Selasa, 21 Agustus 2018

TEGUH DIATAS ASWAJA

TEGUH DI ATAS AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi -hafidzohullah-

1⃣ Allah memberikan anugrah keistimewaan kepada kaum muslimin negeri ini yang tidak di berikan kepada negeri lainnya.

pertama: kaum muslimin dinegeri ini adalah yang paling banyak.

Point kedua:  adalah fitroh yang selamat yaitu cinta kepada islam, cinta kepada nabi, cinta kepada sunnah, dan cinta kepada Aqidah yang lurus.

2⃣ Agama islam yang agung ini mengumpulkan pintu kebahagiaan dunia dan agama

تركت فيكم أمرين ما إن تماسكتم بهما لن تضل إبدا

Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya.

تركتكم على مثل البيضاء ليلها كنهارها لا يزيع عنها إلا هالك

Aku tinggalkan kalian seperti permisalan yang putih, malamnya seperti siangnya tidak ada yang menyimpang kecuali binasa

3⃣ Nabi memerintahkan untuk berpegang teguh, dan kaum salaf bersungguh2 dalam memerintah anak2 sahabat dan tetangga mereka, karena itu adalah perintah Allah.

(فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ)

Berpegang teguhlah dengan apa yang diwahyukan kepada engkau, sesungguhnya engkau berapa dalam shirotol mustaqim

[Surat Az-Zukhruf 43]

( ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ َ)

Kami telah menurunkan kepada engkau alqur'an untuk kau jelaskan kepada manusia. [An nahl 44]

Dan yang di turunkan Allah  ada dua yaitu qur'an dan sunnah.

Nabi bersabda

ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه

"Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan alqur'an dan yang semisalnya bersamanya"

4⃣ para ulama membagi kitabullah kepada tiga macam

Yang pertama : aqidah
Yang kedua: hukum
Yang ketiga: kisah

Semuanya saling berkaitan. Untuk membangun manusia yang baik.

Para ulama tidak membagi bagian ke empat yaitu akhlak, karena akhlak masuk dalam aqidah, karena aqidah dalam islam bukan hanya sebuah gambaran akan tetapi aqidah adalah sebuah jalan dan praktek serta hidayah.

Apa dalilnya:

خصلتان لا تجد في منافق: حسن سمت وفقه في الدين.

Ada dua perangai yang tidak kamu dapatkan dalam munafik,  baiknya akhlak dan pemahaman dalam agama

Ada seseorang datang kepada nabi: sesungguhnya fulanah dia puasa siang dan bangun malam akan tetapi dia menyakiti tetangganya (dalam riwayat dengan lisannya) (bukan dengan tangan dan lainnya). Nabi berkata: dia berada dalam neraka.

Muadz pernah berkata: ya rasulallah,
Apakah kita akan diadzab karena lisan kita? Rasulullah berkata: celaka engkau,Apakah manusia tertelungkup diseret di neraka karena buah dari lisan mereka.

Oleh karena itu Aqidah apabila tidak dibarengi dengan akhlak maka tidak berfaidah

5⃣ Diantara kaitan akhlak dengan Aqidah adalah perkataan ulama:

إن سوء الخلق يفسد العمل كما يفسد الخل العسل

Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka akan merusak madu.

6⃣ Umat islam adalah umat terbaik, namun mundur kebelakang karena mereka meninggalkan agamanya.

Maka pintu2 agama harus dikembalikan agar kembali jaya seperti awalnya.

(وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ )

"Dan berpegang teguhlah kepada tali agama Allah dan janganlah kalian berpecah belah"
[Surat Ali 'Imran 103]

Dan kita meminta dalam surat al fatihah jalan yang lurus.

7⃣ Surat alfatihah rahasia dan intinya adalah doa

اهدنا الصراط المستقيم

"tunjukilah kami jalan yang lurus"

Dan tafsir dari jalan yang lurus (shirothol mustaqim) beragam datang dari salaf, akan tetapi maknanya saling melengkapi.

Ada yang menafsirkan: agama, alqur-an, as sunnah, dan alhaq.

8⃣ Yang semisal dengan ayat ini,  (az zukhruf:43)

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السلم كافة)

"Wahai orang2 beriman masukkan kedalam islam secara kaafah"

pengakuan saja tidak cukup..Islam yang benar bukan sekedar pengakuan semata.

9⃣ Agama islam adalah agama ilmu agama amal dan agama akhlak, agama aqidah dan kewajiban terbesar bagi kita adalah menuntut ilmu.

