Minggu, 04 Oktober 2020

CINTA NABI MASA KINI, DAN AKAN MENJADI TUNTUNAN PADA SAATNYA NANTI

[ Cinta Nabi Masa Kini ]

Oleh : Ust. Sufyan Basweidan, MA حفظه الله تعالى 

Sekarang, cinta Rasul kebanyakan hanyalah slogan yang sulit dicari wujudnya di lapangan. Cinta Rasul sering kali diidentikkan dengan shalawatan, perayaan Maulid Nabi, isra’ mi’raj, dan yang sejenisnya.

Sekarang, orang yang dianggap cinta Rasul ialah mereka yang
mengagungkan beliau dengan bertawassul kepadanya dalam do’a. Atau mereka yang mengirimkan Al Fatehah kepada beliau, atau mereka yang menggelari beliau dengan gelar yang bermacam-macam: seperti Sayyidina, Habibina, dan lain-lain.

Sekarang, ‘Cinta Rasul’ merupakan judul kaset yang sering kita dengar di mana-mana… yang dinyanyikan oleh pria dan wanita, tua dan muda… semua merasa khusyuk ketika melantunkan kata-kata: Shalaatullaah salaamullaah… ‘alal habiibi Rasuulillaah…

Akan tetapi jangan tanya soal sunnah beliau kepada mereka… karena mereka akan menjawab bahwa yang mereka lakukan tadi-lah yang namanya sunnah. Cinta Rasul kini telah berubah menjadi klaim yang diperebutkan setiap golongan. Cinta Rasul yang dahulu diwujudkan dengan ittiba’ kepadanya, kini semakin luas maknanya hingga mencakup bid’ah segala.

Menurut mereka, perayaan maulid, isra’ mi’raj, shalawatan, dan yang sejenisnya merupakan perwujudan nyata akan kecintaan seseorang kepada Nabinya. Sehingga otomatis bila ada orang yang mengingkari hal-hal semacam itu, serta-merta dituduhlah ia sebagai orang yang tidak cinta Rasul, atau wahhabi, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, mereka berusaha mencari ‘pembenaran’ –dan bukannya kebenaran– atas apa yang selama ini mereka lakukan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah bertentangan dengan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin ‘dalil’ (baca: syubhat) untuk
melegitimasi praktik ‘sunnah’ (baca: bid’ah) mereka.

(bbg-alilmu)

Semoga manfaat

AGAMA HANCUR KARENA KEBODOHAN DAN TAKLID BUTA

AGAMA HANCUR KARENA KEBODOHAN DAN TAKLID BUTA.

Oleh Siswo Kusyudhanto 

Ahad pagi saya ada jalan-jalan sekitar kota, di lampu merah ada seorang lelaki dan perempuan naik sepeda motor, mereka nampak berdandan rapi, dan terlihat wanita yang dibonceng membawa bibel/injil, namun si wanita menggunakan pakaian super minim, rok yang dikenakan diatas lututnya, dan rambutnya dibiarkan tergerai, subhanallah.

Andai wanita itu mau membuka injilnya kemudian mempelajari isinya niscaya dia akan berhijab dan menjauhi berpakaian minim.
Jadi teringat debat Syaikh Ahmad Dedat Rahimahullah di Kota New York, ketika ditanya seorang wanita bule Amerika, " syaikh saya perhatikan Islam mengekang kebebasan wanita dalam berpakaian, bahkan kadang mereka hanya terlihat matanya saja, bagaimana pendapat anda mengenai ini?'. Syaikh Ahmad Dedat berkata, " anda keliru, sebenarnya yang membuat aturan keras soal pakaian wanita adalah nasrani, jika aturan dalam Islam dalam berpakaian untuk wanita dibandingkan ajaran Isa Al Masih soal ini maka aturan Islam masih sangat ringan. 

Perintah berkerudung dalam alkitab

1 Korintus
11:5 Tetapi TIAP TIAP PEREMPUAN YANG BERDOA ATAU BERNUBUAT DENGAN KEPALAYANG TIDAK BERTUDUNG, MENGHINA KEPALANYA, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.

11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.

11:7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.

11:8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.

11:9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.

11:10 Sebab itu, PEREMPUAN HARUS MEMAKAI TANDA WIBAWA DI KEPALANYA oleh karena para malaikat.

11:11 Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.

11:12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula
laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.

11:13 Pertimbangkanlah sendiri: PATUTKAH PEREMPUAN BERDOA KEPADA ALLAH DENGAN KEPALA TIDAK BERTUDUNG?.
Lihat dalam bibel ini, jika ada wanita tidak menggunakan tudung?hijab maka wajib baginya menggundul kepalanya. Apakah anda masih berpendapat Islam menerapkan aturan yang keras soal tata cara berpakaian bagi wanita???".

Wanita bule itu nampak kaget mendengar penjelasan Syaikh Ahmad Dedat soal ini, ternyata agama nasrani yang dianutnya jauh lebih keras dalam cara berpakaian bagi wanita.

Kenapa aturan dalam nasrani berubah-ubah seperti itu ? padahal ajaran Isa Al Masih yang tertuang dalam injil sudah sangat jelas?. Karena yang menetapkan ini dan itu dalam ajaran nasrani dan yahudi adalah para ulama mereka, sehingga pada akhirnya ajarannya yang aseli umatnya tidak mengetahuinya. Misal soal hijab ini, banyak pemuka nasrani mengurangi hukum soal hijab ini dari mutlak wajib, dikurngai dari jaman ke jaman akhirnya bebas, gak pakai hijab juga gak apa-apa asal hatinya baik.

Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy menjelaskan soal ini,." Ketika Allah menjelaskan kesesatan nasrani dan yahudi dalam Surat At Taubah diantara penyebabnya adalah mereka menjadikan para orang alim dan rahibnya sebagai Tuhannya, makna menyembah ini bukan dalam arti harfiah ada orang menyembah orang lain, namun mengambil pendapat seseorang dan meninggalkan pendapat Allah dan RasulNYa."

Allah ta’alla juga berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31).

Sabtu, 03 Oktober 2020

SAAT HATI RINDU KELEMBUTAN

📚﷽

SAAT HATI RINDU KELEMBUTAN

✍ Oleh: Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Farid, Lc, MHI, حفظه الله تعالى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ

“Apakah engkau ingin hatimu lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Maka sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu nicaya hatimu akan menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 80)

Penjelasan hadits

Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terdiri dari dua unsur, yaitu zahir dan batin. Dan unsur batin yang paling penting adalah hati. Hati adalah tempatnya akal manusia untuk berfikir. Hati mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia, sehingga ada sebuah perkataan yang sangat masyhur, “Manusia itu dinilai dari dua anggota tubuhnya, yaitu hati dan lisannya.” Karena hati adalah bagai raja dalam tubuh dan lisan bagai penerjemahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, bahwa dalam hati manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka akan baik seluruh tubuhnya dan jika ia buruk maka akan buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Dalam keseharian, kita ambisius untuk mengejar target duniawi guna memenuhi hajat jasad kita. Yang di kantor sibuk dengan pekerjaan kantornya, yang di pasar sibuk dengan barang dagangannya, yang di ladang sibuk dengan pertanian dan peternakannya. Semua sibuk dengan profesinya masing-masing, ditambah lagi jarangnya hati mendapatkan siraman rohani, sehingga menyebabkan kita jauh dengan Sang Pencipta dan lama kelamaan hati kita menjadi keras dengan tanpa kita sadari. Di saat itulah kita butuh kelembutan hati.

Solusi melembutkan hati

Termasuk tibbun nabawi (pengobatan ala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk melembutkan hati yang telah mengeras adalah menyayangi anak yatim dan menyantuninya. Imam al-Haitsami menceritakan, bahwa ada salah satu sahabat datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan hatinya yang keras, lalu beliau menasihatinya agar menyayangi anak yatim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ

“Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu nicaya hatimu akan menjadi lembut dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 80)

Dari sabda Nabi di atas kita mengetahui, bahwa menjalin hubungan dengan anak yatim dan orang-orang yang lemah dapat melembutkan hati seseorang, karena ketika kita dekat dengan mereka, kita akan teringat betapa besar karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dilimpahkan kepada kita semua, baik dari kelengkapan anggota keluarga atau dari sisi tercukupinya kebutuhan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian hati kita menjadi terenyuh dan menjadi lembut. Dan karunia itu semua tidak ada pada mereka.

Al-Malla Ali al-Qari menjelaskan hadits di atas dan yang semakna dengannya, dengan mengatakan, “Sabda beliau, ‘Usaplah kepala si yatim,’ dengan ini engkau mengingat kematian, sehingga lebih memanfaatkan hidup. Karena sesungguhnya kerasnya hati sumbernya adalah lalai. Dan sabda beliau, ‘dan berilah makan kepada si miskin,’ ini agar engkau melihat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada pada dirimu, sekiranya Dia telah mencukupimu, sementara orang lain membutuhkan bantuanmu, dengan demikian hatimu menjadi lembut dan dan tidak menjadi keras lagi.”

Bagaimana cara menyayangi anak yatim?

Ada banyak cara untuk menyayangi anak yatim, di antaranya adalah:

1⃣ Bersikap baik, memberikan hak dan tidak menzalimi anak yatim

Anak yatim tidak mempunyai ayah, hal ini menuntut orang yang lain untuk menyayangi, bersikap lembut, berkata santun, memberikan haknya dan tidak menzaliminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9)

Qatadah menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Janganlah engkau menzaliminya.”

2⃣ Menjaga harta anak yatim

Hal ini langsung ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan ayat di atas, “Janganlah kalian mendekati hartanya kecuali untuk kemaslahatannya dan untuk mengembangkannya.”

Hal ini seperti yang dikatakan oleh para ahli tafsir lainnya. As-suddi berkata, “Hendaklah ia mengembangkan hartanya (si yatim).” Mujahid berkata, “Dengan cara jual beli dengannya.” (Lihat Tafsir ath-Thabari, 12/221)

Dan barang siapa yang mengambil atau memakan harta anak yatim maka pada hakikatnya ia telah memakan api nereka dan di akhirat nanti ia dimasukkan ke dalam neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)

As-Suddi menjelaskan, bahwa orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka ia akan dibangkitan pada hari kiamat sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, kedua telinganya, hidunganya dan kedua matanya.” (Lihat Tafsir ath-Thabari, 7/26)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

أَرْبَعَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ وَلَا يُذِيْقَهُمْ نَعِيْمَهَا: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَآكِلُ الرِّبَا، وَآكِلُ مَالِ الْيَتِيْمِ بِغَيْرِ حَقٍّ،         وَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ

“Ada empat golongan yang tidak akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga dan tidak diizinkan oleh-Nya untuk merasakan nikmatnya surga, yaitu pecandu minuman keras, pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim dengan cara tidak benar, dan orang yang durhaka kepada orang tuanya.” (HR. Al-Hakim, 2260. Dan beliau mengatakan hadits ini adalah sanadnya shahih)
 

3⃣ Memberi makan anak yatim

Islam menganjurkan untuk memberi makan anak yatim yang membutuhkan makanan, dan terlebih lagi jika anak yatim tersebut adalah kerabat sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

"Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. Atau memberi makan pada hari kelaparan. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad: 11-16). 

