAT PENYAKIT HATI DAN SEMPITNYA DADA 💕

Bismillah

Berikut kami nukilkan beberapa sebab dan sarana pengobatan yang sangat bermanfaat bagi berbagai penyakit hati, sekaligus penyembuh yang sangat ampuh untuk menghilangkan kegoncangan jiwa. Semoga kita bisa mengamalkannya secara jujur dan penuh keikhlasan sehingga kita bisa mendapatkan manfaat darinya berupa kebahagiaan hidup dan ketenangan hati. Aamiin..

🔺 1. Mengikuti petunjuk, memurnikan tauhid, dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja, sebagaimana kesesatan dan syirik itu merupakan faktor terbesar bagi sempitnya dada.

🔺 2. Menjaga iman yang Allah sematkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya dan juga amal shalih yang dilakukan seseorang.

🔺 3. Mencari ilmu syar’i yag bermanfaat. Setiap ilmu syar’i seseorang bertambah luas, maka akan semakin lapang pula hatinya.

🔺 4. Bertaubat dan kembali melakukan ketaatan kepada Allah yang Maha Suci, mencintai-Nya dengan sepenuh hati, serta menghadapkan diri kepada-Nya dan menikmati ibadah kepada-Nya.

🔺 5. Terus menerus berdzikir kepada-Nya dalam segala kondisi dan tempat. Sebab dzikir mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan dalam melapangkan dan meluaskan dada, menenangkan hati, serta menghilangkan kebimbangan dan kedukaan.

🔺 6. Berbuat baik kepada sesama makhluk sebisa mungkin. Sebab, seseorang yang murah hati lagi baik adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya dan paling bahagia hatinya.

🔺 7. Mengeluarkan berbagai kotoran hati dari berbagai sifat tercela yang menyebabkan hatinya menjadi sempit dan tersiksa, seperti dengki, kebencian, iri, permusuhan, dan kedhaliman.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam pernah ditanya tentang sebaik-baik manusia, maka beliaupun menjawab, “Setiap orang yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya,kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya ?” Beliau menjawab, “yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.” [1]

🔺 8. Keberanian dalam membela kebenaran. Orang yang berani mempunyai dada yang lebih lapang dan hati yang lebih luas.

🔺 9. Meninggalkan sesuatu yang berlebihan dalam memandang, berbicara, mendengar, bergaul, makan, dan tidur. Meninggalkan hal itu semua merupakan salah satu faktor yang dapat melapangkan dada, menyenangkan hati, dan menghilangkan keduakaan dan kesedihan.

🔺 10. Menyibukkan diri dengan amal atau ilmu syar’i yang bemanfaat karena hal tersebut dapat menghindarkan hati dari hal-hal yang menimbulkan keraguan hati.

🔺 11. Memperhatikan kegiatan hari ini dan tidak perlu khawatir terhadap masa yang akan datang serta tidak sedih terhadap keadaan yang terjadi pada masa-masa lalu. Seorang hamba harus selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, baik dalam hal agama maupun dunia. Juga memohon kesuksesan kepada Rabb-Nya dalam mencapai maksud dan tujuan serta memohon agar Dia membantunya dalam mencapai tujuan tersebut. Ini akan dapat menghibur dari keduakaan dan kesedihan.

🔺 12. Melihat kepada orang yang ada di bawah dan jangan melihat kepada orang yang ada di atas dalam ‘afiat (kesehatan dan keselamatan) dan rizki serta kenikmatan dunia lainnya.

🔺 13. Melupakan hal-hal tidak menyenangkan yang telah terjadi pada masa lalu, sehingga tidak larut memikirkannya.

🔺 14. Jika tertimpa musibah maka hendaknya berusaha meringankan agar dampak buruknya bisa dihindari, serta berusaha keras untuk mencegahnya sesuai dengan kemampuannya.

🔺 15. Menjaga kekuatan hati, tidak mudah tergoda serta tidak terpengaruh angan-angan yang ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran buruk, menahan marah, serta tidak mengkhawatirkan hilangnya hal-hal yang disukai. Tetapi menyerahkan semuanya hanya kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, serta memohon ampunan dan afiat kepada Allah.

🔺 16. Menyandarkan hati hanya kepada Allah seraya bertawakal kepada-Nya. Berhusnudzan kepada Allah, Rabb Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sebab, orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan dipengaruhi oleh kebimbangan dan keraguan.

🔺 17. Seseorang yang berakal menegetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang bahagia dan tenang. Karena kehidupan itu singkat sekali, karena itu, jangan dipersingkat lagi dengan adanya berbagai kesedihan dan memperbanyak keluhan. Karena justru hal itu bertolak belakang dengan kehidupan yang benar dan sehat.

🔺 18. Jika tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan hendaknya ia membandingkannya dengan berbagai kenikmatan yang telah dilimpahkan kepadanya, baik berupa agama maupun duniawi. Ketika orang itu membandingkannya maka akan tampak jelas kenikmatan yang diperolehnya jauh lebih banyak dibandingkan musibah yang dia alami. Disamping itu, perlu kiranya ia membandingkan antara terjadinya bahaya di masa depan yang ditakutkan dengan banyaknya kemungkinana keselamatan. Karena kemungkinan yang lemah tidak mungkin mengalahkan kemungkinan yang lebih banyak dan kuat. Dengan demikian akan hilanglah rasa sedih dan takutnya.

🔺 19. Mengetahui bahwa gangguan dari orang lain tidak akan memberikan mudharat atau bahaya kepadanya, khususnya yang berupa ucapan buruk, tatapi hal itu justru akan memberikan mudharat kepada diri mereka sendiri. Hal itu tidak perlu dimasukkan ke dalam hati dan tidak perlu dipikirkan, sehingga tidak akan membahayakannya.

🔺 20. Mengarahkan pikirannya terhadap hal-hal yang membawa manfaat bagi dirinya, baik dalam urusan agama maupun dunia.

🔺 21. Hendaklah dia tidak menuntut terima kasih atas kebaikan yang dilakukannya, kecuali mengharapkan balasan dari Allah. Dan hendaklah dia mengetahui bahwa amal yang dia lakukan, pada hakekatnya merupakan muamalah (jalinan) dengan Allah, sehingga tidak mempedulikan terima kasih dari orang terhadap apa yang dia berikan kepadanya. Allah berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih” (QS. Al-Insan:9)

🔺 22. Memperhatikan hal-hal yang bermanfaat dan berusaha untuk dapat merealisasikannya, serta tidak memperhatikan hal-hal yang buruk baginya, sehingga otak dan pikirannya tidak disibukkan olehnya.

🔺 23. Berkonsentrasi pada aktivitas yang ada sekarang dan menyisihkan aktivitas yang akan datang, sehingga aktivitas yang akan datang kelak dikerjakan secara maksimal dan sepenuh hati.

🔺 24. Memilih dan berkonsentrasi pada aktivitas yang bermanfaat, dengan mengutamakan yang lebih penting. Hendaklah ia memohon pertolongan pada Allah, kemudian meminta pertimbangan orang lain, dan jika pilihan itu telah sesuai dengan kemantapan hatinya, maka silahkan diamalkan dengan penuh tawakal pada Allah.

🔺 25. Menyebut-nyebut nikmat Allah dengan memujinya, baik yang dhahir maupun yang batin. Sebab, dengan menyadari dan menyebut-nyebut nikmat Allah, maka Dia akan menghindarkan dirinya dari kebimbangan dan kesusahan.

🔺 26. Hendaklah bergaul dan memperlakukan pasangan (suami maupun istri) dan kaum kerabat serta semua orang yang mempunyai hubungan secara baik . jika menemukan suatu aib, maka jangan disebarluaskan, tetapi lihat pula kebaikan yang ada padanya. Dengan cara ini, persahabatan dan hubungan akan terus terjalin dengan baik dan hati akan semakin lapang. Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah bersabda, “Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan (istri) seandainya dia membenci suatu akhlaknya, maka dia pasti meridhai sebagian lainnya.”
(HR. Muslim)

🔺 27. DO'A MEMOHON PERBAIKAN SEMUA HAL DAN URUSAN. Dan doa paling agung berkenaan dengan hal itu adalah :

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Allahumma ashlihlii diinii lladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlihlii dunyaya llatii fiihaa ma’asyii, wa ashlihlii akhirotii llatii fiihaa ma’adii, waj’alilhayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarr.”
(HR. Muslim)

Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini penambah kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejelekan.

Demikian juga dengan do’a berikut ini :

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Allahumma rahmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii thorfata’ainin wa ashlihlii sya’nii kullahu, laa ilaha illa anta.”

Ya Allah hanya rahmatMu aku berharap mendapatkannya. karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau

🔺 28. JIHAD DI JALAN ALLAH. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shalallu’alaihi wassalam, “ Berjihadlah di jalan Allah, karena jihad di jalan Allah merupakan pintu dari pintu-pintu surga, yang dengannya Allah menyelamatkan dari kedukaan dan kesedihan.”

__________

📓Sumber : Do’a dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Pustaka Imam Syafi’i.
Artikel Muslimah.or.Id

[1] Lafal hadits tersebut berbunyi,

أفضل الناس كل مخموم القلب صدوق اللسان ، قالوا : صدوق اللسان نعرفه فما مخموم القلب ؟ قال : التقي النقي ، لا إثم فيه و لا بغي و لا غل و لا حسد

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.”
HR. Ibnu Majah 4216 dan Ibnu ‘Asakir (17/29/2). Syaikh Albani berkata, “Hadits ini memiliki sanad yang shahih dan rijal yang tsiqat (terpercaya)”. (As-Silsilah Ash-Shaihah no.948, Maktabah Asy-Syamilah-red)

✒Reposted by AishAisyah

Kamis, 24 Januari 2019

HUKUM ASAL IBADAH, HARAM SAMPAI ADA DALIL

Hukum Asal Ibadah, Haram Sampai Ada Dalil

Sebagian kalangan mengemukakan alasan ketika suatu ibadah yang tidak ada dalilnya disanggah dengan celotehan, “Kan asalnya boleh kita beribadah, kenapa dilarang?” Sebenarnya orang yang mengemukakan semacam ini tidak paham akan kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil. Berbeda dengan perkara duniawi (seperti HP, FB, internet), maka hukum asalnya itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan.

Jadi, kedua kaedah ini tidak boleh dicampuradukkan. Sehingga bagi yang membuat suatu amalan tanpa tuntunan, bisa kita tanyakan, “Mana dalil yang memerintahkan?”

Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,

الأصل في العبادات التحريم

“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”

Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri –semoga Allah menjaga dan memberkahi umur beliau- berkata, “(Dengan kaedah di atas) tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah kecuali jika ada dalil dari syari’at yang menunjukkan ibadah tersebut diperintahkan. Sehingga tidak boleh bagi kita membuat-buat suatu ibadah baru dengan maksud beribadah pada Allah dengannya. Bisa jadi ibadah yang direka-reka itu murni baru atau sudah ada tetapi dibuatlah tata cara yang baru yang tidak dituntunkan dalam Islam, atau bisa jadi ibadah tersebut dikhususkan pada waktu dan tempat tertentu. Ini semua tidak dituntunkan dan diharamkan.” (Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 90).

Dalil Kaedah

Dalil yang menerangkan kaedah di atas adalah dalil-dalil yang menerangkan tercelanya perbuatan bid’ah.

Bid’ah adalah amalan yang tidak dituntunkan dalam Islam, yang tidak ada pendukung dalil. Dan bid’ah yang tercela adalah dalam perkara agama, bukan dalam urusan dunia.

Di antara dalil kaedah adalah firman Allah Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).

Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.
(HR. Muslim no. 1718).

Begitu pula dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, An Nasa-i no. 46. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa kita baru bisa melaksanakan suatu ibadah jika ada dalilnya, serta tidak boleh kita merekayasa suatu ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya.

Perkataan Ulama

Ulama Syafi’i berkata mengenai kaedah yang kita kaji saat ini,

اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).” Perkataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43).

Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan.

Perkataan Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan.

Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan.

Di tempat lain, Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata,

أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف

“Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2: 80).

Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga berkata,

لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ

“Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”. Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.

Dalam buku ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,

الأصل في العبادات التوقيف

“Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil).”

Ibnu Muflih berkata dalam Al Adabu Asy Syar’iyah,

أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ

“Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah disyari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan sampai ada dalil.”

Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits -Imam Syafi’i termasuk di dalamnya- berkata,

إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ

“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17)

Ibnu Taimiyah lebih memperjelas kaedah untuk membedakan ibadah dan non-ibadah. Beliau rahimahullah berkata,

إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ فَلَا يُشْرَعُ مِنْهَا إلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى . وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ } . وَالْعَادَاتُ الْأَصْلُ فِيهَا الْعَفْوُ فَلَا يَحْظُرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَرَّمَهُ وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : { قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا } وَلِهَذَا ذَمَّ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ شَرَعُوا مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَحَرَّمُوا مَا لَمْ يُحَرِّمْهُ

“Hukum asal ibadah adalah tawqifiyah (dilaksanakan jika ada dalil). Ibadah tidaklah diperintahkan sampai ada perintah dari Allah. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21). Sedangkan perkara adat (non-ibadah), hukum asalnya adalah dimaafkan, maka tidaklah ada larangan untuk dilakukan sampai datang dalil larangan. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal” (QS. Yunus: 59). Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang membuat syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan yang tidak diharamkan. (Majmu’ Al Fatawa, 29: 17).

Contoh Penerapan Kaedah

– Beribadah dengan tepuk tangan dan musik dalam rangka taqorrub pada Allah seperti yang dilakukan kalangan sufi.

– Perayaan tahun baru Islam dan Maulid Nabi.

– Shalat tasbih karena didukung oleh hadits dho’if[1].

Demikian contoh-contoh yang disampaikan oleh guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah dalam Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah, hal. 91.

Tambahan Bid’ah dalam Ibadah

Kadang amalan tanpa tuntunan (alias: bid’ah) adalah hanya sekedar tambahan dari ibadah yang asli.

Apakah tambahan ini membatalkan amalan yang asli?

Di sini ada dua rincian:

1- Jika tambahan tersebut bersambung (muttashilah) dengan ibadah yang asli, ketika ini, ibadah asli ikut rusak.

Contoh: Jika seseorang melakukan shalat Zhuhur lima raka’at (dengan sengaja), maka keseluruhan shalatnya batal. Dalam kondisi ini, tambahan raka’at tadi bersambung dengan raka’at yang asli (yaitu empat raka’at).

2- Jika tambahan tersembut terpisah (munfashilah). Maka ketika itu, ibadah asli tidak rusak (batal).

Contoh: Jika seseorang berwudhu’ dan mengusap anggota wudhunya (dengan sengaja) sebanyak empat kali-empat kali. Kali keempat di situ dihukumi bid’ah namun tidak merusak usapan tiga kali sebelumnya. Alasannya, karena usapan pertama sampai ketiga dituntunkan sedangkan keempat itu tambahan (tidak ada asalnya), sehingga dianggap terpisah.

Lihat keterangan akan hal ini dalam Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 92 oleh guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah.

Tidak Tepat!

Tidak tepat dan terasa aneh jika dalam masalah ibadah, ada yang berujar, “Kan tidak ada dalil yang melarang? Gitu saja kok repot …”.

Maka cukup kami sanggah bahwa hadits ‘Aisyah sudah sebagai dalil yang melarang untuk membuat ibadah tanpa tuntunan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718). 

Hadits ini sudah jelas menunjukkan bahwa kita harus berhenti sampai ada dalil, baru kita boleh melaksanakan suatu ibadah.

Jika ada yang membuat suatu ibadah tanpa dalil, maka kita bisa larang dengan hadits ini dan itu sudah cukup tanpa mesti menunggu dalil khusus.

Karena perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu jaami’ul kalim, maksudnya adalah singkat namun syarat makna. Jadi dengan kalimat pendek saja sudah bisa menolak berbagai amalan tanpa tuntunan, tanpa mesti dirinci satu per satu.

Murid Imam Nawawi, Ibnu ‘Atthor rahimahullah menjelaskan mengenai hadits di atas, “Para ulama menganggap perbuatan bid’ah yang tidak pernah diajarkan dalam Islam yang direkayasa oleh orang yang tidak berilmu, di mana amalan tersebut adalah sesuatu yang tidak ada landasan (alias: tidak berdalil), maka sudah sepantasnya hal ini diingkari.

Pelaku bid’ah cukup disanggah dengan hadits yang shahih dan tegas ini karena perbuatan bid’ah itu mencacati ibadah.” (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah atau dikenal pula dengan ‘Mukhtashor An Nawawi’, hal. 72)

Sehingga bagi yang melakukan amalan tanpa tuntunan, malah kita tanya, “Mana dalil yang memerintahkan untuk melakukan ibadah tersebut?” Jangan dibalik tanya, “Mana dalil yang mengharamkan?” Jika ia bertanya seperti pertanyaan kedua, ini jelas tidak paham kaedah yang digariskan oleh Al Qur’an dan As Sunnah, juga tidak paham perkataan ulama.

Kaedah yang kita kaji saat ini menunjukkan bagaimana Islam betul-betul menjaga syari’at, tidak dirusak oleh kejahilan dan kebid’ahan.

Hanya Allah yang memberikan petunjuk ke jalan penuh hidayah.

Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari 2 raka’at setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memperbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata, “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”


@ Mabna 27, KSU, Riyadh-KSA, 15 Rabi’ul Awwal 1434 H (selepas shalat Fajar)

www.rumaysho.com

[1] Walaupun tentang penshohihan hadits shalat tasbih, para ulama berselisih pendapat. Pembahasan shalat tasbih telah dibahas Rumaysho.com di sini: https://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3130-meninjau-anjuran-sha

================
Disalin Oleh Muhammad Syarif

17  Jumadil awwal 1440 /
Kamis 24 Januari   2019
========================

KEUTAMAAN MENGHADIRI MAJLIS ILMU DI MASJID

5 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid

1.Dimudahkan jalannya menuju surga

Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat

Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).

Makna dari وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ “mereka akan dilingkupi para malaikat“, dijelaskan oleh Al Mula Ali Al Qari:

مَعْنَاهُ الْمَعُونَةُ وَتَيْسِيرُ الْمُؤْنَةِ بِالسَّعْيِ فِي طَلَبِهِ

“Maknanya mereka akan ditolong dan dimudahkan dalam upaya mereka menuntut ilmu” (Mirqatul Mafatih, 1/296).

3. Merupakan jihad fi sabilillah

Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له

“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).

4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ

“Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).

Tasybik adalah menjalin jari-jemari.

5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ

“Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:

والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ

“Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun”

Dan tentu saja orang yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum yang ini jumlahnya banyak sekali.

Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat kepada untuk terus menuntut ilmu syar’i, terutama di zaman penuh syubuhat dan fitnah ini.

Semoga Allah memberi taufik.

***

Faidah dari kajian Fiqhu Al Mashalih wal Mafasid, oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili

Penyusun: Yulian Purnama

HUKUM SHOLAT DI MASJID YG ADA KUBURANNYA

HUKUM SHALAT DI MASJID YG ADA KUBURANNYA

Pertanyaan : Ustadz, saya dr Pasuruan, mohon ijin bertanya, tempat kerja saya dekat dengan Masjid Agung sementara di tempat kerja disediakan ruangan untuk shalat berjamaah, mana yg lebih utama saya shalat berjamaah di masjid atau berjamaah bersama karyawan lain di kantor, Jazakallahu khair

Jawaban : Barokallahu fik.... semoga antum senantiasa di rahmati oleh Allah, dimudahkan dalam segala urusan, istiqamah diatas sunnah

Disimpulkan dari pertanyaan, kenapa di permasalahkan shalat di masjid agung atau lebih memilih shalat di mushala kantor ? karena di masjid agungnya ada kuburannya. Yaitu kuburan tokoh kiayi yg dimuliakan. Jadi persoalannya sekarang bagaimana hukum shalat di masjid yg ada kuburannya

Perhatikanlah poin2 berikut :
.
. (1). Seorang Muslim dilarang menjdikan kubur sebagai tempat ibadah, baik itu shalat, baca al-Qur'an, berqurban, bernadzar dan yg lainnya

Berkata syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah didalam kitab Tauhid, "Bab tentang ancaman yg berat bagi orang yg beribadah kpada Allah dikuburan orang shalih, maka bagaimana kalau ia mengibadahi orang shalih tersebut

Hikmah dari larangan beribadah kpada Allah dikuburan orang shalih adalah, menutup celah jalan2 menuju kesyirikan, walaupun tujuan dia bukan beribadah kpada orang shalih tersebut

Dalil2nya adalah sebagai berikut

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Semoga Allah membinasakan Yahudi yg telah menjadikan kubur Nabi2 mereka sebagai tempat sujud (tempat ibadah). (HR Bukhari : 437, Muslim : 530, Ahmad 2/453)
.
.