1⃣0⃣ Allah memerintahkan kita beribadah, dan ada dua syarat di terima ibadah; ikhlas dan iitiba

1⃣1⃣
(وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

Demikianlah kami jadikan kalian umat pertengahan dan menjadi saksi bagi manusia dan nabi menjadi saksi atas kalian.
[Surat Al-Baqarah 143]

Bahwa pertengahan dalam.umat ini dia adalah sifat yang lazim ada pada umat ini dari awalnya sampai kepada masa dimana Allah akan mewariskan bumi ini dan segenap yang berada diatasnya.

1⃣2⃣ Wasatiyah dibuktikan dengan amalan. Dan dasarnya adalah alqur'an dan sunnah.

Bukan menggabungkan dua hal yang menyimpang dalam permasalahan aqidah sebagaimana pemahaman sebagian orang.

1⃣3⃣ Ketika kita membicarakan masalah Aqidah maka dia sangat luas, walaupun pokoknya adalah ibadah.

Diantaranya adalah pembahasan iman, tidaklah iman hanya sekedar pengakuan.

ليس الإيمان بالتمني والتحلي، ولكن ما وقر في القلب وصدفه العمل

Bukanlah iman itu hanya dengan angan2 dan sebagai hiasan akan tetapi apa yang tetap dalam hati dan dibenarkan dengan beramal.

Diantara aqidah mengimani takdir
Diantara aqidah ittiba sunnah.

Sebagaimana perkataan sahabat:

اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كقيتم
Ittiba lah dan jangan berbuat bid'ah maka itu mencukupi kalian.

Ketika kita berbicara aqidah maka kita berbicara tentang hal2 yang ghaib, sebagaimana telah datang seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, jin dll

Diantara aqidah, mengimani manhaj nabi dalam berdakwah dan bermuamalah dengan orang yang menyelisihi kita

1⃣4⃣ Seseungguhnya berpegang teguh dengan aqidah sangat berkaitan erat dengan washathiyyah yang wajib diamalkan, dan dengan menjaga lima perkara:

1) membesarkan Allah dengan beribadah sebenar2nya dan menetapkan apa yang Allah dan rasulnya tetapkan dari asmaul husna dan sifat yang  mulia.

2) berpegang kepada syariat yaitu kitab dan sunnah,

3) dakwah kepada Allah. Mengajak manusia dengan ilmu dan kelembutan. Keduanya seperti ruh dan jasad

4. Menjauh dari ghuluw (ekstrim) serta tafrith (sikap menyepelekan) untuk merealisasikan wasathiyyah.

5. Menjauh dari bid'ah.

📝 Ustadz  wahyudi lc.

Masjid istiqlal 5 agustus 2018

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

Senin, 20 Agustus 2018

JANGAN MERASA BERSIH DARI RIBA

Re Post

JANGAN SEKALI-KALI MERASA BERSIH DARI RIBA

Oleh Siswo Kusyudhanto

Ada teman berkata bersyukur lepas dari riba besar, dia sudah melunasi cicilan rumahnya melalui pembiayaan sebuah bank konvensional, namun saya bilang padanya bahwa kita mungkin lepas dari riba besar namun belum lepas dari riba lainnya, lalu dia bertanya "masa sih?", lalu saya ceritakan perihal materi kajian Ustadz Erwandi Tarmidzi.
Dalam kajian beliau mengatakan, " Riba diperangi hampir semua agama, namun apa yang terjadi?, Riba justru malah menjadi kebiasaan sehari-hari, riba sudah menjadi gaya hidup manusia dimuka bumi ini. Dari riba yang jelas nyata kelihatan seperti melakukan pinjaman sejumlah uang dengan jaminan kepada bank konvensional ataupun leasing sehingga dikenai bunga dan denda jika terlambat melakukan pembayaran angsuran. Riba juga juga terjadi ketika seseorang membuka rekening tabungan di sebuah bank konvensional, nasabah diiming-imingi sejumlah imbalan atas uang yang disimpannya, imbalan berupa tambahan uang itu jelas riba, dan dijaman sekarang ini siapa yang tidak memiliki rekening bank konvensional?, Hampir semua orang memilikinya.
Praktek riba juga terjadi ketika anda memasang aliran listrik kerumah, yakni meteran yang menggunakan sistem pembayaran pasca bayar dimana listrik dipakai dulu oleh konsumen selama sebulan kemudian pada akhir bulan baru sipemakai listrik membayar sejumlah yang digunakan, dia menerima pinjaman jasa berupa listrik. Jika kemudian terjadi keterlambatan membayar rekening listrik yang harus ditanggung maka dia terkena beban denda, ini jelas riba, karena ciri utama riba diantaranya yakni adanya denda setelah terlambat memenuhi kewajiban setelah melakukan transaksi peminjaman. Hal serupa juga terjadi kepada pemasang rekening air dan semacamnya, kita sudah masuk riba ketika menandatangani dan menyetujui adanya denda jika terlambat membayar kewajiban yang sudah ditentukan.
Perbuatan riba juga terjadi dilingkungan kita, misal ada kesepakatan disebuah lingkungan jika terlambat membayar iuran sampah dan semacamnya maka ada denda atas keterlambatannya itu, ini juga riba.
Praktek riba bahkan juga terjadi di sekolah-sekolah, didalam aturan beberapa sekolah ada ketentuan jika terlambat membayar SPP maka ada denda atas keterlambatan itu, bahkan ini ada juga terjadi di sebuah sekolah Islam di Jakarta, subhanallah.
Bahkan praktek riba terjadi didalam perkara pajak, padahal urusan pajak adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah masih ditambah riba didalamnya, yakni jika anda terlambat membayar pajak akan dikenai sejumlah denda, ini jelas riba.
Dan banyak lagi praktek riba dalam kehidupan kita sehari-hari, kalau lepas dan bersih sama sekali dari riba itu adalah hal yang mustahil dijaman ini, karena mustahil anda tidak bayar pajak, mustahil anda tidak memasang listrik dan air, mustahil tidak sekolah dan seterusnya. Yang dapat kita lakukan hanya meminimalisir terlibat dalam perkara riba, itu saja yang dapat kita lakukan, waallahua'lam."