Wallahu A’lam. 

☘☘📓☘☘

📱Sumber:

⚪Al Sofwa
.
#Muhasabahdiri #BelajarTerus
#Menjadilebihbaik
#DiatasManhajSalaf
#AlwaysILMU

    •┈┈•••○○❁📚❁○○•••┈┈•

Jumat, 02 Oktober 2020

Keutamaan Hamdalah

Keutamaan Hamdalah

1. Allah seringkali menyandingkan nama-Nya Al-Hamiid (yang Maha Terpuji) dengan ucapan Tasbih. Seperti yang terkandung dalam Surat Al-Isra’ ayat 44, Ash-Shoffaat ayat 180-182, Al-Baqarah ayat 30. Begitupun juga dalam Hadits seringkali Nabi Menyandingkan Al-Hamdu dengan Tasbih. Hal ini menunjukkan bahwa selain Allah Maha Terpuji, Allah juga bersih dari aib dan kekurangan.

2. Al-Hamdu seringkali disandingkan dengan Tasbih, Istighfar, dan Taubat. Seperti dalam Surat Ghaafir ayat 7, An-Nasr ayat 3, atau dalam hadits-hadits Rasulullah.

3. Allah memulai dengan pujian di beberapa surat, diantaranya pada Surat Al-Fatihah, An-An’am, Al-Kahfi, Saba’, dan Fatir.

4. Allah mengakhiri surat dalam al-Qur’an dengan Pujian, seperti surat Al-Hijr, Al-Isra’, An-Naml, Ash-Shoffaat, Az-Zumar, Al-Jatsiyah, Ath-Thuur, dan An-Nasr.

5. Hamdalah adalah sebaik-baiknya perkataan dan Allah pilihkan untuk hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِهَا عِشْرُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ عِشْرُونَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَ لَهُ بِهَا ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih empat perkataan, yaitu subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar. Barangsiapa mengucapkan “Subhanallah” maka akan dituliskan untuknya dua puluh kebaikan dan dihapuskan darinya dua puluh kesalahan. Barangsiapa mengucapkan “Allahu Akbar” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Dan barangsiapa mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” dari dalam hatinya, maka akan dituliskan untuknya tiga puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tiga puluh kesalahan.” (HR. Ahmad no. 8032)

6. Hamdalah adalah kalimat pertama yang diucapkan Adam ‘Alahis Salam.Baca:  Ngalahno Tukang Sihir 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيهِ الرُّوحَ عَطَسَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Allah telah menciptakan Adam dan meniupkan di dalamnya ruh, ia bersin, lalu mengucapkan Alhamdulillah, lalu ia memuji Allah dengan izinNya” (HR. Tirmidzi)
7. Hamdalah adalah sebaik-baiknya doa.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi, lihat Ash Shahihah no. 1497)

8. Sebaik-baiknya hamba adalah gemar membaca Alhamdulillah

أفضل عباد الله – تعالى – يوم القيامة الحمادون

Sebaik-baiknya hamba Allah pada hari kiamat adalah Al-Hammadun (orang-orang yang gemar memuji Allah). (Silsilah Ash-Shahihah no. 1584)

9. Besarnya pahala bagi yang gemar mengucapkan Hamdalah. (Silsilah Ash-Shahihah no. 3452).

10. Hamdalah ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai Allah Ar-Rahman.

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى  ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar-Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694).

11. Balasan di dalam surga bagi orang yang memperbanyak pujian kepada Allah.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ وَهُوَ يَغْرِسُ غَرْسًافَ قَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا الَّذِي تَغْرِسُ؟ قُلْتُ غِرَاسًا لِي قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ خَيْرٍ لَكَ مِنْ هَذَا؟ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ يُغْرَسْ لَكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Bahwa Rasulullah melewatinya sedang bercocok tanam, seraya Rasulullah menegurnya dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, apa yang sedang kau tanam? Aku menjawab, “Menanam tanaman ya Rasulullah”. Beliau berkata, “Maukah engkau kuberitahukan tentang tanaman yang lebih baik dari ini?” Abu Hurairah menjawab, “Tentu ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Katakanlah : subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar, niscaya akan ditanamkan untukmu dengan setiap kalimat tersebut, sebuah pohon di surga. (HR. Ibnu Majah no. 3807 dan Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam kitab Shahih Targhib no. 1549)Baca:  7 Keistimewaan Syariat Islam Bagian (1) 

Dan masih banyak dalil yang menunjukkan keutamaan hamdalah yang memotivasi kita untuk senantiasa membasahi bibir kita dengan memuji Allah Ta’ala.
Buah membaca Hamdalah

1. Terkandung sebuah pilar ibadah yang sangat agung yaitu kecintaan. Para ulama menjelaskan bahwa ucapan Hamdalah bermakna pujian yang disertai dengan rasa cinta dan pengagungan. Tidaklah suatu pujian disebut sebagai hamdalah kecuali jika dilandasi rasa cinta.

2. Dalam Hamdalah telah terkandung penetapan kesempurnaan Allah dari segala sisi. Karena ucapan alhamdulillah bermakna segala puji atau pujian yang mutlak hanya layak diberikan untuk Allah. Allah terpuji dari segala sisi. Allah terpuji karena berbagai kesempurnaan yang ada pada-Nya, baik kesempurnaan Dzat, nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, dan juga kesempurnaan nikmat yang Allah curahkan kepada hamba-hamba-Nya. Sebab tidak ada satu pun nikmat melainkan itu adalah bersumber dari-Nya. Di tangan-Nya lah segala kebaikan.