Dari Ibnu Mas'ud, aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seburuk2 makhluk adalah orang yg menjumpai datangnya hari kiamat dalam keadaan hidup, dan orang yg menjadikan kuburan sebagai temapat ibadah". (HR Ibnu Hibban : 2325)
.
.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah shallahu alaihi wasallam melaknat wanita yg sering ziarah kubur, orang yg menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, dan orang yg menerangi kubur (untuk memuliakan kubur)." (HR Ahmad 1/324, Abu Dawud : 3236, Tirmidzi : 320)
.
.

Dari Aisyah , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Allah melaknat kepada orang yg menjadikan kubur nabi2 mereka sebagai tempat ibadah". (HR Ibnu Hibban : 2327)
Dari Ibnu Umar, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Jadikan sebagian sholat kalian itu di rumah kalian (shalat sunnah), jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan." (HR Bukhari : 432, Muslim : 777)
Dari Abu Murtsad al-Ghonawi, Bahwasanya Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda, " Janganlah kalian shalat menghadap kubur dan jangan pula kalian duduk diatasnya." (HR Muslim : 972)
Dari Abdullah bin Amer bin Al-Ash, berkata :"Rasulullah melarang shalat di pekuburan". (HR Ibnu Hibban : 2319)
Dari Anas bin Malik, Bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam melarang shalat diantara kubur". (HR Ibnu Hibban : 1698, 2315, 2318, 2322, 2323)
Dari Abu Sa'id, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda, "Bumi itu seluruhnya tempat sujud, kecuali kuburan dan kamar mandi". (HR Ahmad 3/96, 83, Abu Dawud : 492, Tirmidzi : 317, Ibnu Majah : 745)
Dari Jundub bin Abdullah, berkata, " aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda 5 hari sebelum wafatnya, ".....ketahuilah sesungguhnya orang2 sebelum kalian (Orang2 Yahudi dan Nashrani) telah menjadikan kubur Nabi2 dan orang2 shalih mereka senagai tempat ibadah, maka ketahuilah bahwa janganlah kalian menjadikan kubur2 sebagai tempat ibadah, sesungguhnya aku melarang akan hal demikian."(HR Muslim 532)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu alaihi wsallam bersabda, "Ya Allah janganlah Engkau menjadikan kuburku sebagai berhala yg disembah, Semoga Allah melaknat otang yg menjadikan kubur nabi2 mereka sebagai masjid (Tempat ibadah). (HR Ahmad 2/246)
Dari dalil-dalil diatas menunjukan beberapa hukum :
1. Haramnya menjadikan kubur sebagai masjid (sebagai tempat ibadah). Baik berupa shalat atau membaca al-Qur'an. Adapun Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan shalat sunnah dan membaca Al-Quran di rumah, bukan di kuburan

2. Bentuk menjadikan kubur sebagai tempat ibadah adalah : Membangun tempat shalat (masjid) di kuburan tersebut. Atau shalat menghadap kubur walaupun tidak ada bangunannya. Atau mengubur mayyit di dalam atau lingkungan masjid sehingga manusia shalat di masjid yg ada kuburannya
3. Hikmah dilarangnya shalat menghadap kubur adalah bukan karena tanah kuburan itu najis, akan tetapi ia sebagai sarana menuju kesyirikan, walaupun tdak bertujuan sujud, atau berdoa meminta kpada ahli kubur
4. Tidak boleh berdalil dengan kubur Nabi shalallahu alaihi wasallam didalam masjid nabawi, karena Rasulullah tdak dikubur didalam masjid
Para Sahabat menguburkan Rasulullah di kamarnya Aisyah radhiyallhu anha, dimana beliau meninggal disana, dan itu diluar masjid Nabawi. Sedangkan para nabi itu tidaklah dikuburkan kecuali ditempat dimana ia meninggal. (HR Ahmad : 27)
Pada masa gubernur madinah al-Walid bin abdul malik tahun 94 H, diadakan perluasan masjid, dan kuburan nabi menjadi masuk kedalam masjid, yg pada masa itu banyak ditentang oleh para ulama dari kalangan Tabi'in, sedangkan para sahabat sudah tidak ada yg hidup, diantara yg menentang adalah Said bin al-Musayyib. Tetapi dengan berbagi pertimbangan peringatan para ulama itu ditolak, sampai akhirnya terjadilah musibah itu sampai sekarang. Semoga Allah mengampuni dan merahmati al-Walid bin abdul malik, yg ini adalah kesalahannya
5. Tidak boleh mengubur mayyit di rumah tapi harus dipemakaman kaum muslimin, berbeda dengan para nabi & rasul mereka dikuburkan dimana ia meninggal. Berdasarkan dzahirnya sabda nabi shalallahu alaihi wasallam " Janganlah kalian menjadikan rumah kalian menjadi kuburan"
syaikh Bin Baaz Rahimahullah, beliau berkata, "apabila di masjid ada kuburannya, baik diarah kiblat, atau disampingnya, kiri ataupun kanan atau dibelakang (selama dilingkungan masjid), maka shalatnya tidak sah
Demikian juga Lajnah Daaimah komisi fatwa ulama saudi arabia, memfatwakan tidak sah shalat di masjid yg ada kuburannya

Ketika kita mengetahui bahwa Masjid itu ada kuburnya maka tidak boleh seorang muslim shalat disana, karena dikhawatirkan shalatnya tidak sah, atau kalaupun ada yg berpendapat sah shalatnya, akan tetapi berdosa dan pastinya akan mengurangi pahala, bahkan bisa menghilangkan pahala
Dalam kasus diatas maka carilah masjid lain, yg tidak ada kuburannya, atau kalau sulit dan jauh maka shalatlah di mushala kantor secara berjamaah bersama rekan kantor yg lain. Wallahu a'lam
(Disarikan dari pembahasan al-Wajiz fi syarhi kitabit tauhid, syaikh Abdullah bin muhammad al juhani dan mujanabatu ahlits tsubur, syaikh Abdul aziz al-Rajhi)

Senin, 21 Januari 2019

KISAH INSPIRATIF

KISAH NYATA :

Ada seorang tukang becak, yang sudah cukup sepuh (tua), beliau tinggal di daerah Dinoyo (Malang, Jatim).

Setiap hari Jum'at, ia menggratiskan tarif becaknya, dengan niat shodaqoh..

Suatu kali, pada hari Jum'at, ada seorang pria bapak-bapak yang jadi penumpangnya.

Pria itu naik becak jarak dekat saja, tanpa tawar-menawar, pria itu membayar tarif becak yang di tumpanginya dengan uang 20ribu, tetapi langsung ditolak sama bapak tukang becak, beliau bilang :

"Kulo ikhlas Pak, pun usah dibayar, kula sagete shodaqoh nggeh ngeten niki.."

"(Saya ikhlas Pak, sudah jangan dibayar, saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini..)."

Si penumpang pun kaget, tapi karena terburu-buru, Pria itu langsung pergi begitu saja, setelah mengucapkan terima-kasih.

Pekan berikutnya, pada hari jumat pula, Pria itu bertemu lagi dengan tukang becak yang sama pada Jum'at lalu.

Setelah diantar ke tempat tujuan, Pria itu menyodorkan uang 200ribu, atau 10x lipat dari shodaqoh tukang becak kepada pria ini Jum'at lalu, untuk tarif becaknya.

Tukang becak yang sudah sepuh ini pun menjawab dengan tenang :

"Insyaallah.. Kulo ikhlas pak..
Kulo sagete shodaqoh nggih namung ngeten niki,, ngateraken tiyang."

"(Insyaallah.. Saya ikhlas Pak..
Saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini,, mengantarkan orang..)."

Karena merasa aneh, Pria yang menumpang itu menimpali :

"Lha kalau begini terus, Istri, dan Anak bapak makan apa.!? Kenapa nggak mau dibayar..?!"

Tukang becak itu pun menjawab :

"Alhamdulillah, Rayat kulo nggih sami ikhlas menawi saben Jum'at kula shodaqoh ngeten niki..".

"(Alhamdulillah, Istri saya pun sama-sama ikhlas jika tiap hari Jum'at saya bershodaqoh dengan cara ini..)"

"Oh,, jadi Bapak nggak mau di bayar pada hari Jum'at saja..!?" Tanya si penumpang memastikan.

"Nggeh, Pak"

"Rumah bapak dimana?" Tanya penumpang penasaran..

"Wonten Dinoyo Pak, wingkingipun bank..".

"(Tinggal di Dinoyo Pak, sebelah belakang bank..)"

Hari pun berlalu, dan di hari Jum'at berikutnya, Pria penumpang becak yang penasaran ini mencari rumah Tukang becak itu.

Setelah menyusuri gang sempit sebelah gedung bank di daerah dinoyo, akhirnya Pria itu ketemu juga dengan rumah sederhana milik Tukang becak yang di carinya.

Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang wanita yang sudah tua, masih menggunakan mukena.

Hatinya tergetar...
batinnya menangis..
betapa selama ini, ia yang sangat di cukupi kebutuhannya oleh Allah s.w.t, malah jarang bersimpuh kepada-Nya.

Jangankan sedekah, dan sholat dhuha, sholat wajib saja masih sering ia tinggalkan..

Ia pun mencium tangan wanita tua itu, lalu meminta idzin untuk meminjam KTP bapak, dan ibu sekalian.

"Bapak tasik siap-siap badhe sholat Jum'at, niki KTP-ne damel nopo nggeh..!!?"

"(Bapak masih melakukan persiapan untuk sholat Jum'at, ini KTP nya, kalau boleh tau buat apa ya..!?)

"Bu, bapak, dan juga ibu telah membuka mata hati saya, ini jalan hidayah yang telah Allah s.w.t anugerahkan kepada saya.

Insyaallah, Bapak, dan Ibu saya daftarkan untuk naik haji ONH Plus bersama saya, dan istri, mohon di terima ya, Bu.."

==============

Masya Allah..
sungguh maha pemurah Allah s.w.t yang membalas kebaikan-kebaikan kecil, dengan kebaikan-kebaikan yang lebih besar.

==============

Jika menurut Anda kisah nyata ini bermanfaat, maka jangan biarkan sedikit pengetahuan yang insyaallah mengandung hikmah ini hanya dibaca disini saja, bagikan kisah ini di facebook Anda dengan Klik SHARE/BAGIKAN.