Sabtu, 18 Agustus 2018

TAMBAHAN DOA SETELAH WUDHU

🔍 *FIQH*
📚🥃 *TAMBAHKAN BACAAN INI SETELAH MEMBACA DO'A SETELAH WUDHU, NISCAYA DITULIS LAH DALAM LEMBARAN PUTIH, LALU DICAP DENGAN SEBUAH STEMPEL YANG TIDAK AKAN RUSAK HINGGA HARI KIAMAT, BACAANNYA SEBAGAI BERIKUT...*
*🌺💠🌺 DOA-DOA HARIAN (SETELAH WUDHU)*

*➡ DOA SETELAH WUDHU*

1⃣ Doanya adalah :

١). أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

_Berdasarkan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a:_

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

_"Aku bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya."_

_Melainkan dibukakan baginya delapan pintu Surga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki. [HR. Muslim 1/209]_

2⃣ Doanya adalah :

٢). اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

_"Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci." [HR. At-Tirmidzi 1/78, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 1/18]_

*Adapun tambahan doa*,

واجعلني من عبادك الصالحين من الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

_"Waj’alni min ‘ibaadika ash-shalihin minalladziina laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun"_

_[Jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang shalih, (yaitu) hamba-hamba-Mu yang tidak ada rasa takut dalam diri mereka dan tidak pula bersedih hati]_

*✅✋🏻⛔ Maka tambahan doa dengan lafadz seperti ini tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak boleh diamalkan. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah mengatakan, Sebagian orang menambahkan, ‘Waj’alni min ‘ibaadika ash-shalihin‘. Tambahan ini tidak ada asalnya sebagaimana yang aku jelaskan dalam kitabku, ‘Silsilah Al-Ahaadits Allati Laa Ashla Laha’.”* 
[Bahjatun Nadziriin Syarh Riyadhus Shalihin, 2/250]

3⃣ Doanya adalah :

٣). سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

_Dari Abu Sa'id, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, *BARANGSIAPA BERWUDHU LALU MENGUCAP:*_

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

_"Mahasuci dan Terpuji Engkau ya Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu."_

_*Niscaya ditulislah dalam lembaran putih, lalu dicap dengan sebuah stempel yang tidak akan rusak hingga hari Kiamat.*_
_[HR. An-Nasai dalam 'Amalul Yaumi wal Lailah, halaman 173 dan lihat Irwa'ul Ghalil, 1/135 dan 2/94]_

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

📝 Disusun oleh :* _Ustadz Abu Royhan Hafidzahulloh_

*💻 Referensi :* _Hisnul Muslim dan lainnya_

🌐 Grup Dakwah Sunnah

•┈•◎❅❀❦❖🌺💠🌺💠🌺❖❦❀❅◎•┈•

Kamis, 16 Agustus 2018

SHALAT DI MASJID YG ADA KUBURANNYA

SHALAT DI MASJID YANG ADA KUBURANNYA

Pertanyaan

Assalamu’alaikum. Redaksi assunah yang saya hormati, ana ingin bertanya bagaimana hukum shalat di masjid yang ada kuburan di sekitarnya tapi waktu itu saya tidak tahu kalau dalam masjid itu ada kuburannya. Bagaimana hukum shalat saya dalam masjid tersebut ? Aji Depok +628988xxxxxx

Jawaban.