3. Dalam alhamdulillah juga tersimpan penetapan tauhid uluhiyah, yaitu kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah. Sebab kata ‘Allah’ dalam ungkapan alhamdulillah menunjukkan makna bahwa Allah ialah Al-Ilah Al-Haq yaitu sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang batil.Baca:  Orang Yang Menginginkan Kebaikan Bagi Orang Lain 

4. Dalam Rabbil ‘alamin terkandung penetapan tauhid rububiyah, bahwa Allah merupakan Rabb yaitu yang mencipta, mengatur, dan menguasai alam semesta ini. Pengakuan terhadap hal ini telah menjadi fitrah dan naluri yang tertanam dalam hati manusia. Bahkan kaum musyrikin sekali pun telah meyakininya. Konsekuensi dari pengakuan ini adalah ketundukan secara penuh kepada Allah akan hukum dan perintah-Nya. Dan perintah yang paling agung adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah 2: 21)

5. Dalam Rabbil ‘alamin terdapat penegasan bahwa seluruh alam adalah makhluk ciptaan Allah yang butuh kepada Allah. Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan dan pertolongan-Nya. Oleh sebab itu wajib beriman kepada takdir dan iradah (kehendak)Nya yang meliputi seluruh makhluk. Segala yang Allah kehendaki -secara kauni- pasti terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki juga tidak akan terjadi. Inilah yang disebut dengan istilah iradah kauniyah. Dan semua yang Allah kehendaki terjadi ini pasti mengandung hikmah. Tidak mungkin Allah menghendaki sesuatu terjadi tanpa hikmah, Maha suci Allah dari kesia-siaan.

6. Dalam Rabbil ‘alamin juga terdapat pelajaran bahwa setiap muslim bahkan setiap manusia harus tunduk kepada hukum dan syari’at Allah. Sebab Allah lah yang telah menciptakan alam ini, yang memeliharanya dan menguasainya. Tidak ada yang lebih mengetahui kemaslahatan hamba kecuali Allah semata. Oleh sebab itu, Allah lah sebaik-baik hakim, tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum-Nya, dan tidak ada aturan yang lebih adil daripada aturan-aturan-Nya.
Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa memujiNya. Walhamdulillah

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Read more https://bimbinganislam.com/keutamaan-membaca-hamdalah/

SEJARAH SINGKAT PARA HABAIB DI INDONESIA_✍

SEJARAH SINGKAT PARA HABAIB DI INDONESIA_✍

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary. Lc (Pasca Sarjana ,jurusan ;Ulumul Hadits-Universitas Islam Madinah )

ⓂIDB

🔰ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ⁣📕

Novel Alaydrus (Dari Kalangan dalam Habib dan pengarah Buku " Jalan Nan Lurus,Sekilat Pandang Tarekat Bani Alawi) Tentang Habaib yang banyak di Indonesia, perlu diketahui bahwa asal-usul mereka adalah dari Hadramaut (Yaman Selatan). Memang sebagian besar dari mereka mengaku keturunan Ali bin Abi Thalib, sebab itulah mereka juga disebut Bani Alawi atau Alawiyyin (sebagaimana yang diakui oleh sdr. Novel Alaydrus dalam bukunya: Jalan Nan Lurus, Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi). Tapi saya tidak berani memastikan apakah semua yang ngaku ‘habib’ berarti keturunannya Ali.

Tentang akidah mereka, menurut penulis kitab Idaamul Quut fi Dzikri Buldaani Hadramaut, yang juga ‘habib’, namanya Abdurrahman bin Ubeidillah Assegaf (w. 1375 H), dalam halaman 897 beliau mengatakan bahwa orang-orang Alawiyyin di Hadramaut terbagi dalam tiga periode: 👇

👉Pertama, sejak leluhur mereka yang bernama Ahmad bin Isa Al Muhajir hingga Al Faqih Al Muqaddam. Al Muhajir, yakni yang hijrah dari Irak ke Hadramaut dan menjadi cikal bakal Alawiyyin di sana. periode ini menurut beliau masih berpenampilan seperti para sahabat dan memanggul senjata, singkatnya mereka masih berakidah Ahlussunnah wal jama’ah.

👉Periode kedua, adalah sejak Al Faqih Al Muqaddam ke Al Aydrus. Al Faqih Al Muqaddam adalah tokoh mereka yang pertama kali meletakkan senjata dan menganut tasawuf.

👉Periode ketiga adalah, setelah Al Aydrus hingga abad ketiga belas Hijriyah, yang telah terwarnai dengan tasawuf tulen. 

Tidak tahu pasti kapan mereka mulai datang ke Indonesia, tapi yg jelas mereka datang setelah terwarnai ajaran sufi, bukan membawa faham Ahlussunnah yang murni, seperti yang diakui juga oleh Novel Alaydrus dalam bukunya tadi. Dan sebagaimana kita ketahui, tasawuf merupakan gerbang dari banyak aliran sesat dan sarat dengan bid’ah dan khurafat. Oleh karenanya, setiap aliran sesat bisa saja menyusup lewat tasawuf, lewat kedok cinta kepada ahlul bait, dst… 

sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah. Apalagi ada kemiripan antara tarekat Bani Alawi dengan syi’ah, yaitu keduanya sama-sama mengajarkan umat untuk cinta kepada Ahlul Bait (baca: menyanjung para habaib), dengan cium tangan kepada mereka, menghadiri acara haul mereka,dsb… ini jelas suatu kemaslahatan yang akan mereka pertahankan, dan sedikit banyak cocok dengan ajaran syi’ah yang juga mengultuskan ahlul bait.

