Sabtu, 21 November 2020

👥 CIRI-CIRI ORANG YANG MENDAPAT HIDAYAH ALLAH...

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاته

( Dibaca Pelan-pelan ya biar kita tambah ilmu Dan Kira-kira Antum dipoin yang mana jawabnya cukup didalam hati )

👥 CIRI-CIRI ORANG YANG MENDAPAT HIDAYAH ALLAH...

➡1. Dipahamkan perkara agama, dapat membedakan mana yang sesuai Al-Qur'an dan Hadits (Sunnah Rosululloh & sunnah Khulafaur Rasyidin).

➡2. Mulai mencari-cari (haus) kajian ilmu agama, senang menghadiri majlis ta'lim, senang mendengarkan ceramah agama, senang mempelajari Al-Qur'an dan Hadits.

➡3. Membenahi ibadah sholatnya sesuai sifat sholat Nabi dan sunnah-sunnahnya, membenahi cara wudhu'nya dan bacaan dzikir usai sholatnya dan lainnya.

➡4. Mulai menanyakan / mencari apa dalil dari suatu ibadah, tidak pernah lagi Taqlid Buta, tidak mau lagi ikut-ikutan saja.

➡5. Membenahi bacaan Al-Qur'an-nya dan menambah hafalannya dengan niat bisa hafal al-Qur'an.

➡6. Mulai berpenampilan sebagai seorang Mukmin. Bagi pria berjenggot dan bercelana diatas mata kaki (tidak isbal). Bagi wanita memakai hijab Syar'i.

➡7. Selalu sholat fardhu di awal waktu. Bagi laki-laki selalu sholat fardhu berjamaah di Masjid kecuali ada udzur syar'i. Bagi Perempuan sholat fardhu di rumah.

➡8. Semakin giat mengerjakan sholat sunnah, terutama sunnah rawatib, tahajud, witir, dhuha, dll.

➡9. Menjauhi dan meninggalkan perkara agama yang bid'ah dan syubhat.

➡10. Mulai rajin bersedekah walaupun sedikit dan meninggalkan Riba. Bagi laki-laki langsung berhenti merokok. Bagi perempuan langsung meninggalkan ghibah.

➡11. Tidak mengenyangkan perut saat makan minum, khawatir ibadah sholatnya akan terganggu. Mulai mengemari memakan buah kurma dan apa pun yang disukai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam.

➡12. Seringkali terbangun sendiri di sepertiga akhir malam, Qiyamul Lail.

➡13. Mulai menjalankan sunnah Rasulullah di kehidupan sehari-hari, menghafal doa masuk keluar rumah/ masjid/ kamar mandi, doa makan minum/ tidur bangun/ naik kendaraan, dsb.

➡14. Tidak mau lagi bersalaman dengan orang-orang yang bukan Mahramnya. Bagi laki-laki menundukkan pandangannya terhadap wanita. Bagi perempuan tidak mengunakan parfum yang berlebihan dan membantu kaum lelaki dalam menjaga pandangannya.

➡15. Sering mengingat Mati, bertambah baguslah persiapannya. Menanggalkan ilmu tenaga dalamnya dan semua ilmu bantuan dari JIN, hanya hafalan Al Qur'an dan pengetahuan Hadits pegangannya.

➡16. Selalu berbicara diatas kebenaran, menyampaikan yang benar, menjauhi debat (apalagi debat kusir dengan orang-orang Jahil/ Bodoh)

➡ 17. Sangat senang berada di bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. 

⁉ Yang mana poin-poinmu saudaraku, hitunglah sendiri di dalam hati kemudian tambahkan/ tingkatkan ketakwaanmu. Tapi, ingat... rahasiakan ketakwaanmu hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Semoga Alloh senantiasa memberikan Hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

🌍 Sumber : Group Doa & Dzikir.
Manhaj Salaf.

#Copas.

Silahkan gabung.
https://www.facebook.com/groups/318551779366723/?ref=share

Rabu, 18 November 2020

RUKYAH MANDIRI

✅Allah berfirman, “Katakanlah, ‘AlQur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang beriman.'” (Qs. Fushilat: 44)

✅RUKIYAH MANDIRI 
RUKIYAHLAH DIRI ANDA SENDIRI 
KALAU PUNYA ANAK BAYI REWEL JANGAN DIBAWA KE USTADZ, KIAI
COBA DIRUKIYAH SENDIRI 
RUKIAH MANDIRI BUKTI KETAUHIDAN KEPADA ALLAH KUAT 
INSYA ALLAH 
CARANYA 

✅Letakkan tangan di bagian tubuh yang sakit
Baca “bismillah” 3 kali
Lanjutkan dengan membaca doa berikut 7 kali,
أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
(A’uudzu bi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru )
“Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan.”
Dalilnya:

♻Dari Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengadukan rasa sakit di badannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam..  Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya,  “Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu,”  lalu beliau ajarkan doa di atas.
 (HR. Muslim 5867 dan Ibnu Hibban 2964)

♻ Membaca 6 surat Ruqyah
Inilah surat dan ayat untuk ruqyah sesuai sunnah Rasul.
1. AlFatihah (3x) tiup 3x
2. Ayat Kursi (3x) tiup 3x
3. AlKaafirun (3x) tiup 3x
4. An Nass (3x) tiup 3x
5. Al Falaq (3x) tiup 3x
6. Al Ikhlas (3x) tiup 3x

✅Gabungkan dua telapak tangan, lalu dibacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, ayat kursi, al kaafirun,alfatihah
lalu tiupkan ke kedua telapak tangan. Kemudian usapkan kedua telapak tangan itu ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan.

✅Kemudian diulang sampai tiga kali.
Ini berdasarkan hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, yang menceritakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelulm tidur. (HR. Bukhari 5017 dan Muslim 2192).

♻Setiap selesai membaca, tiupkan ke telapak tangan. 
Bisa juga ditiupkan pada air putih, makanan, dan apapun yang ingin Anda ruqyah.

♻Setelah 3 kali ditiupkan 3x ke telapak tangan. 
Usapkan ke seluruh badan untuk mendeteksi sumber sakit. 

♻Usapkan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Bahkan pada kemaluan juga. Usapkan dengan penuh keyakinan. 

♻. Mendeteksi sumber sakit
Setelah mengusap seluruh bagian tubuh, biasanya jin/setan bereaksi dengan tanda-tanda sebagai berikut.

♻Ada sakit pada bagian tertentu. Contohnya dada. 

Mual dan muntah.
Rasa panas.
Merinding
Bersendawa
Rasa dingin.
Kesemutan
Badan bergerak dengan sendirinya
Ingin buang air besar maupun buang air kecil

♻Terus Usapkan
Usapkan terus dengan telapak tangan Anda bagian yang sakit tersebut sembari membaca ayat Kursi. 

♻Bacalah terus hingga rasa sakit tersebut hilang.
Catatan:

♻Ada kalanya kita perlu melakukan ruqyah mandiri secara rutin. Artinya harus dilakukan berulang-ulang hingga keluhan Anda benar-benar hilang. 

♻Untuk meruqyah rumah, kendaraan, kantor, ataupun tempat lainnya. Bacakan ayat ruqyah di atas. 

♻Lalu tiupkan pada air yang ditempatkan di baskom atau ember. 

♻Setelah itu masukan air pada alat semprotan. Kemudian semprotkan pada rumah Anda. 

Semprotkan pada semua ruangan rumah Anda. Termasuk lantai. 

🍀 Niatkan untuk meruqyah. Bacaan ruqyah harus diniatkan untuk meruqyah. Bukan yang lainnya. 
Kedudukan niat sangat penting. 
Dengan niat meruqyah, efek bacaan Quran dan doa Anda langsung memberikan dampak luar biasa. 

🍀 Ikhlas karena Allah. Semakin ikhlas hati Anda, semakin hebat efek bacaan Anda. 
Bahkan walaupun tanpa diniatkan meruqyah, ketika Anda membaca Quran dengan ikhlas akan memberikan efek pada tubuh.
Itulah yang banyak dirasakan beberapa pasien. 
Bacaan Quran yang ikhlas itu bisa membakar jin yang mengganggu. Oleh karena itu, tetapkan hati di atas keikhlasan.

🍀NIAT "Hancurkan dan Musnahkan semua sihir/setan yang ada ditubuh saya" . 

🍀 mungkin akan merasakan beberapa gejala, sepert : kesemutan di punggung, tiba tiba kepal pusing, mules ingin buang air, sakit perut, sendawa, dll. Maka tetap usap dengan tangan dari kepala sampai kaki ( tangan,kaki, punggung, perut, daerah sekitar kemaluan,dll) dengan telapak tangan yang sudah di bacakan ayat ayat ruqyah tadi

Semoga bermanfaat 
Wallahu a lam 

Disusun oleh Humaira Medina

Kamis, 12 November 2020

BAGAIMANA JIKA “KETURUNAN” RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM YANG SEKARANG DAN SAAT INI YANG DIKENAL DENGAN ISTILAH HABAIB/DZURIYAT MELAKUKAN KESYIRIKAN, KEBIDAHAN, KEMUNGKARAN, KEMAKSIATAN, KESESATAN DAN KEBATILAN