Jika kuburan itu berada di luar masjid, maka shalatnya sah, apalagi jika ada tembok/dinding yang memisahkan kubur dengan masjid.

Syaikh Al-Albâni menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (dari kitab al-Ikhtiyârât al-‘Ilmiyyah, hlm: 25) yang mengatakan: “Tidak sah shalat di kuburan, dan juga tidak sah shalat menghadap kuburan. Sesungguhnya larangan ini untuk menutup sarana kesyirikan. Sekelompok sahabat kami (maksudnya adalah ulama Hanabilah-pent) menyebutkan bahwa “satu kubur atau dua kubur tidak menghalangi shalat (yakni boleh shalat di dekat satu atau dua kubur-pen), karena itu tidak terkena istilah maqbarah (kuburan), maqbarah adalah tiga kubur atau lebih”.

(Perkataan mereka itu tidak benar) karena pembedaan ini tidak ada dalam perkataan imam Ahmad dan kebanyakan sahabat-sahabat beliau rahimahullah ! Bahkan dari perkataan mereka secara umum, penjelasan mereka tentang alasan serta pengambilan dalil mereka tersirat larangan shalat di dekat satu kubur.

Inilah pednapat yang benar. Maqbarah adalah tempat pemakaman. Maqbarah bukan (bentuk) jama’ (plural) dari kubur. Sebagian ulama Hanabilah mengatakan : “Setiap tempat yang masuk dalam nama kuburan maksudnya daerah sekitar kubur, maka tidak boleh shalat ditempat itu. Ini menunjukkan bahwa larangan itu mencakup satu kuburan dan tempat yang disatukan dengannya.

Al-Amidi dan lainnya menyebutkan bahwa tidak boleh shalat di dalamnya, yaitu (didalam) masjid yang kiblatnya menghadap kubur, sehingga ada penghalang yang lain antara tembok (masjid) dengan kuburan. Dan sebagian mereka menyebutkan bahwa ini yang dikatakan oleh imam Ahmad”. [Ahkâmul Janâiz, hlm: 274]

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata : “Shalat di masjid yang di depannya ada kuburan diluar masjid, maka (shalatnya) sah. Karena yang terlarang adalah shalat di masjid yang didalamnya ada kuburan, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ

Bumi semuanya adalah masjid (tempat shalat) kecuali pemandian dan kuburan.

Dan di dalam Shahih Muslim (no: 532-pen) dari hadits Jundub dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu menjadikan kubur-kubur Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlah, janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari itu!”.

Sedangkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Janganlah kamu duduk di atas kubur dan janganlah kamu shalat menghadapnya.[1]

Maka ini jika shalat menghadapnya tanpa pagar atau dinding. Adapun jika ada dinding atau pagar, sedangkan kubur itu di luar masjid, maka shalat itu sah, insya Allah”.[2]

Demikian juga keterangan ini bisa didapatkan dari penjelasan Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah. beliau mengatakan, jika masjid itu benar-benar terpisah dari kuburan, baik dipisah dengan pagar ataupun jalanan, maka shalat di masjid tersebut sah [3] .

Kesimpulannya, shalat di kuburan hukumnya terlarang, baik kuburan itu di depan orang shalat, di belakangnya, atau di sampingnya. Demikian juga shalat di masjid yang di dalamnya ada kuburan. Adapun jika kubur itu di luar masjid, dan ada dinding yang membatasinya, maka shalat itu sah. wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1429H/2008M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. HR. Muslim, no: 972-pen

[2]. Tuhfatul Mujib ‘ala Asilatil Hadhir wal Gharib, hlm: 83-84, karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I, penerbit Darul Atsâr, cet: 3, 1425 H / 2004 M

[3]. Lihat al Muntaqa, Syaikh Shalih Fauzan, 2/171-172

sumber :

http://almanhaj.or.id/content/2432/slash/0/hal-hal-yang-membatalkan-shalat-shalat-di-masjid-yang-ada-kuburannya

PEMBOROSAN DALAM BERWUDHU

*MEMBANGUN MADRASAH ATAU JEMBATAN DARI KELEBIHAN AIR WUDHU KITA ?*

Oleh : Avip Vivarullah  W SE
Presiden IIMF 
Internasional Islamic Medicine Foundation

Ada rasa sayang dan prihatin jika  melihat air yg keluar sangat deras dari kran kran air saat orang orang berwudhu. Apalagi harga air PAM dan pulsa  listrik semakin mahal sekarang ini..