Makanya tidak heran jika banyak dari dedengkot-dedengkot syi’ah baik nasional maupun internasional berasal dari mereka. Contohnya Hussein Al Habsyi asal Bangil (dia sudah binasa, bukan yang buta dan pernah dipenjara itu), dia pernah langsung baiat dengan Khomeini, dan pendiri YAPI, salah satu organisasi syiah tertua di Indonesia. Demikian pula Quraisy Shihab, Haidar Bagir, dll. Mereka juga dari kalangan Habaib.

Menyedihkan memang, tatkala orang yang mengaku anak cucu Rasulullah justru menjadi musuh ajaran beliau. Bukannya mereka menghidupkan sunnah-sunnah Nabi, namun justru melestarikan bid’ah dan khurafat di masyarakat. 

Saya rasa sebab dari ini semua adalah karena hawa nafsu dan kepentingan duniawi… mereka khawatir kehilangan pamor di masyarakat kalau meninggalkan ajaran leluhurnya, mengingat sikap mereka yang sangat eksklusif dalam menjaga nasab dan tradisi. Bahkan karena eksklusivisme inilah akhirnya berdiri Yayasan Al Irsyad sebagai tandingan atas Jami’at Khair yang mereka dirikan. 

Al Irsyad berdiri sebagai gerakan pembaharuan atas pemikiran-pemikiran kolot yg mereka tanamkan di masyarakat Indonesia, baik yang pribumi maupun keturunan Arab. Di antara pemikiran tersebut ialah tidak bolehnya seorang wanita ‘alawiyah dinikahi oleh pria yang bukan ‘alawi, walaupun ia orang Arab. Tentu ini bukan ajaran Islam, tapi fanatisme jahiliyah yang harus direformasi, sebab Nabi sendiri menikahkan dua orang puterinya (Ruqayyah & Ummu Kultsum) kepada Utsman bin Affan yang notabene adalah Bani Umayyah, bukan Ahlul Bait, Kemudian Ali bin Abi Thalib menikahkan puterinya yang bernama Ummu Kultsum (yang berasal dari Fatimah radhiyallahu 'anha) kepada Umar bin Khatthab yang bukan dari Bani Hasyim, namun dari Bani Adiy, dan masih banyak lagi contoh lainnya. 

Dari sinilah akhirnya muncul dua kubu: Habaib dan Masyayikh. Habaib dengan tradisi tasawufnya, sedangkan Masyayikh (non Habaib) dengan gerakan pembaharuannya, seperti Al Irsyad.
Memang bisa dibilang 99% dari para habaib tadi yang tinggal di Indonesia adalah penganut tarekat (sufi). Itu karena mereka sangat terikat dengan tradisi keluarga yg kolot tadi. 

Tapi beda dg kondisi mereka yg terpelajar dan ingin membuka fikirannya, atau mereka yang tinggal di Malaysia, Saudi, atau negara-negara maju, mereka tidak lagi terikat dengan tradisi kolot tersebut sehingga banyak yang kembali menjadi salafi, atau paling tidak bukan sufi lagi.

Tentang taqiyyah, saya tidak berani memastikan bahwa mereka bertaqiyyah sepertt orang syi’ah, karena mayoritas mereka bukan syi’ah namun sufi, dan sufi masih berbeda dengan syi’ah karena kaum sufi masih menghargai para sahabat dan tabi’in, bahkan terkadang mengkeramatkan kuburan mereka. Ini jelas berbeda dengan keyakinan syi’ah yang mengkafirkan para sahabat tadi. Tapi kalau sudah diindikasikan syi’ah, ya siapa pun orangnya pasti akan bertaqiyyah, terlepas dari habib-kah dia atau bukan.

Demikian penjelasan ana, semoga membantu, wallaahu ta’aala a’lam.

Dikutip dari sesi tanya jawab dalam artikel yang berjudul Hegemoni Syi'ah: http://muslim.or.id/manhaj/hegemoni-syiah.html

✍Jawaban diberikan oleh Ustadz Abu Hudzaifah al-Atsary Lc, saat ini sedang menyelesaikan program pasca sarjana jurusan Ulumul Hadits di Universitas Islam Madinah. Bagi yang ingin dialog langsung dengan beliau: http://basweidan.wordpress.com/about/

Baca juga:
MEMBONGKAR KEDOK SUFISME DI HADRAMAUT
https://m.facebook.com/#!/photo.php?fbid=10205113154494809&id=1422484356&set=a.3405833070913.2129007.1422484356&source=48&ref=bokmarks
(Oleh : Syaikh Ali Ba Bakar bin Yahya)

Diberi kata pengantar oleh:

1. Asy-Syaikh Alwi bin Abdul Qodir As-Segaf

2. Asy-Syaikh Abu Bakar bin Haddar Al-Haddar

3. Asy-Syaikh Shalih bin Bekhit Maula Dawilah

[Mereka semua Alul Bait dari keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu]

باركالله فيكم

Kamis, 01 Oktober 2020

JADI PENGIKUT FIRAUN APA MUSA

Ustadz, bertanya kepada jama'ahnya,_

Ustad 😗 : "Andai kita hidup pd zaman Fira'un, kira-kira kita jadi pengikut siapa, Fir'aun atau Nabi Musa ?"._

Jama'ah : "Musaaaaa."_ (Jawab jama'ah dgn kompak).