.
Bismilahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
.
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Sulaiman : telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu 'anha : bahwa orang-orang Qurasy diresahkan seorang wanita bani Makhzum yang mencuri, kemudian mereka berujar : “Tidak ada yang bisa bicara dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak ada yang berani (mengutarakan masalah ini) kepadanya selain Usamah bin Zaid” Akhirnya Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berbicara kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi Rasulullah bertanya : "Apakah kamu hendak memberikan syafa'at (pembelaan/pertolongan) dalam salah satu perkara had (hukuman) Allah ?" kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan berkhutbah,
.
"Wahai manusia, hanya saja orang-orang sebelum kalian tersesat karena, sesungguhnya mereka jika mencuri orang terhormat mereka membiarkannya, namun jika yang mencurinya orang lemah, mereka menegakkan hukuman terhadapnya. demi allah, kalaulah Fathimah binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mencuri, niscaya Muhammad yang memotong tangannya."
.
- HR. Bukhari no. 3965, 6290 | Fathul Bari no. 4304, 6788, Muslim no. 3196, 3167 | Syarh Shahih Muslim no. 1688, Tirmidzi no. 1350 | no. 1430 dan Darimi no. 2200 | no. 2348. Sanad dan lafazh diatas milik Bukhari no. 6290 | Fathul Bari no. 6788
.
Hadits diatas menunjukkan bahwasannya Ahlu Bait atau yang sekarang dikenal dengan istilah Habaib atau Dzuriyah atau yang dikenal dengan “Keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” TIDAKLAH MENDAPATKAN TEMPAT DAN HAK ISTIMEWA JIKA SUDAH MELAKUKAN SUATU KESYIRIKAN, KEBIDAHAN, KEMUNGKARAN, KEMAKSIATAN, KESESATAN DAN KEBATILAN MAKA IA HARUS DIHUKUM SESUAI DENGAN KETENTUAN DAN BATAS HUKUM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja' bin Makhlad seluruhnya dari Ibnu 'Ulayyah, Zuhair berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim : telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan : telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan dia berkata,
.
"Pada suatu hari saya pergi ke Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam. Hai Zaid, kamu telah memperoleh kebaikan yang   banyak.  Kamu pernah melihat Rasulullah. Kamu   pernah mendengar sabda beliau. Kamu pernah bertempur menyertai beliau. Dan kamu pun pernah shalat jama'ah bersama beliau. Sungguh kamu  telah  memperoleh kebaikan yang banyak. OIeh karena itu hai Zaid. sampaikanlah kepada kami apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam! Zaid bin Arqam berkata; “Hai kemenakanku, demi Allah sesungguhnya aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Oleh karena itu, apa yang bisa aku sampaikan, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan. maka janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya."  Kemudian Zaid bin Arqam meneruskan perkataannya. Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan berpidato di suatu tempat air yang  disebut Khumm, yang terletak   antara   Makkah   dan   Madinah.   Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan serta berkata,
.
“Ketahuilah hai saudara-saudara, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku, malaikat pencabut nyawa, akan datang kepadaku dan aku pun siap menyambutnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu:
.
PERTAMA, AL-QUR 'AN YANG BERISI PETUNJUK DAN CAHAYA. OLEH KARENA ITU, LAKSANAKANLAH ISI AL QUR'AN DAN PEGANGLAH.” Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Al Qur'an.
.
“KEDUA, KELUARGAKU (AHLU BAIT), AKU INGATKAN KEPADA KALIAN SEMUA AGAR BERPEDOMAN KEPADA HUKUM ALLAH (AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH) DALAM MEMPERLAKUKAN KELUARGAKU." (BELIAU UCAPKAN SEBANYAK TIGA KALI).”
.
Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn : "HAI ZAID, SEBENARNYA SIAPAKAH AHLUL BAIT (KELUARGA) RASULULLAH ITU ? BUKANKAH ISTRI-ISTRI BELIAU ITU ADALAH AHLU BAIT (KELUARGA) NYA?" ZAID BIN ARQAM BERKATA : "ISTRI-ISTRI BELIAU ADALAH AHLU BAITNYA. TAPI AHLU BAIT BELIAU YANG DIMAKSUD ADALAH ORANG YANG DIHARAMKAN UNTUK MENERIMA ZAKAT SEPENINGGALAN BELIAU." HUSAIN BERTANYA : "SIAPAKAH MEREKA ITU ?" ZAID BIN ARQAM MENJAWAB : "MEREKA ADALAH KELUARGA ALI, KELUARGA AQIL. KELUARGA JA'FAR, DAN KELUARGA ABBAS." HUSAIN BERTANYA; "APAKAH MEREKA SEMUA DIHARAMKAN UNTUK MENERIMA ZAKAT?" ZAID BIN ARQAM MENJAWAB."YA."
.
- HR. Muslim  no. 4425 | Syarah  Shahih  Muslim no. 2408
.
Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
.
“KELUARGAKU (AHLU BAIT), AKU INGATKAN KEPADA KALIAN SEMUA AGAR BERPEDOMAN KEPADA HUKUM ALLAH (AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH) DALAM MEMPERLAKUKAN KELUARGAKU." (BELIAU UCAPKAN SEBANYAK TIGA KALI).”
.
Maksudnya adalah memperlakukan Ahlu Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan ketentuan dan batasan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang karenanya jika keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekarang saat ini, baik yang memang keturunan beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- atau hanya yang sekedar mengaku-aku atau diaku-aku, telah berbuat KESYIRIKAN, KEBIDAHAN, KEMUNGKARAN, KEMAKSIATAN, KESESATAN DAN KEBATILAN maka harus dihukum atau ditegakkan hukum sesuai dengan ketentuan dan batasan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjanji memotong tangan putri tercintanya, Fathimah radhiyallahu ‘anha jika memang mencuri.
.
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Sulaiman : telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha : bahwa orang-orang Qurasy diresahkan seorang wanita bani Makhzum yang mencuri. kemudian mereka berujar : Tidak ada yang bisa bicara dengan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan tidak ada yang berani (mengutarakan masalah ini) kepadanya selain Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Akhirnya Usamah berbicara kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi Rasulullah bertanya : "Apakah kamu hendak memberikan syafa'at (pembelaan) dalam salah satu perkara had (hukuman) Allah ?" kemudian beliau berdiri dan berkhutbah,
.
"Wahai manusia, hanyasanya orang-orang sebelum kalian tersesat karena, sesungguhnya mereka jika mencuri orang terhormat mereka membiarkannya, namun jika yang mencurinya orang lemah, mereka menegakkan hukuman terhadapnya. DEMI ALLAH, KALAULAH FATHIMAH BINTI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENCURI, NISCAYA MUHAMMAD YANG MEMOTONG TANGANNYA."
.
- HR. Bukhari no. 3965, 6290 | Fathul Bari no. 4304, 6788, Muslim no. 3196, 3167 | Syarh Shahih Muslim no. 1688, Tirmidzi no. 1350 | no. 1430 dan Darimi no. 2200 | no. 2348. Sanad dan lafazh diatas milik Bukhari no. 6290 | Fathul Bari no. 6788
.
PERLU DICATAT DISINI, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam SAJA tidak memberikan keringanan hukuman jika yang melakukannya adalah putrinya sendiri yaitu Fathimah radhiyallahu ‘anha, APALAGI kepada yang memang benar keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sekarang saat ini atau yang hanya mengaku-aku atau yang diaku-aku Habaib/Dzuriyah sebagai merk dagang jualan yang sekarang banyak bermunculan yang melakukan dan menyerukan umat untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu kesyirikan baik dalam bentuk aqidah atau amalan perbuatan, dan bid’ah dalam syari’at, baik dalam aqidah, i’tiqad, pemahaman dan amalan perbuatan
.
DAN KETAHUILAH, jika dibandingkan bahwasannya mencuri hanyalah merugikan satu orang saja yang dicuri hartanya SEDANGKAN menyerukan dan mengajak umat kepada kesyirikan baik dalam bentuk aqidah, i’tiqad, pemahaman dan amalan perbuatan, ATAU menyerukan dan mengajak umat kepada bid’ah dalam syari’at, baik dalam aqidah, i’tiqad, pemahaman dan amalan perbuatan DAMPAK KERUGIANNYA SANGATLAH BESAR YANG AKAN DITERIMA OLEH SELURUH UMAT ISLAM DAN ISLAM ITU SENDIRI YAKNI MERUSAK DAN MENGHANCURKAN KESEMPURNAAN ISLAM DAN KEMURNIAN SUNNAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN DARI DALAM SEHINGGA MENJEBAK UMAT DI DALAM KERANCUAN (SYUBHAT) YANG TIDAK DAPAT MEMBEDAKAN DAN MEMISAHKAN ANTARA TAUHID DAN SYIRIK, SUNNAH DAN BID’AH, PETUNJUK DAN KESESATAN, PEMAHAMAN YANG HAQ DAN PEMAHAMAN YANG BATIL, DAN MENJEBAK UMAT DALAM PERANGKAP KESESATAN DAN KEBATILAN AQIDAH, MANHAJ, I’TIQAD DAN PEMAHAMAN.
.
Maka hal seperti ini harus dilawan dan ditentang bahkan dihapuskan dan dihancurkan demi menjaga kesempurnaan Islam dan kemurnian Sunnah sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid dan Abu Bakar bin an-Nadlr serta Abd bin Humaid dan lafazh tersebut milik Abd. Mereka berkata : telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'd dia berkata : telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih bin Kaisan : dari al-Harits : dari Ja'far bin Abdullah bin al-Hakam : dari Abdurrahman bin al-Miswar : dari Abu Rafi' : dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
.
"Tidaklah seorang Nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya melainkan dia memiliki Pembela dan Sahabat yang memegang teguh Sunnah-Sunnah dan mengikuti perintah-perintahnya, KEMUDIAN DATANGLAH SETELAH MEREKA SUATU KAUM YANG MENGATAKAN SESUATU YANG TIDAK MEREKA LAKUKAN, DAN MELAKUKAN SESUATU YANG TIDAK DIPERINTAHKAN. Barangsiapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan lisan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan hati melawan mereka maka dia seorang mukmin, dan setelah itu tidak ada keimanan sebiji sawi."
.
- HR. Muslim no. 71 | Syarh Shahih Muslim no. 50
.
Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
“DAN MENGAMALKAN APA YANG TIDAK DIPERINTAHKAN.”
.
Maksudnya adalah para penyeru, pelaku bid’ah dan ahlinya karena sudah sangat ma’ruf bahwa para penyeru, pelaku bid’ah dan ahlinya mengamalkan ajaran, pemahaman dan amalan menyimpang dan menyesatkan, baik aqidah, manhaj, i’tiqad, amalan dan pemahaman yang tidak pernah ada dasar contohnya, tidak  pernah ada petunjuknya, tidak  pernah ada ajarannya dan tidak pernah ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wsallam dan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhu ajma’in, khususnya Al-Khulafa Ar-Rasyidin.
.
Dan apa Sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
.
“MAKA BARANGSIAPA YANG BERJIHAD DENGAN TANGAN MELAWAN MEREKA MAKA DIA SEORANG MUKMIN, BARANGSIAPA YANG BERJIHAD DENGAN LISAN MELAWAN MEREKA MAKA DIA SEORANG MUKMIN, BARANGSIAPA YANG BERJIHAD DENGAN HATI (DOA) MELAWAN MEREKA MAKA DIA SEORANG MUKMIN, DAN SETELAH ITU TIDAK ADA KEIMANAN SEBIJI SAWI.”
.
Jadi merupakan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta suatu kewajiban atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan derajat paling tinggi dalam amar ma’ruf nahi mungkar bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk melawan, menentang, menghapuskan dan menghancurkan seruan para penyeru, pelaku dan ahli bid’ah, kesyirikan, kesesatan dan kebatilan yang menyesatkan umat baik dalam bentuk aqidah, manhaj, i’tiqad, amalan dan pemahaman.
.
KETAHUILAH ! penyeru kesyirikan, kebidahan, kesesatan dan kebatilan dalam aqidah, manhaj, i’tiqad, pemahaman dan amalan yang berujung kepada Neraka-Nya BISA SIAPA SAJA, baik orang awam hingga yang memang benar-benar keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sekarang saat ini yang dikenal dengan istilah Habaib/Dzuriyyat atau yang hanya sekedar mengaku-aku atau yang diaku-aku oleh pengikutnya berdasarkan KEUMUMAN DALIL PARA DAI PEMBAWA KE PINTU NERAKA YANG DISABDAKAN OLEH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.
.