Yg bilang aamiin n bagikan semoga besok rezekinya melimpah seperti air mengalir Aamiin...

SEMOGA BERMANFAAT.
.
🍃 Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Rabu, 16 Januari 2019

KEAGUNGAN DAN KEBESARAN ALLAH

[16/1 19:45] ADMIN GUDANG ILMU: 3⃣9⃣   *💖Asma' Wa Sifat💖*

*🔹🔹 KEAGUNGAN DAN KEBESARAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA*

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

جَـاءَ حَبْـرٌ مِنَ الْأَحْـبَارِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: يَا مُـحَمَّد ، أَوْ يَا أَبَا الْقَاسِم ، إِنَّ الله تَعَالَى يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالأَرَضِيْنَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالْـجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَع ، وَالْـمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَع ، وَسَائِرَ الْـخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُوْلُ : أَنَا الْـمَلِكُ ، أَنَا الْـمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (حَتَّى يَدَتْ نَوَاجِذُهُ) تَعَجُّبًا مِمَّـا قَالَ الْـحَبْرُ ، تَصْدِيْقًا لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ : وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

*=  Seorang ulama Yahudi datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, ‘Wahai Muhammad atau wahai Abul Qâsim, kami mendapati (dalam Taurat) bahwa Allâh meletakkan langit-langit di atas satu jari, bumi-bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berfirman, ‘Aku-lah Raja. Aku-lah Raja.’*
*=  Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa (sehingga gigi gerahamnya terlihat) karena senang mengakui kebenaran ucapan ulama Yahudi tersebut.*
*=  Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”*
[az-Zumar/39:67]

*🔹 TAKHRIJ HADITS*

*Hadits ini shahih.*
Diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (no. 4811, 7414, 7415, 7451, 7513),
2. Muslim dalam Shahîh-nya (no. 2786),
3. Ahmad (1/429, 457),
4. An-Nasâ-i dalam Kitab at-Tafsîr (no. 470, 471, 472) dan as-Sunan al-Kubra (no. 11386-11388),
5. At-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3238, 3239),
6. Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhîd (1/180-181 no. 123, 124, 128),
7. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 541-544),
8. Al-Âjurri dalam asy-Syari’ah (no. 736, 737, 738),
9. Al-Lâlikâ-i dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 706),
10. Abdullah bin Imam Ahmad dalam Kitâbus Sunnah (no. 490),
11. Al-Baihaqi dalam al-Asmâ’ was Shifât (II/68-69),
12. Ibnu Mandah dalam ar-Radddu ‘alal Jahmiyyah (no. 64).
13. At-Thabari dalam tafsirnya (no. 30217-30219).

Hadits ini diriwayatkan juga dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu .

*🔹 MAKNA MUFRADAT*

حَبْرٌ
(habrun) artinya seorang dari pendeta yahudi.
Dia lihai dalam mengolah, membaguskan dan memperindah pembicaraan. Dinamakan habr (orang alim) karena ilmunya berpengaruh ke dalam hati manusia.

اَلثَّرَى :
(ats-tsara) artinya tanah yang basah, dan maksudnya di sini adalah bumi.

سَائِرُ الْـخَلْق :
(sâ-irul khalq) artinya yang tersisa dari mereka (dari makhluk yang lain).

الشَّجَرُ :
(asy-syajaru) artinya tumbuhan yang mempunyai batang yang kuat, seperti pohon kurma dan yang lain. Maksudnya semua jenis pohon.

نَوَاجِذُهُ :
(nawâjidzuhu), jamak dari نَاجِذٌ (nâjidzun), yaitu gigi geraham yang paling ujung, ada yang mengatakan : gigi taring. Ada juga yang mengatakan, apa yang ada di antara gigi seri dan gigi geraham. Ada pula yang mengatakan, gigi yang terlihat pada saat tertawa.

يَهُزُّهُنَّ :
(yahuzzuhunna), yaitu menggerakkannya.

اَلْجّبَّارُوْنَ :
(al-jabbârûn), jamak dari jabbâr, yaitu yang sombong dan berkuasa.

اَلْـمُتَكَبِّرُوْن :
(al-mutakabbirûn), jama’ dari Mutakabbir, yaitu orang yang merasa dirinya besar (angkuh) dan menolak kebenaran.

*🔹 SYARAH HADITS*

Seorang ‘alim dari ulama Yahudi menyebutkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang mereka dapatkan dalam kitab mereka, Taurat, yaitu penjelasan tentang keagungan Allâh, kecilnya semua makhluk di hadapan-Nya Azza wa Jalla, dan bahwa Allâh meletakkannya di atas jari jemari-Nya.
*Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya, senang dengannya, dan membacakan ayat al-Qur’ân yang membenarkannya.*

*✔ Hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya menunjukkan keagungan Allâh Azza wa Jalla , keagungan kekuasaan-Nya.*
*✔ Allâh Azza wa Jalla telah memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya dengan sifat-sifat-Nya dan keajaiban makhluk-makhluk-Nya.*
*‼‼ Semuanya menunjukkan dan mengenalkan kesempurnaan-Nya, bahwa Dia satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya.*
Firman Allâh Azza wa Jalla :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

*=  Demikianlah, karena sesungguhnya Allâh, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allâh itulah yang batil; dan sesungguhnya Allâh Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.*
[Luqmân/31:30]

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

*=  Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’ân itu benar.*
*=  Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.”*
[Fush-shilat/41:53]

Hadits-hadits di atas menetapkan sifat-sifat bagi Allâh sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya dengan tanpa tamtsîl dan juga menetapkan kesucian Allâh Azza wa Jalla dari sifat-sifat yang tidak layak tanpa ta’thîl.
*Inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’ân dan as-Sunnah, yang diyakini oleh salaful ummah dan para Imam mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta meneladani jejak mereka di atas Islam dan iman.*

Perhatikanlah apa yang terkandung dalam hadits-hadits shahih ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan Rabb-nya dengan menyebutkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan berita orang-orang Yahudi tentang sifat-sifat Allâh yang menunjukkan kebesaran-Nya.

Perhatikanlah hadits-hadits ini, *beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan sifat ‘uluww (sifat ketinggian) bagi Allâh Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya.*
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat-sifat Allâh dengan jelas dan tegas.

Menetapkan sifat tangan bagi Allâh Azza wa Jalla , menetapkan sifat jari-jemari Allâh Azza wa Jalla .
*Sesungguhnya Allâh Mahabesar, semua makhluk-Nya berada di jari-jemari Allâh Azza wa Jalla , langit dan bumi digenggam di tangan kanan Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Besar. Langit digulung oleh Allâh Azza wa Jalla seperti menggulung lembaran kertas.*
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

*=  (Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas.*
*=  Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.*
*=  Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”*
[al-Anbiyâ’/21:104]

*‼‼Kita wajib menetapkan semua sifat-sifat Allâh sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla tetapkan dalam al-Qur’ân dan ditetapkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .*
Tidak boleh seorang pun mengingkarinya, mentakwil atau mentahrif (memalingkan dari makna yang sebenarnya kepada makna yang lain) dan tidak boleh tamtsil atau tasybih (menyamakan Allâh dengan makhluk-Nya).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

*=  … Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat.”*
[asy-Syûrâ/42:11]

Para Shahabat Radhiyallahu anhum menerima sifat-sifat Rabb yang dijelaskan dan ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan; *Mereka mengimaninya; Mereka beriman kepada kitab Allâh dan sifat-sifat Allâh yang Maha Mulia lagi Maha tinggi yang terkandung di dalamnya*
Sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

*=  … Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Rabb kami …. ”*
[Ali ‘Imrân/3:7]

Demikian pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, para Imam, baik dari kalangan ahli hadits maupun ahli fiqih, seluruhnya menyifati Allâh Azza wa Jalla dengan sifat-sifat yang Allâh sematkan dan tetapkan untuk diri-Nya serta sifat-sifat yang dipergunakan oleh Rasul-Nya untuk Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak memungkiri sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla sedikitpun.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata, “Maksud dari ayat-ayat tentang sifat ini bukanlah zhahirnya atau bukan yang tersurat.”

Tidak ada juga yang mengatakan bahwa menetapkan ataupun mengakui sifat-sifat itu sebagai sifat bagi Allâh Azza wa Jalla berarti menyamakan Allâh dengan makhluk. Bahkan sebaliknya, mereka sangat mengingkari siapa saja yang mengatakan demikian dengan pengingkaran yang keras.
*Demi membantah syubhat-syubhat ini mereka menulis kitab-kitab besar yang terkenal yang ada di tangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.*

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
*=  “Ini adalah kitab Allâh Azza wa Jalla , dari awal hingga akhir, Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , perkataan para Shahabat Radhiyallahu anhum dan tabi’in, perkataan Ulama-ulama lainnya menetapkan, baik dalam bentuk nash maupun dalam bentuk zhahir bahwa Allâh di atas segala sesuatu, di atas langit-Nya, Allâh di atas ‘Arsy-Nya, bersemayam di atasnya,*
Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

*=  …KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya…*
[Fâthir/35:10]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴿١٦﴾أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

*=  Apakah kamu merasa aman dari Allâh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?*
*=  Atau apakah kamu merasa aman dari Allâh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu.*
*=  Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.”*
[al-Mulk/67:16-17][1]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

*=  Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu*
[as-Sajdah/32:5]

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

*=  Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka…”*
[an-Nahl/16:50]

تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى﴿٤﴾الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

*=  Yaitu diturunkan dari Allâh yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.”*
[Thâhâ/20:4-5]

Para Imam rahimahullah telah menyebutkan perkataan-perkataan pada Shahabat dan tabi’in dalam kitab-kitab yang mereka susun untuk membantah orang-orang yang mengingkari sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla seperti kalangan Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah dan semisal mereka.