Ustad😗 _"Yakiiin ?"._
Jama'ah 😗 _"Yakiiiiiin....."_

Ustad 😗 _Tapi yang membangun kota Mesir...., Fir'aun. Yang bangun infrastruktur juga dia.  Yang bangun piramida...., Fir'aun. Yang paling kaya...., Fir'aun. Yang punya bala tentara banyak dan kuat...., Fir'aun. Yang punya banyak pengikut....., Fir'aun. Yang bisa memberi perlindungan dan jaminan......, Fir'aun. Yang Berkuasa......., Fir'aun. Yang bisa menyediakan makanan Dan minuman........, Fir'aun. Yang bisa adakan hiburan......., Fir'aun. Yang bisa buat pusat perbelanjaan........, Fir'aun. Bahkan jika teknologinya sudah ada mungkin Kartu Mesir Sehat dan Kartu Mesir Pintar juga dibuatnya."_

Sementara Nabi Musa......, siapa dia ???. Hanya seorang penggembala kambing. Bicara saja tidak fasih alias cadel (akibat pernah memakan bara api diwaktu bayi). Hanya memiliki sebatang tongkat butut_

Masih yakin mau ikut Nabi Musa........???._ Tanya *UAS* sekali lagi.

Jamaah terdiam...

Ustad 😗 _"Kerjaan Nabi Musa hanya sebagai penjaga kambing, tiba-tiba mau mengajak kita menyeberangi lautan,,, tanpa memakai sampan, tanpa prahu, tanpa kapal. Apakah yakin kita mau ikut Nabi Musa ????"_

Tak satupun jama'ah berani menjawab, semua tertunduk, diam seribu bahasa.

Ustad😗 _Betapa  sesungguhnya manusia zaman Firaun dan zaman sekarang, tidak Ada bedanya. Di Zaman sekarang ini, mayoritas semua tergila² pada harta, wanita, pangkat, jabatan, pujian, rayuan. Al Wahn (cinta keduniawian)._

Sungguh......, Fir'aun itu akan tetap ada hingga akhir zaman. Hanya saja berubah wajah Dan bentuknya...., juga namanya. Namun secara hakikat dia akan terus ada. Sebab sejarah akan berulang, dan kita harus tetap yakin seyakinnya biidznillah Fir'aun dikalahkan oleh Musa karena Kuasa ALLAH Azza Wa Jalla..._

Siapapun yang akan terpilih itu  sudah menjadi takdir/sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, tetapi Allah akan mencatat dimana kita berpihak.....*_

Belajaralah DARI CICAK dan Burung Pipit.....*_

Dahulu saat Nabi Ibrahim Alaihi Salam dibakar oleh Raja Namrud, datanglah burung pipit yang bolak balik mengambil air dan meneteskan air itu di atas api yang membakar Nabi Ibrahim Alaihi Salam.

Cicak* yang melihatnya tertawa.....: *_"Hai pipit........!, bodohnya yang kau lakukan itu. Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja, mana mungkin bisa memadamkan api itu.....???._*

Burung pipit* pun menjawab : *_"Wahai cicak......, memang tak mungkinlah aku bisa memadamkan api yang besar itu, tapi aku tak mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai dizholimi, Allah tak akan melihat hasilnya apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak, tetapi Allah akan melihat dimana aku berpihak......"._*

Cicak terus tertawa, dan sambil menjulurkan lidahnya ia berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim Alaihi Salam agar cepat membesar.

Memang tiupan cicak tak ada artinya tak menambah besar api yang membakar Nabi ibrahim Alaihi Salam, tetapi Allah melihat dimana Cicak berpihak.

Hikayat ini terjadi sekarang....., dan akan terus berulang Saat Al-Qur'an dinistakan, suara Azan dipermasalahkan, bendera tauhid dibakar dan pembela Agama dikriminalisasi.

Aku bertanya padamu sahabat : Dimanakah kau berpihak......?????. Memang....., Pilihanmu tak akan mengubah sedikitpun takdir Allah..., Tapi Allah akan mencatat dimana kau berpihak. Berada di Barisan mana dirimu....., Siapa yang kamu dukung...., Siapa yang kamu pilih untuk jadi pemimpin....?.*_

Ingat-ingat......, pilihanmu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat nanti.....*_

#Renungkanlah
#SemogadiPahami

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi tanggal 01-08-1435 H / 30-05-2014 M

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi tanggal 01-08-1435 H / 30-05-2014 M

oleh : Syeikh Abdul Bari Al-Tsubaiti  -hafidhzahullah- Imam dan Khatib Masjid Nabawi

Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah,,,amma ba’du :

Allah ta’ala berfirman :

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS.Al-Muthaffifin :26).

Seorang muslim sejati selalu berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam kebaikan, karena umur itu pendek dan ajal itu terbatas, seorang yang pandai dan berakal selalu bersegera sebelum datangnya halangan dan rintangan ; sungguh tidaklah sama antara yang bersegera menuju kebaikan dan yang berlambat-lambat, juga antara yang berlomba-lomba kepada keutamaan dan yang memberatkan diri kepadanya.

Berlomba-lomba yang terpuji memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi untuk mengangkat dirinya dan menanjak dengan ilmu dan amalnya agar berusaha menuju kesempurnaan.