Telah bercerita kepada kami Yahya bin Musa : telah bercerita kepada kami Al Walid berkata : telah bercerita kepadaku Ibnu Jabir berkata : telah bercerita kepadaku Busr bin 'Ubaidullah Al Hadlramiy berkata : telah bercerita kepadaku Abu Idris Al Khawlaniy bahwa dia mendengar dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata : “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara-perkara kebaikan sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku takut akan menimpaku. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah ! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan keburukan, karena itu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) ini kepada kami. Mungkinkah sesudah kebaikan akan timbul keburukan ?” Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“Ya !” Aku bertanya lagi : “Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan ?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“YA ! AKAN TETAPI DI DALAMNYA ADA “DUKHN” (KOTORANNYA)” Saya bertanya : “Apa kotorannya itu ?” Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasalam menjawab,
.
“YAITU SUATU KAUM YANG MEMIMPIN TANPA MENGIKUTI PETUNJUKKU, KAMU MENGENALNYA TAPI SEKALIGUS KAMU INGKARI.” Saya bertanya : “Apakah setelah kebaikan (yang ada kotorannya itu) akan timbul lagi keburukan ?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“YA. YAITU PARA PENYERU YANG MENGAJAK KE PINTU JAHANAM. SIAPA YANG MEMENUHI SERUANNYA MAKA AKAN DILEMPARKAN KE DALAMNYA.” Aku kembali bertanya : “Wahai Rasulullah ! Berikan sifat-sifat (ciri-ciri) mereka kepada kami ?.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“MEREKA ITU BERASAL DARI KULIT-KULIT KALIAN DAN BERBICARA DENGAN BAHASA KALIAN.”
.
- HR. Bukhari no. 3338 dan 6557 | Fathul Bari no. 3606 dan 7084 dan Ibnu Majah no. 3969 | no. 3979. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari no. 3338 | Fathul Bari no. 3606
.
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna : telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Maslim : telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Yazid bin Jabir : telah menceritakan kepadaku Busr bin 'Ubaidullah Al Hadlrami bahwa dia mendengar Abu Idris Al Haulani berkata : saya mendengar dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata : “Biasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam tentang kebajikan. Namun justru saya bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena saya khawatir akan menimpaku. Lalu saya bertanya : “Wahai Rasulullah ! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan kejahatan, karena itu Allah Ta’ala menurunkan kebaikan (Islam) ini kepada kami. Mungkinkah sesudah ini akan timbul kejahatan ?” Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“Ya !” Saya bertanya lagi : “Apakah setelah itu ada lagi kebaikan ?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
.
“YA ! AKAN TETAPI ADA CACATNYA.” Saya bertanya : “Apa cacatnya ?” Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasalam bersabda,
.
“KAUM YANG MENGAMALKAN SUNNAH SELAIN DARI SUNNAHKU, DAN MEMIMPIN TANPA HIDAYAHKU, KAMU TAHU MEREKA TAPI KAMU INGKARI” Saya bertanya : “Apakah setelah itu akan ada kejahatan lagi ?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“YA. YAITU MUNCULNYA ORANG-ORANG (PARA DA’I) YANG MENYERU MENUJU KE NERAKA JAHANNAM, BARANGSIAPA MEMENUHI SERUANNYA MAKA IA DILEMPARKAN KE DALAM NERAKA ITU.” Maka saya bertanya lagi : “Wahai Rasulullah ! Tunjukanlah kepada kami ciri-ciri mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
.
“BAIK. KULIT MEREKA SEPERTI KULIT KITA DAN BERBICARA DENGAN BAHASA KITA.”
.
- HR. Muslim no. 3434 | Syarah Shahih Muslim no. 1847
.
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
.
“YA ! AKAN TETAPI DI DALAMNYA ADA “DUKHN” (KOTORANNYA)” dan “YA ! AKAN TETAPI ADA CACATNYA.”
.
Yakni kekotoran dan kekeruhan karena “dukhn” diartikan sebagai asap, yang menunjukkan bahwa kebaikan yaitu Islam sudah tertutupi oleh kabut asap dan tidak bersih lagi, telah bercampur dengan kejahatan dan keburukan sehingga kebaikan itu menjadi keruh dan kotor.
.
Dan yang dimaksud dengan kekotoran dan kekeruhan di atas langsung dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjawab pertanyaan Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu,
.
“KAUM YANG MEMIMPIN TANPA MENGIKUTI PETUNJUKKU” dan “KAUM YANG MENGAMALKAN SUNNAH SELAIN DARI SUNNAHKU, DAN MEMIMPIN TANPA HIDAYAHKU”
.
Inilah kekeruhannya, kotorannya dan cacatnya yaitu BID’AH. Dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka telah beramal dengan cara mereka sendiri BUKAN DENGAN Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian juga mereka tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Abdul Wahhab bin Abdul Majid : dari Ja’far bin Muhammad : dari Bapaknya : dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
.
“Amma Ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara perkara yang diada-adakan dan setiap Bid’ah adalah sesat.”
.
- HR. Muslim no. 1435 | Syarh Shahih Muslim no. 867, Ibnu Majah no. 44 | no. 45, Nasa’i no. 1294 | no. 1311, Darimi no. 208 | no. 212, Ahmad no. 13815, 14455 dan Al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, I/373 no. 85. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim.
.
Telah mengabarkan kepada kami 'Utbah bin 'Abdullah dia berkata : telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak : dari Sufyan : dari Ja'far bin Muhammad : dari Bapaknya : dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Apabila Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkhutbah, maka beliau memuji dan menyanjung Allah dengan hal-hal yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda,
.
“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah Bid'ah dan setiap Bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka.”
.
- HR. Nasa’i no. 1560 | no. 1578
.
DAN BID’AH ADALAH LAWAN DARI SUNNAH, SUNNAH ADALAH LAWAN DARI BID’AH sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan Ad Dimasyqi berkata : telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata : telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al 'Ala` berkata : telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Al Mutha' ia berkata; aku mendengar 'Irbadl bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
.
"Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski kepada seorang budak Habasyi. Dan sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat dahsyat, maka hendaklah kalian berpegang dengan SUNNAHKU dan Sunnah Para Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham, dan jangan sampai kalian mengikuti perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya semua BID'AH ITU ADALAH SESAT.”
.
- HR. Ibnu Majah no. 42 | no. 42, Abu Dawud no.  3991 | no. 4607, Tirmidzi no. 2600 | no. 2676, Ahmad no. 16521, 16522 dan Darimi no. 95 | no. 96. Kitab ash-Shahihah no. 2735 dan no. 937 (1746 dan 2474). Sanad dan Lafazh di atas milik Ibnu Majah
.
Dari hadits yang mulia ini kita mengetahui akan bahaya dan kerusakan bid’ah dalam syari’at, penyerunya dan ahlinya yang dapat mengotori kesempurnaan risalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan merusak Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga tidak menjadi bersih dan murni lagi.
.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
“YAITU MUNCULNYA ORANG-ORANG (PARA DA’I) YANG MENYERU MENUJU KE NERAKA JAHANNAM.” dan “YAITU PARA PENYERU YANG MENGAJAK KE PINTU JAHANAM”
.
Du’aatun bentuk jamak dari da’i. Imam Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata,
.
“Para ulama menjelaskan bahwa mereka ini adalah PARA PEMIMPIN YANG MENYERUKAN KEPADA BID’AH ATAU KESESATAN LAINNYA, seperti Khawarij, Al-Qaramithah dan tokoh-tokoh pembawa fitnah (pemikiran sesat).”
.
- Syarh Shahih Muslim, XII/237
.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah (wafat 852 H) berkata,
.
“Kata du’at merupakan bentuk jamak dari kata da’i. Maksudnya adalah penyeru kepada kebatilan (kesyirikan, kebidahan dan kesesatan).”
.
- Fathul Bari, XXXV/118
.
Sungguh sangat jelas sekali bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang, tokoh, pembesar, pemimpin, petinggi, da’i, yang “diulamakan”, yang bergelar habaib sekalipun ataupun ustadz yang menyerukan kepada bid’ah, kesyirikan, kesesatan, kebatilan dan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta pemikiran-pemikiran sesat menyesatkan dalam aqidah, manhaj, i’tiqad dan pemahaman yang mengotori serta merusak risalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kesempurnaan Islam dan kemurnian Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana juga KEUMUMAN SABDA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAHI WASALLAM MENGENAI AL-A`IMMAH AL-MUDHILLUN yang ditakuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas umat beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam-
.
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id : telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Abu Asma` Ar Rahbi dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
.
"Yang aku takutkan atas umatku adalah pemimpin-pemimpin / imam-imam yang menyesatkan.”
.
- HR. Tirmidzi no. 2155 | no. 2229
.
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb dan Muhammad bin Isa keduanya berkata : telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Abu Asma dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
“Sesungguhnya yang saya khawatirkan (akan merusak) umatku hanyalah para imam (tokoh) yang menyeru kepada kesesatan.”
.
- HR. Abu Dawud no. 3710 | no. 4252
.
SIAPAKAH AL A`IMMAH AL-MUDHILLUN ?
.
Begitu bahayanya para pemimpin yang menyesatkan ini, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam mensifatinya dengan menyesatkan. al-A`immah al-Mudhillûn  berasal dari bahasa Arab yang tersusun dari dua Kosa kata yaitu al-A`immah dan al-Mudhillun
.
Kata al-A`immah adalah bentuk plural dari kata al-Imâm yang berarti yang diikuti oleh sebuah kaum dan pemimpin mereka serta orang yang mengajak mereka untuk mengikuti sebuah perkataan atau perbuatan atau keyakinan (Mulla Ali Qari, Mirqâtul Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, VIII/3389
.
Al Munawi rahimahullah (wafat 1031 H) berkata,
.
“Imam-imam yang menyesatkan (Al-A`immah Al-Mudhillun) artinya seburuk-buruk pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan menyelewengkan kebenaran.”
.
- At-Taisir Bisyarhil Jami Ash Shaghir, II/728
.
Al Munawi rahimahullah (wafat 1031 H) berkata,
.
“Para imam yang menyesatkan adalah yang berpaling dari kebenaran dan memalingkan orang lain darinya. Kata ‘aimmah’ sendiri merupakan bentuk jamak dari kata ‘imam’ yang maknanya adalah orang yang dijadikan panutan oleh suatu kaum dan menjadi pemimpin mereka, dan juga bermakna siapa saja yang mengajak kepada sebuah ucapan, perbuatan, atau keyakinan. Jadi bisa bermakna para pemimpin dalam bidang ilmu dan juga penguasa. Seorang penguasa jika tersesat dari sikap adil dan menyelisihi kebenaran maka semua orang awam akan mengikutinya, karena takut terhadap kekuasaannya dan mengharapkan kedudukannya. SEDANGKAN PEMIMPIN DALAM BIDANG ILMU TERKADANG TERJATUH PADA SYUBHAT DAN TERTIMPA KETERGELINCIRAN, LALU DIA TERSESAT DENGAN SEBAB HAWA NAFSU ATAU BID’AH, KEMUDIAN KAUM MUSLIMIN YANG AWAM MENGIKUTINYA KARENA TAQLID, MEREMEHKAN DOSA KARENA MEMPERTURUTKAN HAWA NAFSU, ATAU BEREBUTAN MENGEJAR DUNIA DARI HARTA PENGUASA, ATAU DENGAN BERBUAT MAKSIAT, SEHINGGA ORANG-ORANG AWAM TERTIPU DENGANNYA.”
.
- Faidh Al Qadir, II/653
.
As-Shan’ani rahimahullah (wafat 1182 H) berkata, 
.
“Ada juga ulama yang menyatakan : al-Imâm adalah orang yang dicontoh dan diikuti dalam perkataan dan perbuatannya, baik sesat atau tidak sesat. Hal ini ditakutkan atas umat ini karena ia diikuti oleh orang lalu menyesatkan orang banyak dengan kesesatannya. Ada juga yang menyatakan: Yang diinginkan adalah orang yang diikuti sehingga mencakup para ulama, karena kesesatan mereka menjadi sebab kesesatan orang jahil.”
.