Dari sinilah kemudian saya  mencoba menghitung berapa sih jumlah air yang terpakai dalam setiap orang berwudhu. Caranya saya tampung semua jumlah air yg keluar dari kran yg terbuka selama orang berwudhu dalam sebuah ember. Lalu air yg terkumpul di ember saya ukur dengan alat gelas pengukur. Saya lakukan beberapa kali. Dari data jumlah air terpakai berbeda beda hasil rata rata  6,7 liter air yg terpakai perorang . Waktu wudhu pun saya catat , hasilnya rata rata 65 detik atau 1 menit lebih 5 detik  untuk sekali wudhu.Jika  pengambilan sample lebih banyak diberbagai tempat mungkin bisa lebih kecil atau lebih besar hasilnya. Apalagi jika ada beberapa tempat wudhu dengan semburan air wudhu yg sangat deras.
Namun ini sebagai data perkiraan saya saja.

Rasa kepo sayapun  berlanjut . Saya ingin tahu, berapa besar jumlah  pengeluaran belanja Umat Islam  khususnya diperkotaan untuk membeli air untuk berwudhu selama 1 tahun?
Dari rata rata jumlah air wudhu per orang yg saya hitung kemudian dikalikan dengan jumlah wudhu dalam sehari dan dikalikan lagi dengan jumlah hari dalam setahun maka akan didapat angka
6,7x5x365= 12.227 liter ( 12,2 m3) air dalam setahun.
Kalau kita ambil rata rata tarif air PAM/m3  antara tarif terendah Rp 1050 sd tertinggi 12.500 m3 yaitu ambil golongan III Rp  3. 350 - 4.900 yaitu sekitar Rp 4.000 maka jumlah penggunaan air wudhu satu orang selama setahun yaitu 12, 227 m3 x Rp 4000 =Rp 48.908 atau hampir 50 rb. Mungkin sebagian akan menganggap itu suatu angka yg wajar dalam setahun. Apalagi untuk urusan ibadah.
Namun kalau diasumsikan jumlah Umat Islam baligh di perkotaan yg menggunakan air berbayar  yg sdh melaksanakan sholat adalah 75 jt saja dari total Umat Islam Indonesia diatas 220 jt ( diluar anak anak kecil yg juga sering ikut sholat) maka dapat dihitung jumlah perkiraan pengeluaran belanja Umat Islam untuk wudhu saja selama setahun  Rp 48.908 x 75.000.000 = 3.668.100.000.000 = Rp  3,677 Triliun
Sungguh angka yg sangat fantastis bukan ?? Tadinya saya juga  berpikir itu tidak apa apa.. Toh itu lagi lagi untuk ibadah..

Namun saya diingatkan oleh sebuah Hadist tentang  bagaimana  Rasulullah menggunakan air dalam  berwudhu  :
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ، وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud (air) dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud (air)” (HR. Bukhari no. 198 dan Muslim no. 325).

Keterangan : 1 sha’ sama dengan 4 mud. 1 mud kurang lebih 0.5 liter.

Saya mulai menghitung lagi.. andaikan kita berwudhu mengikuti cara Rasulullah yaitu  dengan hanya menggunakan 0.5 liter air dalam setiap berwudhu maka jumlah  belanja umat islam untuk air wudhu adalah 0.5 liter / 6.7 liter x  3.667Triliun = hanya Rp  273,738 miliar. Artinya dgn wudhu cara Rasulullah akan terjadi penghematan sekitar 3,394 Triliun. Sungguh angka yg sangat luar biasa.
Dan jika uang tersebut dikonversikan dgn  harga satu ruangan madrasah  Rp 100 jt maka akan terbangun 33.943 ruang madrasah selama setahun dari hasil  penghematan belanja air wudhu kita dan berapa ratus  jembatan lagi yg bisa kita bangun ditahun tahun berikutnya dari kelebihan uang air wudhu kita? Belum  lagi dari penghematan jika kita mandi sesuai tuntutan Rasulullah .
Subhanallah... Inilah kehebatan dimensi sosial dan ekonomi ajaran Islam jika mengikuti cara yg diajarkan Rasulullah.

Lantas bagaimana cara supaya kita bisa berwudhu 1 mud seperti Rasulullah?