Mengalir ruh saling berlomba-lomba dalam jiwa orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi, dan yang paling tinggi diantara mereka adalah para Nabi shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis ketika dilampaui oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena iri, dikatakan kepadanya : apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab : (saya menangis karena seorang anak laki-laki diutus setelahku, -akan tetapi- pent. masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummatku) (HR.Bukhari). Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia pernah bersabda : (saya berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membangkitkan semangat saling berlomba-lomba kepada para sahabatnya, agar mereka menaiki tangga yang menyampaikan mereka kepada tujuan, serta menggambarkan kepada mereka tujuan-tujuan yang tinggi dalam hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya ; diantaranya : sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

(Tidak ada saling berlomba diantara kalian kecuali pada dua perkara : Seorang laki-laki yang Allah Azza wa Jalla karuniakan kepadanya hafalan Al-Qur’an dan ia membacanya dalam shalat siang dan malam, serta mengikuti isinya, kemudian seorang laki-laki lain berkata : jika Allah mengaruniakan kepadaku seperti apa yang ia karuniakan kepada Fulan, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang dikerjakan oleh Fulan, dan seorang laki-laki yang Allah karuniakan kepadanya harta dan ia berinfak dan bersedekah, kemudian berkata laki-laki lain seperti apa yang diucapkan yang tadi.) (HR.Thabrani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : barangsiapa yang shalat dengan membaca sepuluh ayat maka tidak dicatat kedalam golongan orang-orang yang lalai, dan barangsiapa yang shalat dengan membaca seratus ayat maka akan dicatat termasuk golongan orang-orang yang ta’at, dan barangsiapa yang shalat dengan membaca seribu ayat maka akan dicatat termasuk dari golongan muqantharin. (HR.Abu dawud) arti muqantharin adalah : mereka yang mendapatkan pahala yang berlimpah-limpah.

Diantara hal yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ; berlomba-lomba menuju shaf pertama ; dalam hadits : seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan masuk kedalam undian, sungguh mereka akan masuk kedalam undian, dan seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala pada bersegera menuju shalat berjama’ah, sungguh mereka akan berlomba-lomba kepadanya, dan seandainya mereka mengetahui besarnya pahala shalat isya dan subuh berjama’ah sungguh mereka akan mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak. (HR.Bukhari dan Muslim).

Adapun dua sahabat yang mulia ; ummat terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Bakar dan Umar maka sungguh telah melompat jauh semangat mereka dalam medan perlombaan, dan mereka telah mencapai derajat yang tinggi dengan amalan-amalan mereka, dan tidak akan ada seorang pun yang akan mampu mecapai derajat mereka berdua. Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu saat pernah menyuruh kami bersedekah, dan kebetulan waktu itu aku sedang memilik harta, maka aku mengatakan, hari ini aku akan mendahului Abu Bakar jika aku dapat mendahuluinya sehari saja, ia berkata : maka aku datang dengan separuh hartaku, maka Rasulullah bertanya : apa yang engkau sisakan untuk keluargamu? Aku mengatakan : seperti itu juga, kemudian Abu Bakar datang dengan semua harta miliknya, maka Rasulullah bertanya kepadanya : apa yang engkau sisakan untuk keluargamu? Ia menjawab : aku sisakan untuk mereka Allah dan RasulNya. Saya berkata :  demi Allah saya tidak akan mampu untuk mendahuluinya kepada sesuatu apapun selamanya. (HR.Tirmidzi dan ia mengomentari hadits ini hasan dan sahih).

Berkobar bara semangat saling berlomba dalam kehidupan para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- ; yang membuat mereka betul-betul memanfaatkan waktu, dan menginvestasikan umur mereka, hingga menjadi tinggi kedudukan  ilmu dan amal mereka, bahkan mereka menjadi pemilik keutamaan dan keterdahuluan; bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : akan masuk ke dalam surga dari ummatku  tujuh puluh ribu orang tanpa hisab, maka berkata seorang sahabat : wahai Rasulullah berdoa’lah kepada Allah agar menjadikan aku diantara mereka. Rasulullah berdo’a : ya Allah jadikanlah ia diantara mereka. Kemudian berdiri seorang laki-laki lain dan berkata : wahai Rasulullah berdoa’lah kepada Allah agar menjadikan aku diantara mereka. Rasulullah menjawab : engkau telah didahului oleh Ukkasyah.(HR.Muslim).

Ketika Perang Uhud, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memancing semangat saling berlomba diantara para sahabatnya, beliau berkata : siapa yang ingin mengambil pedang ini dengan haknya? Maka berdiri sahabat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah dan berkata : saya yang akan mengambilnya wahai Rasulullah dengan haknya, apakah haknya? Rasulullah menjawab : jangan engkau membunuh seorang muslim dengan pedang ini dan jangan engkau lari dengannya dari orang kafir. Perawi berkata : maka Rasulullah memberikan kepadanya. (dikeluarkan oleh Al-Hakim di dalam mustadrak.) Abu Dujanah adalah seorang sahabat pemberani.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabatnya untuk selalu bersegera menuju kebaikan dan berlomba-lomba dalam keta’atan dan amal-amal kebaikan ; dari sahabat Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata : datang orang-orang fakir kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : orang-orang kaya telah pergi dengan harta mereka dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang abadi, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta yang mereka mampu melaksanakan haji, umrah,berjihad dan bersedekah dengannya. Rasulullah berkata : maukah aku beritahukan sesuatu jika kalian melakukannya kalian akan menyusul orang-orang yang mendahului kalian dan tidak akan ada yang meyusul kalian seorangpun dari belakang kalian, dan kalian akan menjadi yang terbaik dari orang-orang yang ada di tengah-tengah kalian, kecuali orang yang beramal sepertinya ; kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai shalat tiga puluh tiga kali.(HR.Bukhari dan Muslim).