- At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, IV/174
.
Al Adzim Abadi rahimahullah (wafat 1320 H) berkata,
.
“Sedangkan kata al-Mudhillûn adalah bentuk plural dari al-Mudhil yang berarti menyesatkan atau mengajak kepada kesesatan. Oleh karena itu penulis kitab ‘Aunul Ma’bûd t menyatakan: al-A`immah al-Mudhillîn adalah para penyeru kepada kebid’ahan, kefasikan dan kefajiran (kebatilan/keburukan)”
.
- Aunul Ma’bud XI/218. Lihat juga Tuhfatul Ahwadzi, VI/401
.
Al-Mubarakfuri rahimahullah (wafat 1427 H) berkata,
.
“Imam-imam yang menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada BID’AH-BID’AH, KEFASIKAN (PELANGGARAN-PELANGGARAN) DAN FUJUR (KEJAHATAN-KEJAHATAN).”
.
- Al Mubarakafuri, Tuhfatul Ahwadzi, VI/401
.
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh (wafat 1285 H) berkata,
.
“Mereka adalah para pemimpin, tokoh agama dan ahli ibadah YANG MENGARAHKAN MANUSIA TANPA ILMU (pemahaman agama yang benar) sehingga mereka menyesatkan manusia sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan mereka (orang-orang yang sesat) berkata “Ya Rabb Kami ! Sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahzab [33] : 67”
.
- Fathul Majid, hlm 323
.
Sehingga telah sah bahwasannya “Para Da’i yang mengajak ke pintu Neraka” adalah orang, tokoh, pembesar, pemimpin, petinggi agama, ulama atau yang “diulamakan” yang menyerukan kepada Bid’ah dalam Syari’at, yang dari Bid’ah dalam Syari’at tersebut berujung menciptakan kesesatan dan kebatilan dalam aqidah, amaliyah, manhaj (metode beragama) dan pemahaman serta pemikiran yang sesat yang menyelewengkan, merubah dan merusak risalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merusak kesempurnaan Islam dan merusak kemurnian Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik yang bersifat haqiqiyah, idhaifiyyah ataupun tarkiyah dan juga berujung kepada kesyirikan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya,
.
“YA. YAITU MUNCULNYA ORANG-ORANG (PARA DA’I) YANG MENYERU MENUJU KE NERAKA JAHANNAM, BARANGSIAPA MEMENUHI SERUANNYA MAKA IA DILEMPARKAN KE DALAM NERAKA ITU.”
.
Yakni, barangsiapa yang mendengarkan dan mengikuti seruan mereka yakni orang, tokoh, pembesar, pemimpin, petinggi agama, ulama atau yang “diulamakan” yang menyerukan kepada Bid’ah dalam Syari’at, maka ia akan dilemparkan ke dalam Neraka.
.
Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah (wafat 1421 H) berkata,
.
“Mereka adakah para penyeru menuju gerbang pintu neraka Jahanam yang senantiasa mengajak umat manusia. Barangsiapa yang mengikutinya maka mereka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ANCAMAN INI BERLAKU (UMUM) BAGI PARA PELAKU KESESATAN, BID’AH DAN FITNAH.”
.
- Syarh Shahih Al Bukhari , IX/1060
.
Dan ini juga telah diberitakan secara jelas dan terang benderang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,
.
“Pada hari muka mereka dibolak-balikan dalam Neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata “Ya Rabb kami ! Sesungguhnya kami dulu telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Wahai Rabb kami ! Timpakanlah kepada mereka dua kali dari adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
.
- QS. Al Ahzab [33] : 66-68
.
Tafsir Muyassar,
.
“Orang-orang kafir (ingkar) berkata di hari Kiamat, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami menaati imam-imam (ulama) kami dalam kesesatan dan tokoh-tokoh kami dalam kesyirikan, lalu mereka menyelewengkan kami dari jalan petunjuk dan iman. Wahai Rabb kami, siksalah mereka dengan siksalah mereka dengan siksaan dua kali lipat siksaan yang Engkau timpakan kepada kamu dan usirlah mereka dengan keras dari rahmat-Mu.”
.
- Tafsir Muyassar, II/378
.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) berkata,
.
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Pada hari muka mereka dibolak-balikan dalam Neraka” Yaitu mereka dijerumuskan di dalam api Neraka (di) atas wajah-wajah mereka serta memanggang wajah-wajah mereka di Neraka Jahanam. Mereka berkata dalam keadaan demikian dengan penuh angan-angan, ““Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang kafir (ingkar) itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim (QS. Al Hijr : 2). Demikianlah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang mereka, bahwa mereka menginginkan seandainya dahulu mereka menaati Allah dan menaati (Sunnah) Rasul di dunia.
.
“Dan mereka berkata “Ya Rabb kami ! Sesungguhnya kami dulu telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”
.
Thawus bin Kaisan berkata : yaitu pembesar dan para ulama. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa kami mengikuti para pemimpin dan pembesar kami, yakni para ulama kami dan kami menentang Rasul dengan keyakinan bahwa pemimpin (ulama) kami berada dalam jalan petunjuk, dan sekarang ternyata mereka bukan berada dalam jalan petunjuk. 
.
“Wahai Rabb kami ! Timpakanlah kepada mereka dua kali dari adzab” Yaitu, dengan sebab kekafiran (keingkaran) dan tipu daya mereka kepada kami. “Dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
.
- Tafsir min Ibnu Katsir, VI/540
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi rahimahullah (wafat 1373 H) berkata,
.
“Pada hari muka mereka dibolak-balikan dalam Neraka” dan mereka pun merasakan panasnya, dan sengatannya pun makin dasyat menimpa mereka, dan mereka menyesali amal yang telah mereka lakukan dahulul dan “mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Maka kami tentu selamat dari azab ini, dan kami tentu berhak menerima seperti halnya orang-orang yang taat, pahala yang berlipat ganda. Namun semua itu adalah angan-angan yang waktunya telah berlalu, maka ia sama sekali tidak berguna bagi mereka kecuali sebagai penyesalan, kesedihan, kepiluan dan kepedihan.
.
“Dan mereka berkata “Ya Rabb kami ! Sesungguhnya kami dulu telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami” dan kami bertaqlid kepada mereka (ulama, pemimpin, pembesar, pemuka, petinggi dan tokoh agama yang sesat) dalam kesesatan mereka “lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala
.
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu telah datang kepadaku. Dan syetan memang pengkhianat manusia. (Al Furqan [25] : 27-29).”
.
Setelah mereka mengetahui bahwa mereka dan para pemimpin mereka sudah pasti menerima azab, maka mereka ingin menghinakan orang-orang yang telah menyesatkan mereka, maka mereka mengatakan, “Wahai Rabb kami ! Timpakanlah kepada mereka dua kali dari adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
.
- Taisir Al Karim Ar Rahman, V/653-6454
.
juga dalam firman-Nya,
.
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku ! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu telah datang kepadaku. Dan syetan memang pengkhianat manusia.”
.
- QS. Al Furqan [25] : 27-29
.
Dan juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginan (hawa nafsu) nya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”
.
- QS. Al A’raf [7] : 175-176
.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah (wafat 751 H) berkata,
.
“Para ulama Su’ (ulama yang sesat dan menyesatkan) mengikuti hawa nafsu, MEREKA PASTI BERBUAT BID’AH DALAM AGAMA DAN MELAKUKAN KEBURUKAN. Dengan demikian, kedua perbuatan ini terhimpun di dalam diri mereka. Ini terjadi karena mengikuti hawa nafsu membuat mata hati menjadi buta, sehingga tidak dapat membedakan mana yang Sunnah dan mana yang Bid’ah, atau, hawa nafsu itu akan memutarbalikkan hakikat keduanya, hingga yang Bid’ah dikatakan Sunnah dan yang Sunnah dikatakan Bid’ah. Demikianlah bencana yang akan menimpa para Ulama apabila mereka mengutamakan dunia serta menuruti hawa nafsu dan syahwatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, BERITA ORANG YANG TELAH KAMI BERIKAN AYAT-AYAT KAMI KEPADANYA, KEMUDIAN DIA MELEPASKAN DIRI DARI AYAT-AYAT ITU, LALU DIA DIIKUTI OLEH SYETAN (SAMPAI DIA TERGODA), MAKA JADILAH DIA TERMASUK ORANG YANG SESAT. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat) nya dengan (ayat-ayat) itu, TETAPI DIA CENDERUNG KEPADA DUNIA DAN MENGIKUTI KEINGINAN (HAWA NAFSU) NYA (YANG RENDAH), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al A’raf [7] : 175-176)
.
Orang yang seperti digambarkan dalam ayat itulah yang disebut dengan ulama Su’ (ulama yang sesat dan menyesatkan).”
.
- Fawaid Al Fawaid, hlm 342-343
.
Sehingga tidak setiap manusia yang dijuluki dan diberi gelar habib, ulama, imam, pembesar agama, pemuka agama, petinggi agama dan tokoh agama oleh para pengikut fanatiknya ataupun yang berjubah seperti ulama, imam, pembesar agama, pemuka agama, petinggi agama dan tokoh agama, walau setinggi apa pun gelarnya, titelnya, pendidikannya dan kedudukannya di mata masyarakat, itu akan membawa manusia kepada jalan yang lurus, petunjuk, jalan Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan secara haq bahwa terdapat ulama, imam, pemuka, pembesar, petinggi dan tokoh agama yang menyesatkan dan menyelewengkan umat dari jalan yang lurus, petunjuk, jalan Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam menuju kepada kesyirikan, kebidahan, kerancuan (syubhat), kesesatan dan kebatilan. Begitu pun juga ulama, imam, pemuka, pembesar, petinggi dan tokoh agama tersebut telah disesatkan dari jalan yang lurus, petunjuk, jalan Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam oleh para ulama, imam, pemuka, pembesar, petinggi dan tokoh agama panutan mereka yang mereka taqlid terhadapnya, dan begitu seterusnya. Hendaknya setiap Muslim mewaspadai hal ini setiap saat dan waktu hingga kematian itu datang. Jangan lupakan hal ini.
.
Allahu Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong.”
.
- QS. Al Qashash [28] : 41
.
Allahu Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami”
.
- QS. Al Anbiya [21] : 73
.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, sahabat dan ulama Para Sahabat radhiyallahu ‘anhu jami’an, berkata,
.
“Allah menjadikan Imam (pemimpin) bagi di dunia ini yang mengajak manusia kepada kesesatan atau kepada kebaikan.”
.
Kemudian beliau –radhiyallahu ‘anhu- membaca : “Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka (QS. Al Qashash [28] : 41)” dan “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami (QS. Al Anbiya [21] : 73)”
.
- Tafsir Al Baghawi, V/109
.
Yang karena itu, hendaknya seorang Muslim harus selalu waspada dalam mengambil ilmu dan menjadikan seseorang sebagai rujukkan ilmu, dan jangan sampai menjadikan orang-orang yang menyerukan Bid’ah dalam Syari’at sebagai tempat mengambil ilmu, mengingat besar bahayanya bagi yang mengikuti seruan para Da’i penyeru ke pintu Neraka, yakni orang, tokoh, pembesar, pemimpin, petinggi agama, ulama atau yang “diulamakan” yang menyerukan kepada Bid’ah dalam Syari’at.
.
Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
.
“MEREKA ITU BERASAL DARI KULIT-KULIT KALIAN DAN BERBICARA DENGAN BAHASA KALIAN.” dan “BAIK. KULIT MEREKA SEPERTI KULIT KITA DAN BERBICARA DENGAN BAHASA KITA.”
.
Disini terdapat dua pendapat bahwasannya,
.
(1) SECARA UMUM yaitu orang-orang secara umum yang berjubah (berkulit) Islam dan berbicara fasih dengan bahasa Islam atau mengenai Islam namun menyesatkan.
.
(2) SECARA KHUSUS yaitu orang-orang berkulit seperti kulit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhu ajma’in yakni Arab, dan berbicara dengan bahasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhu ajma’in yakni Arab.
.
Dari dua pendapat itu adalah sama-sama menguatkan bahwasannya penyeru kesyirikan, kebidahan, kesesatan dan kebatilan yang mengajak ke pintu neraka-Nya berlaku umum yang menunjuk kepada siapa saja dan bisa siapa saja, bisa kepada orang-orang secara umum atau keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sekarang saat ini atau yang hanya mengaku-aku atau yang diaku-aku oleh pengikutnya.
.
Atha bin Yussuf
Al Ikhwan As Sunnah