Saya sudah mencoba  ternyata kuncinya pada seberapa besar air yg kita buka lewat kran air saat berwudhu. Jika kran air dibuka 1/2 maka air yg keluar sekitar 3 liter namun jika kran dibuka 1/8 nya dimana air keluar cukup sebesar ujung kepala lidi maka air yg keluar selama 65 detik kita berwudhu berjumlah antara 0.5 sd 0.7 liter atau sama dgn  1 mud.

Cara wudhu dgn air seperti ini selain berhemat, yg terpenting adalah mengikuti sunnah juga menjaga bumi dari ketersediaan air bersih . Dan perlu dipahami jika wudhu dengan air sedikit, kita akan berusaha mengusap dan menggosakan air lebih rata kesemua anggota wudhu sehingga dapat merangsang syaraf yg baik untuk kesehatan.
Wallahualam

*HEMAT DALAM BERWUDHU*

*AYO KECILKAN KRAN AIR SAAT KITA WUDHU*

DASAR PUASA TARWIYAH

Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah)?♨️
(Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Sudah terlalu sering saya ditanya tentang puasa pada hari tarwiyah (tanggal delapan Dzulhijjah) yang biasa diamalkan oleh umumnya kaum muslimin. Mereka berpuasa selama dua hari yaitu pada tanggal delapan dan sembilan Dzulhijjah (hari Arafah). Dan selalu pertanyaan itu saya jawab : Saya tidak tahu! Karena memang saya belum mendapatkan haditsnya yang mereka jadikan sandaran untuk berpuasa pada hari tarwiyah tersebut.

Alhamdulillah, pada hari ini 3 Agustus 1987 [seperti tertulis di dalam buku, admin] saya telah menemukan haditsnya yang lafadznya sebagai berikut.

صوم يوم التروية كفارة سنة، وصوم يوم عرفة كفارة سنتين

“Artinya : Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248) dari jalan :

[1]. Abu Syaikh dari :
[2]. Ali bin Ali Al-Himyari dari :
[3]. Kalbiy dari :
[4]. Abi Shaalih dari :
[5]. Ibnu Abbas marfu’ (yaitu sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Saya berkata : Hadits ini derajatnya maudhu’ (موضوع).
Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama: Kalbi (no. 3) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalbi. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalbiy meriwayatkan dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas).

Imam Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang maudlu’ (palsu)” Tentang Kalbi ini dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh Wat Ta’dil:

[1]. At-Taqrib 2/163 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar
[2]. Adl-Dlu’afaa 2/253, 254, 255, 256 oleh Imam Ibnu Hibban
[3]. Adl-Dlu’afaa wal Matruukin no. 467 oleh Imam Daruquthni
[4]. Al-Jarh Wat Ta’dil 7/721 oleh Imam Ibnu Abi Hatim
[5]. Tahdzibut Tahdzib 9/5178 oleh Al-Hafizd Ibnu Hajar

Kedua : Ali bin Ali Al-Himyari (no. 2) adalah seorang rawi yang majhul (tidak dikenal).

Kesimpulan:

[1]. Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) adalah hukumnya bid’ah. Karena hadits yang mereka jadikan sandaran adalah hadits palsu/maudhu’ yang sama sekali tidak boleh dibuat sebagai dalil. Jangankan dijadikan dalil, bahkan membawakan hadits maudlu’ bukan dengan maksud menerangkan kepalsuannya kepada umat, adalah hukumnya haram dengan kesepakatan para ulama.

[2]. Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) adalah hukumnya sunat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah ini.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Artinya : … Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu”. [Shahih riwayat Imam Muslim (3/168), Abu Dawud (no. 2425), Ahmad (5/297, 308, 311), Baihaqi (4/286) dan lain-lain]

Kata ulama : Dosa-dosa yang dihapuskan di sini adalah dosa-dosa yang kecil. Wallahu a’lam!

Disalin dari kitab Al-Masaa’il Jilid 2 (Masalah 48) hal. 176-178 , oleh guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ~semoga Allah menjaganya~. (Pustaka Darus Sunnah – Jakarta, Cetakan 4, Th. 1427H/2007M)

Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com

Rabu, 15 Agustus 2018

SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sulthonul Auliya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani :
       **42 Keutamaan Sholawat**

بسم الله الرحمٰٓن الرحيم
ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَﻠّﯿﮱِ ﯛﺳَﻠّﻢْ ﻋَﻠﮱِ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪْ ﻭَ ﻋَﻠﮱ ﺁﻝِﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

Dalam Kitab As-Safinah Al-Qadiriyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, menjelaskan tentang keutamaan-keutaman berselawat kepada Rasulullah SAW dengan merujuk apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Furhan dalam kitab Haqa’iq Al-Anwar. Beliau menyebut 42 keutamaan dan keuntungan berselawat kepada Nabi. Menurutnya, “Membaca selawat kepada Nabi membuahkan banyak faedah yang bisa dipetik oleh seorang hamba:

1. Berselawat untuk Nabi berarti melaksanakan perintah Allah SWT.
2. Berselawat untuk Nabi berarti meniru Allah yang berselawat kepada Nabi.
3. Berselawat untuk Nabi berarti meniru malaikat-malaikat-Nya yang berselawat kepada Nabi.
4. Mendapat balasan 10 kali lipat selawat dari Allah SWT untuk diri kita pada setiap selawat yang kita ucapkan.
5. Allah akan mengangkat derajat orang yang membaca selawat 10 tingkat lebih tinggi..
6. Mendapat 10 catatan kebaikan.
7. Allah SWT menghapuskan 10 dosa keburukan.
8. Berpeluang besar doanya akan dikabulkan Allah SWT.
9. Selawat adalah syarat utama mendapat syafaat dari Rasulullah SAW.
10. Selawat adalah syarat untuk mendapat ampunan Allah dan akan ditutup segala aib.
11. Selawat adalah syarat untuk memperoleh perlindungan dari segala hal yang ditakutinya.
12. Selawat adalah syarat seseorang dapat dekat kepada Rasulullah SAW.
13. Nilai selawat sama dengan nilai sedekah.
14. Selawat adalah alasan bagi Allah dan para malaikat untuk membacakan selawat balasan.
15. Selawat adalah syarat kesucian jiwa dan raga bagi pembacanya.
16. Terpenuhinya segala keinginan.
17. Selawat adalah alasan seseorang mendapat kabar baik bahwa dirinya kelak akan memperoleh surga.
18. Selawat adalah faktor memperoleh keselamatan di Hari Kiamat.
19. Selawat adalah alasan bagi Rasulullah SAW untuk mengucapkan selawat balasan.
20. Selawat dapat membuat pembacanya teringat akan semua hal yang dilupakannya.
21. Selawat dapat membuat harumnya sebuah majelis pertemuan dan orang-orang yang hadir tidak mendapat kerugian di Hari Kiamat kelak.
22. Selawat dapat menghilangkan kemiskinan dan kefakiran bagi pembacanya.
23. Selawat dapat menghapus julukan orang kikir ketika selawat dibacakan.
24. Selawat menjadi penyelamat dari doa ancaman Rasulullah bagi orang yang membaca selawat ketika namanya disebutkan.
25. Selawat akan mengiringi perjalanan pembacanya kelak di atas jembatan menuju surga dan akan menjauh dari orang yang tidak membacanya.
26. Selawat akan menghilangkan keburukan-keburukan di suatu majelis pertemuan yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya.

27. Selawat adalah penyempurna pahala dari sebuah percakapan yang dimulai dengan menyebut nama Allah dan membaca selawat kepada Rasul-Nya.
28. Selawat adalah faktor yang dapat menyelematkan seorang hamba ketika berada di atas jembatan menuju surga.
29. Selawat menghapus status sebagai pembenci selawat.
30. Selawat adalah alasan bagi Allah untuk mengumumkan pujian baiknya kepada pembaca selawat tersebut di hadapan semua makhluk, baik di bumi maupun di langit.
31. Selawat dapat mendatangkan rahmat Allah.
32. Selawat dapat mendatangkan berkah.
33. Selawat dapat melanggengkan dan mempertebal cinta kepada Rasulullah SAW dimana cinta ini merupakan simpul pokok keimanan.Dan, keimanan seseorang belum sempurna tanpa adanya cinta kepada Nabi.
34. Selawat dapat memikat hati Rasulullah agar mencintai dirinya.
35. Selawat mendatangkan hidayah dan menghidupkan hati yang telah mati.
36. Selawat adalah syarat agar nama pembacanya disebut-sebut di hadapan Rasulullah SAW.
37. Selawat dapat memantapkan iman dan Islam serta membacanya sama dengan memberi hak yang layak diterima oleh Rasulullah SAW.
38. Selawat merupakan bentuk syukur kita atas segala nikmat dari Allah SWT.
39. Bacaan selawat mengandung dzikir, syukur dan pengakuan atas nikmat Allah SWT.
40. Selawat yang dibaca seorang hamba adalah bentuk doa dan permohonan kepada Allah, terkadang doa itu dipersembahkan kepada Nabi SAW dan tak jarang pula untuk dirinya sendiri, karena selawat dapat mendatangkan tambahan pahala.
41. Selawat adalah buah yang paling manis dan faedah paling utama yang dapat didatangkan dari pembacaan selawat atas Nabi adalah melekatnya gambaran seorang Nabi yang mulia di dalam jiwa pembacanya.
42. Memperbanyak bacaan selawat atas Nabi SAW menjadikan dirinya satu tingkatan dengan derajat seorang Syekh Murabbi (guru spiritual)
ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَﻠّﯿﮱِ ﯛﺳَﻠّﻢْ ﻋَﻠﮱِ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪْ ﻭَ ﻋَﻠﮱ ﺁﻝِﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ,