Saling berlomba dalam kebaikan akan tampak pengaruhnya di akhirat nanti, dan akan terus sampai ke surga ; para penghafal Al-Qur’an akan terus menanjaki derajat-derajat surga sesuai dengan jumlah bacaan dan tartilnya  (dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an : bacalah dan teruslah naik  dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya tempatmu adalah pada ayat terakhir yang engkau baca) (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan dan sahih).

Perlombaan yang terpuji ini akan melahirkan sifat untuk selalu maju, memperkuat ambisi, dan menambah banyak pertumbuhan dan keberhasilan, seorang muslim akan merasakan tawar dengannya sesuatu yang pahit, dan akan membuat mereka menganggap dekat sesuatu yang jauh, dan membuat mereka lupa segala rintangan, dan dengan saling berlomba seseorang akan terangkat  ke derajat yang tinggi ketika dibangun di atas niat yang ikhlas dan benar, serta bersih dari kotoran-kotoran hati yang dapat merusak amalan, dan menjadikannya debu yang beterbangan.

Adapun jika semangat saling berlomba ini mati, maka ia akan menjadikan umat ini menjadi masyarakat yang loyo dan lemah, yang dipenuhi dengan sifat malas dan terbelakang, juga akan melahirkan para pengangguran  serta membuat generasi lemah dan patah semangat.

Disisi lain Agama Islam melarang saling berlomba-lomba pada hal yang tercela, yang sumbernya saling berlomba-lomba dalam hal dunia, dan karena mengikuti hawa nafsu, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Demi Allah bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah jika dilapangkan kepada kalian dunia sebagaimana telah dilapangkan untuk orang-orang sebelum kalian, hingga kalian saling berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya, dan akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka. (HR.Bukhari dan Muslim).

Berlomba-lomba dalam masalah dunia menjadi tercela ketika membuat engkau lalai dari Allah dan kampung akhirat, dan membawamu kepada kejelekan dan kemungkaran, serta menuntunmu untuk meninggalkan kewajiban , mengambil yang haram, atau mengambil hak-hak orang lain ; hal ini akan membuat perkelahian antara sesama saudara dan kerabat dekat, juga sebab terputusnya silaturrahmi dan permusuhan, maka akan semakin banyak percekcokan, dan akan semakin sering terjadi pertengkaran, Al-Hasan rahimahullah berkata : siapa yang menyaingimu dalam masalah agama maka bersainglah dengannya, dan siapa yang menyaingimu dalam masalah dunia maka lemparkanlah dunia itu di lehernya.

Sifat hasad adalah penyebab utama persaingan yang membinasakan, yang dapat merobohkan bangunan persaudaraan dalam islam, dan dapat menghilangkan rasa aman dari kaum muslimin; karena seorang yang hasad ia mengharapkan hilangnya nikmat dari saudaranya, bahkan ia bisa menjadi penyebab hilangnya nikmat tersebut dengan kekuatannya.

Dan termasuk saling berlomba yang tercela; apa yang terjadi antara orang-orang yang setingkat dalam keutamaan dan kedudukan agama dan dunia, terkadang seseorang mencela orang lain dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, dan menutup mata dari kebaikan-kebaikannya disebabkan adanya permusuhan dan kebencian Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ

dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya (QS.Al-A’raaf : 85).

dan kadang-kadang saling berlomba berakhir kepada saling menjauh, menghina, mendzalimi, memusuhi dan melampaui batas kepada orang lain.

Saling berlomba yang tercela juga kadang terjadi dalam hal perdagangan, oleh karena itu islam mengatur persaingan dalam bisnis perdagangan dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum syariat, serta memperkokoh nilai-nilai, norma-norma dan akhlak, islam mengharamkan penimbunan barang -agar terjual mahal- dengan segala bentuknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : (tidak menimbun barang kecuali dia salah)(HR.Muslim).

Islam juga mengharamkan segala bentuk penipuan, kecurangan,dan pemalsuan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda : barangsiapa yang berbuat curang kepada kami maka bukan dari golongan kami (HR.Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam juga memberikan hak untuk memilih bagi orang yang lemah akalnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang laki-laki dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaih wasallam karena ia sering ditipu dalam jual beli, maka Rasulullah berkata kepadanya : jika kamu berjual beli maka katakanlah : “tidak ada tipuan” (HR.Bukhari dan Muslim).

Khutbah kedua

      Termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; saling berlombanya saluran-saluran televisi dalam menyesatkan manusia dan menggoda mereka dengan hal-hal yang diharamkan, yang mana syaithan membuat indah jeleknya perbuatan mereka, mereka saling berlomba pada hal yang jelas merupakan kerugian yang nyata, pada hal yang merusak akal, mengotori fitrah dan menghancurkan akhlak.

      Juga termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; boros, angkuh dalam pesta-pesta pernikahan serta tidak menghargai nikmat, juga kemungkaran-kemungkaran dalam pesta-pesta tersebut tanpa ada rasa penjagaan diri dari pengawasan Allah, pengawasan akal dan hikmah, juga tanpa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di berbagai belahan dunia dari kemiskinan, kesulitan dan himpitan keadaan.

      Juga termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; kegiatan-kegiatan yang tidak benar di lapangan olahraga ; yang menyebabkan saling bertengkar, dan bermusuhan serta saling mengejek dan saling membenci ; sehingga keluar dari tujuan olahraga dan maksudnya.

      Allah ta’ala berfirman :

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

      Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS.Al-hadid : 21).

sumber: https://firanda.com/1168-berlomba-lombalah-dalam-kebaikan.html