Diriwayatkan Sufyan bin Uyainah rahimahullah bahwa dia berkata,
*=  ‘Ketika Rabi’ah bin Abdurrahman ditanya, ‘Bagaimana Allâh bersemayam ?’*
*=  Dia menjawab, ‘Bersemayam telah diketahui, bagaimananya tidak diketahui, dari Allâh risâlah, tugas Rasul menyampaikan, dan kewajiban kita adalah mengimani.’”[2]*

Ibnu Wahab rahimahullah berkata, ‘Kami pernah duduk bersama Imam Mâlik rahimahullah , kemudian seorang laki-laki masuk dan berkata, “Wahai Abu Abdullah, “(yaitu) Rabb Yang Mahapemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
Bagaimana Dia bersemayam ?’ Imam Malik rahimahullah tertunduk dan berkeringat, lalu dia menjawab,
*=  “Rabb Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy. adalah sebagaimana yang Allâh sifatkan untuk Diri-Nya, dan tidak pantas bertanya bagaimana ? Karena tentang bagaimananya tidak dapat diketahui.*
*=  Kamu adalah pelaku bid’ah. Keluarkan dia !”*
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Asmâ was Shifât dengan sanad shahih dari Ibnu Wahab. Dia juga meriwayatkannya dari Yahya bin Yahya, dan lafazhnya, Mâlik rahimahullah menjawab,
*=  “Bersemayam telah diketahui, bagaimananya tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”[3]*

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,
*=  “Lihatlah mereka, bagaimana mereka menetapkan sifat bersemayam bagi Allâh Azza wa Jalla .*
*=  Mereka mengabarkan bahwa makna bersemayam itu telah diketahui, lafazhnya tidak memerlukan penafsiran, dan mereka menafikan pengetahuan tentang bagaimana sifat (cara) bersemayam tersebut.[4]*

Dari Ali bin al-Husain bin Syaqiq, dia berkata, aku mendengar Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata :

نَعْرِفُ رَبَّـنَا بِأَنَّـهُ فَوْقَ سَبْعِ سَمَـاوَاتِهِ عَلَى الْـعَرْشِ اسْتَوَى ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ وَلاَ نَقُوْلُ كَمَـا قَالَتِ الْـجَهْمِيَّةُ

*=  Kami mengenal Rabb kami bahwa Dia di atas langit-Nya yang tujuh, bersemayam di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya, dan kami tidak berkata seperti perkataan Jahmiyyah.”[5]*

Al-Auzâ’i rahimahullah berkata, “Kami berkata –dengan para tabi’in yang berjumlah besar (banyak)-,
*=  ‘Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala terpisah dari makhluk-Nya, dan kami beriman kepada apa yang tercantum di dalam as-Sunnah.”[6]*

Kemudian dia menyebutkan dengan sanadnya, dari Mâlik, dia berkata,
*=  “Allâh di langit dan ilmu-Nya di segala tempat.”*

Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah berkata,
*=  “Orang yang pertama kali terdengar darinya ucapan pengingkaran terhadap keberadaan Allâh di atas ‘Arsy adalah al-Ja’ad bin Dirham.*
*=  Dia juga mengingkari seluruh sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla, kemudian ia dibunuh oleh Khalid bin ‘Abdullah al-Qasri, sebagaimana kisahnya terkenal.*

Lalu tokoh Jahmiyyah yaitu Jahm bin Shafwan mengambil perkataan (keyakinan) ini darinya. Kemudian ia memunculkannya dan berhujjah dengan syubhat-syubhat.
Hal itu terjadi di akhir masa tabi’in, maka ucapannya diingkari oleh para Imam di masa itu, seperti al-Auzâ’i rahimahullah, Abu Hanîfah rahimahullah, Mâlik rahimahullah , al-Laits bin Sa’ad rahimahullah, ats-Tsauri rahimahullah, Hammad bin Zaid rahimahullah, Hammad bin Salamah, Ibnul Mubârak dan imam-imam pembawa panji hidayah sesudah mereka.

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata,
*=  “Allâh Azza wa Jalla mempunyai nama-nama dan sifat-sifat.*
*=  Tidak patut bagi seseorang pun untuk menolaknya.*
*=  Barangsiapa menyelisihinya setelah hujjah tegak atasnya, maka dia kafir.*
*=  Adapun sebelum tegaknya hujjah, maka dia masih bisa dimaklumi karena kejahilan.*
*=  Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan tasybîh dari-Nya sebagaimana Allâh menafikan tasybîh dari Diri-Nya.*
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

*=  “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat.”*
[asy-Syûrâ/42:11][7]

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

*=  Dan Allâh memiliki Asma-ul Husna (nama-nama terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya.*
*=  Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”*
[al-A’râf/7:180]

Allâh Azza wa Jalla menetapkan nama-nama dan sifat. Allâh Azza wa Jalla menetapkan bagi diri-Nya sifat mendengar, melihat, hidup, berkuasa, memiliki dua tangan, wajah, ilmu, dan sifat-sifat lainnya.
*‼‼Allâh menetapkan bagi diri-Nya semua sifat-sifat yang sempurna.*
*‼‼ Maka barangsiapa mengingkari atau menakwilkan berarti dia telah berbuat ilhâd (mengingkari nama-nama dan sifat-sifat-Nya).*

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,
*=  “Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”* merupakan ancaman keras dari Allâh Azza wa Jalla terhadap orang-orang yang menyalahi nama-nama Allâh dan sifat-Nya.

Dalam hadits di awal pembahasan ini, Nabi membacakan ayat :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

*=  “Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya…”*
[az-Zumar/39:67]

Ayat ini mencakup :

1. Orang-orang yang mengingkari adanya Allâh Azza wa Jalla , yaitu kaum Dahriyyun.

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

*=  Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah keidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.*
*=  ’ Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.”*
[al-Jâtsiyah/45:24]

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُون﴿٣٥﴾ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

*=  Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).”*
[at-Thûr/52:35-36]

Mereka pada hakikatnya tidak mengagungkan Allâh dengan sebenar-benar pengagungan.

2. Orang-Orang Musyrikin yang mengakui adanya Khaliq (Pencipta), Mudabbir (Pengatur alam semesta), muhyi (Yang Menghidupkan), Mumît (Yang Mematikan), yaitu Allâh Azza wa Jalla . Tapi mereka menyembah selain Allâh atau mereka beribadah kepada Allâh tapi juga bersamaan dengan itu ia menyembah tuhan yang lain, seperti menyembah berhala, batu, pohon, kubur, benda-benda mati dan lainnya.
*Mereka pada hakikatnya tidak menghargai Allâh Azza wa Jalla dengan sebenarnya.*
Padahal yang mereka sembah tidak bisa menciptakan, tidak bisa memberi rizki, tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa menolak bahaya bahkan tidak bisa menghidupkan dan mematikan.
*Seperti orang-orang yang datang ke kubur untuk meminta sesuatu kepada mereka, meminta hajat kepada mereka bahkan ada yang thawaf di kuburan.*
Mereka pada hakikatnya tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dan tidak memuliakannya. Mereka telah berbuat syirik yang besar.

3. Demikian juga orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat Allâh, yang Allâh dan Rasul-Nya telah tetapkan. Begitu juga orang yang mentakwil sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla atau memaknainya dengan makna yang lain atau dengan makna zhahir dan batin atau orang yang menyamakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya pada hakikatnya.
Mereka ini tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla , seperti orang-orang yang mengingkari tentang keberadaan Allâh Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya. Mereka mentakwilkannya dengan arti kekuasaan atau lainnya. Pada hakikatnya mereka ini tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla. Begitu juga orang-orang yang mengartikan ‘Tangan’ Allâh dengan kekuasaan atau nikmat; Begitu juga orang yang mengatakan bahwa ayat atau hadits ini tidak jelas tentang sifat Allâh; Atau mengatakan bahwa itu adalah kiasan atau mengatakan bahwa itu bukan hakikatnya. Mereka ini pada hakikatnya tidak menghargai dan tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla .
*Mereka tidak beradab kepada Allâh Azza wa Jalla .*

4. Orang yang tidak beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik dan buruk dan tidak beriman dengan kekuasaan Allâh, bahwa Allâh Mahaberkuasa atas segala sesuatu. Orang yang tidak mengimani ini, maka ia tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan sebesar-besar pengagungan. Dan masih banyak contoh yang lainnya.[8]

*🔹 FAWA-ID HADITS*

*1. Penjelasan tentang keagungan Allâh Azza wa Jalla dan ke-Mahabesaran Allâh Azza wa Jalla.*
Allâh Mahabesar, Allâh Mahaberkuasa, Allâh Mahaagung. Semua nama-nama Allâh adalah nama-nama yang paling indah dan semua sifat-sifatnya adalah sifat yang tinggi dan sempurna.

*2. Seluruh makhluk, langit, bumi, dan seluruh isinya adalah sangat kecil dibandingkan Allâh Yang Mahatinggi dan Mahabesar.*

*3. Menetapkan kedua tangan, jari-jari yang hakiki bagi Allâh Azza wa Jalla yang sesuai dengan keagungan dann kemuliaan-Nya*

*4. Ilmu yang mulia ini terdapat dalam Taurat dan mereka tidak mengingkarinya dan tidak mentahrifnya*

*5. Menerima kebenaran yang datang sesuai dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah meski disampaikan oleh orang Yahudi*

*6. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergembira dan tertawa karena membenarkan apa yang terdapat dalam Taurat itu sesuai dengan yang ada dalam al-Qur’ânul Karîm.*

*7. Pada hari Kiamat langit dan bumi akan dilipat dengan tangan kanan Allâh Yang Mahamulia.*

*8. Orang-orang Yahudi, Nasrani, kaum Musyrikin mereka tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar.*

*9. Orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , orang-orang yang mentakwil/mentahrif sifat-sifat Allâh, pada hakikatnya mereka tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar.*

*10. Allâh Azza wa Jalla pencipta seluruh makhluk dan hanya Allâh Azza wa Jalla yang berkuasa sementara seluruh kekuasaan makhluk itu akan binasa.*

*11. Wajib menetapkan Allâh Azza wa Jalla itu Maha Tinggi dan Allâh bersemayam di atas ‘Arsy sebagai bantahan kepada Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyyah.*

*12. Menetapkan ilmu-Nya Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu bahwa tidak ada satu pun yang terluput bagi Allâh Azza wa Jalla di langit dan di bumi.*

*13. Wajib mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan juga dalam nama dan sifat-sifat-Nya.*

*14. Allâh yang Mahabesar yang menciptakan seluruh makhluk maka Allâh Azza wa Jalla satu-satunya yang wajib diibadahi.*
Hanya Allâh Azza wa Jalla saja yang dapat menghidupkan, mematikan, memberikan manfaat, menolak bahaya, memberikan rrizki, dan mengumpulkan seluruh makhluk di hadapan-Nya pada hari Kiamat.

*15. Keagungan Allâh Azza wa Jalla dan kebesaran-Nya semestinya menimbulkan kecintaan, ketundukan, rasa hina, rasa takut, dan berharap hanya kepada Allâh Azza wa Jalla.*
Allâh Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Dzat yang wajib diibadahi dengan ikhlas dan benar.