**MANAKIB Sultahanul Aulia
Syech Abdul Qodir Al Jailani **

Biografi Syech Abdul Qodir Al Jailani atau yang lebih sering disebut Manaqib Syech Abdul Qodir Al Jailani memang patut kita baca dan kita renungkan.

"Siapa sih beliau ??

Sering kita mendengar tentang nama seorang sufi besar dan ulama besar bernama Syekh Abdul Qodir Jaelani, atau ada yang menyebut Jiilani. Siapakah sebenarnya beliau? Apa yang menjadi pandangan beliau yang jelas tentu tetap berpegang pada junjungan kita Nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW… berikut informasi dikumpulkan dari berbagai macam sumber…

Syeikh Abdul Qodir Jaelani (bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani) lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M, sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliydan.(Biografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali). Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali.

Masa Muda

Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sekitar tempat tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau, sehingga sekolah itu tidak muat menampungnya.

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syeikh Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

Perkataan ulama tentang beliau : Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir, beliau menjawab, ”Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin NubalaXX/442). Beliau adalah seorang ‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Di antaranya dapat diketahui dari perkataan Imam Ibnu Rajab.”

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik ‘ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas. (Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya.) Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi (Nama lengkapnya ialah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’i. Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.” (Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.). Imam Ibnu Rajab juga berkata, ”Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.”

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, ”Dia (Allah) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.” Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata ”Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Allah berada diatas ‘arsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah di atas arsy.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515). Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, ”Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (kekasih) yang tidak berada di atas aqidah (Imam) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, ”Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”(At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516).

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf.

Sam’ani berkata, ”Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, ”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ”Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi."

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, ”Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah,Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun. Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya.

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeikh Abdul Qadir Jaelani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah.

Awal Kemasyhuran Al-Jaba’I berkata bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani juga berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat, dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dan memakai lilin dan obor dan memenuhi tempat tersebut. Kemudian aku dibawa keluar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali RadhiAllahu anhum.

Kemudian Syaikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasululloh SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, ’Anakku, mengapa engkau tidak berbicara?’ ’Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?’ Beliau berkata, ’buka mulutmu..’ lalu beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”Bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik.” Setelah itu aku shalat dzuhur dan duduk dan mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, ’Buka mulutmu...’ Beliau lalu meniup 6 kali kedalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasululloh SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada RasuluLloh SAW. Kemudian akku berkata, ’Pikiran, sang penyelam, mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada, dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat’”. Beliau kemudian menyitir : "Idan untuk wanita seperti Laila seorang pria dapat membunuh dirinya, dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis."

Dalam beberapa manuskrip saya mendapatkan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, ‘kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang’. Akupun masuk Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka.’ ‘Sesungguhnya...,’ kata suara tersebut, ’mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu.’

‘Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku.’ tanyaku.

‘Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu...’ jawab suara itu.

Akupun menbuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorangpun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah. Suatu ketika saat aku berceramah , aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. ‘Apa ini dan ada apa?’ tanyaku. ‘Rasululloh SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat.’ jawab sebuah suara. Sinar tersebut makin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu aku melihat RasuLulloh SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, ’Wahai Abdul Qadir...’ Begitu gembiranya aku dengan kedatangan RasuluLloh SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Beliau meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. ’Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan RasuluLloh SAW?’ tanyaku kepadanya. ‘Sebagai rasa hormatku kepada Rasulullah SAW.' jawab beliau.

RasuluLlah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. ‘Apa ini?’ tanyaku. ‘Ini...’ jawab Rasulullah, ’adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian.’ Setelah itu, akupun tercerahkan dan mulai berceramah.

Saat Khidir as. datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku ’Engkau tidak akan sabar kepadaku...’ maka aku akan berkata kepadamu ‘Engkau tidak akan sabar kepadaku..’ Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, maka inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini Ar-Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.”

Al-Khattab pelayan Syaikh Abdul QAdir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad.” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir as lewat, maka akupun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti."

**Catatan**
Video Makam As Syech Sulthanul Auliya Abdul Qadir Al Jailani.