Senin, 09 November 2020

PENGOBATAN DENGAN TUBUHMU

Dusta adalah kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan sudah semestinya bagi setiap muslim agar menghindarinya dalam pergaulannya. Allah Ta’ala berfirman: 

…وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al-Isra’: [17]: 36).

Malik menyampaikan bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Seorang hamba yang berdusta dan terus-menerus berdusta maka akan terlukis satu titik hitam di hatinya sampai rata hatinya berwana hitam, maka dia di sisi Allah akan ditulis termasuk golongan pendusta.” (HR. Malik dalam kitab Al-Muwatha’).

Dalam masalah ini, saya ingatkan kepada setiap orang Islam agar tidak berdusta dalam segala perkara, bahkan meskipun dengan bergurau. Hendaknya dicamkan dalam diri mereka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak sempurna iman seorang hamba sampai dia meninggalkan berdusta dalam gurauan dan meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bergurau dengan para sahabatnya, beliau tidak berkata kecuali yang benar dan jujur, seperti tertera dalam sebuah kisah berikut:

Dari Hasan radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Datanglah seorang wanita tua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam surga’. Maka Rasulullah menjawab, ‘Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh orang yang renta.’ Hasan melanjutkan, “Maka wanita itu berbalik pergi sambil menangis, kemudian Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda, ‘Beritahukan kepadanya kalau dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua renta. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),“Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.’” (Al-Waqi’ah [56]: 35-37)” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki minta tumpangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Saya akan memberimu tumpangan di atas seekor anak unta.” Orang tadi keheranan dan bertanya, “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukankah yang melahirkan unta dewasa itu adalah anak unta juga?”

Yang menyedihkan bagi seorang Islam adalah adanya sebagian orang yang membuat tertawa orang lain dengan sengaja berbohong, seperti banyak kita saksikan di masyarakat dan grup-grup sandiwara dan lawak.

Dalam sebuah hadits dari Nahzi bin Hakim radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seseorang yang berkata lalu berbohong agar ditertawakan oleh suatu kaum, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Al-Baihaqi).

Berkatalah yang benar dan selalu berusahalah untuk berkata benar sampai kamu ditulis di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Berhati-hatilah dari berdusta, karena dusta bisa berakiba kepada timbulnya kerusakan-kerusakan besar dan fitnah yang besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tadi malam bermimpi didatangi oleh dua orang dan keduanya memberitahuku, “Orang yang dirobek bibirnya dan lidahnya seperti yang kamu lihat tadi adalah pendusta yang membuat kedustaan dan disebarkannya ke seluruh penjuru. Maka dia akan terus diadzab seperti itu sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari).

Seorang penyair telah memperingatkan manusia dari berdusta dan akibatnya, dan hal itu merupakan aib bagi pelakunya ketika diketahui kedustaannya, sehingga akan mengakibatkannya rendah dan hina di hadapan manusia. Penyair tersebut berkata:

Jika manusia itu diketahui berdusta, maka di hadapan manusia

Akan tetap saja dicap sebagai pendusta, walaupun dia berkata benar

Jika dia berkata, ucapannya akan diabaikan kawan-kawannya

Mereka tidak akan mendengarkannya walaupun hanya satu kata

Dalam menjelaskan kotornya perbuatan dusta dan menganjurkan untuk menjauhinya, penyair lain berkata:

Tidaklah berdusta seseorang melainkan itu merupakan kehinaanya

Atau perbuatan buruk, atau tanda tidak beradab

Sebagian bangkai anjing lebih enak baunya

Daripada kedustaan seseorang dalam seriusnya maupun guraunya

***

Disalin ulang dari buku “Etika Pergaulan dari A-Z“, Abduh Ghalib Ahmad Isa, penerbit: Pustaka Arafah

Artikel Muslimah.or.id

sumber: https://muslimah.or.id/7365-menjauhi-sifat-dusta.html

KEADAAN SEORANG PENDUSTA

Dusta adalah kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan sudah semestinya bagi setiap muslim agar menghindarinya dalam pergaulannya. Allah Ta’ala berfirman: 

…وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al-Isra’: [17]: 36).

Malik menyampaikan bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Seorang hamba yang berdusta dan terus-menerus berdusta maka akan terlukis satu titik hitam di hatinya sampai rata hatinya berwana hitam, maka dia di sisi Allah akan ditulis termasuk golongan pendusta.” (HR. Malik dalam kitab Al-Muwatha’).

Dalam masalah ini, saya ingatkan kepada setiap orang Islam agar tidak berdusta dalam segala perkara, bahkan meskipun dengan bergurau. Hendaknya dicamkan dalam diri mereka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak sempurna iman seorang hamba sampai dia meninggalkan berdusta dalam gurauan dan meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bergurau dengan para sahabatnya, beliau tidak berkata kecuali yang benar dan jujur, seperti tertera dalam sebuah kisah berikut:

Dari Hasan radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Datanglah seorang wanita tua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam surga’. Maka Rasulullah menjawab, ‘Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh orang yang renta.’ Hasan melanjutkan, “Maka wanita itu berbalik pergi sambil menangis, kemudian Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda, ‘Beritahukan kepadanya kalau dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua renta. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),“Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.’” (Al-Waqi’ah [56]: 35-37)” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki minta tumpangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Saya akan memberimu tumpangan di atas seekor anak unta.” Orang tadi keheranan dan bertanya, “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukankah yang melahirkan unta dewasa itu adalah anak unta juga?”