MARAAJI’ :
1. al-Qur’ân dan terjemahnya
2. Tafsir ath-Thabari
3. Tafsir Ibnu Katsîr
4. Kutubus Sittah
5. Musnad Imam Ahmad, dan kitab-kitab hadits lainnya
6. ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
7. Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlus Sunnah wal Jama’ah
8. Kitâbut Tauhid, karya Muhammad bin Ishaq bin khuzaimah. Tahqiq: Samir Az-Zuhairi
9. Kitâbul Asmâ’ was Shifât, karya Imam al-Baihaqi
10. Majmû’ Fatâwâ, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
11. Ijtimâ’ul Juyûsy al-Islâmiyyah ‘ala Ghazwil Mu’ath-thilah wal Jahmiyyah, karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
12. Fathul Bâri, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani
13. Mukhtashar al-‘Uluww lil ‘Aliyyil ‘Azhîm, karya Imam adz-Dzahabi
14. Fathul Majîd Syarah Kitâbut Tauhîd, karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh
15. I’ânatul Mustafîd Syarah Kitâbut Tauhîd, karya Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan al-Fauzan
16. Dan kitab-kitab lainnya

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVI/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Diringkas dari Majmû’ Fatâwâ (V/12-13).
[2]. Al-Laalika-i dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 665).
[3]. Ad-Darimi dalam ar-Radd ‘alal Jahmmiyyah (no. 104), al-Baihaqi dalam al-Asmâ’ was Shifât (II/150-151), Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 664), Mukhtashar al-‘Uluww (no. 132), dan Fathul Bâri (XIII/406-407).
[4]. Mukhtashar al-’Uluww (hlm. 141-142).
[5]. Shahih: HR. Ad-Darimi dalam ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah (no. 6) dan ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah (no. 22, 598).
[6]. Shahih: HR. al-Baihaqi dalam Asmâ’ was Shifât ( II/150). Sanadnya jayyid (Fathul Bâri, XIII/406).
[7]. Lihat Fathul Bâri (XIII/407).
[8]. Disadur dan diringkas dari I’ânatul Mustafîd Syarah Kitâbut Tauhîd (II/316-318), karya Syaikh DR. Shaleh Fauzan bin Abdullah al-Fauzan حَفِظَه الله.

Read more https://almanhaj.or.id/3887-keagungan-dan-kebesaran-allah-subhanahu-wa-taala.html

Repost : ➖➖➖➖➖➖➖
Group WA📚GUDANG ILMU📚
Admin : 081230068283
[16/1 19:46] ADMIN GUDANG ILMU: 4⃣0⃣   *💖Asma' Wa Sifat💖*

*🔹🔹 JAGALAH ALLAH AZZA WA JALLA NISCAYA ALLAH AZZA WA JALLA MENJAGAMU*

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِِ عَبَّاسٍٍٍِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا ، فَقَالَ «يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيِحٌ. وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ : «اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّ ةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَاأَخْطَأَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ، وَمَا أَصَابَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا».

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma , ia mengatakan,
=  “Pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,
*=  ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.*
*=  Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.*
*=  Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu.*
*=  Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.*
*=  Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’”*
[HR. at-Tirmidzi, dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahîh.”]

Dalam riwayat selain at-Tirmidzi disebutkan,
*=  “Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.*
*=  Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah.*
*=  Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu.*
*=  Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”*

*🔹 TAKHRIJ HADITS*

*Hadits ini shahih,* diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2516), Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 425), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 316, 317, 318), Abu Ya’la dalam Musnadnya (no. 2549), Ahmad (I/293, 303, 307), Al-Ajurri dalam asy-Syarî’ah (II/829-830, no. 412), al-Lâlika-i dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 1094, 1095), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 11243, 11416, 11560, 12988), ‘Abd bin Humaid dalam Musnadnya (no. 635), al-Hâkim (III/541, 542), Abu Nu’aim dalam al-Hilyatul Auliyâ’ (I/389, no. 1110), al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 192).

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Zhilalul Jannah fî Takhrîjis Sunnah (no. 315-318) dan Hidâyatur Ruwât (no. 5232), dishahihkan juga oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad (no. 2669, 2763, 2804).

*🔹 SYARAH HADITS*

*1. JAGALAH ALLAH AZZA WA JALLA, NISCAYA DIA AZZA WA JALLA AKAN MENJAGAMU*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jagalah Allah,”
*Maksudnya jagalah batas-batas Allah, hak-hak-Nya, serta menjaga perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya dengan mengerjakan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.*
*Demikian pula, dengan mempelajari agama-Nya sehingga dengannya engkau dapat beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan bermuamalah dengan manusia serta mendakwahkannya di jalan Allah.*
Hal-hal terbesar yang harus dijaga oleh seorang hamba

*1. Tauhid Yang Merupakan Hak Allah Azza Wa Jalla Yang Paling Besar*

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu :

يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْـعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْـعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ قُلْتُ: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: حَقُّ اللهِ عَلَى الْـعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْـعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.

*=  “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya, dan apa hak hamba atas Allah?”*
Mu’adz pun menjawab,
*=   “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”*
Beliau bersabda,
*=  “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah hanya kepada Allah saja dan mereka tidak boleh berbuat syirik (menyekutukan Allah) dengan suatu apa pun juga.*
*=  Sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.”[1]*

*Setiap muslim dan muslimah wajib memenuhi hak Allah, yaitu dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla , mentauhidkan Allah dalam seluruh ben-tuk ibadah dan ditujukan hanya kepada Allah saja dan tidak boleh berbuat syirik, tidak boleh menyekutukan Allah dengan suatu apa pun juga.*

*2. Shalat Wajib Lima Waktu.*

Allah Azza wa Jalla berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

*=  Jagalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha; berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’*
[al-Baqarah/2:238]

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

*=  Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.*
[al-Ma’ârij/70:34]

Menjaga shalat wajib lima waktu, yaitu melaksanakan dan memerintahkannya kepada keluarga dan saudara-saudara kita, dengan memperhatikan waktu, tata cara, khusyu’, dan berjama’ahnya.

*3. Menjaga Thaharah (bersuci)*
Seorang mukmin dan mukminah harus menjaga dirinya dari hadats kecil dan hadats besar dengan thaharah (bersuci), yaitu berwudhu dan mandi janabah serta mandi setelah bersih dari haid dan nifas.

*Bersuci termasuk sebagian dari iman.*
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

… اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ…

*=  Bersuci adalah sebagian dari iman [2]*

*Berwudhu adalah kunci shalat.*
Seseorang tidak akan diterima shalatnya apabila dia tidak berwudhu. Seorang hamba terkadang batal wudhunya, sedangkan dia tidak mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla .
*Karena itu, menjaga wudhu untuk shalat menunjukkan konsistensi iman pada hati seorang hamba.*

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْـرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ، وَلَا يُـحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ.

*=  “… Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang menjaga wudhu melainkan orang mukmin.”[3]*

*4. Menjaga Sumpah*
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ

*=  “… Dan jagalah sumpahmu…”*
[al-Mâ-idah/5:89]

*‼‼Apabila seseorang bersumpah kemudian ia tidak melaksanakan sumpah tersebut atau dilanggar, maka ia berdosa dan wajib membayar kaffârat (tebusan).*
Yaitu:
1. Memberi makan 10 orang miskin, atau
2. Memberikan pakaian kepada mereka, atau
3. Memerdekakan budak.

Barangsiapa yang tidak mampu melakukannya, maka ia berpuasa tiga hari.
*Dan jangan sekali-kali bersumpah dengan selain nama Allah Azza wa Jalla . Karena barangsiapa bersumpah dengan selain nama Allah Azza wa Jalla , ia telah berbuat syirik.*

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

*=  Barangsiapa bersumpah dengan selain Nama Allah, maka ia telah ber-buat syirik [4]*

*5. Menjaga Kepala Dan Perut.*
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ ؛ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

*=  Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.*
*=  Barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya badan.*
*=  Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia.*
*=  Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.[5]*

Yang ada pada kepala adalah: (1) mata, yaitu dengan menjaganya agar tidak melihat yang haram, (2) telinga, yaitu dengan menjaganya agar tidak mendengarkan hal-hal yang haram, seperti musik, lagu, ghibah, dan lainnya, dan (3) lisan, yaitu dengan menjaganya dari pembicaraan yang mengandung dosa berupa ghibah, caci maki, adu domba, memfitnah dan semisalnya. Sedang menjaga perut ialah dengan menjaganya agar barang-barang yang haram tidak masuk ke dalamnya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

*=  Setiap badan yang dagingnya tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih layak bagi dirinya. ”[6]*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
*=   “Niscaya Dia Akan Menjagamu”.*

*Maksudnya, barangsiapa menjaga perintah-perintah Allah Azza wa Jalla dan melaksanakan kewajibannya serta menahan diri dari apa yang dilarang darinya, niscaya Allah Azza wa Jalla akan menjaga agama, keluarga, harta, dan dirinya karena Allah Azza wa Jalla akan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan-Nya.*
*✔ Karena, amal itu tergantung dari jenis amal.*
Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

*=  Jika engkau menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu.*
[Muhammad/47:7]

*Penjagaan Allah Azza wa Jalla terhadap hamba-Nya terbagi dua:*
*~  Pertama : Allah Azza wa Jalla akan menjaga para hamba-Nya dalam urusan duniawinya.*
Seperti penjagaan Allah atas badan, harta, anak, dan keluarga dari para hamba-Nya.
Allah akan menjaga anak keturunan orang-orang shalih yang menjaga batas-batas-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

*=  Dan ayah kedua (anak ini) adalah orang shalih.*
[al-Kahfi/18:82]

*=  Di dalam (ayat ini) terdapat dalil bahwa seorang yang shalih akan senantiasa dijaga keturunannya oleh Allah Azza wa Jalla.*
*=  Begitu juga, barokah ibadahnya mencakup para anak keturunannya di dunia dan di akhirat.[7]*
Apabila seorang hamba menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla , maka Allah Azza wa Jalla akan menjaganya.[8]

*~  Kedua, dan ini yang paling penting, yaitu penjagaan Allah Azza wa Jalla atas agamanya dan menyelamatkannya dari kesesatan.*
*✔ Karena, jika seseorang diberi petunjuk, maka Allah Azza wa Jalla akan menambahkan petunjuk kepadanya.*
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

*= Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan kepada mereka.*
[Muhammad/47:17]

Dari keterangan ini diketahui bahwa *orang yang tidak menjaga Allah Azza wa Jalla , maka dia tidak berhak mendapat penjagaan-Nya.*
Dan di dalamnya juga terkandung motivasi untuk selalu menjaga batas-batas Allah Azza wa Jalla .