Yang menyedihkan bagi seorang Islam adalah adanya sebagian orang yang membuat tertawa orang lain dengan sengaja berbohong, seperti banyak kita saksikan di masyarakat dan grup-grup sandiwara dan lawak.

Dalam sebuah hadits dari Nahzi bin Hakim radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seseorang yang berkata lalu berbohong agar ditertawakan oleh suatu kaum, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Al-Baihaqi).

Berkatalah yang benar dan selalu berusahalah untuk berkata benar sampai kamu ditulis di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Berhati-hatilah dari berdusta, karena dusta bisa berakiba kepada timbulnya kerusakan-kerusakan besar dan fitnah yang besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tadi malam bermimpi didatangi oleh dua orang dan keduanya memberitahuku, “Orang yang dirobek bibirnya dan lidahnya seperti yang kamu lihat tadi adalah pendusta yang membuat kedustaan dan disebarkannya ke seluruh penjuru. Maka dia akan terus diadzab seperti itu sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari).

Seorang penyair telah memperingatkan manusia dari berdusta dan akibatnya, dan hal itu merupakan aib bagi pelakunya ketika diketahui kedustaannya, sehingga akan mengakibatkannya rendah dan hina di hadapan manusia. Penyair tersebut berkata:

Jika manusia itu diketahui berdusta, maka di hadapan manusia

Akan tetap saja dicap sebagai pendusta, walaupun dia berkata benar

Jika dia berkata, ucapannya akan diabaikan kawan-kawannya

Mereka tidak akan mendengarkannya walaupun hanya satu kata

Dalam menjelaskan kotornya perbuatan dusta dan menganjurkan untuk menjauhinya, penyair lain berkata:

Tidaklah berdusta seseorang melainkan itu merupakan kehinaanya

Atau perbuatan buruk, atau tanda tidak beradab

Sebagian bangkai anjing lebih enak baunya

Daripada kedustaan seseorang dalam seriusnya maupun guraunya

***

Disalin ulang dari buku “Etika Pergaulan dari A-Z“, Abduh Ghalib Ahmad Isa, penerbit: Pustaka Arafah

Artikel Muslimah.or.id

sumber: https://muslimah.or.id/7365-menjauhi-sifat-dusta.html

Kamis, 05 November 2020

HUKUM KERJA DI BUTIK ATAU TOKO YANG MENJUAL PAKAIAN MEMBUKA AURAT (hukumnya HARAM)

🍂بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

🌿HUKUM KERJA DI BUTIK ATAU TOKO YANG MENJUAL PAKAIAN MEMBUKA AURAT (hukumnya HARAM)

Masyarakat kita saat ini sedang menghadapi problem yang tidak ringan yaitu tersebarnya hal-hal keji dan berbagai bentuk kemungkaran.
Di antara kemungkaran terang-terangan yang ada di tengah masyarakat adalah tersebarnya pakaian-pakaian wanita yang melanggar aturan syariat baik karena pakaian tersebut ketat dan press body atau kecil dan mini sehingga menampakkan bagian badan wanita yang mengundang syahwat laki-laki normal yang melihatnya atau pun karena tipis dan transparan sehingga dapat dilihat apa yang ada dibalik pakaian tersebut.
Pakaian-pakaian wanita yang haram dipakai ini dosanya tidak hanya menimpa wanita yang memakainya namun juga menimpa pihak yang menjual pakaian tersebut

Demikian pula di antara person yang turut menanggung dosanya adalah pedagang grosir yang menjual pakaian tersebut kepada pengecer, demikian pula orang-orang yang membuat dan memproduksi pakaian semacam ini.
Tak ketinggalan pihak yang memberi izin berdirinya pabrik, yang menyetujui, dan rela dengan adanya pakaian seperti itu walaupun tidak memakainya, demikian pula semua orang yang punya peran serta demi eksisnya pakaian semacam ini di tengah masyarakat.
Semua pihak-pihak di atas adalah sebab adanya kemungkaran pada badan gadis atau wanita yang memakai pakaian tersebut.

Mereka semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatan dan perannya masing-masing dan akan menanggung dosa sebanding dengan kejahatan dan pelanggaran syariat yang mereka lakukan.

Seandainya bukan karena adanya izin pendirian pabrik dan perusahaan tentu pabrik tersebut tidak bisa memproduksi pakaian telanjang atau setengah telanjang.
Andai bukan karena adanya buruh dan pekerja yang bekerja di pabrik tersebut tentu pabrik tersebut tidak akan eksis. Seandainya tidak ada pedagang pakaian seksi tentu wanita yang ingin mengumbar aurat tidak menemukan toko tempat berbelanja pakaian haram itu.
Sehingga semua pihak-pihak di atas menanggung dosa  karena tersebarnya hal-hal yang keji dan ‘buka-bukaan’. Sebagaimana mereka semua menanggung dosa dampak dari buka-bukaan tersebut yaitu adanya pandangan-pandangan haram, hubungan lawan jenis yang terlarang seperti pacaran, serta dampak dari hubungan lawan jenis yang dosa berupa rusaknya hati, moralitas, dan agama.

Tidak ada perbedaan hukum antara yang membuat dan yang  menjual pakaian ‘buka-bukaan’ tersebut, baik kepada orang kafir ataupun kepada kaum muslimin.
Karena orang kafir juga akan mendapatkan tambahan dosa di akhirat lantaran melanggar aturan-aturan syariat Islam. Selain itu, pakaian tersebut juga menyebabkan tersebarnya kerusakan dan kemungkaran di masyarakat baik wanita yang memakainya muslimah atau pun bukan muslimah. Meski jelas, menjualnya kepada muslimah dosanya jauh lebih besar lagi.

Para ulama yang duduk di Lajnah Daimah KSA pernah mendapatkan pertanyaan serupa yang kurang lebih artinya sebagai berikut, berilah kami fatwa tentang hukum menjual celana ketat untuk wanita dengan berbagai modelnya, baik yang modelnya jeans ataupun selainnya, demikian pula menjual sepatu wanita yang berhak tinggi, pewarna rambut dengan berbagai macam jenis dan warna, pakaian wanita yang transparan, pakaian wanita yang lengannya pendek dan pakaian-pakaian yang ukurannya mini.

Jawaban Lajnah Daimah, semua benda yang digunakan secara haram atau ada sangkaan kuat digunakan untuk sesuatu yang haram, maka haram pula memproduksinya, mengimpornya, menjualnya, dan memasarkannya di antara kaum muslimin.
Di antara perbuatan haram adalah kelakukan banyak perempuan saat ini –semoga Allah memberikan limpahan hidayah-Nya kepada mereka agar kembali kepada kebenaran- yang memakai pakaian transparan, ketat, dan mini. Intinya mereka memakai pakaian yang menampakkan bagian tubuh wanita yang menjadi daya pikat lawan jenis dan menonjolkan anggota tubuhnya di tempat-tempat yang bisa dilihat oleh laki-laki yang tidak punya hubungan apa-apa dengannya.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan,
“Semua pakaian yang ada sangkaan kuat akan dipakai dalam kemaksiatan, tidak boleh memperdagangkannya dan menjahitkannya untuk orang yang akan menggunakannya dalam kemaksiatan dan kezaliman.
Oleh karena itu, makruh (haram) hukumnya menjual roti dan daging kepada orang yang diketahui secara pasti dia akan memakan roti dan daging itu sebagai pelengkap acara minum khamar.
Demikian pula hukum menjual wewangian yang akan dicampurkan ke dalam minum-minuman keras atau akan digunakan oleh pelacur untuk memikat orang agar berzina dengannya.
Kesimpulannya, hukum haram ini berlaku untuk benda-benda yang pada dasarnya mubah namun diketahui akan dipergunakan untuk mendukung kemaksiatan”.

Wajib atas semua pengusaha muslim untuk bertakwa kepada Allah dan menginginkan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim sehingga dia tidak memproduksi atau pun menjual kecuali barang mengandung kebaikan dan manfaat bagi kaum muslimin dan tidak memproduksi serta memperdagangkan barang-barang yang jelek dan membahayakan masyarakat.
Membisniskan barang yang halal itu sudah mencukupi kita sehingga tidak perlu terjerumus dalam bisnis barang yang haram.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Allah berfirman yang artinya,
“Dan siapa saja yang bertakwa kepada Allah maka akan Allah berikan kepadanya jalan keluar dan Dia limpahkan rezeki-Nya dari arah yang tidak dia sangka.”
(QS. Ath-Thalaq:2).

Menghendaki kebaikan untuk kaum muslimin adalah salah satu konsekuensi iman.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Allah berfirman yang artinya,
“Orang yang beriman baik laki-laki ataupun perempuan itu sebagiannya mencintai dan membela sebagian yang lain, memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran”
(QS. At-Taubah: 71).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدين النصيحة ، قيل : لمن يا رسول الله ؟ قال : لله ، ولكتابه ، ولرسوله ، ولأئمة المسلمين ، وعامتهم ) خرَّجه مسلم في صحيحه ،

“Hakikat agama adalah menghendaki kebaikan untuk pihak lain”.
Ada sahabat yang bertanya,
“Pihak lain itu siapa saja, wahai Rasulullah?”

Jawaban Nabi, “Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan umumnya kaum muslimin”
(HR. Muslim).

وقال جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه : ( بايعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم على إقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، والنصح لكل مسلم ) متفق على صحته ،

Jarir bin Abdullah al Bajali mengatakan,
“Aku bersumpah setia kepada Rasulullah untuk menegakkan shalat, membayar zakat dan menghendaki kebaikan untuk setiap muslim”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksudkan oleh Syekhul Islam dalam penjelasan beliau, “Oleh karena itu makruh (haram) hukumnya menjual roti dan daging kepada orang yang diketahui secara pasti dia akan memakan roti dan daging itu sebagai pelengkap acara minum khamar” adalah makruh yang maknanya haram sebagaimana bisa kita ketahui dari fatwa-fatwa beliau yang lain” (Sekian kutipan fatwa Lajnah Daimah).

Fatwa ini ditandatangani oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Abdul Aziz alu Syekh, Syekh Shalih al Fauzan, dan Syekh Bakr Abu Zaid. Fatwa ini bisa dijumpai di Fatawa Lajnah Daimah jilid 13, Hal. 111.