*2. KEBERSAMAAN DAN PERTOLONGAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”

*✔ Maksudnya, barangsiapa menjaga batas-batas Allah Azza wa Jalla dalam diri dan keluarganya serta tetap istiqamah dalam mengikuti al-Qur-ân dan Sunnah, maka Allah Azza wa Jalla akan bersamanya dalam setiap keadaan.*
Allah Azza wa Jalla akan selalu memperhatikannya, menjaganya, memberikan taufik kepadanya, meluruskannya, dan senantiasa melindungi, dan menolongnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ.

*=  Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan.*
[an-Nahl/16:128]

Qatadah rahimahullah berkata,
*= “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla , maka Allah Azza wa Jalla akan bersamanya.*
*=  Dan barangsiapa yang Allah Azza wa Jalla bersamanya, maka dia masuk dalam golongan yang tidak dapat dikalahkan, dia bersama penjaga yang tidak tidur, dan dia bersama pemberi petunjuk yang tidak menyesatkan.”[9]*

*3. KENALILAH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DI SAAT SENANG, NISCAYA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MENGENALMU DI SAAT SUSAH*

Ini adalah hikmah nabawiyah yang selayaknya dijaga dan disebarkan yaitu melakukan ajakan untuk mengenal Allah Azza wa Jalla di saat senang, sehat, kaya, aman, dan kuat.
*Mengenal Allah Azza wa Jalla dapat dilakukan dengan cara menjaga berbagai kewajiban, menjauhi berbagai larangan, dan menambah usaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak amalan sunnah.*
*✔ Maka, barangsiapa mengenal Allah Azza wa Jalla dalam keadaan seperti ini, Allah Azza wa Jalla akan mengenalnya pada saat keadaannya susah, sempit, fakir, sakit.*

Sungguh, kekasih kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengenal Rabb-nya di saat senang, maka Allah Azza wa Jalla mengenal beliau pada saat berada di gua, pada saat Perang Badar, dan Perang Ahzâb, lalu Allah Azza wa Jalla menolongnya, meneguhkannya, mengalahkan musuh-musuhnya.
Demikian pula, Nabi Yunus mengenal Rabb-nya pada saat senang, maka Allah Azza wa Jalla mengenalnya pada saat berada di dalam perut ikan lalu menyelamatkannya, meneguhkan hatinya, dan menolongnya.[10]
*‼‼Maka, barangsiapa yang bermuamalah dengan Allah Azza wa Jalla dengan takwa dan menaati-Nya di saat senang, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan kasih sayang kepadanya dan menolongnya di saat dia mengalami kesulitan.[11]*

*4. SABDA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM: “JIKA ENGKAU MEMINTA, MAKA MINTALAH KEPADA ALLAH.”*

*✔ Maksud dari meminta di hadits ini adalah doa, sedang doa adalah ibadah.*
Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

*=  Doa adalah ibadah.*

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

*=  “Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan doa kalian.’”*
[Ghâfir/40:60] [12]

*‼‼Wajib bagi setiap muslim agar meminta kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak boleh meminta kepada selain Allah Azza wa Jalla dalam perkara-perkara yang tidak mungkin terwujudkan kecuali oleh Allah Azza wa Jalla semata.*
*‼‼Barangsiapa jatuh ke dalamnya, berarti ia telah jatuh dalam kesyirikan.*
Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

*=  Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang berdo’a (menyembah) kepada selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat…*
[al-Ahqâf/46:5]

*‼‼Adapun tentang meminta-minta kepada manusia dalam urusan dunia yang mampu diwujudkan, maka terdapat dalil-dalil yang banyak yang melarang dan mengecamnya.*
Diantaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِـيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِـيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَـحْمٍ.

*=  “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain, hingga ia datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.”[13]*
Hadits ini dan yang sepertinya menunjukkan haramnya minta-minta kepada orang lain, dan tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.

*5. SABDA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM: “JIKA ENGKAU MEMINTA PERTOLONGAN, MINTALAH PERTOLONGAN KEPADA ALLAH.”*

*✔ Maksudnya, jika engkau meminta suatu kebutuhan maka janganlah meminta kecuali kepada Allah Azza wa Jalla , jangan sekali-kali meminta kepada makhluk.*
Seandainya engkau meminta kepada makhluk sesuatu yang ia mampu memberikannya, maka ketahuilah bahwa itu termasuk perantara saja, sedang yang berkuasa mewujudkan sebab itu adalah Allah Azza wa Jalla .
*Jika Allah Azza wa Jalla berkehendak, Dia akan menghalanginya memberikan apa yang engkau minta. Maka bersandarlah hanya kepada Allah Azza wa Jalla . [14]*

Seorang hamba meskipun telah diberikan kedudukan, kekuatan, dan kekuasaan, dia tetap saja tak mampu dan lemah untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya dari dirinya sendiri.
*Oleh karena itu, ia wajib meminta tolong kepada Allah Azza wa Jalla semata untuk kebaikan agama dan dunianya.*
*‼‼ Barangsiapa yang ditolong Allah Azza wa Jalla , dialah orang yang ditolong dan diberi taufik, dan barangsiapa yang dihinakan-Nya dan dibiarkan sendirian, maka dialah orang yang rugi dan bangkrut.*

Maka, wajib atas setiap muslim untuk memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla untuk menaati-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat kepada-Nya, mohon pertolongan untuk sabar terhadap seluruh takdir-Nya serta keteguhan hati pada hari bertemu dengan-Nya, yaitu pada hari dimana anak dan harta tidak bermanfaat lagi.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

*=  Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.*
[al-Fâtihah/1:5]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ ، وَلَا تَعْجَزْ…

*=  “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan jangan lemah.”[15]*

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada Muadz bin Jabal Radhyallahu anhu agar selalu berdzikir sesudah shalat wajib lima waktu, agar membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

*=  Ya Allah, tolonglahlah aku dalam berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu[16]*

Seorang hamba pasti memerlukan bantuan Allah Azza wa Jalla, baik untuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan dan sabar dalam ujian, seperti yang dialami oleh Nabi Ya’kub Alaihissallam yang telah beliau sampaikan kepada putranya lewat firman Allah Azza wa Jalla :

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

*=  Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.*
[Yûsuf/12:18]

*6. IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) :
*=  “Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh ummat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu.”*

*Maksudnya, jika seluruh manusia yang pertama sampai yang terakhir berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka sekali-kali tidak akan mampu melakukannya, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu.*
Oleh karena itu, apabila ada makhluk yang memberikan manfaat kepada seseorang, maka hal itu pada hakikatnya bersumber dari Allah Azza wa Jalla karena Allahlah yang telah menentukan manfaat itu untuknya.
*Hal ini menjadi pendorong bagi kita untuk bersandar kepada Allah dan meyakini bahwa seluruh manusia tidak akan mampu mendatangkan suatu kebaikan kepada kita atau membahayakan kita kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.[17]*

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
*=  “Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.”*

*✔Oleh karena itu, jika engkau mendapat keburukan dari seseorang, yakinilah bahwa Allah telah menetapkan keburukan itu atasmu, maka ridhalah terhadap qadha dan qadar Allah.*
Dan tidak ada salahnya engkau berusaha menolak keburukan tersebut karena Allah Ta’ala berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

*=  "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa…”*
[asy-Syûrâ/42: 40][18]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
*=  “Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”*

Ini adalah kiasan yang menunjukkan bahwa penulisan semua takdir telah selesai sejak dahulu kala. Karena sebuah buku jika telah selesai ditulisi, pena-pena diangkat darinya, dan telah berlalu sekian lama, maka tinta yang dipakai menulis menjadi kering, dan buku-buku yang ditulis dengan tinta itu menjadi kering pula. Ini merupakan kiasan terbagus dan terindah. [19]

*Semua yang terjadi dan yang akan terjadi di langit dan di bumi serta di antara keduanya, mulai penciptaan makhluk sampai manusia masuk Surga dan Neraka, semua itu sudah tercatat di Lauhul Mahfûzh.*

Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang menunjukkan makna tersebut. Di antaranya, firman Allah Ta’ala,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

*=  "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfûzh) sebelum Kami mewujudkannya.*
*=  Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”*
[al-Hadîd/57: 22].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، قَالَ لَهُ: اُكْتُبْ! قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ

*=  “Sesungguhnya makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Ia menjawab, ‘Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadi hari Kiamat.’”[20]*

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْـخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَـخْلُقَ السَّمَـاوَاتِ وَالْأَرْضِ بِـخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

*=  “Allah telah menulis takdir-takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”[21]*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
*=  “Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu.”*

Maksudnya, *apa yang telah terjadi padamu tidak akan tertolak darimu, dan apa yang tidak akan engkau peroleh tidak mungkin pula engkau mendapatkannya.*
Mungkin juga (sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas-red) bermakna : apa yang telah Allah takdirkan akan menimpamu, tidak akan meleset darimu, pasti terjadi. Dan apa yang Allah takdirkan tidak menimpamu, maka hal itu tidak akan menimpamu selama-lamanya. *Segala urusan ada di tangan Allah. Kondisi ini mendorong manusia agar bersandar kepada Allah secara total. [22]*

Iman kepada qadha dan qadar memiliki empat tingkatan:

*1. al-‘ilmu : maksudnya seorang mukmin yang beriman kepada qadar harus meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui semua yang ada di alam ini,*

*2. al-Kitâbah, maksudnya seorang mukmin meyakini bahwa semua kejadian – baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi- telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfuzh*

*3. al-Masyî-ah, maksudnya seorang mukmin meyakini bahwa semua hal yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah*

*4. al-Khalq, maksudnya bahwa manusia mempunyai kehendak dan keinginan, akan tetapi semuanya tidak lepas dari kehendak dan kekuasaan Allah.*
Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

*=  “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.”*
[ at-Takwîr/81: 29]

*Kemudian meyakini bahwa semua yang terjadi ini karena Allah yang menciptakannya.* Allah l berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

*=  “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”*
[ash-Shaffât/37: 96]

Sedangkan terhadap musibah, ada dua tingkatan bagi orang mukmin yaitu :
(1) Ridha dengannya. (Ini tingkatan yang paling tinggi). Dan
(2) Sabar terhadapnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْـمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

*=  “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sungguh, semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” [23]*

*7. KEMENANGAN ADA BERSAMA KESABARAN*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
*= “Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran.”*

*Dalam kalimat ini terdapat anjuran agar berlaku sabar karena jika (diketahui) kemenangan bersama kesabaran, maka seseorang pasti akan bersabar demi memperoleh kemenangan.[24]*
Makna seperti ini diperkuat oleh firman Allah Azza wa Jalla ,

قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

*=  “Orang-orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah mengatakan, ‘Betapa banyak kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.’*
*=  Dan Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar.”*
[al-Baqarah/2: 249]

Sabar ada tiga macam :
1. Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah,
2. Sabar dalam meninggalkan maksiat,
2. Sabar dalam menerima musibah atau takdir yang buruk dari Allah Azza wa Jalla.

*Demikian pula dalam menghadapi musuh-musuh Allah, butuh kesabaran karena dalam jihad terdapat banyak kesulitan dan hal-hal yang tidak mengenakkan.*
Sabar dalam menghadapi mereka merupakan sebab dan jalan mendapat kemenangan sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam jihad melawan musuh yang nampak, yaitu orang-orang kafir, maupun dalam jihad melawan musuh yang tidak nampak, yaitu hawa nafsu.
*Orang yang sabar pada kedua jihad ini, ia akan ditolong dan akan berhasil mengalahkan musuhnya.*
*‼‼Sedangkan yang tidak bersabar dan berkeluh kesah, maka ia akan kalah dan menjadi tawanan musuh atau terbunuh.*
Pertolongan Allah pasti datang bila kaum mukminin menolong agama Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
*Saat melaksanakan perintah dan menjauhi larangan inilah mutlak diperlukan kesabaran.*
Tanpa kesabaran, tidak mungkin bisa melakukannya.

*8. KELAPANGAN ADA BERSAMA KESEMPITAN*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
*=  “Dan kelapangan bersama kesempitan.”*
Terkadang musibah, fitnah, dan cobaan menimpa seorang muslim sehingga urusannya menjadi sulit, dunia terasa sempit dan rasa sedih serta galau semakin bertambah.
*Apabila ia mengharapkan pahala, bersabar, dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya adalah atas takdir Allah serta tidak putus asa dari rahmat Allah, niscaya inâyah (pertolongan) Allah, maaf-Nya, ampunan-Nya, dan rahmat-Nya akan dia peroleh.*
*✔ Itulah kelapangan.*
Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

*=  “Ataukah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.*
*=  Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan guncangan (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’*
*=  Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”*
[al-Baqarah/2: 214]

Betapa sering Allah Azza wa Jalla membawakan kisah-kisah tentang ujian dan cobaan yang dialami para Nabi, kemudian Allah Azza wa Jalla menyebutkan pertolongan-Nya. Seperti kisah Nabi Nuh Alaihissallam dan pengikutnya yang diselamatkan di atas perahu, Nabi Ibrahim Alaihissallam diselamatkan dari api, Nabi Ismail Alaihissallam diganti dengan domba ketika diperintahkan Allah untuk disembelih. Kisah lainnya, Nabi Musa Alaihissallam dan pengikutnya yang diselamatkan dari Fir’aun, kisah Nabi Yunus alaihissallam .
Juga kisah Nabi Muhammmad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditolong ketika bersembunyi di gua, dibantu pada waktu Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Ahzâb, Perang Hunain dan lain-lain.

*9. SESUNGGUHNYA BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN*

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”

*Maksudnya, setiap kemudahan akan datang setelah adanya kesulitan, bahkan setiap kesulitan itu akan diiringi dua kemudahan: kemudahan sebelumnya dan kemudahan yang akan datang.*
Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

*=  “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”*
[al-Insyirâh/94: 5-6] [25]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamdiatas menegaskan bahwa kesulitan tidaklah menimpa manusia terus menerus selama ia ridha dengan ketentuan Allah, senantiasa komitmen terhadap segala perintah dan larangan-Nya, dan pasrah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengganti kesulitan dengan kemudahan.
Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

*=  “…Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”*
[ath-Thalâq/65: 3] [26]

*🔹FAWAA-ID HADITS*

*1. Bolehnya membonceng di atas kendaraan orang lain.*

*2. Disunnahkan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada ummat dengan perkataan yang ringkas.*

*3. Berkemauan keras untuk membina kaum muslimin.*

*4. Balasan pahala itu tergantung dari jenis amalan.*

*5. Wajib atas seorang hamba menjaga batas-batas Allah, menjaga tauhid, shalat lima waktu, menjaga matanya, auratnya dan tidak boleh melewati batas dan wajib untuk mengagungkan-Nya.*

*6. Barangsiapa yang tidak menjaga batas-batas Allah, maka Allah tidak akan menjaganya.*
(al-Hasyr/59: 19).

*7. Diharamkan meminta kepada selain Allah dalam hal-hal yang makhluk tidak mampu memberikannya seperti rizki, kesembuhan, ampunan, dan lain sebagainya*

*8. Seluruh makhluk itu lemah dan butuh kepada Allah Azza wa Jalla .*
Karena itu, seorang hamba wajib memohon pertolongan hanya kepada Allah Azza wa Jalla

*9. Wajib beriman kepada al-Qadha wal Qadar yang baik maupun yang buruk.*
Semua yang terjadi di langit dan di bumi sudah ditaqdirkan oleh Allah, tidak ada satu pun yang terluput

*10. Wajib bagi setiap hamba untuk mencari keridhaan Allah meski dibenci oleh manusia lainnya*

*11. Seorang hamba tidak sanggup untuk mendatangkan manfaat bagi dirinya dan tidak sanggup untuk menolak bahaya, melainkan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala .*
Karena itu, ia wajib menggantungkan harapannya hanya kepada Allah.

*12. Perbuatan makar—meskipun direncanakan oleh orang banyak—tidak akan terlaksana kecuali dengan izin Allah Azza wa Jalla*
(Qs at-Taubah/9: 51).

*13. Catatan takdir di Lauhul Mahfûzh adalah tetap, tidak dapat diganti dan berubah lagi.*

*14. Perbanyaklah ibadah, dzikir, do’a, dan lainnya di saat senang, maka Allah Azza wa Jalla akan menolongmu di saat mengalami kesulitan.*

*15. Setiap kesulitan dan kesusahan yang menimpa seorang hamba, pasti sesudahnya ada kelapangan dan kemudahan.*

*16. Kelapangan dan kemudahan selalu menyertai orang yang mengalami kesulitan.*

*17. Bila seorang hamba ditimpa kesulitan, maka hendaklah ia memohon kepada Allah agar dihilangkan kesulitannya. Karena hanya Allah yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya (kesulitan).*
(al-An’âm/6:17, Yûnus/10: 107).

*18. Allah akan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada para hamba-Nya yang sabar.*

*19. Jihad di jalan Allah membutuhkan kesabaran dan istiqamah.*

*20. Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama dapat diproleh.*
(Perkataan Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah)

Maraji :
1. Al-Qur-an dan terjemahnya.
2. Kutubus Sab’ah.
3. as-Sunanul Kubrâ lin Nasâ’i.
4. Shahîh Ibni Hibbân dengan at-Ta’liqâtul Hisân ‘ala Shahih Ibni Hibbân.
5. Sunan ad-Dârimi.
6. Mushannaf ‘Abdurrazzâq.
7. Mushannaf Ibni Abi Syaibah.
8. Mustadrak al-Hâkim.
9. Sunan al-Baihaqi.
10. Syarhus Sunnah, karya Baghawi.
11. Syarh Ma’ânil Aatsâr, karya ath-Thahâwi.
12. Al-Mu’jamul Kabîr, karya ath-Thabrani.
13. Al-Muntaqâ, karya Ibnul Jarud.
14. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâjis.
15. Nûrul Iqtibâs bi Washiyyatir Rasûl libni ‘Abbâs, karya Ibnu Rajab al-Hanbali.
16. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.
17. Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr.
18. Qawâ’id wa Fawâ’id minal ‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Sulthân.
19. al-Wâfî fî Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
20. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin.
21. Dan kitab-kitab lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Tahun XIII/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 2856, 5967), Muslim (no. 30 (48), 30 (49)), Abu Dâwud (no. 2559), dan at-Tirmidzi (no. 2643).
[2]. Shahih: HR. Muslim (no. 223).
[3]. Shahih: HR. Ahmad (V/282) dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 115).
[4]. Shahih: HR. Ahmad (II/34, 69, 86), at-Tirmidzi (no. 1535), dan al-Hâkim (IV/297).
[5]. Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hâkim (IV/323), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4033). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 935).
[6]. Shahih: HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 5375), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (I/65, no. 67), dan Abu Ya’la dalam Musnadnya (no. 78, 79), dari Shahabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 4519).
[7]. Tafsîr Ibnu Katsîr (III/111).
[8]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/467).
[9]. Hilyatul Auliyâ’ (II/386, no. 2659).
[10]. Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 176).
[11]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/474).
[12]. Shahih: HR. Abu Dâwud (no. 1479), at-Tirmidzi (no. 3247), Ibnu Mâjah (no. 3828).
[13]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (104)). Lafazh Muslim dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[14]. Lihat Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 225).
[15]. Shahih: HR. Muslim (no. 2664).
[16]. Shahih: HR. Ahmad (5/245), Abu Dâwud (no. 1522), an-Nasâ-i (3/53), dan al-Hâkim (1/273; 3/273).
[17]. Lihat Syarah al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 226).
[18]. Lihat Syarah al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 226).
[19]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/482).
[20]. Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4700), at-Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), Ahmad (V/317), dan selainnya dari Ubadah bin Shamit.
[21]. Shahih: HR. Muslim (no. 2653), Ahmad (II/169), dan at-Tirmidzi (no. 2156) dari Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash .
[22]. Lihat Syarah al-Arba’iin an-Nawawiyyah (hal. 227).
[23]. Shahih: HR. Muslim (no. 2999 (64)), Ahmad (VI/16), ad-Dârimi (II/318) dan Ibnu Hibbân (no. 2885, at-Ta’lîqatul Hisân ‘alâ Shahîh Ibni Hibbân), dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan . Lafazh ini milik Muslim.
[24]. Lihat Syarah al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 227).
[25]. Lihat Syarah al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 228).
[26]. Lihat al-Wâfî fî Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 147).

Read more https://almanhaj.or.id/3484-jagalah-allah-azza-wa-jalla-niscaya-allah-azza-wa-jalla-menjagamu.html

Repost : ➖➖➖➖➖➖➖
Group WA📚GUDANG ILMU📚
Admin : 081230068283