Perlu diketahui, bahwa uang gaji atau pendapatan yang didapatkan dari pekerjaan yang haram semisal bekerja sebagai karyawan pabrik pada bagian membuat pakaian haram atau menjadi karyawan toko model yang menjual pakaian haram adalah harta yang haram.

( إنَّ الله إِذَا حَرَّمَ شَيْئاً حَرَّمَ ثَمَنَهُ ) رواه أبو داود ( 3488 ) وصححه الألباني في ” صحيج أبي داود “

Nabi bersabda,
"Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu maka Allah pasti mengharamkan pendapatan yang dihasilkan darinya”
[HR. Abu Daud, no. 3488, dinilai sahih oleh Al-Albani]

Orang yang sudah terlanjur bekerja dengan pekerjaan haram di atas, wajib segera keluar dan mencari pekerjaan lain yang halal sehingga halal pula gaji dan makanan yang dia makan. Semoga Allah memberi hidayah-Nya kepada kita sekalian dan memudahkan semua urusan kita serta membukakan untuk kita perbendaharaan kekayaan-Nya.

Referensi:
http://www.alsalafway.com/cms/fatwa.php?action=fatwa&id=241

Artikel www.PengusahaMuslim
Read more https://pengusahamuslim.com/2548-kerja-di-butik-atau-toko-yang-menjual-pakaian-membuka-aurat.html

.
.

Gabung grup klik👇
https://www.facebook.com/groups/348044219808117/?ref=share

Minggu, 01 November 2020

SEJARAH MUNCULNYA KESYIRIKAN SETELAH NABI IBROHIM AS

بسم الله الرحمن الرحیم

Budaya Arab: Agama Bangsa Arab Sebelum Islam

Pada saat Islam masuk di Jazirah Arab, di zaman Nabi Ibrahim ﷺ, akhlak mulia tersebar. Penduduk lembah Mekah mengenal tauhid dan jauh dari syirik. Kemudian waktu terus berlalu, keimanan pun tergerus budaya dan pemikiran. Masuklah berhala-berhala ke Ka’bah yang suci. Agama Nabi Ibrahim hanya dipegang sebagian kecil masyarakat.

Sejarah Masuknya dan Tersebarnya Berhala di Jazirah Arab

Beberapa masa setelah wafatnya Nabi Ibrahim dan Ismail, terjadi perubahan besar di tanah Mekah. Agama tauhid tergerus oleh ombak kesyirikan. Penduduk tanah suci di sekitar Baitullah al-Haram menjadi penyembah berhala.

Pelajaran bagi kita umat Islam di Indonesia, tauhid yang dibawa oleh para rasul, dan bertempat di tanah suci, bisa berganti menjadi agama pagan penyembah berhala. Tidak ada yang menjamin negeri ini, Indonesia, akan selamanya menjadi negeri mayoritas umat Islam, kalau kita tidak mengkaji agama ini kemudian mendakwahkannya.

Perubahan besar di Jazirah Arab itu dibawa oleh tokoh kabilah Khuza’ah, Amr bin Luhai al-Khuza’i. Ia adalah pemimpin politik dan agama di Mekah. Ia dicintai dan disegani masyarakat. Penduduk Mekah menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia. Amr pernah bersafar ke Syam. Ia melihat penduduk Syam menyembah patung-patung. Dan ia terkesan. Saat kembali ke Mekah, ia bawa tradisi Syam ini ke tanah haram. Masuklah berhala Hubal ke Jazirah Arab, dan ditempatkan di sisi Ka’bah.

Diriwayatkan bahwa Hubal terbuat dari batu akik merah yang berbentuk manusia. Orang-orang Quraisy mendapati tangan kanan Hubal telah hancur. Lalu mereka ganti dengan tangan dari emas. Inilah berhala pertama orang-orang musyrik, yang paling besar, dan paling suci menurut mereka1.

Setelah Hubal, tanah Mekah berangsur-angsur disesaki berhala. Di antara berhala-berhala besar mereka adalah: Manat2 yang disembah Kabilah Hudzail dan Khuza’ah. Berhala ini termasuk berhala tertua. Terletak di pantai Laut Merah. Di wilayah al-Musyallal3, di Qudaid. Kemudian ada Latta. Berhalanya orang-orang Thaif. Dan al-Uzza, berhala termuda namun yang terbesar dari dua berhala sebelumnya. Berhala ini disembah oleh orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah lainnya4. Tiga berhala ini –selain Hubal- adalah berhala terbesar masyarakat Arab.

Kemudian kesyirikan semakin tersebar dan berhala pun semakin bertebaran.

Setelah Amr bin Luhai berhasil digoda gandrung dengan berhala, setan pun memainkan perannya di babak berikutnya. Mereka memberi wangsit kepada Amr5. Memberitakannya bahwa berhala kaum Nuh –Wud, Suwa’, Yaghuts, Yauq, Nasr- terkubur di Jeddah. Amr datang ke sana, kemudian menggalinya. Ketika jamaah haji datang dari berbagai negeri, ia berikan berhala-berhala itu pada mereka. Hadiah dari penguasa Mekah, tanah suci tempat berhaji tentulah istimewa bagi mereka.

Berhala Wud diberikan pada kabilah Kalb penduduk Daumatul Jandal. Suwa’ diserahkan pada Hudzail bin Mudrikah yang tinggal di Ruhath, wilayah Hijaz. Yaghuts untuk bani Uthaif keturunan bani Murad yang tinggal di Jurf dekat Saba’. Yauq diberikan kepada orang-orang Hamadan di wilayh Khaiwan di Yaman. Dan Nasr untuk keluarga Dzi al-Kila’ di wilayah Hamir. Kemudian mereka membuatkan kuil untuk berhala-berhala ini. Mereka mengangungkannya sebagaimana mengagungkan Ka’bah. Walaupun mereka berkeyakinan Ka’bah lah yang lebih utama6.

Dakwah Amr bin Luhai kian tersebar di Jazirah. Kabilah-kabilah lainnya meniru apa yang dilakukannya. Mereka menjadikan patung sebagai sesembahan. Membangunkannya kuil. Dan memberinya nama-nama7.

Walaupun berhala kian marak, namun masyarakat Arab tetap mengagungkan Ka’bah. Mereka pula yang menaruh berhala-berhala mereka di sekeliling Ka’bah.

Apakah Arab Beriman Kepada Allah?

Puja-puji terhadap patung berhala telah menjadi agama dan budaya masyarakat Arab. Meski demikian, tidak sedikit pun mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu yang menciptakan mereka dan alam semesta. Mereka yakin Allah ﷻ lah sang pecipta. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan hal ini.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 61).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ للهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS:Luqman | Ayat: 25).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS:Az-Zukhruf | Ayat: 87).

Namun setan membisiki bahwa berhala-berhala itulah yang mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ. Berhala itu menjadi perantara antara mereka dengan Allah.

أَلاَ للهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS:Az-Zumar | Ayat: 3).

Ayat ini dengan tegas menjelaskan, orang-orang Arab jahiliyah beriman kepada Allahﷻ. tapi mereka campuri keimanan itu dengan kesyirikan. Mereka menyembah Allah, dan juga menyembah berhala. Dari sini kita dapat memahami bahwa mengagungkan orang-orang shaleh secara berlebihan, lalu menjadikan mereka perantara dalam beribadah kepada Allah ﷻ adalah tradisi masyarakat Arab jahiliyah (budaya Arab).

Arab Telah Mengenal Jin dan Setan

Orang-orang Arab jahiliyah telah mengenal jin dan setan. Pada masa itu setan-setan berkumpul antara bukit Shafa dan Marwa. Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma ketika menafsirkan ayat,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 158)

mengatakan, “Di masa jahiliyah, setan-setan berkumpul di malam hari antara bukit Shafa dan Marwa. Di antara dua bukit itulah terdapat berhala-berhala orang-orang musyrik. Saat Islam datang, kaum muslimin mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak mau sa’i antara Shafa dan Marwa. Karena dulu kami melakukan sesuatu (syirik) di sana saat jahiliyah’. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya,

فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

“Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa´i antara keduanya.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 158).

Tidak berdosa, ibadah di sana berpahala8. Para sahabat takut kalau mereka teringat dosa-dosa lama. Kemudian Allah menenangkan hati mereka dengan menjelaskan keutamaan beribadah di antara Shafa dan Marwa.

Orang-orang jahiliyah berinteraksi dengan jin. Seperti memohon perlindungan kepada mereka.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS:Al-Jin | Ayat: 6).

Budaya Arab ini juga memiliki kesamaan dengan kultur local Indonesia. Para orang tua sering mengajarkan anak-anak mereka yang main di tempat-tempat sepi untuk mohon izin dulu dengan “penunggu-penunggu” di sana apabila hendak buang air kecil atau besar, atau sekadar bermain di sana. Bukan berlindung kepada Allah ﷻ.

وَجَعَلُوا للهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu.” (QS:Al-An’am | Ayat: 100).

Dunia Perdukunan

Di Madinah –yang dulu bernama Yatsrib- ada seorang dukun wanita yang terkenal. Sebagian penduduk Madinah mengetahui kedatangan Nabi ﷺ melalui kabar dari sang dukun. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu mengatakan,

أَوَّلُ خَبَرٍ جَاءَنَا بِالْمَدِينَةِ مَبْعَثَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ كَانَ لَهَا تَابِعٌ مِنَ الْجِنِّ، جَاءَ فِي صُورَةِ طَيْرٍ، حَتَّى وَقَعَ عَلَى جِذْعٍ لَهُمْ، فَقَالَتْ لَهُ: أَلاَ تَنْزِلُ إِلَيْنَا فَتُحَدِّثُنَا، ونُحَدِّثُكَ، وتُحَذِّرُنَا ونُحَذِّرُكَ؟ فَقَالَ: لاَ، إِنَّهُ قَدْ بُعِثَ بِمَكَّةَ نَبِيٌّ حَرَّمَ الزِّنَى، وَمَنَعَ مِنَّا الْقَرَارَ

“Kami mendapatkan kabar pertama kali tentang diutusnya Rasulullah ﷺ dari seorang dukun perempuan penduduk Madinah. Ia memiliki pengikut dari bangsa jin9. Jin tersebut datang dalam wujud seekor burung. Lalu hinggap di salah satu dahan. Wanita itu berkata pada burung, ‘Adakah berita untuk kami sehingga bisa engkau sampaikan dan kami juga berkisah padamu. Engkau memperingatkan kami –dengan berita tersebut-, kami juga memperingatkanmu?’ Burung itu menjawab, ‘Tidak, hanya saja telah diutus seorang nabi di Mekah yang mengharamkan zina dan melarang al-Qarar10.”11

Masyarakat jahiliyah biasa minta pendapat para dukun. Ibnu Juraij menafsirkan ayat:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ

“Barangsiapa kufur kepada thaghut.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 256).

Menurutnya thaghut dalam kalimat tersebut adalah dukun yang mendapat bisikan setan. Mereka memberi wangsit pada lisan dan hati para dukun12.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

يا رسول الله إنَّ الكهَّان كانوا يُحَدِّثُونَنَا بالشَّيء فنجده حقًّا. قال: “تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ، يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ، وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya para dukun menyampaikan sesuatu kepada kami begini dan begitu. Dan kadang kami lihat kenyataannya memang benar.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Kata-kata yang benar itu ditangkap oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya ke telinga tukang tenung (dekun) dan ditambahkan ke dalamnya dengan seratus kedustaan.”13

Perdukunan saat itu benar-benar tersebar dan membudaya. Sampai ada sebagian orang berprofesi jadi dukun palsu. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلَامٌ يُخْرِجُ لَهُ الْخَرَاجَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ أَتَدْرِي مَا هَذَا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَمَا هُوَ قَالَ كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَا أُحْسِنُ الْكِهَانَةَ إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj14 padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan.”15

Abdullah bin al-Abbas berkata,

مَا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْجِنِّ وَمَا رَآهُمُ، انْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ عَامِدِينَ إِلَى سوق عكاظ وَقَدْ حِيلَ بَيْنَ الشَّيَاطِينِ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ. وَأُرْسِلَتْ عَلَيْهِمُ الشُّهُبُ. فَرَجَعَتِ الشَّيَاطِينُ إِلَى قَوْمِهِمْ فَقَالُوا: مَا لَكُمْ. قَالُوا: حِيلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ وَأُرْسِلَتْ عَلَيْنَا الشُّهُبُ. قَالُوا: مَا ذَاكَ إِلاَّ مِنْ شَيْءٍ حَدَثَ، فَاضْرِبُوا مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، فَانْظُرُوا مَا هَذَا الَّذِي حَالَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ. فَانْطَلَقُوا يَضْرِبُونَ مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، فَمَرَّ النَّفَرُ الَّذِينَ أَخَذُوا نَحْوَ تِهَامَةَ -وَهُوَ بِنَخْلٍ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلاَةَ الْفَجْرِ- فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ، وَقَالُوا: هَذَا الَّذِي حَالَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ. فَرَجَعُوا إِلَى قَوْمِهِمْ، فَقَالُوا: يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا. فَأَنْزَلَ اللهُ تعالى عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم: {قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ} [الجن: 1]

“Rasulullah ﷺ tidak membacakan Alquran kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Rasulullah ﷺ pernah pergi bersama sejumlah shahabat menuju Pasar Ukazh16. Sementara itu setan-setan telah dihalangi mendapatkan berita dari langit dengan dilemparkan kepada mereka asy-syihab (meteor).

Setan-setan tadi kembali kepada kaumnya, dan kaumnya itu bertanya, ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami telah dihalangi memperoleh berita dari langit, dan kami pun dilempari dengan asy-syihab’. Kaum mereka berkata, ‘Tidak ada yang menghalangi kalian memperoleh berita langit kecuali sesuatu telah terjadi. Pergilah kalian ke arah penjuru timur dan barat bumi. Lihatlah apa yang menghalangi kalian memperoleh berita dari langit’.

Mereka pun beranjak pergi ke timur dan barat. Sebagian di antaranya melewati Tihamah dan bertemu dengan Nabi ﷺ yang ketika berada di Nikhlah dalam perjalanan menuju Pasar Ukazh. Beliau ketika itu sedang melaksanakan shalat subuh bersama para shahabatnya. Ketika mereka mendengar Alquran dibacakan, mereka pun benar-benar memperhatikannya, seraya berkata, ‘Inilah yang telah menghalangi kita untuk mendapatkan berita dari langit”.

Mereka kembali menemui kaumnya. Mereka berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami’. Maka Allah pun menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ: “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran),…” (QS. Al-Jin : 1)17.

Zaid bin Amr bin Nufail

Di tengah pekatnya kabut kesyirikan masayarakat Arab, tersisa beberapa gelintir orang yang masih memurnikan agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antaranya Zaid bin Amr bin Nufail. Zaid tak mampu mendakwahi dan menyerukan agama yang lurus di tengah pemuka kekufuran Quraisy. Ia hanya mampu mengkritik sembelihan-sembeliahan (kurban) mereka. Dan mengikari kesyirikan yang mereka lakukan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Zaid bin Amr bin Nufail mengatakan,

إِنِّي لَسْتُ آكُلُ مِمَّا تَذْبَحُونَ عَلَى أَنْصَابِكُمْ، وَلاَ آكُلُ إِلاَّ مَا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ.

“Aku tidak memakan apa yang kalian sembelih (sebagai persembahan) untuk berhala kalian. Aku juga tidak memakan sesuatu yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.”

Zaid bin Amr mencela sesembelihan Quraisy,

وَأَنَّ زَيْدَ بْنَ عَمْرٍو كَانَ يَعِيبُ عَلَى قُرَيْشٍ ذَبَائِحَهُمْ، وَيَقُولُ: الشَّاةُ خَلَقَهَا اللهُ، وَأَنْزَلَ لَهَا مِنَ السَّمَاءِ المَاءَ، وَأَنْبَتَ لَهَا مِنَ الأَرْضِ، ثُمَّ تَذْبَحُونَهَا عَلَى غَيْرِ اسْمِ اللهِ. إِنْكَارًا لِذَلِكَ وَإِعْظَامًا لَهُ

“Kambing ini, Allah yang ciptakan. Dia turunkan air dari langit untuknya. Juga menumbuhkan tetumbuhan dari bumi (untuk makanannya). Kemudian kalian sembelih tanpa menyebut nama-Nya?!” Zaid mengingkari perbuatan mereka sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah18.

Orang-orang Quraisy tidak mempedulikan Zaid. Karena menurut mereka yang dia lakukan tidak mengganggu kehidupan dan ibadah mereka. Atau mereka sengaja tidak mempedulikannya untuk mengejeknya dan merendahkannya.

Selain Zaid, juga ada Waraqah bin Naufal. Seorang yang mengimani risalah Nabi Isa ‘alaihissalam. namun tidak didapati riwayat ia mendakwahkan apa yang diajarkan Nabi Isa ‘alaihissalam. Atau membicarakannya di tengah-tengah keluarganya dari kalangan Quraisy.

Demikianlah gambaran kondisi agama bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Dakwah tauhid padam. Agama para nabi samar-samar disuarakan. Karena itu, hampir tidak ditemui persinggungan (friksi) antara orang-orang yang bertauhid dengan pemuja kesyirikan.

Dalam keadaan tersebut terdapat segelintir orang yang masih berpegang pada ajaran rasul sebelumnya. Ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Isa ‘alaihimassalam. Mereka yang tersisa ini tidak mampu angkat suara, menyibak kabut gelap penyimpangan akidah. Sehingga tidak dijumpai perdebatan agama hingga diutusnya Rasulullah ﷺ.
____________________________
[1] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 27-28., Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/77., dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/237.

[2] Orang-orang Quraisy biasa mengusapkan darah mereka di sisi berhala ini sebagai bentuk ibadah padanya. Karena itu, berhala ini juga dinamakan Berhala Darah (as-Suhail dalam ar-Raudhu al-Anfu, 4/85).

[3] al-Musyallal adalah jalan di suatu bukit menuju wilayah Qudaid.

[4] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 14-18.

[5] Ada yang mengatakan Amr mendapat wangsit melalui mimpi ada pula dalam keadaan sadar. Ada yang menyebutkan ia bertemu dengan jin yang berujud manusia.

[6] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 54-55. Dan Abu Ja’far al-Bahgdady dalam al-Manaq fi Akhbari Quraisy, Hal: 327-328.

[7] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 34-43 dan Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/80-88

[8] al-Hakim (3072). Ia mengatakan, “Hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Muslim. Dan disepakati oleh adz-Dzahaby.

[9] Ia memiliki pengikut dari bagnsa jin.

[10] Melarang al-Qarar. Dalam riwayat Ahmad dengan lafadz al-Firar. As-Sindi mengatakan, “Maksud dari Firar adalah lari dari medan jihad. Namun hal ini cukup meragukan karena jihad belum disyariatkan saat itu. Dalam teks yang lain menggunakan huruf qaf (ق). Wallahu a’lam.

Al-Qarar adalah tempat yang tenang, yang terdapat air. Atau tempat yang syahdu (Lisan al-Arab, 5/82).

[11] Ahmad (14878), ath-Thabrany dalam al-Mu’jam al-Ausath (765).

[12] ath-Thabary dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wilil Quran, 5/418., Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/976., Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 2/334.

[13] al-Bukhari dalam Kitab ath-Thalib, Bab al-Kuhanah (5429) dan Muslim dalam Kitab as-Salam, Bab Tahrim al-Kuhanah wa Ityani al-Kuhhan (2228). Lafadz ini miliki Muslim.

[14] Kharaj adalah sesuatu tuan atas budaknya. Berupa harta yang diberikan si budak kepada tuannya dari hasil pekerjaannya. Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar, 7/154.

[15] al-Bukhari: Kitab Fadhail ash-Shahabah, Bab Ayyamul Jahiliyah (3629).

[16] Sebuah pecan raya bangsa Arab yang terletak antara Nakhlah dan Thaif.

[17] al-Bukhari: Kitab Sifattuhs Shalah, Bab al-Jahr bil Qira-ati Shalatil Fajri (739) dan Muslim: Kitab ash-Shalah, Bab al-Jahr bil Qira-ati fi Shubhi wa al-Qira-ati ala al-Jin (449). Lafadz ini milik Muslim.

[18] al-Bukhari: Kitab Fadhail ash-Shahabah, Bab Hadits Zaid bin Amr bin Nufail (3614).
______________________________

Sumber:
– http://islamstory.com/ar/الحياة-الدينية-عند-العرب-قبل-الإسلام

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com